เข้าสู่ระบบLeo tampak berpikir keras, ia tidak ingin gegabah mengambil keputusan yang berujung Aurora salah paham kepada dirinya.“Saya tidak bisa memutuskannya sekarang. Kalau gegabah Aurora bisa salah paham ke saya. Kamu tahu sendiri bagaimana Emma,” ujar Leo.Raja mengangguk mengerti. “Baiklah. Saya juga tidak bisa memaksa, ini keputusan Papa. Saya juga takut jika Papa bertemu dengannya, Dia akan merencanakan sesuatu untuk menjebak anda,” ucap Raja menimbang sebuah keputusan yang sangat besar.“Sebaiknya abaikan saja permintaannya. Jangan memberikan cela agar dia tidak besar kepala nantinya,” ucap Leo akhirnya.“Iya, Pa. Kalau begitu saya permisi.”Leo mengangguk, setelah kepergian Raja, ia menghela napasnya dengan kasar dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.“Sebagus apa rencana kalian untuk menghancurkan keluarga saya itu tidak akan pernah bisa kalian lakukan. Sebab, saya yang akan menghancurkan kalian duluan,” gumam Leo di dalam hati.Leo berdiri dari duduknya dan melangkah mening
Mendengarnya ucapan bernada ancaman itu tiba-tiba wajah Darma pucat beneran, ia menelan ludahnya dengan kasar. Bingung harus bertindak seperti apa, ia takut Leo dan Aurora mengetahui semuanya.Darma menghela napasnya dengan berat, ia berusaha untuk terus menolak ajakan Aurora dan Leo.“Saya baik-baik saja, Tuan Leo. Saya hanya demam biasa. Sebentar lagi saya pasti sembuh,” ucap Darma dengan pelan.Ia berusaha menjelaskannya setenang mungkin.“Ck… Menyebalkan! Kalau begitu kami pulang dulu. Jangan menelepon istri saya karena urusan tidak pentingmu itu. Urus saja dirimu sendiri!” ucap Keo dengan kasar.Leo menarik istrinya, ia sudah tidak betah melihat Aurora hanya diam menatap sekeliling sudut ruangan di rumah ini.“Rumah ini banyak kenangannya, Tuan. Saya yakin Aurora suka di sini. Tetapi kalau anda ingin segera pulang silahkan, saya tidak masalah. Terima kasih sudah mau menjenguk saya,” ucap Darma dengan pelan.Leo mendengus kesal, ia menarik tangan istrinya hingga Aurora bingung dan
Drrt… drrt…Suara ponsel milik Aurora berbunyi tanda notifikasi pesan masuk. Wanita itu mengambil ponselnya dan melihat nama siapa yang tertera di sana.“Mas, papa katanya sakit dan keadaannya drop. Sekarang masih di rumah. Apa kita ke rumahnya saja Mas?” tanya Aurora meminta persetujuan.Ia sudah tidak sepanik kemarin. Karena ia sudah lebih bisa mengontrol dirinya. Sebab, Darma juga sakit pura-pura demi mendapatkan uang darinya.“Emangnya pria itu ada memberitahu di mana rumahnya sama kamu, Sayang?” tanya Leo dengan serius.“Ada, Mas. Ini baru saja dikirim alamatnya,” jawab Aurora menunjukkan kepada sang suami.Tetapi rumah itu Aurora tahu. Itu rumahnya dulu dengan mendiang mamanya, semua kenangan muncul di pikirannya sampai ia gelisah sendiri.Leo membacanya, wajahnya datar tak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia tetap tenang menghadapi pria licik seperti Darma.“Oke kita ke rumahnya. Jangan bawa Alvaro. Biarkan anak kita bersama pengasuhnya di rumah,” putus Leo dengan tegas.Aurora me
“Aahhh…”Aurora menggeliat menahan rasa geli dan nikmat ketika Leo terus memasukinya dengan ritme yang cepat dan terkadang pelan.Tubuhnya memerah, suhu di dalam dirinya naik seketika. Terasa panas dan membakar jiwa.Tangannya bergerak tak sengaja mencakar punggung suaminya, suara penyatuan mereka berbunyi nyaring terdengar di kamar. Untung saja tidak membangunkan Alvaro yang tertidur dengan nyenyak.Kedua kakinya ia kalungkan di pinggang Leo. Hingga tubuhnya bergetar hebat dan tak lama Leo juga menyusul, pria itu semakin menghentakkan miliknya dengan dalam.“Arghh…”“Aahh, Mas!” bisik Aurora dengan suara desahan yang tertahan.Keringat sudah membanjiri keduanya, Leo tersenyum dan setelah itu melepaskan diri dari Aurora, dan berbaring di samping istrinya.Keduanya mengatur napas yang terasa berat bahkan dada keduanya naik turun sangking lelahnya sehabis bercinta.Leo menyeka keringat istrinya dengan lembut dan mengecup dahi Aurora dengan penuh cinta.“Terima kasih, Sayang. Kamu selal
Shopia tampak cemas menghampiri sahabatnya, ia sudah mengetahui dari Raja jika papanya dan Aurora bertemu mamanya di mall saat mereka akan belanja.“Shopia jangan lari!” tegur Aurora yang tampak terkejut melihat kedatangan sahabatnya.Shopia tidak menghiraukan ucapan Aurora. Ia memeluk sahabatnya itu dengan erat.“Aurora, kamu tidak apa-apa, kan? Apa mamaku melukaimu?” tanya Shopia menatap sendu dan penuh khawatir ke arah Aurora.Aurora mengernyitkan dahinya heran. Dari mana Shopia tahu jika ia bertemu dengan Emma?Apakah suaminya itu yang mengatakannya?“Aurora kenapa kamu diam saja? Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Shopia sekali lagi.Aurora tersenyum mendengarnya, ia merasa beruntung karena Shopia mengkhawatirkan dirinya.“Aku gak apa-apa, Shopia. Aku berani melawan tante Emma sekarang. Aku gak akan membiarkan dia merusak keluarga kecilku,” jawab Aurora dengan tegas.Aurora seketika tersadar, ia terdiam menatap wajah sahabatnya dengan perasaan tak enak hati.“Shopia maaf. A-aku gak
Aurora memukul-mukul dada suaminya, hampir saja ia menangis karena takut jika Leo marah kepada dirinya.Tetapi ia malah di prank oleh suaminya sendiri. Tetapi setelah itu ia memeluk Leo dengan erat ketika suaminya sudah mengaduh kesakitan karena pukulannya.“Mana mungkin Mas marah sama kamu karena uang, Sayang. Mas minta maaf ya sudah membuat kamu hampir menangis,” ucap Leo dengan tulus.Aurora mengangguk, bersandar di dada bidang suaminya dengan sangat manja. “Padahal aku tadi sudah sangat takut, Mas. Gak pernah aku sebanyak itu berbelanja. Ini semua karena tante Emma! Aku juga ingin terlihat mewah di depan tante Emma, Mas. Biar aku gak diremehkan lagi sama wanita itu,” adu Aurora dengan suara pelan dan terdengar manja.Leo mengerti sebelum Aurora menjelaskan semuanya. Ia sudah paham maksud istrinya. “Mas paham, Sayang. Tunjukkan kalau kamu bahagia bersama dengan, Mas. Tunjukkan kalau Mas hanya mencintai kamu. Tunjukkan pada dia kalau kamu pemenangnya,” ucap Leo mempertegas semuanya.







