LOGIN“Kenapa kamu datang ke sini lagi?” tanya Aurora dengan nada ketus ketika melihat Shopia datang ke rumahnya bersama Raja.Sudah beberapa bulan ini Aurora merasa tenang dengan kehidupannya karena tidak memikirkan yang lainnya, tetapi kedatangan Shopia merusak paginya yang ceria.Entahlah, rasanya untuk memaafkan sahabatnya itu Aurora masih merasa berat, ada rasa kesal yang lebih mendominasi hatinya dibandingkan dengan kata memaafkan.“Kan saya sudah bilang jangan menampakkan wajahmu lagi di hadapan saya. Saya tidak mau berurusan dengan kamu,” lanjy Aurora dengan dingin.Sedangkan Shopia tidak gentar, tangannya terkepal merasa tersudutkan tetapi ia harus bisa mendapatkan kata maaf dari Aurora. Ia sama sekali tidak tenang jika belum mendapatkan maaf dari sahabat sekaligus ibu tirinya.Wajah sendunya menatap Aurora. Namun, tidak ada rasa iba yang Aurora rasakan. Melainkan rasa muak yang begitu besar. Namun, tidak ia pungkiri juga ada rasa iba ketika Shopia datang dengan wajah sendu dan pe
Mendapatkan lampu hijau dari sang istri Leo langsung tersenyum bahagia, ia mengecup dahi Aurora dengan penuh perasaan.Ciuman itu turun ke bawah hingga seluruh wajah Aurora mendapatkan ciuman dari Leo berakhir di bibir wanita hamil itu.Leo menggerakkan bibirnya dengan penuh hati-hati.Aurora yang terbawa suasana mulai membalas ciuman suaminya. Kedua tangannya dikalungkan di leher Leo, matanya terpejam menikmati ciuman yang setiap detiknya terasa sangat memabukkan untuk dirinya.Perlahan Leo merebahkan tubuh istrinya di atas kasur, tangannya bergerak mengelus perut Aurora hingga ia merasakan sesuatu bergerak di sana.“Sayangnya Papa. Papa izin mengunjungi kamu ya, Nak,” bisik Leo di perut Aurora.Aurora terkekeh mendengarnya, ia menunggu apa yang akan dilakukan Leo selanjutnya.Ia melenguh ketika gerakan tangan Leo mengelus perutnya dengan abstrak. Matanya sayu menatap pergerakan Leo yang melepas seluruh pakaiannya.Leo menatap tubuh Aurora dengan penuh minat, menurutnya perut istriny
Rumah mewah itu tampak ramai dengan orang berlalu-lalang membawa nampan berisi makanan.Dengan hati-hati mereka meletakkannya di atas meja, semua harus tampak tertata sesuai dengan kemauan sang tuan rumah.Malam ini begitu spesial bagi Leo karena akan merayakan ulang tahun sang istri tercinta. Apalagi kehamilan Aurora sudah memasuki usia 6 bulan, perutnya sudah membesar dan terlihat menggemaskan di mata Leo.“Cepat selesaikan semuanya. Sebentar lagi Tuan dan Nyonya akan turun ke bawah,” perintah kepala pelayan dengan tegas.“Baik.”Mereka menjawab serentak, semuanya melanjutkan pekerjaan masing-masing. Hingga semua hidangan terhidang semua di atas meja.Tak lama suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga. Pelayan berbaris memberi hormat.“Malam Tuan, Nyonya. Silahkan duduk dan nikmati semua hidangan yang telah tersedia.”“Malam.”“Malam semua, terima kasih banyak.”Leo menjawab dengan singkat sedangkan Aurora menjawab dengan ramah dan sebuah senyuman manis di bibirnya, menandak
Raja menelan ludahnya dengan kasar ketika melihat tubuh Shopia yang sudah polos tanpa sehelai benang pun yang melekat.Mata pria itu sudah berkabut gairah, dengan tak sabaran Raja melepaskan seluruh pakaiannya.Hawa di kamar ini terasa sangat panas, perlahan Raja mulai menindih tubuh Shopia. Panas tubuh mereka Sudah bercampur menjadi satu.Deru napas satu sama lain terasa sangat berat, Raja mencumbu leher Shopia hingga perempuan itu melenguh pelan.“Eugh…”Shopia meremas seprei dengan kuat, ia menggigit bibir bawahnya ketika hisapan Raja semakin terasa membakar tubuhnya.Mata mereka bertemu pandang, tanpa kata Shopia seakan meminta Raja memperlakukan dirinya dengan lebih.“R-raja,” panggil Shopia dengan lirih.“Iya, Sayang,” sahut Raja dengan suara seraknya.Raja tersenyum tipis mengerti arti tatapan Shopia kepada dirinya. Dan dengan senang hati Raja melakukannya, membuat sang istri mendesah di bawah kuasanya.“Ahhh.. Raja, a-aku…”Shopia tak sanggup melanjutkan kata-katanya, perempua
Sepulangnya dari rumah Roy senyum Aurora tidak pernah luntur sedikit pun. Ia yang tidak mendapatkan figur seorang ayah kini menemukan kembali sosok itu dalam diri Roy—papa mertuanya. “Kenapa senyum-senyum dari habis pulang dari rumah Papa?” tanya Leo dengan lembut. Ia mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Sebenarnya walaupun ia tidak bertanya, Leo sudah tahu penyebab rasa bahagia yang istrinya rasakan saat ini. Aurora terkekeh, kedua pipinya bersemu merah. Bahkan ia tidak malu untuk memeluk lengan Leo terlebih dahulu. “Hehe…aku sangat bahagia, Mas. Akhirnya aku punya ayah,” ungkap Aurora dengan mata berbinar. “Syukur lah kalau kamu bahagia, Sayang. Anggap papa itu papa kandungmu juga ya. Kamu tidak perlu sungkan. Tapi kalau kamu lebih manja dengan papa, Mas cemburu,” balas Leo dengan ekspresi yang dibuat-buat sedih. Aurora tergelak, ia mengelus pipi Leo dengan manja. “Ya gak mungkin, Mas. Aku masih menjaga batasan.” Leo memeluk Aurora dan mencium puncak kepa
Aurora menggenggam tangan Leo dengan erat ketika mereka baru saja memasuki rumah Roy.“Akhirnya kalian datang juga,” ujar Roy yang tak jauh dari mereka.Matanya tertuju pada Aurora lalu ke perut Aurora yang sudah terlihat membesar dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh siapa pun.Aurora tampak terlihat takut, tubuhnya bergerak untuk semakin merapatkan dirinya pada Leo.“Sayang itu Papa,” bisik Leo dengan lembut.Aurora menghembuskan napasnya dengan pelan, perlahan ia bergerak dan melepaskan genggamannya pada Leo. Kakinya mulai melangkah untuk mendekat ke arah mertuanya.Tangannya dengan ragu terulur untuk menjabat tangan sang mertua.“A-aurora, Pa.”Aurora memperkenalkan diri dengan nada bicara yang terdengar takut-takut. Ia takut Roy tidak akan menerimanya sebagai menantu. Kehidupannya dan Leo sangat berbeda jauh, perbedaan itu terlihat sangat jelas.Roy tersenyum tipis, ia menyambut tangan menantunya itu dengan hangat dan menyentuh puncak kepala Aurora dengan mengelusnya pela
Leo mengguyur tubuhnya dengan air shower yang dingin, tetesan demi tetesan air menjatuhi tubuhnya yang terpahat begitu sempurna.Ini sudah malam, tetapi tubuhnya terasa begitu terbakar, air yang dingin tidak mampu mendinginkan api gairah yang berkobar di hatinya.Leo mengusap wajahnya dengan kasar
“Dokter Leo baik sekali, Aurora. Kita punya utang budi ke dia,” ucap Amelia dengan pelan dan tersenyum manis.Aurora membalas senyuman Mamanya dengan tersenyum kecut, hatinya tersentil mendengar ucapan Amelia yang sejak tadi memuji Leo karena kebaikannya.“Andai saja Mama tahu,” gumam Aurora dengan
Suasana yang tercipta di apartemen Leo begitu canggung, lebih tepatnya Aurora yang begitu merasa tidak enak berada di sini.Sedangkan Leo menikmati nasi goreng buatan Aurora dengan begitu lahap, ia memuji masakan Aurora di dalam hati. Tetapi untuk mengakui secara langsung Leo merasa enggan, gengsin
Jantung Aurora seakan berhenti berdetak detik itu juga mendengar ucapan Leo.Jadi, ini adalah lingerie yang dibeli Leo untuk dirinya, bukan milik wanita yang tidur dengan Leo di pikirannya?“O-om tapi saya tidak pernah memakai baju seperti ini,” ucap Aurora dengan tercekat.Membayangkan tubuhnya me







