Mag-log in“Aduh kenapa perutku sering kram ya,” ucap Emma mengeluh sambil memegang perutnya yang terasa kram.Emma sedikit meringis, ia kesal karena tidak bisa beraktivitas yang terlalu banyak gerak, padahal ia sering olahraga tetapi semenjak sering kram ia menunda olahraganya.“Kamu kenapa sih? Tiap hari mengeluh terus,” tanya Darma yang mulai jengah dengan tingkah Emma tetapi merasa kasihan juga dengan Emma.Emma menatap Darma biasa, bahkan ia tidak ada rasa kesal sama sekali.Entahlah, ia merasa ada Darma di sampingnya lebih membuat dirinya tenang. Ia juga tidak tahu kenapa, tetapi yang jelas ia senang ada Darma di sini bersamanya.“Aku juga tidak tahu, Darma. Kalau aku tahu aku juga gak bingung,” sahut Emma dengan pelan—nadanya lembut dan tidak keras sama sekali.Darma hanya menghela napasnya dengan kasar mendengar jawaban Emma. Sejak beberapa hari, ia dibuat tebak-tebakan dengan perubahan sikap Emma dan sakitnya wanita itu.Bahkan, Emma jarang sekali membahas soal Leo sekarang. Wanita itu
Dua hari dirawat di rumah sakit akhirnya Alvaro sudah diperbolehkan pulang karena keadaannya sudah sangat membaik.Panasnya sudah turun dan Alvaro sudah tidak lemas seperti waktu pertama kali datang ke rumah sakit. Alvaro sudah ceria kembali. Anak itu bahkan sudah mau dengan Leo lagi, bahkan sangat menempel dengan Leo.“Ini baru jagoan Papa. Sudah sehat mau sama Papa lagi ya, Nak,” ucap Leo dengan tersenyum.Alvaro terkekeh dengan memegang jari telunjuk papanya dengan gemas. Anak itu sudah mulai aktif seperti biasa dan Leo maupun Aurora tampak sangat lega sekali.“Syukurlah Alvaro sudah boleh pulang ya, Mas. Keadaannya juga sudah membaik, anak kita malah tambah aktif,” ucap Aurora dengan tatapan penuh haru.“Iya, Sayang. Anak kita mau pintar makanya sakit,” sahut Leo dengan tenang.“Tapi aku hampir gak bisa makan dan tidur kalau Alvaro sakit, Mas. Nyawaku rasanya seperti tercabut dari ragaku sendiri melihat waktu itu Alvaro gak berdaya. Aku bahkan sudah berpikir negatif, aku pikir ak
“Dasar pria tidak peka! Bukannya dikejar malah diabaikan gitu aja,” gumam Aurora dengan sewot.Wanita itu terus ngedumel sepanjang jalan dan sampai memasuki ruangan Alvaro. Wajahnya ditekuk, dan sangat tidak bersahabat.“Ada apa ini? Kenapa wajah Nyonya sangat menyeramkan,” ucap pengasuh Alvaro di dalam hati.Bahkan pengasuh Alvaro itu sampai tidak berani berbicara, ia merasa sangat segan dan suasana di dalam ruangan ini berubah menjadi sangat canggung.Aurora menatap pengasuh Alvaro dengan sekilas, bahkan Aurora sama sekali tidak menyapa, matanya masih sangat sinis dan duduk di sofa begitu saja dengan perasaan dongkol.Hal seperti itu membuat pengasuh Alvaro semakin takut. Apakah ia membuat kesalahan hingga majikannya mendiami dirinya seperti ini?“N-nyonya saya ada salah?” tanya pengasuh Alvaro dengan hati-hati.Aurora tersentak dan akhirnya sadar jika kelakuannya tadi membuat pengasuh Alvaro merasa tidak enak hati.Aurora menghela napasnya dengan perlahan, ia mencoba mengatur emosi
“Kamu apa, Emma? Berani sekali kamu mau menampar istri saya, hah?” bentak Leo yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Aurora.Tentu saja Aurora dan Emma terkejut mendengar suara Leo. Bahkan ekspresi pria itu sangat dingin dan tajam kepada Emma hingga Emma menelan ludahnya dengan kasar, takut dengan Leo yang sudah berubah ekspresi seperti ini“B-bukan begitu, Mas. Aurora saja yang kurang ajar sama aku. Dia sangat berani ke wanita yang lebih tua, tidak punya sopan santun sama sekali, Mas,” sahut Emma membela diri.“Heh! Enak saja! Kamu duluan yang menghalangi jalanku. Seenaknya mengatakan aku tidak sopan, tidak sadar diri dan tidak tahu malu. Memang wanita bermuka dua,” bentak Aurora dengan penuh emosi hingga dadanya naik turun menahan gejolak yang menumpuk di dadanya.Ia semakin benci dengan Emma. Sekali pun wanita itu meminta maaf kepadanya, ia tidak akan memaafkan. Sungguh hatinya dibuat sakit dan kesal oleh wanita seperti Emma.“Tuh kan Mas, kamu lihat sendiri bagaimana dia gak so
Alvaro belum diperbolehkan pulang oleh dokter, karena keadaan Alvaro masih lemas. Mungkin besok Alvaro baru diperbolehkan pulang.Dengan sabar Aurora menemani anaknya, kali ia hanya bersama dengan pengasuh Alvaro. Sedangkan Leo sudah masuk kerja. Sebagai seorang dokter suaminya itu tidak boleh libur begitu saja, walaupun Leo pemilik rumah sakitnya sendiri.“Tuan kecil sepertinya haus, Nyonya,” ucap pengasuh Alvaro dengan sopan.“Iya, Mbak. Biar aku kasih asi dulu, tadi cuma sebentar minumnya mungkin mulutnya terasa pahit ya, Mbak,” sahut Aurora.“Mungkin saja, Nyonya. Sekarang di coba dulu siapa tahu Tuan kecil sudah mau minum.”Aurora mengeluarkan salah satu payudaranya dan memberikan putingnya pada Alvaro. Dan dengan lahap Alvaro mulai menghisap putingnya seperti biasa.Tatapan anaknya itu kepadanya sangat dalam, bahkan tangan anaknya yang mungil mengelus pipinya dengan lembut seakan mengatakan ‘Jangan khawatir, Ma. Aku baik-baik saja.’Aurora tersenyum, ia memegang tangan Alvaro ya
Aurora tidak benar-benar nyenyak dalam tidurnya, ia tiba-tiba terbangun menatap Alvaro di brankar bersama Leo yang duduk di samping kanan suaminya.Leo sama sekali tidak tidur, pria oth menatap dalam wajah Alvaro. Dan itu membuat hati Aurora bergejolak sedih, ia ingin menangis, tetapi ia tahan takut Leo mendengarnya dan kembali bersikap tegas kepadanya.“Jagoan anak kuat. Cepat sembuh ya, Nak. Kasihan mama khawatir,” gumam Leo yang masih bisa didengar oleh Aurora.Pertahanan Aurora runtuh sudah, ia tidak dapat menahan air matanya. Dan pada akhirnya Aurora menangis dalam diam sampai matanya terasa panas dan mungkin bengkak.“Mau pintar apa lagi, Sayang? Hebat banget anak Papa tapi kami khawatir, Nak. Besok pagi keadaan kamu harus membaik ya,” lanjut Leo dengan tangan mengelus tangan mungil Alvaro.Aurora yang sudah tidak kuat menahan rasa sedihnya, bangun dan berlari memeluk Leo sampai suaminya itu terkejut.Namun, Leo sama sekali tidak protes. Ia membalas pelukan Aurora dengan mengelu







