เข้าสู่ระบบ“Memaafkan? Berat sekali rasanya, Pa. Tapi aku akan ikuti permainan Papa sesuai apa yang dikatakan suamiku,” gumam Aurora di dalam hati.Aurora menatap Darma dengan pandangan yang sulit diartikan. Tangannya terkepal tanpa Darma sadari.“Aurora kenapa diam? K-kamu belum memaafkan Papa ya?” tanya Darma dengan sendu.“Aku akan memaafkan Papa asal Papa sudah berubah. Kata maaf saja tidak cukup untuk mengobati luka yang aku dan mama rasakan selama ini,” ucap Aurora dengan tegas.Darma tersenyum kecut, ternyata Aurora sekarang bukan lagi perempuan lemah yang bisa ia tindas dan bodohi. Kekayaan dan kekuasaan Leo juga mampu mengubah Aurora menjadi wanita yang sangat tegas.“Tolong percaya sama Papa kalau Papa sudah berubah, Nak. Apalagi sekarang Papa penyakitan,” ujar Darma dengan pelan.Aurora tersenyum tipis. “Ternyata Papa sangat pandai bersandiwara. Rela berpura-pura sakit hanya untuk tujuan tertentu,” gumam Aurora tidak habis pikir.“Buktikan, Pa. Aku mau melihat sejauh mana Papa berubah
Aurora berteriak memanggil papanya. Tentu saja ia panik melihat Darma pingsan di hadapannya, ketika ia ingin berlari menghampiri, tangan Leo mencegah pergerakannya.“Mas itu Papa pingsan. Aku harus menolongnya,” ucap Aurora dengan panik.“Biar Mas yang periksa. Kamu dan Alvaro tetap di sini,” ujar Leo sambil memerintahkan sang istri untuk tetap diam.Leo mendengus kesal. “Merepotkan sekali tua bangka ini. Berpura-pura sakit untuk mendapatkan simpati istriku hmmm…? Oke, akan aku ikuti permainanmu,” gumam Leo di dalam hati.Leo berjongkok di hadapan Darma. Tangannya mulai memeriksa Darma.“Bawa ke rumah sakit saja,” ujar Leo memerintahkan anak buahnya untuk menggotong Darma.“Sepertinya dia terkena penyakit serius. Kita harus melakukan rangkaian pemeriksaan,” lanjut Leo dengan santai.Jantung Darma berdetak lebih kencang, ia menelan ludahnya dengan kasar. Darma lupa jika Leo adalah seorang dokter.Apakah Leo mengetahui jika dirinya berbohong?“Mati aku,” gumam Darma frustasi tetapi tida
Mendengar keributan di bawah baik Leo dan Aurora kembali membuka mata, apalagi suara Alvaro yang sudah menginterupsi keduanya untuk segera bangun.“Ada apa di bawah ribut-ribut ya, Mas?” tanya Aurora dengan tubuh yang lumayan lemas.“Gak tahu, Sayang. Mas cek dulu, kamu urus Alvaro ya,” ucap Leo dengan tegas.Aurora mengangguk setuju, mungkin saja tamu suaminya yang datang. Jadi, ia memilih untuk berada di kamar bersama Alvaro dan akan keluar jika ia dan Alvaro sudah mandi.“Paling tamu Mas Leo. Lebih baik aku mandikan Alvaro dulu deh baru keluar,” gumam Aurora dengan pelan.Suara ocehan Alvaro terdengar semakin jelas ketika Aurora menghampiri sang anak. Dan mengajak ngobrol Alvaro dengan gembira.“Kita mandi dulu ya, Sayang. Biar wangi,” ucap Aurora menggendong Alvaro.****Sedangkan Leo menuruni anak tangga dengan langkah cepat, ia merasa tidak ada yang beres di rumahnya.“Ada apa ini?” tanya Leo dengan tegas dan dingin.Seketika semua orang yang ada di sana terdiam, salah satu kepe
Tubuh Aurora meliyuk-liyuk di atas paha Leo yang duduk di closet. Tubuh keduanya sudah dipenuhi peluh.Aurora mendongak nikmat ketika Leo meraup payudaranya dengan rakus. Tangan Aurora menjambak rambut Leo dengan sedikit kuat“Ouhh…” Aurora terus mendesah. Miliknya semakin terasa geli dan tak lama tubuhnya bergetar dengan hebat.Napasnya terdengar berat, ia bersandar di dada bidang Leo.Leo yang belum keluar sama sekali menggerakkan miliknya dengan perlahan.“Ahhh…”Aurora menggigit bibir bawahnya, ia memeluk Leo dengan sangat erat. Takut terjatuh, sebab tubuhnya sudah sangat lemas.“Pelan-pelan, Mas!” pinta Aurora dengan lirih.Tetapi Leo sama sekali tak mengindahkan keinginan sang istri. Pria itu semakin bergerak cepat hingga suara desahan Aurora tidak terkontrol.“Arghhh…”Pria itu memasukkan miliknya semakin dalam ketika ia mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya.Keduanya tersenyum saat mata mereka bertemu pandang. Leo mengecup dahi Aurora dengan lembut. “Terima kasih untuk
Emma terus mendesah kenikmatan ketika Darma memasukinya dengan gerakan begitu cepat.Darma menyeringai, ia sudah sangat yakin jika Emma sudah tertarik dengan dirinya. Apalagi Emma sudah berani meminta duluan tanpa harus ia paksa, wanita itu sudah menyerahkan dirinya terlebih dahulu.“Ouh… Lebih cepat, Darma!” pinta Emma dengan suara lirihnya bahkan matanya sampai terpejam menahan kenikmatan yang ia rasakan saat ini.Peluh sudah membanjiri tubuh keduanya, Emma bahkan belum merasa puas. Ia ingin Darma terus menyentuhmu sampai ke titik paling nikmat yang ia rasakan.“Katakan jika kamu menyukaiku baru aku akan melakukannya, Sayang,” perintah Darma dengan suara seraknya.Darma memelankan gerakannya, ia menunggu Emma akan mengatakannya.Sedangkan Emma menggigit bibir bawahnya, ia sudah tidak dapat berpikir dengan jernih lagi. Sungguh ia sangat menyukai sentuhan Darma. Sentuhan pria itu sangat berbeda dari pria yang sudah pernah tidur dengan dirinya, Emma sendiri tidak tahu mengapa tetapi it
“Kenapa kamu terlihat sangat senang, hah?” tanya Emma dengan sewot ketika melihat Darma tampak tersenyum bahagia.Ekspresi wajah Darma langsung berubah masam, pria itu menatap Emma dengan menghela napasnya pelan.“Kamu kenapa? Datang-datang sewot ke saya. Ada masalah?” Darma balik bertanya dengan nada heran dan alis yang terangkat satu menatap Emma dari bawah ke atas.Emma mendengus, ia menghentakkan kakinya dengan kesal dan duduk di samping Darma. “Saya gagal lagi untuk bertemu dengan Leo. Sialan! Pasti asistennya itu sengaja menyuruh Leo bersembunyi agar tidak bertemu dengan saya,” jawab Emma dengan hidung kembang kempis menahan amarah yang menumpuk di dalam dadanya.Darma memutar bola matanya dengan malas, ternyata itu yang membuat Emma tampak kesal.“Sudahlah. Saya yakin sebentar lagi kamu pasti bertemu dengan Leo begitu pun dengan saya bisa mendapatkan maaf dari Aurora. Dengan begitu rencana kita akan berjalan dengan baik,” ujar Darma menenangkan.“Tapi jangan harap kamu bisa kem







