FAZER LOGINSudut Pandang Rosie:Senin itu, aku meminjam blazer milik Sarah.Dia menawarkannya sebelum aku sempat meminta. Rupanya dia sudah melihatku menatap pakaian di lemari dan langsung tahu apa masalahnya.Blazer abu-abu itu sangat cantik. Potongannya rapi dan pas di tubuh, jenis pakaian yang seketika membuat seseorang terlihat lebih meyakinkan dan berwibawa di ruangan tempat keputusan-keputusan penting dibuat.Aku tidak punya pakaian seperti itu. Isi lemariku kebanyakan pakaian untuk mengajar, atasan yang terkena noda cat, dan gaun hijau yang kupakai saat pameran seni. Tidak ada satu pun yang pantas dipakai ke ruang sidang.Senin sore, aku mengambil blazer itu dari kelas Sarah, menggantungkannya di belakang pintu kamar. Tanpa sadar, aku terus meliriknya sambil menyelesaikan persiapan mengajarku.Selasa pagi, aku mengenakannya dan berdiri di depan cermin kamar mandi. Aku terlihat seperti seseorang yang berusaha keras tampak pantas. Aku lalu menguncir rambutku, memakai sepasang anting kecil te
Sudut Pandang Aiden:Richard bilang dia akan menyiapkannya.Setelah dua panggilan telepon itu, aku kembali duduk di meja dapur sambil memikirkan Rosie yang sedang mengajar di kelas paginya. Lokasinya hanya 10 kilometer dari rumahku.Dua hari lalu, nama Rosie muncul di sebuah akun media sosial yang bisa diakses publik, lengkap dengan foto putrinya dan sebuah pertanyaan yang mempertanyakan apakah dia layak menjadi seorang ibu.Akun itu sudah dihapus. Komentar-komentarnya juga sudah tidak ada. Namun, orang-orang yang sempat melihatnya tetap sudah melihatnya. Apalagi lingkungan sekolah itu kecil. Berita seperti ini bisa menyebar dari satu orang ke orang lain tanpa ada yang sadar seberapa jauh akhirnya tersebar.Aku menelepon Rosie. Dia mengangkatnya di sela-sela jam mengajar. Dari seberang telepon, aku bisa mendengar suara-suara dari lorong sekolah, samar-samar bercampur dengan suara orang yang berlalu-lalang."Aku punya kabar terbaru," kataku. "Dari penyelidik. Bukti kita sudah cukup untu
Sudut Pandang Aiden:Senin pagi, penyelidikku menelepon untuk memberikan informasi tentang alamat IP yang kami cari.Saat ini, aku sedang duduk di meja dapur dengan secangkir kopi di depanku. Di sampingnya ada kontrak Durand yang seharusnya diambil Marcus pada hari Rabu. Setelah melihat panggilan masuk, aku langsung menyingkirkan semua dokumen itu.Sepanjang hari itu, aku tidak menyentuhnya lagi.Akun yang sudah dihapus itu ternyata dibuat dari perangkat tertentu di lokasi tertentu.Penyelidikku punya kenalan di perusahaan media sosial itu, seseorang yang pernah berutang budi secara profesional kepadanya.Tepat sebelum akun itu dihapus secara permanen, orang itu berhasil mendapatkan metadata saat akun itu dibuat. Dari alamat IP yang ditemukan, mereka berhasil melacak lokasinya ke sebuah hotel yang jaraknya hanya enam blok dari apartemen Rosie.Itu bukan hotel tempat Elena menginap, melainkan hotel lain. Ukurannya lebih kecil.Hotel seperti itu tidak memiliki sistem keamanan seketat Gra
Sudut Pandang Rosie:"Aku tahu."Suasana hening sejenak sebelum dia melanjutkan, "Beberapa jam ke depan, keadaan mungkin akan semakin buruk sebelum akhirnya membaik. Jadi, kamu harus siap menghadapinya.""Seburuk apa?""Akun seperti ini biasanya cepat menarik perhatian karena memang sengaja dibuat untuk memancing reaksi. Malam ini, jumlah pengikutnya mungkin akan bertambah banyak. Komentarnya juga."Jempolku masih menggantung di atas tombol tangkapan layar. Aku mulai menyimpan semuanya dengan teliti. Profil akun itu, semua unggahan dan komentar yang ada."Dia tahu jendela unitku yang mana," kataku. "Dia tahu rute yang biasa kulewati ke sekolah. Dia tahu Lucy sekolah di mana dan biasanya bermain di mana saat jam istirahat."Suaraku tetap tenang. Bahkan aku sendiri sedikit terkejut bisa setenang itu. "Dia mengawasi kami.""Aku tahu," jawabnya pelan. "Aku tahu, Rosie.""Kamu bilang sedang mengumpulkan bukti untuk kasus ini." Aku mengingatkannya, "Katamu, kamu masih butuh lebih banyak bukt
Sudut Pandang Rosie:Pesan dari rekan kerjaku masuk pada Kamis pagi, saat aku sedang punya waktu luang untuk mempersiapkan pelajaran.Sarah mengajar kelas 3. Ruang kelasnya hanya berjarak dua pintu dari ruang seni. Dia mengirimkan sebuah tangkapan layar tanpa penjelasan apa pun.Itu bukan kebiasaan Sarah. Biasanya, dia selalu menjelaskan sesuatu terlebih dahulu, bahkan sering kali menambahkan komentarnya sendiri. Jadi, pesan tanpa konteks seperti ini sudah cukup membuatku merasa tidak nyaman.Aku membuka tangkapan layar itu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya aku memahami apa yang kulihat.Itu adalah sebuah akun media sosial. Foto profilnya buram. Nama penggunanya terdiri dari beberapa kata yang langsung kukenali.Itu namaku, nama asli yang tidak pernah kugunakan di sekolah. Namaku sengaja dirangkai dengan beberapa kata hingga menjadi sebuah pertanyaan.Unggahan pertama di akun itu adalah sebuah foto. Foto diriku yang sedang berdiri di dekat jendela apartemen.Aku langsung mengena
Sudut Pandang Aiden:Tawa Rosie adalah sesuatu yang jarang kudengar.Aku masih mengingatnya. Selama bertahun-tahun, tawa itu sesekali muncul kembali dalam ingatanku, seperti kenangan tertentu yang begitu lama kita bawa sampai akhirnya lupa bahwa sebenarnya kita tidak pernah benar-benar melepaskannya.Rosie bukan orang yang mudah tertawa, apalagi sering. Mungkin itu yang membuat tawanya terasa begitu tulus. Bukan tawa ringan dari seseorang yang bisa tertawa karena apa saja, melainkan tawa yang pecah begitu saja, tanpa ditahan, persis seperti yang kuingat dari tujuh tahun lalu.Sejak kami bertemu lagi, baru kali ini aku benar-benar mendengar tawanya seperti itu.Pandangan kami bertemu di atas kepala Lucy. Kami sama-sama lupa apa yang seharusnya kami lakukan saat itu. Pada saat yang sama, Lucy memandang kami bergantian.Ekspresinya menunjukkan kepuasan khas yang selalu muncul setiap kali sesuatu yang selama ini dia yakini akhirnya terbukti benar."Aku tahu kalian saling suka," katanya.Di







