Share

Jalan Abu-Abu

Penulis: THANISA
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-14 10:26:59

Lampu kamar belum dimatikan saat Leon berdiri di balkon kamar mereka, mengenakan kaus hitam polos dan celana longgar. Hanya suara lembut angin malam dan debur pelan ombak buatan dari kolam di halaman yang terdengar.

Elera keluar dari kamar mandi, rambutnya basah dan berantakan, mengenakan piyama santai. Dia memandang punggung Leon yang menghadap luar, tubuhnya tampak tegak… tapi napasnya berat.

“Leon,” panggilnya pelan.

Tanpa menoleh, Leon mengangkat tangannya, seolah mengundang Elera untuk mendekat.

“Kadang aku berpikir,” katanya tanpa basa-basi, “bagaimana hidup kita kalau sejak awal aku bukan siapa-siapa. Bukan anak dari sistem yang busuk. Bukan pewaris jalur abu-abu. Mungkin… kamu nggak perlu kehilangan apa-apa.”

Elera berdiri di sisinya sekarang, memandang wajah suaminya dari samping. Mata itu tampak jauh—penuh pertarungan batin.

“Waktu kamu jatuh dan hampir kehilangan nyawamu di tangan orang-orang itu, aku sadar… aku nggak akan pernah bisa keluar dari semua ini dengan bersih. Ta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya    Saat Penjaga Memilih Diam

    Sistem Santiago tidak pernah benar-benar tidur. Tapi malam itu, ia bernapas berbeda.Di salah satu cabang server yang bahkan Leon Santiago jarang sentuh, muncul denyut kecil—bukan alarm, bukan kesalahan fatal. Hanya anomali mikro, seperti jari asing yang sekadar menguji permukaan air.Kai merasakannya.Ia sedang duduk di kamar dengan pakaian rumah, tablet di pangkuan, ketika layar menyala sendiri. Tidak berbunyi. Tidak panik. Justru terlalu tenang.Shadow layer pinged.Kai menegakkan punggung. Napasnya tertahan setengah detik, lalu kembali stabil.“Cepat juga,” gumamnya.Jarinya bergerak cepat, membuka jalur cadangan, menghubungkan ke node yang bahkan Dante tidak tahu keberadaannya. Ini bukan serangan langsung. Ini uji nyali. Uji reaksi.“Mereka ngendus,” katanya pelan pada tim IT di kanal privat. “Bukan mau masuk. Cuma mau tahu kita bangun atau tidur.”Di layar, grafik bergerak perlahan. Jalurnya rapi. Profesional.“Biarkan,” perintah Kai. “Tapi tanam umpan. Bikin sistem kelihatan tu

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Hari yang Kami Izinkan untuk Bahagia

    Di lapangan sekolah itu terlalu ramai untuk dunia mereka yang biasanya sunyi dan penuh perhitungan.Leon berdiri di bawah tenda kecil, memegang dua gelas minuman anak-anak, kebingungan sendiri melihat Alfa berlari ke sana kemari dengan wajah paling bahagia yang pernah ia punya.“Dia nggak capek?” Leon bertanya pelan.Elera menggeleng, tersenyum. “Dia capek kalau kita pulang.”Alfa tiba-tiba berhenti di depan mereka. “Ayah, Mama, foto!”Seorang guru sudah siap dengan kamera. Leon refleks meraih bahu Elera. Gerakan kecil, spontan, seolah itu sudah kebiasaan lama sebelum dunia jadi ribut.Klik.Momen itu singkat. Tapi cukup untuk membuat Kai yang berdiri agak jauh menahan napas.Ia melihat mereka seperti melihat sesuatu yang rapuh tapi keras kepala. Cinta yang tumbuh di tanah berbahaya, tapi tetap mekar.Si kembar mulai ribut di stroller. Satu mengoceh sambil menunjuk balon, satu lagi mencoba berdiri, gagal, lalu tertawa keras seolah kegagalan itu lucu.“Dia nertawain hidup,” komentar Da

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Rumah yang Tetap Bernapas

    Pagi datang tanpa alarm.Tidak ada suara notifikasi, tidak ada panggilan darurat, hanya cahaya matahari yang menyelinap lewat tirai tipis dan tawa kecil yang belum fasih bicara.Si kembar sudah merangkak. Bukan pelan-pelan lagi—mereka seperti sedang balapan tanpa garis finis.“Eh—eh—eh—pelan!” Elera refleks menahan napas saat salah satunya tergelincir, jatuh dengan bunyi duk kecil.Tangis pecah.Dan di detik yang sama, si kembar satunya… tertawa.Tertawa keras. Puas. Jahil.“Ya Tuhan,” Leon mengusap wajahnya. “Yang satu drama queen, yang satu villain.”Alfa, yang sedang membangun benteng dari bantal sofa, menoleh cepat. “Papa, bentengku kuat. Bisa lindungin semua.”Kai yang duduk di lantai, menyandarkan punggung ke sofa, tersenyum tipis. “Oke. Aku lupa Alfa ada. Anak jenius.”Alfa membusungkan dada. “Aku tau.”Suasana itu—sederhana, riuh, hangat—membuat Elera berhenti sejenak. Ia memandangi mereka semua. Rumah ini. Keluarga ini. Napasnya terasa penuh.Leon mendekat, berdiri di belakan

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Hari yang Tidak Dikejar Waktu

    Pagi datang tanpa drama. Tidak ada alarm darurat, tidak ada panggilan mendesak, tidak ada laporan merah di tablet Leon. Matahari masuk santai lewat jendela besar, jatuh ke lantai seperti tamu yang tahu diri.Itu… mencurigakan. Tapi untuk sekali ini, mereka memilih menikmatinya.Alfa bangun dengan satu misi: membangun benteng yang “tidak bisa ditembus siapa pun, termasuk Papa.” Ia menyeret bantal, kursi kecil, bahkan selimut bayi—yang langsung diprotes Elera.“Itu selimut steril, Alfa.”“Tapi ini darurat militer, Mama.”Leon tertawa sambil mengangkat salah satu bayi kembar. “Bilang saja kamu butuh insinyur.”Kai, yang duduk di lantai dengan kaki selonjor, menguap lebar. “Aku mundur. Benteng generasi baru terlalu canggih.”Dante lewat sambil membawa kopi. “Catat. Hari ini Kai menyerah sebelum bertarung.”Bayi kembar berceloteh keras, seolah menertawakan mereka semua. Salah satunya merangkak cepat—terlalu cepat—lalu menabrak kaki Kai dan jatuh terduduk. Tidak menangis. Ia menatap Kai, la

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Retakan yang Tidak Berbunyi

    Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa tanda bahaya—dan justru itulah yang membuatnya berbahaya.Cahaya matahari menembus jendela besar mansion, jatuh tepat di lantai tempat bayi kembar merangkak dengan penuh ambisi. Salah satunya terjatuh, langsung menangis keras. Yang satunya lagi—alih-alih ikut panik—justru tertawa nyaring, seolah itu lelucon terbaik pagi itu.“Yang satu drama, yang satu psikopat kecil,” gumam Kai sambil menggendong si penangis. “Fix keturunan Leon.”Leon yang sedang menuang kopi mendengus. “Mereka seimbang.”Alfa berlari masuk membawa helm mainan. “Papa! Bentengku sudah jadi. Sekarang ada pos penjaga!”Dante, yang baru masuk dengan tablet di tangan, berhenti sebentar. “Kenapa aku merasa itu sindiran?”Tawa kecil mengisi ruangan. Hangat. Aman. Terlalu aman.Elera berdiri di ambang pintu, memperhatikan semuanya sambil mengayun bayi yang mulai tenang. Ia tersenyum, tapi perasaan itu kembali—seperti jarum halus di bawah kulit. Ada sesuatu yang tidak pas.“Leon,” katanya p

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Foto yang Tidak Pernah Dibakar

    Malam turun pelan di mansion, bukan dengan sunyi—melainkan dengan napas panjang yang tertahan. Ruang makan masih menyisakan aroma teh hangat dan tawa kecil yang belum sepenuhnya padam.Kai bersandar malas di kursi, satu lengannya masih belum sekuat dulu. Maya berdiri di depannya, tangan terlipat, tatapannya khas—dokter bedah yang lebih menakutkan daripada monitor ICU.“Jadi,” kata Maya datar tapi menusuk, “kapan kamu nikah?”Kai hampir tersedak. “Langsung ya, Dok? Tanpa anestesi?”Elera menoleh cepat. “Maya.”“Apa? Aku cuma nanya.” Maya mengangkat bahu. “Usiamu bukan dua puluh lagi, Kai. Kamu hampir mati. Itu biasanya bikin orang refleksi hidup.”Kai mendengus. “Refleksi hidupku masih loading.”Leon, yang sejak tadi diam sambil mengayun salah satu bayi kembar, akhirnya bicara, suaranya rendah. “Maya ada benarnya.”Kai memutar mata. “Tentu. Semua bersekongkol.”Alfa, yang duduk di lantai dengan balok-balok mainannya, mendongak polos. “Om Kai belum punya istri karena pilih-pilih?”Ruang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status