Home / Romansa / Terjerat Pesona Papa Sahabatku / Bab 15. Balas Ciuman Saya

Share

Bab 15. Balas Ciuman Saya

last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-27 21:37:20

“A-aku belum pernah ciuman sama sekali, Om,” ucap Aurora dengan tercekat.

Mendengar ucapan Aurora, senyum tipis yang terlihat seperti seringaian tertangkap di penglihatan Aurora saat gadis melirik ke arah Leo.

Tangannya meremas dengan kuat, ia merasa diremehkan oleh Leo, tetapi apa yang diucapkannya adalah fakta yang mungkin membuat Leo semakin merasa menang karena pria itu adalah orang yang pertama kali menciumnya.

“Saya suka, itu artinya saya adalah pria yang pertama untukmu,” sahut Leo denga
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 173. Tak Tega

    “Bagaimana keadaanmu, Shopia?” tanya Leo ketika ia mampir ke rumah anaknya.Sebagai orang tua, Leo juga khawatir melihat keadaan anaknya yang lemas saat hamil.Shopia tersenyum mendengarnya, ia senang diberi perhatian oleh Leo. Bahkan semua orang lebih perhatian saat dirinya hamil, apalagi suaminya.“Baik, Pa. Tapi masih lemas dan mual juga,” jawab Shopia dengan jujur.“Syukurlah kalau begitu. Papa kepikiran sama kamu, takutnya kamu masih memikirkan soal mamamu itu,” ujar Leo menghela napas dengan pelan.Shopia tersenyum tipis, memang ia masih kepikiran tentang mamanya yang tiba-tiba saja datang dan mengganggu ketenangan keluarganya kembali. Tetapi semua itu tak menjadi masalah untuk dirinya asal ada Raja yang selalu melindungi dirinya.“Memang aku sempat kepikiran, Pa. Tapi gak jadi masalah kok asal kalian selalu melindungiku. Oo iya, jaga mama Aurora dengan baik, Pa. Aku merasa mama seperti mengincar mama Aurora. Ini firasatku saja, semoga tidak terjadi,” ujar Shopia dengan serius.

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 172. Tak Tahan

    Tubuh Aurora terasa sangat lemas ketika mendapatkan pelepasan. Dadanya naik turun, menikmati semua sentuhan Leo.“Enak, Sayang?” tanya Leo dengan serak.Aurora mengangguk. Ia memeluk lengan Leo dengan erat, tangan suaminya sangat nakal sekali, tetapi ia suka.“Jadi lemas banget aku, Mas. Tapi enak,” ujar Aurora dengan jujur.Leo terkekeh mendengarnya. Ia menggendong Aurora dan merebahkan tubuh istrinya di karpet berbulu yang ada di lantai.“Mas mau ngapain?” tanya Aurora dengan heran ketika ia dan Leo berada di bawah.“Kalau di atas nanti Alvaro bangun, Sayang. Di sini saja ya,” bisik Leo dengan suara seraknya.Aurora yang terhipnotis dengan tatapan Leo akhirnya mengangguk setuju. Ia pasrah ketika pakaiannya dilepas oleh Leo.Leo menelan ludahnya dengan kasar melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya sekarang.“Buka pahanya, Sayang!” perintah Leo dengan lembut.Aurora menuruti perintah suaminya, tangannya berusaha menutupi miliknya. Tetapi tangan Leo menyingkirkannya kembali.“

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 171. Sentuhan Kecil

    Emma tersenyum dengan nakal, ia memegang milik Darma dengan gerakan sensual. “Tentu saja boleh, Sayang. Kita bisa bercinta kapan pun asal Leo tidak tahu. Aku ingin bersamanya kembali bukan karena cinta melainkan karena hartanya. Dia adalah dokter yang sangat kaya, dulu aku juga dimanjakan olehnya. Keluar uang berapa pun tak masalah baginya,” sahut Emma dengan lirih.Darma tersenyum puas, ternyata Emma selicik itu. “Kenapa kamu tidak mencintai Leo lagi?” tanya Darma dengan penasaran.“Leo orang yang sangat kaku sekali. Tidak romantis,” sahut Emma dengan jujur.Karena selama menikah dengannya memang Leo tidak pernah menunjukkan sisi romantisnya. Hingga ia mencari itu pada pria lain.Darma diam, ternyata seperti itu alasannya. Tetapi walaupun begitu Darma tidak rela jika kekayaan Leo kembali jatuh kepada Emma.Hanya karena satu kekurangan Emma mempertaruhkan semua kebahagiaan yang sudah ia dapatkan.“Wanita bodoh! Pantas saja Leo menceraikanmu. Pikiranmu sungguh sangat dangkal,” gumam

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 170. Sandiwara

    Darma membaringkan tubuhnya di atas kasur, pikirannya menerawang ke masa lalu.“Dasar wanita gak tahu diuntung! Kalau gak ada aku mana mungkin kamu bisa tinggal di rumah senyaman ini. Aku gak ada uang, kamu cari sendiri uang untuk pampers Aurora. Punya tangan dan kaki, kan? Kerja sana! Aku juga butuh uang!”“Anak sialan! Kamu sama saja seperti mamamu itu! Mati saja kalian berdua!”Darma tersentak, tangannya menjambak rambutnya sendiri, mengingat perbuatannya yang ternyata sangat kejam.“Arghhh…. Kenapa mengingat semuanya sih? Itu sudah masa lalu. Lagi pula Amelia sudah meninggal dan Aurora tidak mempermasalahkan itu semua, kan. Anak itu sudah memaafkanmu. Dan semua rencana yang kamu susun akan segera terlaksana, kamu bisa jadi kaya raya nantinya jika kamu berhasil mendapatkan uang dari Aurora,” gumam Darma dengan pelan.Darma menghela napasnya dengan berat. Kenapa dadanya masih sangat terasa sesak sekali?“Arghhh…”Darma berteriak kencang dan memukul kasur dengan kuat. Dadanya naik tu

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 169. Perasaan Aneh

    “Memaafkan? Berat sekali rasanya, Pa. Tapi aku akan ikuti permainan Papa sesuai apa yang dikatakan suamiku,” gumam Aurora di dalam hati.Aurora menatap Darma dengan pandangan yang sulit diartikan. Tangannya terkepal tanpa Darma sadari.“Aurora kenapa diam? K-kamu belum memaafkan Papa ya?” tanya Darma dengan sendu.“Aku akan memaafkan Papa asal Papa sudah berubah. Kata maaf saja tidak cukup untuk mengobati luka yang aku dan mama rasakan selama ini,” ucap Aurora dengan tegas.Darma tersenyum kecut, ternyata Aurora sekarang bukan lagi perempuan lemah yang bisa ia tindas dan bodohi. Kekayaan dan kekuasaan Leo juga mampu mengubah Aurora menjadi wanita yang sangat tegas.“Tolong percaya sama Papa kalau Papa sudah berubah, Nak. Apalagi sekarang Papa penyakitan,” ujar Darma dengan pelan.Aurora tersenyum tipis. “Ternyata Papa sangat pandai bersandiwara. Rela berpura-pura sakit hanya untuk tujuan tertentu,” gumam Aurora tidak habis pikir.“Buktikan, Pa. Aku mau melihat sejauh mana Papa berubah

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 168. Mengikuti Permainan Darma

    Aurora berteriak memanggil papanya. Tentu saja ia panik melihat Darma pingsan di hadapannya, ketika ia ingin berlari menghampiri, tangan Leo mencegah pergerakannya.“Mas itu Papa pingsan. Aku harus menolongnya,” ucap Aurora dengan panik.“Biar Mas yang periksa. Kamu dan Alvaro tetap di sini,” ujar Leo sambil memerintahkan sang istri untuk tetap diam.Leo mendengus kesal. “Merepotkan sekali tua bangka ini. Berpura-pura sakit untuk mendapatkan simpati istriku hmmm…? Oke, akan aku ikuti permainanmu,” gumam Leo di dalam hati.Leo berjongkok di hadapan Darma. Tangannya mulai memeriksa Darma.“Bawa ke rumah sakit saja,” ujar Leo memerintahkan anak buahnya untuk menggotong Darma.“Sepertinya dia terkena penyakit serius. Kita harus melakukan rangkaian pemeriksaan,” lanjut Leo dengan santai.Jantung Darma berdetak lebih kencang, ia menelan ludahnya dengan kasar. Darma lupa jika Leo adalah seorang dokter.Apakah Leo mengetahui jika dirinya berbohong?“Mati aku,” gumam Darma frustasi tetapi tida

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status