INICIAR SESIÓNSoraya sedang menikmati cake-nya yang kedua saat menyadari tatapan lekat pemuda di hadapannya yang setidaknya menurutnya terlihat begitu intens. Alisnya terangkat bingung. Barulah ketika kunyahannya selesai, ia mengajukan tanya yang beberapa saat lalu bercokol di kepala. “Ada sesuatu di wajah saya, Chris?”Pemuda yang baru saja ditanya hanya menggelengkan kepala samar. Lalu melanjutkan menikmati kuenya sendiri yang beberapa saat lalu sempat ia hentikan hanya untuk menyahut singkat. “Tidak ada apa-apa.”Soraya sudah tidak lagi berada dalam umur peralihan antara remaja ke wanita muda dewasa yang akan dengan senang hati mengatakan ‘oh’ lalu tersenyum manja. Ia jelas perempuan matangan yang tidak suka dengan jawaban setengah-setengah yang tidak ada artinya seperti barusan. Entah sudah berapa kali pula pertanyaan kerap mendapatkan jawaban serupa saat mereka berdua tidak berada di lingkungan kerja. Karenanya, Soraya sudah hafal betul jawaban barusan itu pasti sedang berbalik dengan fakta ya
Soraya menatap layar komputer yang ada di hadapannya, dalam layar monitornya tersebut menampilkan beberapa review terkait tulisan yang dihasilkan oleh penulis di bawah naungannya. Untuk mempermudah pemantauan, ia memang membuat sebuah situs khusus untuk dapat secara langsung melihat antusiasme para pembaca sekaligus dapat melakukan survey yang tepat untuk tema terbaik yang bisa ia sarankan kepada para penulisnya guna menghasilkan profit besar dalam satu season. Pembuatan sebuah buku sendiri membutuhkan waktu yang tak sebentar, jadi ia ingin memastikan setiap buku yang ia terbitkan mendapatkan keuntungan besar yang bisa mengisi kas perusahaan sekaligus dompetnya pribadi.Lalu sepasang iris matanya yang cantik terhenti pada salah satu review yang ia rasa cukup menarik untuk ia resapi tiap kalimatnya.“Abraxas Cobalt benar-benar piawai menggunakan diksi. Saya sampai terlarut dalam cerita yang ia buat dan meskipun beliau adalah seorang pria tetapi ia bisa mencipatkan sudut pandang wanita
Sesuai prediksi, Chris tidak butuh terlalu banyak skenario lain untuk mengkonfirmasi kalau dugannya termanifestasi bukan dalam wujud khayalan. Awalnya ia memang senang karena hubungannya dengan sang atasan tidak memiliki ikatan jelas. Alias mereka saling memuaskan tanpa harus mengkhawatirkan soal kepemilikan dan rasa cemburu berlebihan. Namun bartu beberapa saat hal itu berlangsung, Chris malah berpikir bahwa mendapatkan benefit tanpa hubungan bisa sedemikian menyiksa. Terutama ketika ia tiba-tiba kerap dibayangi oleh pemikiran bahwa Bu Soraya bebas melakukan apapun dengan siapapun selain dirinya. Itu sungguh mengganggu.Ketika Bu Soraya sibuk menetralisir efek melayangnya setelah klimaks, wanita itu tiba-tiba saja telah memandangi Chris. Bola matanya bergulir dengan rute yang sama. Ke samping, turun ke bawah dan sedikit miring, lalu ke atas lagi seolah ia tengah mengukir segitiga dalam angan walaupun ujungnya pandangan mata wanita itu berhenti di bibirnya.Moment seperti ini kadang k
Kini inti kewanitaannya yang basah itu hanya berada satu mili dari tepi bibir sang pemuda. Jubah mandi yang wanita itu kenakan masih melekat, kendati memang hanya menutupi tubuh atas dan sebagian pinggulnya saja. Wangi sabun dan aroma khas yang memabukan miliknya mulai menyerbu begitu saja tanpa aba-aba. Dan melihat dari kondisinya Bu Soraya tampaknya tak punya niatan untuk sedikit pun mundur dari posisinya. Oh… Demi Tuhan, mengapa tiap kali ia mencoba untuk mengenyahkan semua hal tentang Bu Soraya, mengapa wanita itu selalu saja datang padanya disaat yang tidak tepat? Mengapa ia terkesan tak ingin Chris berhenti mendambanya tetapi juga tak terlihat serius untuk memperjelas hubungan mereka.Ketika hasratnya ditarik paksa oleh tingkah polah dan kemolekan tubuh si cantik jelita, maka mana mungkin Chris berani menolak untuk menyingkirkan tubuh montok atasannya ini untuk menghentikan permainan.Paha Bu Soraya terasa begitu hangat tatkala ia menemuk di pundak Chris. Deru napas si pemuda pu
“Merokok tengah malam begitu tidak akan membuat insomnia-mu sembuh asal kau tahu.”Ketika Chris menoleh, dari ranjang tempatnya berbaring ia bisa melihat banyak tubuh Bu Soraya tercetak gelap di lantai kamarnya yang sempit. Wanita itu kini bersandar di sisi pintu, dua tangan terlipat di dada dengan jubah mandinya menutupi tubuh yang beberapa saat lalu dibasuh oleh air hangat.Bahannya yang lembut dan mahal merengkuh luwes lekuk tubuh sang wanita. Bahkan dari balik tabir asap yang membatasi pandangan. Chris bisa melihat jubah itu seakan dikenakan asal-asalan. Memamerkan tulang selangka, lekuk dan lipatan kainnya merekah di sini dan disana. Ikatan tali di pinggang Bu Soraya menjuntai berlekuk-lekuk yang kalau Chris berniat, cukup dengan satu sentakan saja sudah bisa mengurai simpul longgar disana. Kulit Bu Soraya nyata-nyata terlihat lembab dan segar, nyala lampu yang hanya remang-remang menyiramkan warna hangat pada kulit dadanya.Saat Bu Soraya melangkah mendekat, kain jubah mandi yan
Chris dengar hari ini Abraxas Cobalt akan datang ke kantor untuk urusan pekerjaan, jadi ia pun tanpa disengaja malah terbagi fokus. Pekerjaannya tak selesai cepat seperti biasa, malah jadi memerlukan waktu yang tak sedikit. Karena sesekali perhatiannya juga tersita dengan beberapa kali melirik ke arah lorong atau pun ke pintu ruang kerja Bu Soraya. Ia sangat tahu bahwa sikapnya sekarang terlihat paranoia. Apa pula urusannya sampai perlu mengesampingkan pekerjaan hanya karena rekan bisnis bosnya datang berkunjung?Namun presensi seorang Abraxas Cobalt memang sedikit membuat maskulinitasnya terasa jauh dibawah. Pria itu adalah tipe orang yang bisa menyerukan apa maunya, mengatur segalanya, dan bisa mendobrak batas tanpa perlu memikirkan konsekuensinya. Selain perangainya, dari segi fisik pun ia tampan, bertubuh bagus, kaya, cerdas, dan seksi. Wajar bila Bu Soraya menaruh minat padanya dengan seluruh nilai positif itu.“Ah sial!”Chris mengacak rambutnya sendiri lalu bangkit dari kursi.







