登入“Aku tahu betapa seriusnya masalah ini, Yaya. Hanya saja tidak sepertimu, aku menolak untuk terlihat seperti seseorang menusuk pantataku meski aku sama khawatirnya denganmu. Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak peduli kalau orang disekitarku tahu kalau aku bertunangan atau tidak. Sebab yang pasti aku tidak akan menikahi dia, dan tidak akan membiarkan siapapun memaksaku melakukannya.”Oke, bajingan ini ada benarnya. Mungkin dalam situasi ini hanya aku saja yang terlihat panik dan berlebihan. Tetapi aku tidak bisa menahannya. Ini sudah menjadi sifatku untuk melakukan sesuatu ketika situasi berbalik dan kacau. “Jadi apa yang perlu kita lakukan jika berita ini sampai ke telinga publik?”“Kita panggil Laura.”Untuk kesekian kalinya malam itu, aku ternganga dengan semua hal yang ia katakan seperti ikan yang kehabisan air. Apa aku baru saja mendengar ia menyebut nama tunangannya dengan santai dan tanpa dosa di depan mukaku?“A—apa?”Seringai terlihat di wajah Jarrel ketika dia mengalihka
Ia dengan cepat menghindari tatapanku dan terbatuk kecil sambil menaruh mangkuk dan garpu yang ada ditangannya ke konter dapur. “Ti—tidak apa-apa. Hanya sedang mencoba sesuatu.”Sejujurnya ia terlihat lucu karena aku jarang sekali melihat ia malu-malu dan gelisah seperti anak kecil begini, tetapi meski terlihat menggemaskan aku tidak bisa tertawa. Sebaliknya aku malah punya keinginan kuat untuk memeluknya dari belakang karena gemas. Senyum kecil secara alamiah muncul di wajahku begitu aku mendekati pria itu.Kedua matanya melebar ketika aku menutup jarak diantara kami. “Apa yang mau kau lakukan disini? kau harusnya berada di tempat tidur, istirahat full! Bukan tanpa alasan Dr. Ilya memberimu obat-obatan itu kalau bukan untuk membuatmu tidur,” racaunya dengan tangan dipinggang, postur tubuh yang mengingatkanku pada ibuku yang gila.“Aku baik-baik saja sekarang. Malah sepertinya aku bisa membantumu memasak,” kataku memberinya keyakinan.“Kau sedang sakit, Yaya. Kau tidak bisa melakukann
Jarrel memang pria brengsek. Aku mungkin sudah mengatakannya beberapa kali hari ini, jutaan kali bahkan. Tetapi aku akan terus mengatakannya lagi tanpa merasa bosan sedikitpun. Salahku yang jatuh cinta kepada pria bajingan macam dirinya meskipun aku sebetulnya tidak ingin memelihara perasaan negatif kepada kekasihku sendiri. Namun Jarrel selalu punya cara untuk membuatku membencinya dibeberapa kesempatan, termasuk hari ini. Ilya, dokter yang tiga hari lalu datang untuk memeriksa kondisi Jarrel harus kembali ke rumah ini lagi, bukan untuk memeriksa Jarrel. Melainkan untuk memeriksa kondisiku, karena pria itu berangsur sembuh total setelah kami bercinta. Ia tampak puas menularkan virusnya kepadaku. Dan sekarang malah aku yang terbaring sakit di atas ranjang dengan hidung meler, demam, dan tentu saja badan yang sakit di sana sini gara-gara digempur olehnya. Sang dokter tampan tampak berusaha untuk tidak terlihat terganggu dengan fakta yang ia dapati antara aku dan Jarrel. Aku bersyuku
Lidahnya yang panas mengambil jilatan pertama dan aku bisa mendengar ia sedikit menggeram dibawah sana membuatku makin mabuk oleh gairah. Jarrel mengusap bibir bawahku dengan lidah dan bibirnya mengakibatkan cairan cintaku tidak henti mengalir dan bahkan lebih deras lagi. Ia yang telah menggila dibawah sana meraup seluruhnya dengan gemas dan menghisapnya membuatku kembali dibuat mendesah. Lidahnya bergerak dengan liar, mulanya pelan lalu menggila, naik ke inti kecil yang menantikan sentuhan dan lidah pria itu mulai mengitarinya dengan kecepatan yang tetap sebelum meraupnya dengan lapar.Seluruh tubuhku tersentak, tanganku secara refleks meraih kepalanya dan menaiknya semakin ke dalam. “Ngh… jangan berhenti,” bisikku parau, menikmati siksaan yang ia berikan kepadaku dibawah sana. Jarrel yang mendengarku memohon seperti itu, semakin bersemangat menghisap diriku yang berdenyut-denyut dibawah sana. Bahkan ia juga menyelipkan satu jarinya ke lubangku. Jemari panjang pria itu melesak masuk
“Tapi aku ingin,” katanya.“Tapi aku tidak mau tertular sakitmu.” Aku memejamkan mata, menahan segala ekspresi yang mungkin keluar ketika merasakan sensasi basah menyelimuti leherku. Aku tanpa sadar melingkarkan tanganku sendiri di bahunya, meremasnya sebagai respon atas aksi bibir Jarrel yang begitu kurang ajar.“Kau tidak akan sakit hanya karena kita bercinta, sayangku.”“Tapi kan—”“Anggap saja ini sebagai balasan …” selanya seraya menjulurkan lidahnya ke sepanjang leherku hingga ke telingaku. Mengirimkan getaran nikmat disana yang membuat bulu kudukku berdiri. “… untuk apa yang sudah aku lakukan untukmu hari ini.”Aku menghela napas, merasa kalah dan hanya bisa berpasrah sambil memandang langit-langit kamar. “Dasar kepala batu.”Aku membuang muka, terlalu malu untuk menatap padanya yang kini sudah menjauh dari sana. Jarrel tersenyum melihatku yang tersipu, karena baginya mungkin itu terlihat lucu.Jarrel menghela napas puas, lalu membungkuk. Memerangkapku yang kini berada di bawah
Tahap pemeriksaan kesehatan untuk Jarrel tidak berlangsung lama, kira-kira hanya menghabiskan sekitar dua puluh menit termasuk saat Dr. Ilya (yang kupikir adalah dokter wanita) memberiku resep dan menyarankan agar aku terus mengecek perkembangan suhu tubuh Jarrel secara berkala. Setelah semua itu ia kemudian meninggalkan rumah bersama dengan Chris yang berasalan ikut pulang lantaran dipanggil Bu Soraya dan pria itu pun dengan mudahnya berhasil menghindari rencana introgasi lanjutan yang ingin aku lakukan kepadanya.Aku nyaris terpuruk ke lantai usai menutup pintu. Agak bersyukur para tamu akhirnya pergi dan seluruh sesi kritis telah terlewati. Kini di rumah ini hanya ada aku dan Jarrel saja yang artinya aku bisa beristirahat penuh. Ini adalah hari yang sangat panjang juga menegangkan yang baru pertama kali aku lalui. Dan jujur saja dari sekian banyak hal yang ingin aku lakukan, aku ingin bisa berbaring, dan tidur seharian untuk memulihkan tenaga yang telah terbuang.Aku setengah menye







