LOGINTahap pemeriksaan kesehatan untuk Jarrel tidak berlangsung lama, kira-kira hanya menghabiskan sekitar dua puluh menit termasuk saat Dr. Ilya (yang kupikir adalah dokter wanita) memberiku resep dan menyarankan agar aku terus mengecek perkembangan suhu tubuh Jarrel secara berkala. Setelah semua itu ia kemudian meninggalkan rumah bersama dengan Chris yang berasalan ikut pulang lantaran dipanggil Bu Soraya dan pria itu pun dengan mudahnya berhasil menghindari rencana introgasi lanjutan yang ingin aku lakukan kepadanya.Aku nyaris terpuruk ke lantai usai menutup pintu. Agak bersyukur para tamu akhirnya pergi dan seluruh sesi kritis telah terlewati. Kini di rumah ini hanya ada aku dan Jarrel saja yang artinya aku bisa beristirahat penuh. Ini adalah hari yang sangat panjang juga menegangkan yang baru pertama kali aku lalui. Dan jujur saja dari sekian banyak hal yang ingin aku lakukan, aku ingin bisa berbaring, dan tidur seharian untuk memulihkan tenaga yang telah terbuang.Aku setengah menye
“Terima kasih banyak, sobat. Aku berhutang banyak padamu,” ungkapku begitu menerima tas berisi barang belanjaan dari Chris. Kami saat ini sedang berada di depan pintu, dan sobat kentalku di kantor penerbit itu tiba di kediaman Jarrel dua jam setelah kupanggil ia untuk berbelanja kebutuhan kami. Tentu saja, setelah aku memberinya sedikit info mengapa aku tidak bisa pergi sendiri. Jangan tanya nasib dari barang belanjaan yang aku beli beberapa waktu lalu. Gara-gara semua drama yang terlalu cepat itu, aku bahkan lupa dan meninggalkannya di mobil Aiden begitu saja. Sudah barang tentu kecil kemungkinannya untuk bisa aku dapatkan kembali. Makanya aku minta tolong pada Chris untuk berbelanja ulang. Walaupun aku jadinya harus merogoh kocek dua kali lipat gara-gara sesi belanja pertama gagal total. Mendengar ucapanku, Chris menyeringai sembari memberiku salah satu senyuman yang aneh. “Tidak masalah, sudah sepatutnya saling membantu antar teman. Apa bosmu yang keras kepala itu sudah baik-baik
“Sudah cukup!”Kedua orang tua Jarrel langsung memusatkan perhatiannya padaku setelah aku menjerit frustasi dengan pertengkaran mereka. Aku menjauh dari Charlemagne dan bersandar pada dinding segera.“Ada apa, Leiya. Kenapa berteriak begitu?” Charlemagne bertanya dengan ekspresi polos.“Kau membuatku takut,” sahutku jujur.Pria itu membuka mulutnya sedikit, seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi Ghilda mendahuluinya. Wanita itu tertawa seperti ia adalah pemilik neraka. “Kau dengar itu Charly? Dia bilang kau membuatnya takut. Kalau aku tidak salah, ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang tidak terpikat dengan pesonamu. Kurasa kau sudah benar-benar kehilangan sentuhanmu dan berubah menjadi pria tua bangka,” ejeknya pada sang suami.Charlemagne mengalihkan pandangannya dariku untuk menatap istrinya. Ia terkekeh. “Diam, dasar perempuan tua! Beraninya kau mengataiku sebagai pria tua bangka, padahal kau sendiri sudah beruban dan terlihat seperti nenekku!” desisnya.Ghilda langsung b
“Aku tidak takut dengan ancamanmu,” desisku memberinya jawaban pasti. Senyuman diwajah wanita itu melebar. “Aku juga dengar sesuatu soal adik perempuanmu. Aku ingin tahu apa yang akan mereka rasakan jika aku tiba-tiba mengeluarkannya dari sekolah dan tidak ada satu pun sekolah di negeri ini mau menerimanya dan itu semua karena kau.”“Jangan berani-beraninya kau menyentuhnya! Dia tidak ada urusannya dengan hal ini!” sahutku cepat. Sialan… ia berhasil mengusikku dan memaksaku mengeluarkan semua amarah yang semula telah aku simpan rapat dengan rapi. Aku kini mengerti mengapa Jarrel sebenci itu kepada keluarganya, ibunya sendiri saja sekeji ini. Apalagi ayahnya?Mendengarku meledakan emosi, wanita itu dengan santai bersandar dikursi dengan senyum kejam masih terlihat di wajahnya. “Aku akan mempertimbangkan melakukan semua yang aku katakan padamu barusan jika kau tidak bersedia meninggalkan putraku.”“Apa kau seputus asa itu?”“Hanya opsi kedua. Jika aku tidak bisa membujukmu dengan cara
Aku menelan ludah dan menjilat bibirku sendiri, memaksakan diri untuk bertingkah paling tidak seperti orang normal yang setara dengan wanita bengis yang duduk disana. Aku harus tetap santai dan menunjukan bahwa aku tidak ketakuan atau pun terintimidasi oleh situasi ini. Perlahan aku membungkukan badanku memberikan sedikit gesture penghormatan kepadanya. “Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Ghilda.” Wanita itu hanya menatapku dan tidak menunjukan reaksi atau pun tanggapan. Malah, ia tampak seperti sedang mencoba untuk mengulitiku hidup-hidup dengan tatapannya. Ya, kurasa ia punya alasan untuk itu karena gara-gara aku Jarrel tidak mau menikah dengan tunangannya. Ruangan tiba-tiba terasa jadi begitu sunyi senyap selama beberapa menit, bahkan Aiden yang menurutku sangat menyebalkan saja tidak berani buka suara sama sekali, disini ia betul-betul bertingkah seperti anjing yang patuh di depan sang nyonya dan aku mengerti mengapa orang itu bersikap demikian di depan ibunya Jarrel. Ghilda kem
“Senang bertemu denganmu lagi, Nona Leiya,” sapanya dengan suara yang dalam dan rendah seperti biasa.Ada beribu pertanyaan hinggap dikepala terutama tentang bagaimana ia menemukanku atau bagaimana aku bisa berakhir duduk di dalam mobilnya meski memang secara tidak sengaja. Aku tidak tahu berapa lama memasang ekspresi bodoh di wajahku, tetapi kemudian aku tersadar keterkejutan ini tidak akan membawa apa-apa. “Apa artinya ini?” tuntutku dengan berang. Diperlakukan seperti buronan yang lepas dari penjara bukanlah salah satu dari hal yang aku harapkan terjadi hari ini.“Bukankah sudah jelas? Aku menyelamatkanmu dari fans fanatik kekasihmu,” sahutnya santai tak menanggapi sesuai dengan yang kumau.“Kau tau betul bahwa bukan itu maksud dari pertanyaanku!” bentakku kesal ketika aku menyadari pria itu hanya sedang bermain-main.Ia menyeringai. “Lantas apalagi? Kau menudingku membuntutimu?”Kemarahan di dadaku semakin berkobar. Bagaimana bisa ia mengatakan apa yang ada dikepalaku dengan keten







