Mag-log inBrak…Darma terkejut ketika Emma membuka pintu dengan paksa.“Bisa kan buka pintunya pelan-pelan? Ada aku di dalam kamar, bisa-bisa aku jantungan,” protes Darma dengan nada kesal bahkan raut wajahnya sama sekali tak enak di pandang.Emma sama sekali tidak menghiraukan ucapan Darma. Wanita itu duduk di samping Darma dengan memegang perutnya.Darma menaikan satu alisnya, merasa heran mendengar ringisan pelan dari Emma.“Kamu kenapa, Emma? Kamu sakit?” tanya Darma memegang lengan Emma—raut wajahnya berubah drastis tampak khawatir.Emma meringis. “Entahlah aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saja perutku kram. Mungkin karena sengaja menabrakkan diri di hadapan Leo,” jawab Emma dengan lirih.Emma mencoba mengatur napasnya, berharap kram di perutnya berangsur-angsur membaik. Dan benar saja kram itu sedikit menghilang walaupun masih hilang timbul yang membuat dirinya sama sekali tidak nyaman.“Istirahatlah dulu,” ujar Darma dengan pelan membantu Emma untuk berbaring di kasurnya.Emma menur
Ancaman Aurora kali ini bukan hanya sekedar omongan saja. Tetapi itu benar dari dasar hatinya jika Leo berani berbicara berdua dengan Emma.“Kali ini aku beneran ya, Mas. Aku akan sangat marah kalau Mas diam-diam bertemu dengan Emma. Kalau memang Mas masih cinta sama dia silahkan kembali dan ceraikan aku saja,” ucap Aurora dengan tegas, tidak ada keraguan dalam nada bicaranya.Leo melotot mendengarnya, jantungnya berdenyut sakit seperti dihantam benda keras hingga ia merasa sesak.Matanya berkaca-kaca, tanpa aba-aba Leo memeluk istrinya dengan erat. Bahkan ia enggan untuk melepaskannya.“Mas gak mau kita pisah, Sayang. Jangan berbicara seperti itu lagi ya. Mas gak akan bertemu dengan Emma tanpa sepengetahuan kamu. Kalau bertemu secara tidak sengaja Mas akan langsung pergi. Jangan ancam Mas dengan kata perpisahan, Sayang. Sungguh Mas sangat mencintai kamu dan gak mau kita berpisah,” ujar Leo dengan suara gemetar.Aurora juga merasa hatinya berdenyut sakit saat mengatakan itu. Jujur saj
Leo berjalan dengan langkah tegas tanpa melihat ke arah depan. Matanya sibuk melihat ke arah jam yang ada di tangannya, ia harus segera pulang setelah melakukan operasi yang cukup rumit dan menguras tenaganya.Bruk…Tetapi di tengah jalan ia tidak sengaja menabrak seseorang. Leo terkejut, mulutnya hendak mengatakan maaf tetapi melihat siapa yang terjatuh di depannya, mulutnya kembali tertutup rapat.“Sialan! Kenapa harus bertemu wanita ini,” umpat Leo di dalam hati dan mendengus kesal.Emma yang memang sengaja menabrakkan diri, mengaduh kesakitan, sambil memegang bokongnya dengan meringis.“Aduh sakitnya!” ucap Emma dengan meringis.Tak lama ia melihat ke arah Leo sambil mendongak. “Kalau jalan hati-ha—Mas Leo,” ucap Emma berpura-pura terkejut melihat Leo ada di hadapannya.Leo menatap Emma dengan raut wajah tak suka, ia bahkan tak membalas perkataan Emma begitu saja.“Hati-hati kalau jalan, Mas. Kalau aku kenapa-nala gimana?” ujar Emma dengan meringis dan senyuman tipisnya tidak bisa
Kedua pipi Shopia memerah mendengar permintaan suaminya. Tatapan Raja begitu dalam, Shopia semakin gugup. Kamar ini terasa begitu panas.Shopia mengusap tengkuknya sendiri, ia tidak berani menatap mata Raja karena salah tingkah.“Sayang kenapa diam saja? Belum boleh ya?” tanya Raja dengan lirih sambil menarik dagu Shopia dengan pelan hingga mata mereka bertemu pandang.“I-itu…”Shopia menelan ludahnya dengan susah payah. Kenapa menjadi sangat gugup seperti ini?Padahal ini bukan yang pertama, Raja hanya meminta haknya kembali setelah berpuasa.“Itu kenapa, Sayang? Kamu belum siap ya? Tidak apa-apa kalau kamu belum siap, Sayang. Kita bisa melakukannya lain waktu,” ucap Raja dengan bijak.Raja tidak boleh memaksa istrinya, ia harus sabar dan harus bisa menahan dirinya sendiri.“Masih ada banyak waktu, Raja. Kamu harus sabar,” gumam Raja menyemangati dirinya di dalam hati.“Tapi kenapa Shopia semakin menarik ketika hamil?” lanjut Raja di dalam hati.Raja ingin merebahkan dirinya di kasur
“Aku harap aku gak akan gagal, Emma!” sahut Darma dengan tersenyum sinis.“Kita lihat saja nanti,” ucap Darma dengan serius.Emma tak lagi membalas ucapan Darma. Wanita itu memeluk Darma dan memainkan dada pria itu yang semakin hari semakin terlihat segar dan berisi.“Aku akan tidur di sini malam ini,” ucap Emma dengan pelan.Darma mengangguk dan sama sekali tidak melarang Emma untuk tidur dengannya. Toh jika ada Emma ia juga ada teman tidur dan tidak sendirian bukan?“Untuk saat ini aku turuti saja kemauan Emma. Agar dia tidak curiga,” gumam Darma di dalam hati.“Ya terserah kamu. Aku juga senang kalau kamu ada di sini, kita bisa menikmati malam yang lebih panjang,” sahut Darma mengelus rambut Emma lembut.Emma suka diperlukan manja oleh Darma. Ia memejamkan mata menikmati sentuhan Darma di rambutnya.“Sudah lama aku tidak merasakan belaian manja seperti ini,” gumam Emma di dalam hati.****Raja pelan-pelan naik ke atas kasur agar tidak membingungkan sang istri yang sudah tertidur pu
“Yakin, Candra. Kali ini tolong bantu aku. Aku hanya ingin berkumpul dengan anakku,” ucap Darma dengan lirih bahkan matanya sudah terlihat memerah karena menahan tangis.Hati Candra tersentuh, ia berusaha menimbang keputusan besar. Jika ketahuan akan beresiko untuk pekerjaannya sebagai dokter. Tetapi jika ia tidak membantu Darma, ia juga merasa kasihan.“Hanya kamu yang saya kenal dan harapan saya Satu-satunya, Candra. Saya mohon sekali bantu saya,” gumam Darma menangkupkan kedua tangannya.Darma terus memohon pada Candra hingga dokter itu tidak lagi bisa menolak permintaan teman lamanya itu.“Baiklah akan saya bantu. Ini menjadi rahasia kita berdua saja ya, jangan bocor ke orang lain karena pekerjaan saya yang akan menjadi taruhannya,” ucap Candra dengan tegas.Darma tersenyum mendengarnya. “Saya tidak akan membawa kamu dalam masalah saya nantinya Candra. Saya janji akan tutup mulut, terima kasih banyak atas bantuannya,” ucap Darma dengan sumringah.“Akhirnya aku bisa mendapatkan sur







