Share

Bab 6. Operasi Amelia

last update publish date: 2026-01-14 10:26:10

“Kenapa lama sekali?” gumam Aurora dengan gelisah saat operasi sudah berlangsung beberapa jam lamanya.

Jantungnya berdetak tidak karuan, bahkan di lorong ini udara semakin terasa pengap, keringat bercucuran di dahi Aurora. Mungkin sangking paniknya, gadis itu merasa panas, tetapi tangannya begitu dingin dan berkeringat.

Berulang kali Aurora berdiri dan duduk, hembusan napasnya terdengar berat.

Leo berusaha sedang menyelamatkan nyawa Mamanya, ia percaya dengan pria matang itu.

Tetapi hatinya masih merasa tidak tenang, setiap detik yang terlewat bagaikan jarum yang menusuk ke hatinya.

“Tuhan, tolong selamatkan Mamaku,” gumam Aurora berdo'a dengan lirih.

Rasanya Aurora ingin menangis, matanya sudah memerah, kakinya bergerak gelisah, seluruh anggota tubuhnya merasakan kepanikan yang sama.

Hingga Aurora mendengar suara pintu terbuka, gadis itu langsung bangun dari duduknya menghampiri Leo yang berada di depan pintu dengan pakaian lengkapnya.

“B-bagaimana keadaan Mama saya, Dok?” tanya Aurora dengan terbata.

Aurora meremas ujung pakaiannya dengan gelisah.

Leo membuka masker yang ia pakai, pria itu terlihat tenang walaupun ada gurat kelelahan di wajahnya.

“Operasinya berjalan dengan baik. Ibu Amelia berhasil melewati masa kritisnya. Beliau akan dipindahkan ke ruang intensif terlebih dahulu, setelah sadar dan seluruh pemeriksaan dikatakan baik barulah nanti akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kamu tidak perlu khawatir semuanya akan baik-baik saja, mungkin beberapa jam lagi Ibu Amelia akan sadar,” jelas Leo dengan lugas.

Aurora menghembuskan napasnya dengan lega, matanya berkaca-kaca.

Di satu sisi ia bahagia, tetapi di sisi lain ia merasa terluka. Sebab, setelah ini ia akan terus mengikuti kemauan Leo tanpa bisa bilang tidak kepada pria itu.

“T-terima kasih, Dok,” gumam Aurora dengan suara yang gemetar menahan tangis.

Gadis itu tersenyum kepada Leo tetapi senyuman itu memperlihatkan kepedihan yang mendalam.

Leo hanya diam, ia hanya mengangguk saja. Pandangan mereka bertemu, tetapi tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Leo. Pria itu seperti mencari sesuatu dari pancaran mata Aurora, hingga Leo memutuskan kontak mata di antara mereka dan pergi begitu saja meninggalkan Aurora.

Tak lama perawat sudah mendorong brankar Amelia dengan pelan menuju ruangannya. Aurora mengikutinya, ia tersenyum melihat wajah Mamanya yang damai karena masih dalam pengaruh obat bius.

Leo sudah menepati janjinya, membayar seluruh operasi Mamanya bahkan pengobatan Mamanya sampai sembuh. Tetapi mengapa hatinya masih merasa takut membayangkan dirinya dan Leo tidur bersama?

“Kamu tidak perlu takut, Aurora. Kamu hanya melayani Om Leo dan dia juga akan membayar kamu, hidupmu akan terjamin setelah ini,” gumam Aurora berusaha meyakinkan dirinya yang terus merasa keraguan itu.

Timbul rasa benci kepada dirinya sendiri karena harus terbelenggu dalam perjanjian yang begitu menjijikkan untuk dirinya.

Akankah ia bisa menjalankan perannya bersama dengan Leo?

Bagaimana jika Shopia mengetahui Papanya mempunyai hubungan dengannya nanti?

Semua pertanyaan menyerang pikirannya sekarang hingga kepalanya terasa begitu berat dan pusing.

****

“Terima kasih ya, Dok. Berkat Dokter saya bisa dioperasi,” gumam Amelia dengan lirih setelah sadar dan tahu jika Leo sudah banyak membantunya.

“Itu sudah tugas saya sebagai Dokter apalagi Aurora ini sahabat anak saya sendiri,” sahut Leo melirik ke arah Aurora sekilas.

Gadis itu hanya menunduk tidak mau menatap dirinya, ia hanya menggenggam tangan Mamanya.

Aurora terpaksa mengatakan jika Leo lah yang membantu seluruh biaya operasi Mamanya agar Amelia tidak curiga dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.

Amelia tersenyum, ia terus mengucapkan kata terima kasih kepada Leo karena pria itu begitu baik dengan dirinya dan Aurora. Tanpa diketahui oleh dirinya jika Leo dan Aurora sudah melakukan perjanjian panas yang mungkin akan membuat Amelia syok berat.

Aurora semakin gugup, ia merasa bersalah kepada Amelia suasana di ruangan ini begitu sempit, bahunya merosot lunglai.

Gadis itu tidak kuat berada di ruangan ini, ia berdiri dan berpamitan untuk keluar sebentar tetapi entah kenapa kakinya bisa tersandung, Aurora memejamkan mata karena ia pikir dirinya akan terjatuh.

Tetapi sebuah lengan kekar memeluk dirinya dan Aurora merasakan jika tubuhnya berada di pelukan seseorang.

Aurora memberanikan untuk membuka matanya, ia menelan ludahnya dengan kasar saat mengetahui jika Leo yang menolongnya, wangi tubuh pria itu menyeruak ke indra penciumannya, begini candu, dan menenangkan untuk dirinya.

“Hati-hati gadis kecil,” gumam Leo dengan suara yang begitu berat hingga Aurora merinding dan langsung menjauhkan dirinya dari Leo.

Wajahnya memanas, ia merutuki dirinya sendiri. “Ceroboh sekali kamu, Aurora. Memalukan!” teriaknya dengan kesal di dalam hati.

“Jangan lupa perjanjian yang sudah kita sepakati,” bisik Leo dengan pelan dan datar, tetapi mampu mematikan seluruh kerja sistem saraf Aurora hingga gadis itu mematung ketakutan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Siti Wafiroh
lanjut cerita nya bagus
goodnovel comment avatar
Ajid Ajid
lanjut ceritanya mantap
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 210. Liburan

    “Iya bulan madu, Sayang. Gimana kamu mau kan?” tanya Leo dengan menaik turunkan alisnya.Ia yakin Aurora tidak akan bisa menolaknya, walaupun sang istri nampak terkejut dengan ucapannya.“Alvaro gimana, Mas?” tanya Aurora yang tidak ingin meninggalkan Alvaro.Ia tidak tenang jika hanya pergi berdua tanpa membawa Alvaro. Sebagai seorang ibu tentu saja ia akan merindukan anaknya, Aurora tidak ingin berjauhan dari Alvaro apalagi anaknya itu sedang aktif-aktifnya.“Alvaro kita bawa, Sayang. Mas juga tidak tega jika harus meninggalkan Alvaro. Kamu tidak perlu takut ya,” sahut Leo dengan tersenyum menenangkan.Aurora yang mendengar jawaban suaminya merasa sangat lega karena mereka akan membawa Alvaro pergi bersama.“Aku kira Alvaro ditinggal, Mas. Kalau seperti itu aku gak mau pergi, gak tega ninggalin anak cuma sama pengasuhnya, Mas. Tapi aku lega jika Alvaro akan kita bawa,” ujar Aurora dengan perasaan yang ringan.Leo tergelak mendengarnya, ia sangat mengerti ketakutan istrinya. “Jadi gi

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 209. Bulan Madu?

    Leo memeluk Aurora dari belakang setelah mereka selesai bercinta untuk kedua kalinya. Napas mereka masih sangat memburu, terasa panas dan membakar jiwa keduanya.Kali ini mereka bercinta sudah tidak menggunakan pengaman sama sekali, keduanya sudah sepakat untuk memiliki anak kedua. Sebab, usia Leo tak lagi muda. Dan Aurora pun setuju atas permintaan sang suami kepadanya.“Kamu capek, Sayang?” tanya Leo dengan suara yang serak dan berat bahkan ia masih bisa mencium tengkuk Aurora.Aurora mengangguk dengan mata terpejam, napasnya masih sangat berat. Dan tentu saja ia sangat kelelahan melayani suaminya, lihatlah tubuhnya sekarang yang sudah dipenuhi tanda merah perbuatan Leo.“Capek banget, Mas. Aku ngantuk juga,” ucap Aurora mulai menguap.Aurora membalikkan tubuhnya menjadi menghadap sang suami, ia memegang dada Leo dan mengusap karyanya di sana dengan gerakan lembut.“Biar cepat jadi anak kedua kita, Sayang. Maaf ya kalau membuat kamu kelelahan,” ujar Leo dengan pelan.Dengan refleks

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 208. Program Anak Kedua

    lAurora tidak terlalu terkejut ketika Leo meminta anak lagi dari dirinya. Tetapi tetap saja ia merasa deg-degan dengan permintaan sang suami.“Loh kenapa tidak, Sayang? Mas ingin punya dua anak dari kamu. Apa kamu tidak mau, Sayang?” tanya Leo dengan serius.Aurora gelagapan, seketika ia menggelengkan kepalanya. “Bukan seperti itu, Mas. A-aku mau kok. Hanya saja aku—”“Deg-degan ya?” tanya Leo memotong ucapan Aurora.Aurora tersipu, kedua pipinya memerah dan ia mengangguk dengan malu sampai wajahnya memerah.Leo tergelak melihat anggukan dengan ekspresi malu-malu istrinya.“Ih Mas Leo jangan ketawa. Wajar dong aku deg-degan,” ujar Aurora memprotes suaminya dengan memukul dada Leo pelan.Leo memegang tangan Aurora dengan erat, ia menghentikan tawanya dan menatap Aurora dengan serius.“Tidak perlu malu, Sayang. Kita sudah biasa melakukannya, kan?” tanya Leo dengan suara yang rendah dan serak.Suasana di ruangan ini berubah menjadi panas bagi Aurora. Wanita itu memegang tengkuknya sendi

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 207. Tambah Anak

    6 bulan kemudian….Aurora tersenyum melihat Alvaro yang sudah mulai bisa berjalan, walaupun masih tertatih-tatih tetapi ia bangga dengan tumbuh kembang anaknya sendiri.Ia juga tidak menyangka jika dirinya menjadi seorang ibu untuk Alvaro, melihat Alvaro terus bertumbuh menjadi anak yang sehat membuat dirinya lega.“Ternyata aku sudah sejauh ini menjadi seorang ibu ya,” gumam Aurora menatap sang anak dengan perasaan penuh haru.Perubahan besar yang sangat ia syukuri selama hidupnya, takdir yang membawa dirinya sejauh ini. Jika ia tidak bertahan dengan segala cobaan yang datang di hidupnya dulu, mungkin ia tidak akan merasakan kebahagiaan ini.Memiliki keluarga kecil, suami yang yang bertanggung jawab dan anak yang lucu adalah sebuah anugrah terindah di dalam hidupnya.“Alvaro sini ke tempat Mama, Nak!” perintah Aurora dengan lembut sambil merentangkan kedua tangannya.Anak kecil itu sudah sangat paham jika namanya dipanggil. Alvaro langsung menoleh ke arah mamanya dan tertawa sambil

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 206. Keguguran

    Darma menunggu di depan ruangan UGD. Tatapannya kosong, pikirannya entah melayang di mana.Kenapa ia harus secemas ini kepada Emma? Seharusnya ia meninggalkan wanita itu saja, apalagi Emma sudah mengusirnya. Namun, sekarang ia malah duduk di sini menanti dokter keluar setelah memeriksa Emma.“Kenapa aku masih peduli dengannya? Aku tinggalkan saja wanita itu sekarang,” gumam Darma menimbang semua perkataannya.Untuk apa juga ia berada di sini, biarkan saja Emma sendirian. Toh mereka juga tidak memiliki hubungan selain saling membutuhkan di atas ranjang dan sekarang semuanya sudah berakhir.Saat Darma hendak melangkah pergi, suara pintu terbuka mengurungkan niatnya. Seketika kakinya langsung terhenti dan menoleh ke arah dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD.“Dengan suami pasien?” tanya Dokter pada Darma.Darma tak langsung menjawab. Ia tampak terkejut dengan pertanyaan dokter. Tetapi lebih baik mengaku menjadi suami Emma terlebih dahulu agar ia bisa cepat pergi dari sini setel

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 205. Pendarahan

    “Berengsek! Aku tidak terima diperlakukan seperti ini!” teriak Emma dengan penuh amarah.Pyar…Prang…Emma membanting apa saja yang berada di dekat dirinya hingga benda itu pecah dan berserakan di lantai.Namun, Emma sama sekali tidak peduli. Apartemen yang tadinya sangat rapi kini sudah terlihat berantakan karena ulahnya.Emma menoleh ke arah Darma dengan tatapan yang sangat tajam. Emosi dan amarah menguasai dirinya.“Darma, aku pikir kamu bisa dipercaya tapi ternyata kamu adalah seorang pengkhianat! Aku menyesal mengajak kamu bekerja sama!” ucap Emma dengan lantang.Darma tertawa sumbang, ia sama sekali tidak takut dengan kemarahan Emma kepadanya. Egonya mengatakan jika apa yang ia lakukan adalah benar.“Hei, Emma! Kamu pikir aku mau bertekuk lutut di bawah perintahmu, hah? Itu tidak akan terjadi, Emma. Aku menyetujuinya karena aku mendapatkan uang darimu dan juga jika aku bisa mendekati anakku dan Leo, aku bisa memeras mereka. Tapi sayang, Leo lebih pintar membaca situasi, dia meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status