MasukHalo ^^ Terima kasih sudah membaca sampai bab 60! Semoga masih suka dengan cerita yang disajikan ^^ Ditunggu komentar dan apresiasinya juga ya~
Hari pertama kembali bekerja setelah cuti patah hati, Freya melangkah santai menuju ruang pemimpin redaksi. Dia bahkan tidak mampir ke mejanya dulu untuk sekedar menaruh tas, seolah sangat tidak sabar bertemu bosnya.“Selamat pagi, Pak Eka!”Freya menyapa dengan senyum ceria. Namun, Eka hanya balas memandangnya dengan tatapan tak bersahabat.“Pak Eka mau kopi? Saya bawa yang sesuai preferensinya Pak Eka,” ujar Freya sambil menaruh segelas kopi di meja bosnya.Setelahnya, Freya juga meletakkan kantong kertas berukuran sedang di sisi gelas kopi. “Saya juga jajan roti bebas gluten khusus untuk Pak Eka yang sabarnya seluas samudera.”Eka bukan orang yang gampang disogok. Namun, melihat Freya yang terus tersenyum dengan mata berbinar-binar, lambat laun hatinya dia luluh juga. “Semua ayah di dunia ini katanya ditakdirkan selalu kalah dari anak perempuannya,” gumam Eka seraya menghela napas panjang.Senyum Freya masih tercetak jelas di bibirnya saat menanggapi pria yang akhirnya mau meminum
Aryan memang sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Gara-gara itu juga, hubungannya dengan si kakak pernah diwarnai perang dingin selama bertahun-tahun.Sekeras apa pun Aryan berusaha, ada saja kurangnya. Wirya bahkan tak pernah sekalipun kelihatan tulus memuji Aryan. Padahal, sejak Aryan menduduki jabatan strategis, Harsa Group nyatanya menunjukkan kemajuan bisnis yang konsisten melampaui ekspektasi.Hanya saja, kinerja Aryan di perusahaan kini tak lagi menjadi satu-satunya hal yang disorot.“Cinta itu perkara merepotkan, Aryandika Hutama.”Belakangan ini, Wirya juga mulai menaruh perhatian khusus pada kehidupan pribadi Aryan, terlebih semenjak anaknya itu memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya dengan Lucy.“Jangan buang-buang waktu dan energimu untuk sesuatu yang pada akhirnya cuma menawarkan kesenangan semu.”Aryan sesaat hanya diam memandang Wirya yang tersenyum meremehkan. Bibirnya lantas turut menyimpul senyum tipis yang perlahan melebar. Dia bahkan mendengus kecil, se
“Saya paling suka ini. Romantisnya dapet banget. Nakalnya juga terasa.”Nadya tersenyum menunjukkan foto Aryan dan Freya yang seolah sedang berciuman di dalam mobil. Potret tersebut diambil saat Aryan mengantar Freya bekerja beberapa hari lalu. “Oh, tapi sebentar. Ada yang lebih menarik,” kata Nadya sambil mencari-cari foto yang dimaksud.Dalam hitungan detik, Nadya kembali memperlihatkan layar ponselnya kepada Reno. Foto yang dia tunjukkan berikutnya ternyata mengabadikan momen lain di hari yang sama.“Iya, kan? Mas Reno pasti setuju dengan saya.”Reno memperhatikan foto Aryan yang kali ini tampak bahagia memeluk Freya di depan lobi utama gedung tempat si perempuan bekerja. Senyumannya memang cerah sekali, kontras dengan Freya yang kelihatan kaget sekaligus tersipu.“Ini romantisnya natural, bukan yang sengaja dibuat-buat.”Sudut bibir Nadya masih tersenyum melengkung ke atas saat kemudian berkata, “Beda dengan foto sebelumnya yang kelihatan sekali kalau dua-duanya sadar kamera.”Be
Juan berteriak sambil mengguncang tubuh Freya, membuat perempuan itu tersentak berulang kali dalam kuasanya.“Lima tahun, Freya! Lima tahun aku menunggu!”Napas Juan memburu. Amarah dan keputusasaan bercampur di wajahnya, menjadikan ekspresinya tampak semakin kacau.“Kenapa kamu malah menyerahkan tubuhmu untuk orang lain?! Dasar murahan! Pelacur sok suci! Harusnya aku yang pertama menikmatinya, bukan si bangsat itu! Sialan!”Freya tercekat. Wajahnya memucat karena mendengar ucapan Juan yang begitu kasar. Matanya membola ketakutan, tak menyangka Juan tega merendahkannya dengan kata-kata seperti itu.“Bajingan!”Suara Chika tiba-tiba terdengar lantang. Perempuan itu berlari menghampiri Juan dan Freya. Tatapannya nyalang, jelas menunjukkan kemarahan yang tak terbendung.“Lepasin Freya!”Juan tak menghiraukan Chika. Alih-alih melepas cengkeramannya, pria itu justru menarik Freya ke dalam pelukannya secara paksa.Namun, Jefri yang datang bersama Chika segera bertindak. Dalam sekejap, si pe
“Aku paham kenapa kamu ngelakuin semua ini. Aku salah, jadi aku emang layak kamu hukum. Tapi emangnya harus kayak begini?”Katanya, orang mabuk cenderung berkata jujur. Saat mereka bicara melantur, setiap kalimat yang terucap mungkin merupakan ungkapan isi hati mereka yang sesungguhnya.Walau sejatinya sudah muak, Freya ingin tahu apa saja yang bakal dikatakan Juan saat mabuk begini. Dia mau dengar kejujuran seperti apa yang akan terlontar dari mulut si pengkhianat.“Aku cuma selingkuh, Freya …”Namun, berharap apa Freya dari pria berengsek yang bahkan tega menyuruh salah satu selingkuhannya menggugurkan kandungannya? Pada akhirnya, Juan lagi-lagi hanya mengatakan sesuatu yang ujungnya menyakiti Freya.“Cuma selingkuh?” Freya memandang sinis Juan. “Cuma? Selingkuh itu kamu bilang ‘cuma’? Dasar bajingan kurang ajar!”Seolah sadar dirinya salah ucap, Juan segera berusaha mengoreksi ucapannya. “Oke! Oke, Freya! Aku selingkuh. Iya, aku selingkuh …!”Juan memegang kepalanya yang terasa sak
Perangai Aryan mungkin tidak tampak seperti seorang pemberontak. Namun, semua orang yang pernah berurusan dengannya pasti tahu bahwa dia bukan tipe yang gampang patuh. Jika ada sesuatu yang memang tidak sesuai keinginan atau kehendaknya, Aryan akan mencari celah untuk menolak atau bahkan melawan.Entah diam-diam atau terang-terangan, Aryan bakal menemukan celah agar segalanya berjalan seperti kemauannya saja.“Maksudnya, mau kayak gimana kondisinya, dia bisa aja tetep nyariin kamu, gitu?”Freya langsung mengiyakan omongan Chika. “Iya. Aku khawatirnya dia bakal begitu.”Melihat tampang serius Freya, Chika terdiam sesaat. Namun, alih-alih menanggapi dengan ekspresi serupa, Chika lalu menyunggingkan senyum jenaka.“Ternyata kamu seyakin itu, ya, sama cintanya dia ke kamu,” celetuk Chika sembari mendengus geli. “Jadi, Aryan itu tipikal cowok yang rela mendaki gunung, lewati lembah, bahkan berenang menyeberangi lautan demi cinta, ya? Wah, gila! Romantis banget si Aryan!”Chika mencibir A







