Share

Obrolan

Author: Rucaramia
last update publish date: 2026-04-21 14:04:28

Dasar kompetitif, tidak mau kalah, dan… tampaknya ia juga sudah mulai terbawa suasana pada kisah fiksi buatan yang berputar di kepalanya sendiri. Tahu-tahu ia sudah merapat padaku dengan bahu kami yang saling bersentuhan. Antusiasme dengan bayangan dalam kemungkinan-kemungkinan terkecil dihidup kami atau bisa saja memang sedang terjadi di semesta yang lain.

“Kau sangat bersemangat, tapi apa kau yakin pertemuan kita akan berjalan langsung mulus?”

“Kurasa kau mungkin akan mengutukku, dan menjauh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Ketulusan Jarrel

    “Maafkan aku, Yaya. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak bermaksud menutupi ataupun berbohong padamu,” jelasnya, dari suaranya aku bisa mend begitu kental dengan rasa bersalah yang mendalam, sejenis nada yang tidak pernah aku dengar dari dia sebelumnya. “Aku tahu kalau apa yang aku lakukan itu sangatlah egois dan aku adalah lelaki brengsek yang menyembunyikannya darimu padahal kau berhak tahu. Tapi sungguh, Yaya, aku tidak pernah punya niat untuk menyakitimu sama sekali. Aku sungguh berpikir bahwa hal seperti ini tidak perlu kau ketahui karena hanya akan merusak hubungan kita. Lagipula aku sejak awal tidak pernah peduli tentang itu dan aku juga tidak suka mengetahui kalau kau mencemaskan hal yang aku tidak pernah pikirkan.”Aku sungguh dibuat terkejut oleh seluruh argument yang ia katakan. Demi Tuhan, aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengambil sikap seperti ini. Memberiku penjelasan sembari memelukku seraya menyiramiku dengan penuh kasih sayang dengan cara bicaranya y

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Konfrontasi

    “Yaya?”Shit.Aku berbalik dan menyeka air mata sialan ini dari pipiku. Apa yang baru saja aku perbuat? Tiba-tiba saja aku malah menangis seperti orang bodoh didepannya, cara yang bagus untuk merusak moment di hari ulang tahunnya. Sekaligus menggagalkan rencanaku untuk tetap tegar hingga akhir. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba meredakan seluruh amarah dan perasaan yang terlanjur menyeruak ke dalam dada. Ketegangan yang aku tahan-tahan kembali berputar di dalam diriku, padahal sejak aku tahu aku sudah cukup baik untuk menghindari gejolaknya. Ini semua salah Aiden. Jika saja aku tidak bertemu dengan dia tadi, dan dia tidak mengatakan hal-hal buruk kepadaku, aku pasti bisa … ah sial!“Ada apa? kenapa kau menangis?” Jarrel bertanya dengan nada suara yang begitu lembut, kekhawatiran serta keterkejutannya terlihat begitu jelas dan dalam.“Tidak, ada sesuatu dimataku tadi,” ungkapku mencoba berbohong sebisa mungkin, seiring dengan kuhapusnya air mata yang membuat mataku memerah untuk mem

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Jangan Terlihat Menyedihkan

    Setelah mendapatkan teguran dariku, akhirnya kedua mata Aiden kembali menatap wajahku, senyuman ramah tamahnya masih menempel di sana tanpa tahu malu. “Oh, aku tidak sadar kalau aku menatapmu terlalu lama, Nona Leiya. Tidak kukira kau akan cukup berani berkeliaran hanya dengan memakai pakaian dalam. Tapi jujur saja, aku menyukai apa yang sedang aku lihat darimu.”Kontan aku merasakan wajahku memanas dan perutku terasa mual. Shit! Pria itu benar-benar menyebalkan. Pantas saja Jarrel cepat panas dan banyak memakinya, rupa-rupanya karakter Aiden memang mengesalkan. Alih-alih bercengkrama dengannya lebih lama dan membuat emosiku kian meledak. Aku maju tanpa merasa perlu berbalik untuk segera membuka pintu suite-ku. Namun ketika aku hendak masuk ke dalam, sialnya sebuah tangan menempel dibahuku dan hal itu tentu menghentikan langkahku untuk kian masuk ke dalam kamar.Aku berbalik dan melihat Aiden berdiri begitu dekat denganku. Keterkejutan yang luar biasa langsung membuat seluruh indera d

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Deeptalk Soal Keluarga

    Ia tidak bergerak atau menunjukan tanda-tanda ketidaknyamanan, gangguan, atau apa pun itu. Namun karena yang aku sedang hadapi kini adalah Jarrel, pria yang cukup hebat dalam mengatur mimik wajahnya sedemikian rupa. Maka yang aku dapati ia berekspresi sangat santai lalu sisanya ia memilih diam saja. Demi Tuhan, hal itu membuatku sungguh kecewa dan sakit hati. Sepertinya ia tidak terlalu ingin menjawab pertanyaanku. Jadi alih-alih menanti yang tak pasti aku kemudian hendak meralat perkataanku kembali, sebelum akhirnya kudengar pria itu mendengus.“Aku sebenarnya tidak terlalu suka topik ini,” akunya jujur, lalu setelah itu ia menatapku lagi. “Karena dimataku, ayahku adalah orang yang brengsek. Dia ingin aku melakukan apa yang dia inginkan tanpa mempertimbangkan perasaanku. Dia hanya peduli pada uang. Dan bukan cuma dia, tapi ibuku juga tampaknya mencoba memaksaku melakukan kehendaknya. Itu sebabnya dia mengutus Aiden dan membuatku terganggu dengan itu. Dia memang punya spesialisasi di

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Obrolan

    Dasar kompetitif, tidak mau kalah, dan… tampaknya ia juga sudah mulai terbawa suasana pada kisah fiksi buatan yang berputar di kepalanya sendiri. Tahu-tahu ia sudah merapat padaku dengan bahu kami yang saling bersentuhan. Antusiasme dengan bayangan dalam kemungkinan-kemungkinan terkecil dihidup kami atau bisa saja memang sedang terjadi di semesta yang lain.“Kau sangat bersemangat, tapi apa kau yakin pertemuan kita akan berjalan langsung mulus?”“Kurasa kau mungkin akan mengutukku, dan menjauh dariku seperti pertemuan pertama kita disemesta ini. Kau itu sedikit spesial. Aku arogan, dan kau keras kepala. Kita berdua selalu sama-sama tak mau kalah.”Aku tertawa, ia sepertinya sudah mulai bisa berpikir jernih dan pola pikirnya sudah mulai se-frekuensi. Apakah dengan keberadaanku disisinya mengubah pula persepsi dan caranya berpikir? Itu sedikit menghiburku, terus terang saja. “Ya, aku juga berpikir bgeitu. Tapi aku yakin, kita hanya perlu waktu yang singkat untuk dekat.”“Jadi pacarku?”

  • Terjerat Obsesi Bos Baruku   Berendam Bareng

    “Apa?!” protesku langsung.Jarrel menaikan bahu seolah itu bukanlah sesuatu yang patut untuk menciptakan keterkejutan dariku. “Kenapa terkejut begitu? Aku kan cuma mengajakmu berendam. Kau bilang panas mataharinya terik sekali kan? Dengan berendam kurasa itu akan mengurangi intensitas panasnya.”Diam, aku tak lagi punya daya untuk menjawabnya. Jadi ini maksudnya kenapa ia menanyakan soal cuaca beberapa saat lalu? Tapi belum sempat aku melayangkan protes baru. Ia tiba-tiba saja menarikku mendekat padanya.“Ayolah, kapan lagi kan kita bisa berendam dengan pemandangan indah begini!” ajak Jarrel sekali lagi, kali ini dengan alasan yang jauh lebih logis. Kurasa ia sudah sangat pintar dan berpengalaman menaklukanku dengan cara seperti ini. Ia mencelupkan sebelah kakinya ke jacuzzi sembari membaca raut wajahku yang masih berpikir keras. Ini siang bolong, dan para pekerja masih bisa berlalu lalang kapan pun ke tempat ini. Aku tidak suka dengan pemikiranku bahwa mereka akan melihat kami berdua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status