Beranda / Historical / Terjerat Panglima Kejam / Bab 6 Ciuman yang Tak Disengaja

Share

Bab 6 Ciuman yang Tak Disengaja

Penulis: Lia Safitri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 05:14:32

Ratna beringsut mundur, jantungnya berdegup kencang seperti hendak pecah. Namun langkahnya terhenti saat punggungnya menyentuh dinding dingin. Panglima Rangga mendekat perlahan, tatapannya menusuk, membuat Ratna merasa seperti seekor rusa yang terperangkap.

"Mau pergi ke mana kau, Ratna? Sudah kubilang, kau tidak akan bisa lepas dari jeratanku!" ujar Rangga dengan senyum miring, kedua tangannya menekan kuat di sisi Ratna, membuatnya terkurung.

Ratna menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "A-apa yang ingin ka-kau lakukan, hah?" tanyanya dengan terbata, matanya bergetar menahan takut.

Panglima Rangga terkekeh pelan, tatapannya menusuk layaknya serigala yang baru saja menjebak mangsanya.

"Menurutmu, apa yang ingin kulakukan, istriku?" suaranya merendah, penuh ancaman samar.

"Bukankah kau sudah mendengar sendiri ucapanku sebelum kita melangkah masuk ke kamar ini? Setelah ini, kau pasti tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi di antara kita hari ini!"

Rangga meraih pergelangan tangan Ratna dengan kuat, lalu menariknya mendekat. Dengan sekali hentakan, tubuh gadis itu terhempas ke ranjang besar yang bertirai merah marun.

Ratna menegang, tubuhnya bergetar hebat. Ia berpaling, memalingkan wajah ke arah lain agar tak bertemu dengan pandangan Rangga. Pipinya memerah, bukan hanya karena takut, tetapi juga karena rasa malu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Seumur hidupnya, Ratna tak pernah berdekatan dengan pria mana pun selain ayahnya dan para prajurit yang selalu menjaganya di kediaman lama. Kini, dirinya justru terjerat dalam bayang-bayang seorang panglima yang termasyhur akan kekejamannya.

"Lihatlah aku, Ratna!" suara Rangga berat. Jemarinya menyentuh dagu Ratna, mencoba memaksa wajah gadis itu kembali menghadap padanya.

Ratna menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang tak terkendali. "Lepaskan aku…!" ucapnya lirih, mencoba menghempaskan tangan Rangga.

Panglima Rangga semakin mendekatkan wajahnya, "Oh, kau masih berani menantangku? Bagus… semakin kau melawan, semakin aku menikmati permainan ini!"

Ratna meremas erat sprei di bawah jemarinya, wajahnya memerah menahan perasaan campur aduk.

"A-aku tidak bisa… melakukan itu!" ucapnya dengan suara bergetar.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya berusaha meraih celah untuk bebas dari rangkulan Rangga, namun semakin ia berontak, semakin erat pula kungkungan suaminya itu.

"Tolong lepaskan aku! A-aku tidak ingin... melakukan malam pertama denganmu!" katanya, mencoba terdengar tegas meski suaranya jelas bergetar oleh ketakutan dan keraguan.

Rangga masih tampak tenang setelah mendengar ucapan istrinya, namun dari sorot matanya terpancar kegelapan yang mulai muncul, pekat dan menekan, seakan siap menelan Ratna bulat-bulat.

"Apakah kau baru saja menolak suamimu ini, istriku?" tanyanya dengan nada rendah, namun sarat ancaman.

Ratna terdiam kaku. Dadanya naik-turun cepat, sementara hawa dingin menjalar ke sekujur tubuhnya. Ia bisa merasakan aura menakutkan yang mulai merembes keluar dari tubuh sang panglima tiran itu.

"A-aku… A-aku…" suaranya patah-patah, ia meneguk ludah dengan kasar, tenggorokannya seakan tercekat oleh ketakutan yang membelenggunya.

"Ternyata benar..." ucap Rangga berbisik lirih.

"Kau berani menolakku!" sambungnya.

"Aku… aku tidak bermaksud…" Ratna mencoba menjelaskan dengan suara bergetar.

Dengan gemetar, ia mencoba mengangkat wajahnya, berusaha menatap mata suaminya untuk sekadar menunjukkan ketulusan ucapannya. Namun karena jarak mereka yang begitu dekat, tanpa sengaja bibirnya menyentuh bibir Rangga.

Waktu seakan berhenti. Ratna membeku dengan mata membelalak, sementara Rangga terdiam menatapnya lekat. Ciuman singkat dan tak disengaja itu adalah yang pertama bagi keduanya, membuat mereka sama-sama tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Ratna buru-buru memalingkan wajah. Namun sebelum sempat ia benar-benar menghindar, tangan Rangga bergerak cepat, menahan dagunya, memaksa tatapannya kembali bersua dengan mata tajamnya.

Dengan suara rendah namun sarat wibawa, Rangga berbisik, "Jangan pernah alihkan pandanganmu dariku! Aku suamimu, Ratna, dan hanya aku yang pantas kau tatap saat aku berada di hadapanmu!"

Rangga semakin tenggelam dalam manik mata cokelat milik istrinya. Wajahnya kian mendekat, bukan karena kebetulan, melainkan karena keinginannya sendiri yang tak mampu ia bendung.

Ratna terkejut, tubuhnya seakan membeku di tempat. Ia bisa merasakan hangat napas suaminya yang mulai menyapu kulitnya, membuat jantungnya berdentum cepat.

Tak tahu harus berbuat apa, Ratna hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat, pasrah. Namun tepat ketika jarak di antara mereka hanya tinggal sehelai rambut, ketukan keras di pintu mengusik ketegangan yang menyesakkan dada Ratna.

Tok! Tok! Tok!

Rangga hampir saja meledakkan sumpah serapah di wajah istrinya.

Tok! Tok! Tok!

Seketika rahang Rangga mengeras, matanya menyala penuh amarah. Ia menggeram tepat di depan wajah Ratna hingga membuat istrinya itu gemetar ketakutan.

"Tuan!" suara dari luar kamar terdengar mendesak, penuh ketegangan.

"Sial!" Panglima Rangga mengumpat, beringsut mundur dan melepaskan kungkungannya dari tubuh Ratna. "Siapa yang berani mengganggu kesenanganku ini!"

Rangga menoleh tajam ke arah Ratna, sorot matanya menyala penuh amarah. Ia menunduk mendekati wajah istrinya.

"Jangan coba-coba lari!" desisnya.

"Kita belum selesai! Aku hanya akan keluar sebentar, dan akan segera kembali!"

Ratna menelan ludah, tubuhnya kaku di atas ranjang.

"Apa kau mengerti?!" Panglima Rangga membentak keras, membuat jantung Ratna hampir meloncat dari dadanya.

Ratna mengangguk cepat, suaranya tercekat. "I-iya..."

Ratna hanya bisa menangis, meratapi nasib yang tak pernah ia pilih. Ingin melawan? Ia hanyalah gadis rapuh yang bahkan tak pernah menyentuh pedang. Sungguh berbeda dengan Rangga, seorang panglima yang sudah terasah keras di medan perang.

Ingin melawan melalui koneksi? Itu mustahil. Dia bahkan tidak pernah dikenal ada di kerajaan Jayamarta ini.

Sementara itu, Panglima Rangga hanya menyunggingkan senyum tipis, dia merasa puas istri kecilnya ini tidak berani membantah. Baginya, selama Ratna tidak membangkang, itu sudah cukup membuat hatinya senang. Terpaksa atau tidak, ia tidak peduli.

Ceklek!

Rangga membuka pintu kamarnya.

Seorang pria tegap segera menundukkan badan memberi hormat.

"Tuan...!"

Bugh!

Tanpa ampun, Panglima Rangga melayangkan tendangan keras ke perut pria itu.

Brugh!

Tubuh sang prajurit terhuyung jatuh, erangan kesakitan pun lolos dari mulutnya.

"Beraninya kau mengganggu kesenanganku!" suara Rangga menggelegar, penuh amarah.

"Am—ampun, Tuan! Hamba tidak bermaksud lancang, mengusik kegiatan Tuan bersama Nyonya. Hamba… terpaksa melakukannya karena ada hal penting yang harus saya sampaikan pada Tuan." Suara prajurit itu bergetar, mencoba menjelaskan di tengah rasa sakit.

Mata Panglima Rangga menyipit tajam, sorotnya menusuk seperti bilah pedang.

"Hal penting, katamu?" suaranya rendah, penuh ancaman. "Katakan sekarang! Dan ingat… jika berita yang kau bawa tidak sepadan dengan keberanianmu mengusikku…"

Ia mendekat, menundukkan wajahnya tepat di hadapan prajurit itu, suaranya semakin dingin.

"…maka apa yang kau alami barusan hanyalah permulaan. Ingat, aku tidak akan pernah membiarkanmu lolos dengan mudah!"

Prajurit itu menelan ludah dengan gugup, lalu menundukkan kepala dalam-dalam. Ia menarik napas panjang sebelum bersuara, menyusun setiap kata seakan hidupnya bergantung pada ketepatan ucapannya.

"Ampun, Tuan! Hamba diutus untuk menyampaikan titah langsung dari Yang Mulia Raja Dursala. Baginda, memanggil Tuan untuk segera menghadap ke istana saat ini juga!"

__

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 26 Jejak Darah di Tanah Jayamarta

    Panglima Rangga terus memacu kudanya, menjerumuskan diri lebih dalam ke hutan yang gelap dan lembap. Dedaunan basah memercik saat kuda itu menerjang semak-semak. Sementara Brahma, meski kelelahan, ia tetap memaksakan diri mengikuti tuannya di belakang. Sejak mereka memasuki hutan, tidak ada jeda, tidak ada istirahat, tidak ada kata cukup. Setiap hewan yang muncul di jalur mereka menjadi korban pelampiasan tanpa perlu alasan.Seekor kijang yang ketakutan melompat dari balik semak, tewas. Babi hutan yang menyeruduk karena panik, tertebas tanpa sempat menghindar. Bahkan seekor serigala besar yang berani menggeram pun runtuh begitu pedang Panglima Rangga melintas.Namun setelah sekian banyak darah menodai tanah, ekspresi sang panglima belum juga berubah. Tidak ada tanda puas apalagi lega, seolah setiap hewan yang tumbang hanyalah upaya sia-sia untuk membungkam sesuatu yang berteriak di dalam dirinya.Brahma, yang sejak awal mengikuti dari belakang, nyaris kehabisan tenaga. Keringat memba

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 25 Malam yang Sepi

    Panglima Rangga melangkah keluar dari ruang kerjanya ketika malam masih menggantung berat di langit. Lorong-lorong Paviliun sang Panglima dipenuhi cahaya redup dari lampu minyak, membuat bayangannya memanjang dan bergerak mengikuti setiap langkahnya.Udara dingin menusuk, namun justru itu yang ia butuhkan untuk menenangkan pikirannya sebelum berangkat berburu sekaligus memeriksa keamanan wilayah kerajaan bersama Brahma.Namun, langkah Rangga terhenti ketika ia melewati pintu kamarnya.Pintu kayu itu tertutup rapat, seakan memisahkan dunia luar dari sosok rapuh yang tertidur di dalamnya. Panglima Rangga menatap pintu itu lama, rahangnya mengencang perlahan.Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Banyak hal yang ingin ia perbaiki, namun semua itu harus ia tunda. Untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga jarak agar ketakutan Ratna tidak bertambah dan memastikan tidak ada bahaya yang mendekati wanita itu. Setelah beberapa saat, ia mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 24 Malam Penuh Kegelisahan

    Malam turun perlahan di Paviliun Panglima. Angin dingin menelusup masuk melalui kisi-kisi jendela ruang kerja tempat Rangga berdiri seorang diri. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu minyak di mejanya, memantulkan bayangan panjang di dinding, seolah ikut mengawasi kegelisahan tuannya.Sudah berjam-jam ia di sana, namun pikirannya tetap tertahan pada sosok Ratna yang masih tak sadarkan diri sejak siang."Mengapa kau begitu rapuh, Ratna? Atau… tanpa kusadari aku yang terlalu kejam padamu?"Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, berulang, mengganggunya lebih dari luka apa pun yang pernah ia terima di medan perang.Panglima Rangga memijit pelipisnya, mencoba mengusir kegelisahan yang bahkan tidak ingin ia akui sebagai rasa khawatir. Namun setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Ratna yang terkulai di pelukannya kembali muncul, lemah, pucat, dan sama sekali tak berdaya.Ketukan di pintu memutus lamunannya. "Masuk!"Seorang pengawal masuk, membungkuk, kemudian menyodorkan gulungan

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 23 Canda yang Membuka Luka

    Panglima Rangga terdiam sejenak, menatap wajah Ratna yang masih menunduk dalam diam. Lalu suaranya kembali terdengar, berat dan penuh penegasan."Dan satu lagi," ujarnya perlahan, tapi tajam. "Kau harus mengenakan cadarmu! Selama yang berhadapan denganmu bukan aku atau ayahmu, jangan pernah memperlihatkan wajahmu!"Ratna menatapnya bingung, namun Rangga sudah lebih dulu menambahkan, "Lakukan seperti apa yang dulu diajarkan ayahmu," lanjutnya lebih pelan, "Hanya saja… bedanya, kali ini ada aku."Rangga menunduk sedikit, jemarinya terulur, menyentuh lembut dagu Ratna hingga gadis itu menengadah menatapnya."Ada aku," suaranya merendah, nyaris berbisik. "Yang berhak menatapmu… menyentuhmu… dan memiliki dirimu sepenuhnya!"Ratna menggigit bibir bawahnya, berusaha menyembunyikan rasa canggung dan takut yang terus menghimpit dadanya. Perlahan, ia pun mengangguk."Baik, Tuan. Tapi aku tidak memiliki cadar seperti yang selama ini aku gunakan. Aku... tidak sempat membawa apa pun dari kediama

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 22 Penyamaran?

    Cahaya siang menembus tirai tipis, menebar kehangatan di lantai kayu yang mengkilap. Ratna berdiri di dekat jendela, menatap ke arah halaman yang ramai. Para prajurit tampak berlatih di bawah terik matahari, sementara para pelayan berlalu-lalang membawa kendi air dan keranjang bunga.Namun, bagi Ratna, semua itu terasa jauh. Ia hanya memandang, tanpa benar-benar melihat.Langkah berat terdengar mendekat di belakangnya. Panglima Rangga baru saja masuk, masih mengenakan pakaian latihan dengan pedang yang tergantung di pinggangnya. "Kau terlihat murung hari ini," ucapnya sambil memperhatikan istrinya yang terdiam di sisi jendela. "Apakah kau merindukan ayahmu, Ratna?"Rangga mendekat, memperhatikan Ratna yang masih diam membisu. "Semalam aku mendengar, kau mengigau memanggil-manggil ayahmu dalam tidurmu?" ucap Rangga lagi. Ratna tersentak pelan. Ia menoleh, menatap Rangga dengan mata yang sedikit membesar, "Aku… Aku tidak sadar telah melakukannya, Tuan," ujarnya pelan. "Mungkin hanya

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 21 Siasat Panglima, Amarah Raja

    Brahma berdiri kaku di samping Tuan Suryadipa, wajahnya tegang, pikirannya berputar cepat mencoba mencerna percakapan yang baru saja terjadi diantara keduanya. Namun belum sempat ia memahami semuanya, suara berat Panglima Rangga kembali terdengar,"Brahma! Temui Raja Dursala, katakan padanya bahwa putri Tuan Suryadipa adalah kekasihmu dan kau akan menikahinya. Gagalkan rencananya sebelum gadis itu dijemput utusan istana!" ucapnya datar namun tegas. "Jadi saya hanya perlu menggagalkan rencana Raja tanpa harus benar-benar menikahi putri Tuan Suryadipa, begitu, Tuan?" tanya Brahma hati-hati."Nikahi dia! Kau pikir Raja Dursala tidak akan menyelidiki masalah ini?" jawab Rangga tegas. Brahma menelan ludah, wajahnya menegang. "Tuan… bagaimana bisa saya menikah dengan putri bangsawan sepertinya? Saya hanya...""Cukup!" potong Rangga cepat, "Ini perintah, Brahma! Bukan tawaran!"Brahma terdiam seketika. Napasnya terasa berat, namun akhirnya ia menunduk dalam dan berkata pelan, "Baik, Tuan."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status