Home / Historical / Terjerat Panglima Kejam / Bab 7 Titah Raja, Janji Suami

Share

Bab 7 Titah Raja, Janji Suami

Author: Lia Safitri
last update Last Updated: 2025-11-09 05:27:03

Panglima Rangga melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah mantap, membuat udara di ruangan itu kembali menegang. Ratna yang duduk di tepi ranjang sontak merasakan jantungnya berdebar kencang.

Keringat dingin membasahi pelipisnya, bayangan menakutkan tentang perintah untuk melayaninya kembali terlintas dalam pikirannya.

Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Panglima Rangga menatapnya tajam, lalu berkata dengan suara dalam dan penuh wibawa,

"Kau bisa beristirahat selama aku tidak ada! Aku harus pergi ke istana menemui Raja Dursala. Jika ada sesuatu yang kau butuhkan atau inginkan, mintalah pada para pelayan! Selama permintaan itu bukan melarikan diri dariku, kau akan mendapatkan apa pun yang kau mau!"

Ratna hanya bisa menunduk, mencoba mencerna setiap kalimat yang terucap.

Panglima Rangga mendekat selangkah, sorot matanya menusuk, lalu menambahkan,

"Sama seperti ayahmu yang tidak mengizinkanmu melihat dunia luar, aku pun memberlakukan aturan yang sama padamu! Kau belum resmi kuperkenalkan pada dunia luar, terutama pada rakyat kerajaan Jayamarta. Jadi jangan berbuat macam-macam!"

"Banyak orang jahat di luar sana. Kau belum pernah bertemu atau berinteraksi dengan orang asing, jadi jangan sekali pun meninggalkan kediaman ini tanpa sepengetahuanku dan tanpa pengawalan!"

Panglima Rangga berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke dalam mata istrinya.

"Apa kau mengerti, istriku?"

Ratna hanya mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya tertunduk dalam, seakan lantai jauh lebih aman untuk dipandang daripada mata suaminya itu.

Panglima Rangga menatapnya lekat, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Ada kepuasan tersendiri melihat istrinya yang begitu patuh, seolah Ratna adalah burung jinak yang sudah terkekang di dalam sangkar emasnya.

"Patuhlah selalu, Ratna! Maka aku akan menjagamu dari segala hal yang bisa melukaimu!" Tatapannya penuh kuasa, tapi ada nada ambigu di balik suaranya, antara ancaman dan perlindungan.

Namun lagi-lagi Ratna hanya menganggukkan kepalanya. Bibirnya gemetar, seolah ada ribuan kata yang ingin keluar, namun semua tertahan di tenggorokannya.

Sebenarnya, ada satu hal yang terus menghantui pikirannya, tentang Raja. Tentang kekejaman yang semakin hari semakin membelenggu rakyat kecil. Tapi bagaimana mungkin ia bisa membicarakannya pada Rangga?

Ia tahu, meskipun raja dikenal kejam, Panglima Rangga memilih menutup mata. Kesetiaannya pada singgasana lebih kuat daripada rasa iba pada rakyat yang menderita.

Ratna menunduk lebih dalam, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuannya. Hatinya pedih. Sebab ia ingat, ayahnya seorang lelaki yang hidup demi membela rakyat, harus membayar mahal atas keberaniannya. Demi keadilan, ayahnya terpaksa melakukan pembelotan, sesuatu yang dianggap pengkhianatan besar.

Dan kini, ironisnya, ia justru menjadi istri dari orang yang berdiri di sisi berlawanan dengan ayahnya.

Ratna menghela napas berat, dadanya terasa sesak. Bayangan masa depan terbentang di pelupuk mata, mungkin sisa hidupnya akan ia habiskan bersama Rangga.

"Apakah aku bisa benar-benar bahagia?" batin Ratna getir.

Jika benar hidupnya akan terus bergulir di sisi Rangga, maka itu berarti Ratna juga harus siap menanggung segala konsekuensi. Setia pada seorang pria yang tunduk pada Raja yang telah menjadi musuh ayahnya sendiri.

Tanpa sadar, jemari Ratna meremas kain gaunnya. Wajahnya menunduk, seolah ingin menyembunyikan gemuruh dalam dadanya.

Rangga yang memperhatikan perubahan di wajah istrinya hanya tersenyum tipis. Ia mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit untuk menangkap setiap garis ekspresi Ratna.

"Ada apa?" tanyanya lembut namun penuh selidik. "Apa yang sedang kau pikirkan? Atau… kau kecewa karena kita tidak jadi melewati malam pertama?"

Ratna sontak mendongak, kedua matanya membelalak kaget. Bibirnya sedikit terbuka, tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut suaminya. Dengan cepat ia memalingkan wajah, pipinya memanas hingga berubah merah merona.

"B-bagaimana bisa kau bicara seperti itu? Malam pertama apanya? Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu!" ucapnya terbata, suaranya meninggi karena gugup, sementara rona merah di wajahnya semakin jelas.

Rangga terkekeh pelan, suaranya hangat namun juga menggoda.

"Aku pikir kau kecewa!" ucapnya sambil menatap lekat wajah istrinya.

Ratna buru-buru menutup matanya, seolah ingin bersembunyi dari tatapan suaminya. Wajahnya semakin memerah, jantungnya berdegup kencang saat merasakan jarak di antara mereka semakin tipis.

Panglima Rangga menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan campuran gemas, hangat, dan sedikit tak percaya. Perlahan, ia mengangkat tangannya, lalu mengusap lembut pipi Ratna yang panas bersemu merah. Sentuhan itu membuat Ratna tersentak kecil, namun ia tak berani membuka matanya.

"Ternyata memiliki seorang wanita di sisiku... tidak semenyebalkan seperti yang kubayangkan!" ucap Rangga lirih.

"Jujur saja, sebenarnya aku masih ingin menghabiskan banyak waktu denganmu, aku masih ingin mengenali istriku lebih dalam. Tapi sayang sekali, Raja Dursala memanggilku. Jika tidak, sudah kupastikan kau tak akan bisa bangkit dari ranjang ini malam ini!"

Nada suaranya tajam, membuat Ratna merinding meski mencoba menatap suaminya dengan tenang.

"Jadi, Ratna istriku, selama aku tidak ada, kau harus ingat apa yang sudah kukatakan padamu sebelumnya. Tentang aturan yang berlaku padamu, aturan yang tidak boleh sekali pun kau langgar!"

Ia semakin mendekat, menundukkan wajahnya hingga hampir sejajar dengan Ratna, suaranya merendah namun penuh ancaman.

"Jangan coba-coba melanggar, atau ayahmu akan..."

"Aku mengerti! Jadi berhenti mengancamku dengan membawa-bawa nama ayahku!" potong Ratna cepat, matanya berkilat penuh amarah.

Sejenak hening. Udara di ruangan terasa berat. Panglima Rangga menatap Ratna dalam, seakan menimbang keberanian yang tiba-tiba muncul dari istrinya.

Sudut bibirnya terangkat tipis, "Keberanianmu menarik, Ratna! Tapi jangan sampai kata-kata itu menjadi awal dari penyesalanmu sendiri!"

Panglima Rangga melangkah mundur, meraih jubah hitamnya, lalu berbalik hendak meninggalkan kamar.

Namun suara lirih Ratna menahannya.

"Bagaimana jika Raja Dursala bertanya tentang ayahku?" tanyanya dengan suara bergetar.

Langkah Rangga terhenti. Tangannya yang sudah menyentuh gagang pintu pun perlahan mengendur. Ia menoleh setengah badan, menatap istrinya dengan sorot mata tajam.

"Memangnya kenapa?" tanyanya datar.

Ratna menunduk, jemarinya saling memilin di atas pangkuannya. Bibirnya bergetar, mencoba menyusun kata.

"Apakah kau akan mengatakan bahwa ayahku masih hidup? Lalu… bagaimana jika Raja Dursala tetap memerintahkanmu untuk menghabisinya? Apakah kau benar-benar akan melakukannya?"

Nada suaranya pecah. Ia mengangkat wajahnya, tatapan matanya penuh kecemasan.

"Dan… bagaimana denganku? Aku adalah putri dari Damar Langkarsana yang dituduh berkhianat. Bukankah aku pun akan dicap sama seperti ayahku? Mungkin aku juga akan berakhir sama seperti…"

Belum sempat kata-kata itu tuntas, Rangga mendadak melangkah cepat, menutup jarak, lalu memotong tegas,

"Tidak akan ada yang berani menyentuhmu!"

Ratna terdiam, matanya membesar, menatap suaminya dengan campuran takut dan ragu.

Dengan gerakan lembut yang kontras dengan nada suaranya tadi, Rangga mengangkat tangan, mengusap wajah istrinya.

"Apakah kau masih meragukan janjiku, istriku?" bisiknya dalam.

"Selama kau tetap berada di sisiku… selama kau menurut padaku… baik dirimu maupun ayahmu, aku pastikan akan tetap aman!"

"Dan soal Raja Dursala, jangan khawatirkan apapun tentang dia! Dia tidak akan tahu jika ayahmu masih hidup!"

Ratna hanya mengangguk, meski hatinya masih diliputi rasa ragu. Janji Panglima Rangga terdengar indah, namun benarkah ia mampu menentang titah Raja Dursala?

__

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 26 Jejak Darah di Tanah Jayamarta

    Panglima Rangga terus memacu kudanya, menjerumuskan diri lebih dalam ke hutan yang gelap dan lembap. Dedaunan basah memercik saat kuda itu menerjang semak-semak. Sementara Brahma, meski kelelahan, ia tetap memaksakan diri mengikuti tuannya di belakang. Sejak mereka memasuki hutan, tidak ada jeda, tidak ada istirahat, tidak ada kata cukup. Setiap hewan yang muncul di jalur mereka menjadi korban pelampiasan tanpa perlu alasan.Seekor kijang yang ketakutan melompat dari balik semak, tewas. Babi hutan yang menyeruduk karena panik, tertebas tanpa sempat menghindar. Bahkan seekor serigala besar yang berani menggeram pun runtuh begitu pedang Panglima Rangga melintas.Namun setelah sekian banyak darah menodai tanah, ekspresi sang panglima belum juga berubah. Tidak ada tanda puas apalagi lega, seolah setiap hewan yang tumbang hanyalah upaya sia-sia untuk membungkam sesuatu yang berteriak di dalam dirinya.Brahma, yang sejak awal mengikuti dari belakang, nyaris kehabisan tenaga. Keringat memba

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 25 Malam yang Sepi

    Panglima Rangga melangkah keluar dari ruang kerjanya ketika malam masih menggantung berat di langit. Lorong-lorong Paviliun sang Panglima dipenuhi cahaya redup dari lampu minyak, membuat bayangannya memanjang dan bergerak mengikuti setiap langkahnya.Udara dingin menusuk, namun justru itu yang ia butuhkan untuk menenangkan pikirannya sebelum berangkat berburu sekaligus memeriksa keamanan wilayah kerajaan bersama Brahma.Namun, langkah Rangga terhenti ketika ia melewati pintu kamarnya.Pintu kayu itu tertutup rapat, seakan memisahkan dunia luar dari sosok rapuh yang tertidur di dalamnya. Panglima Rangga menatap pintu itu lama, rahangnya mengencang perlahan.Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Banyak hal yang ingin ia perbaiki, namun semua itu harus ia tunda. Untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga jarak agar ketakutan Ratna tidak bertambah dan memastikan tidak ada bahaya yang mendekati wanita itu. Setelah beberapa saat, ia mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 24 Malam Penuh Kegelisahan

    Malam turun perlahan di Paviliun Panglima. Angin dingin menelusup masuk melalui kisi-kisi jendela ruang kerja tempat Rangga berdiri seorang diri. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu minyak di mejanya, memantulkan bayangan panjang di dinding, seolah ikut mengawasi kegelisahan tuannya.Sudah berjam-jam ia di sana, namun pikirannya tetap tertahan pada sosok Ratna yang masih tak sadarkan diri sejak siang."Mengapa kau begitu rapuh, Ratna? Atau… tanpa kusadari aku yang terlalu kejam padamu?"Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, berulang, mengganggunya lebih dari luka apa pun yang pernah ia terima di medan perang.Panglima Rangga memijit pelipisnya, mencoba mengusir kegelisahan yang bahkan tidak ingin ia akui sebagai rasa khawatir. Namun setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Ratna yang terkulai di pelukannya kembali muncul, lemah, pucat, dan sama sekali tak berdaya.Ketukan di pintu memutus lamunannya. "Masuk!"Seorang pengawal masuk, membungkuk, kemudian menyodorkan gulungan

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 23 Canda yang Membuka Luka

    Panglima Rangga terdiam sejenak, menatap wajah Ratna yang masih menunduk dalam diam. Lalu suaranya kembali terdengar, berat dan penuh penegasan."Dan satu lagi," ujarnya perlahan, tapi tajam. "Kau harus mengenakan cadarmu! Selama yang berhadapan denganmu bukan aku atau ayahmu, jangan pernah memperlihatkan wajahmu!"Ratna menatapnya bingung, namun Rangga sudah lebih dulu menambahkan, "Lakukan seperti apa yang dulu diajarkan ayahmu," lanjutnya lebih pelan, "Hanya saja… bedanya, kali ini ada aku."Rangga menunduk sedikit, jemarinya terulur, menyentuh lembut dagu Ratna hingga gadis itu menengadah menatapnya."Ada aku," suaranya merendah, nyaris berbisik. "Yang berhak menatapmu… menyentuhmu… dan memiliki dirimu sepenuhnya!"Ratna menggigit bibir bawahnya, berusaha menyembunyikan rasa canggung dan takut yang terus menghimpit dadanya. Perlahan, ia pun mengangguk."Baik, Tuan. Tapi aku tidak memiliki cadar seperti yang selama ini aku gunakan. Aku... tidak sempat membawa apa pun dari kediama

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 22 Penyamaran?

    Cahaya siang menembus tirai tipis, menebar kehangatan di lantai kayu yang mengkilap. Ratna berdiri di dekat jendela, menatap ke arah halaman yang ramai. Para prajurit tampak berlatih di bawah terik matahari, sementara para pelayan berlalu-lalang membawa kendi air dan keranjang bunga.Namun, bagi Ratna, semua itu terasa jauh. Ia hanya memandang, tanpa benar-benar melihat.Langkah berat terdengar mendekat di belakangnya. Panglima Rangga baru saja masuk, masih mengenakan pakaian latihan dengan pedang yang tergantung di pinggangnya. "Kau terlihat murung hari ini," ucapnya sambil memperhatikan istrinya yang terdiam di sisi jendela. "Apakah kau merindukan ayahmu, Ratna?"Rangga mendekat, memperhatikan Ratna yang masih diam membisu. "Semalam aku mendengar, kau mengigau memanggil-manggil ayahmu dalam tidurmu?" ucap Rangga lagi. Ratna tersentak pelan. Ia menoleh, menatap Rangga dengan mata yang sedikit membesar, "Aku… Aku tidak sadar telah melakukannya, Tuan," ujarnya pelan. "Mungkin hanya

  • Terjerat Panglima Kejam   Bab 21 Siasat Panglima, Amarah Raja

    Brahma berdiri kaku di samping Tuan Suryadipa, wajahnya tegang, pikirannya berputar cepat mencoba mencerna percakapan yang baru saja terjadi diantara keduanya. Namun belum sempat ia memahami semuanya, suara berat Panglima Rangga kembali terdengar,"Brahma! Temui Raja Dursala, katakan padanya bahwa putri Tuan Suryadipa adalah kekasihmu dan kau akan menikahinya. Gagalkan rencananya sebelum gadis itu dijemput utusan istana!" ucapnya datar namun tegas. "Jadi saya hanya perlu menggagalkan rencana Raja tanpa harus benar-benar menikahi putri Tuan Suryadipa, begitu, Tuan?" tanya Brahma hati-hati."Nikahi dia! Kau pikir Raja Dursala tidak akan menyelidiki masalah ini?" jawab Rangga tegas. Brahma menelan ludah, wajahnya menegang. "Tuan… bagaimana bisa saya menikah dengan putri bangsawan sepertinya? Saya hanya...""Cukup!" potong Rangga cepat, "Ini perintah, Brahma! Bukan tawaran!"Brahma terdiam seketika. Napasnya terasa berat, namun akhirnya ia menunduk dalam dan berkata pelan, "Baik, Tuan."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status