Início / Romansa / Terjerat Pesona Papa Sahabatku / Bab 5. Menerima Tawaran Leo

Compartilhar

Bab 5. Menerima Tawaran Leo

last update Última atualização: 2026-01-14 10:25:35

“D-dokter Leo, tentang penawaran anda waktu itu saya menerimanya,” ucap Aurora dengan cepat tetapi suaranya begitu pelan dan mata yang tertutup rapat serta jantung yang berdetak tak beraturan.

Hening….

Aurora membuka matanya dengan perlahan, ia menatap Leo dengan pandangan yang sangat sulit diartikan.

“D-dokter kenapa diam? A-apa penawaran itu sudah tidak berlaku?” tanya Aurora dengan meremas ujung pakaiannya, dan menggigit bibir bawahnya.

“Jangan menggigit bibirmu seperti itu, Aurora!” peringat Leo dengan menelan ludahnya kasar hingga jakunnya terlihat bergerak naik turun.

Aurora membungkam bibirnya, ia tidak tahu maksud Leo seperti apa tetapi jujur saja ia merasa takut.

“J-jadi apakah penawaran itu masih berlaku, Dok?” tanya Aurora menahan rasa malunya yang bertentangan dengan hati nuraninya.

Ia ingin menghindari semuanya, tetapi keadaan memaksanya untuk menerima penawaran Leo.

Ada rasa marah terhadap dirinya sendiri sekaligus terhadap Leo, tetapi Aurora tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima tawaran Leo, itu semua ia lakukan demi Mamanya.

Tangannya terkepal dengan sangat erat, tanpa sadar ia menahan napasnya menunggu jawaban dari Leo.

“Dok, Saya—”

“Masuk!” perintah Leo kepada Aurora agar masuk ke dalam ruangannya.

Aurora mengangguk dengan lirih, gadis itu masuk dengan langkah gontai dan wajah yang menunduk menatap lantai, pikirannya berkecamuk sangat berisik hingga rasanya kepalanya terasa penuh.

Aurora menggeser kursi dengan perlahan, ia mendudukan dirinya.

Leo juga sama, pria matang dan berkharisma itu duduk di hadapan Aurora. Wajahnya tampak serius mengambil sesuatu dari laci mejanya.

Dokumen perjanjian sudah ada di laci miliknya, entah kapan Leo membuatnya. Ia menyodorkan dokumen selembar itu pada Aurora.

“Baca dan tanda tangani perjanjian yang saya berikan kepada kamu. Setelah tanda tangan sudah kamu bubuhi di atas materai ini, maka kamu tidak bisa mundur lagi,” ucap Leo dengan tegas.

Aurora mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar, ia menelan ludahnya membaca setiap kata yang ada di dokumen tersebut dengan perasaan yang begitu tidak karuan.

Dirinya seperti bertahan di tepi jurang yang sangat curam, antara tetap berjalan lalu terjatuh atau mundur tetapi akan kehilangan hal yang paling sangat berharga di dalam hidupnya.

Dengan ragu Aurora mengambil bolpoin milik Leo di atas meja, setelah ia menandatangani perjanjian ini maka kehidupannya akan sangat berbeda 180 derajat dari sebelumya.

Ia harus melayani Leo dalam segala hal.

Dirinya tidak bisa membatalkan perjanjian itu begitu saja, hanya Leo yang bisa melakukannya.

Sekali lagi Aurora meyakinkan dirinya sendiri, belum apa-apa ia sudah merasa jijik dengan tubuhnya, membayangkan dirinya akan disentuh oleh Leo.

“Ini demi Mama, Aurora. Kamu harus melakukannya. Lebih baik kamu kehilangan harga dirimu daripada harus kehilangan orang yang sudah melahirkanmu,” gumam Aurora di dalam hati meyakinkan dirinya yang begitu ragu setelah membaca perjanjian yang sudah Leo buat untuk dirinya.

“Jika kamu tidak yakin, kamu boleh pergi sekarang, Aurora.” Leo memperingati dengan nada yang begitu tenang, tatapannya tak lepas dari Aurora.

Gadis itu terlihat begitu tertekan, ragu, dan penuh kebimbangan. Ekspresi Aurora sangat terbaca oleh Leo saat ini.

“S-saya yakin, Dok,” elak Aurora berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Dengan gemetar akhirnya tanda tangan itu sudah ia bubuhi di atas materai. Tatapannya kosong menatap dokumen itu, jiwanya melayang, matanya memerah, setelah ini kehidupannya akan sangat berubah.

Gadis itu masih tidak percaya keputusan besar sudah ia ambil, Aurora ingin menangis sekencang-kencangnya, tetapi tidak bisa karena ia menahannya hingga dadanya terasa sakit.

“Ma suatu saat jika Mama mengetahui ini semua tolong jangan benci Aurora,” gumam Aurora dengan lirih.

Leo menelisik wajah cantik Aurora, mata gadis itu memerah menahan tangisannya. Tetapi ia hanya diam, mengambil dokumen itu lalu ia juga tanda tangan di sana. Kini, dua tanda tangan sudah ada di dalam dokumen, itu artinya Aurora sudah tidak bisa mundur lagi.

“Perjanjian ini sudah kita sepakati bersama, saya tegaskan sekali lagi jika kamu tidak bisa pergi dari kehidupan saya mulai dari sekarang,” ucap Leo dengan tegas.

Aurora mengangguk dengan pelan, ia kembali menunduk dengan pikiran berkecamuk. Membayangkan hidupnya setelah ini ia merasa tidak sanggup, rasanya Aurora ingin mati saja tapi mengingat keadaan Mamanya, ia kembali sadar jika ini bukan murni keinginannya.

“Malam ini jadwal operasi Ibu Amelia. Saya akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkannya.”

“T- terima kasih, Dok. K-kalau begitu saya permisi dulu.”

Aurora setengah membungkukkan tubuhnya sebagai ucapan terima kasih dan salam perpisahan.

Ia pergi dengan langkah pelan, suasana hening berubah menjadi ramai karena banyaknya orang yang berlalu lalang tetapi semua itu tidak Aurora hiraukan, jiwa dan pikirannya entah melayang ke mana.

Bahkan tubuh dan seluruh kehidupannya sekarang sudah milik Leo.

Ia sudah tidak berhak atas dirinya sendiri.

Aurora tertawa sumbang. “Arghh… Aku benci kamu, Aurora! Aku benci kamu, Om Leo!” teriak Aurora di dalam hati.

“Tuhan kenapa hidupku seperti ini hiks…?”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 8. Luka Kecil

    Otak Aurora tiba-tiba kosong, wajah gadis itu memerah menahan malu akibat pikirannya sendiri yang bisa terbaca oleh Leo.Aurora membenarkan letak duduknya, ia langsung membuang muka ke arah samping sambil merutuki dirinya sendiri.“Malu banget,” gumam Aurora dengan perasaan yang tidak karuan yang ia rasakan saat ini.Sedangkan Leo hanya tersenyum kecil, nyaris tidak terlihat. Leo juga diam, ia menjalankan mobilnya dengan tenang, dan tidak ada niatan untuk mengajak Aurora berbicara kembali.Pria itu terlihat santai seperti tidak terjadi apa pun sebelumnya yang sangat berbeda sekali dengan Aurora sekarang.“Pasti Om Leo berpikir jika aku ini…” Aurora tidak sanggup melanjutkan ucapannya di dalam hati, karena memang ia sudah menjadi gadis milik Leo selama perjanjian itu masih berlaku dan Leo belum membatalkan semuanya.Kenapa hatinya kembali sesak mengingat dirinya sendiri?Tanpa disadari oleh Aurora mobil milik Leo sudah berhenti di gedung apartemen milik pria matang itu.Aurora tersenta

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 7. Ikut Dengan Leo

    “Dokter Leo baik sekali, Aurora. Kita punya utang budi ke dia,” ucap Amelia dengan pelan dan tersenyum manis.Aurora membalas senyuman Mamanya dengan tersenyum kecut, hatinya tersentil mendengar ucapan Amelia yang sejak tadi memuji Leo karena kebaikannya.“Andai saja Mama tahu,” gumam Aurora dengan lirih.Suara notifikasi ponselnya membuat Aurora mengalihkan tatapannya ke arah ponselnya yang sejak tadi ia genggam.08xx : “Kamu bisa masak? Nanti kamu ikut ke apartemen saya.”Aurora menelan ludahnya dengan kasar, walaupun nomor baru Aurora langsung tahu itu siapa, jantung Aurora berdetak sangat cepat membaca pesan itu bernada ajakan.Apakah ini saatnya?“Kamu kenapa, Sayang? Wajah kamu pucat sekali,” tanya Amelia dengan khawatir.Aurora kelagapan, ia berusaha terlihat biasa saja di hadapan Mamanya walaupun sebenarnya ia panik bukan main.“Tidak apa-apa, Ma. Nanti aku izin sebentar untuk pulang ya, Ma.”Aurora meremas ujung bajunya dengan gelisah, suasana di ruangan Mamanya langsung beru

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 6. Operasi Amelia

    “Kenapa lama sekali?” gumam Aurora dengan gelisah saat operasi sudah berlangsung beberapa jam lamanya.Jantungnya berdetak tidak karuan, bahkan di lorong ini udara semakin terasa pengap, keringat bercucuran di dahi Aurora. Mungkin sangking paniknya, gadis itu merasa panas, tetapi tangannya begitu dingin dan berkeringat.Berulang kali Aurora berdiri dan duduk, hembusan napasnya terdengar berat.Leo berusaha sedang menyelamatkan nyawa Mamanya, ia percaya dengan pria matang itu.Tetapi hatinya masih merasa tidak tenang, setiap detik yang terlewat bagaikan jarum yang menusuk ke hatinya.“Tuhan, tolong selamatkan Mamaku,” gumam Aurora berdo'a dengan lirih.Rasanya Aurora ingin menangis, matanya sudah memerah, kakinya bergerak gelisah, seluruh anggota tubuhnya merasakan kepanikan yang sama.Hingga Aurora mendengar suara pintu terbuka, gadis itu langsung bangun dari duduknya menghampiri Leo yang berada di depan pintu dengan pakaian lengkapnya.“B-bagaimana keadaan Mama saya, Dok?” tanya Auro

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 5. Menerima Tawaran Leo

    “D-dokter Leo, tentang penawaran anda waktu itu saya menerimanya,” ucap Aurora dengan cepat tetapi suaranya begitu pelan dan mata yang tertutup rapat serta jantung yang berdetak tak beraturan.Hening….Aurora membuka matanya dengan perlahan, ia menatap Leo dengan pandangan yang sangat sulit diartikan.“D-dokter kenapa diam? A-apa penawaran itu sudah tidak berlaku?” tanya Aurora dengan meremas ujung pakaiannya, dan menggigit bibir bawahnya.“Jangan menggigit bibirmu seperti itu, Aurora!” peringat Leo dengan menelan ludahnya kasar hingga jakunnya terlihat bergerak naik turun.Aurora membungkam bibirnya, ia tidak tahu maksud Leo seperti apa tetapi jujur saja ia merasa takut.“J-jadi apakah penawaran itu masih berlaku, Dok?” tanya Aurora menahan rasa malunya yang bertentangan dengan hati nuraninya.Ia ingin menghindari semuanya, tetapi keadaan memaksanya untuk menerima penawaran Leo. Ada rasa marah terhadap dirinya sendiri sekaligus terhadap Leo, tetapi Aurora tidak bisa berbuat apa-apa

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 4. Demi Mama

    “Keadaan Ibu Amelia semakin menurun. Tindakan operasi itu harus cepat dilakukan, Aurora. Waktu kita tidak banyak lagi,” kata Leo selesai memeriksa Amelia.Amelia mengalami penurunan kesadaran, setelah ia berbincang dengan Aurora yang mungkin menguras emosi di dalam dadanya.Napas Aurora tercekat, gadis itu terhuyung ke belakang berpegangan pada kursi. Pikiran dan pandangannya kosong mendengar penjelasan Leo yang menikam jantungnya hingga ia juga kesulitan bernapas.Pandangannya buram karena matanya mengembun, lelehan cairan panas itu siap menjatuhi kedua pipinya, lingkaran hitam di matanya juga terlihat begitu jelas, menandakan jika Aurora memang kurang tidur karena menjaga Amelia.Bahkan ia sama sekali tidak bisa tidur, setiap memejamkan mata yang terbayang adalah wajah pucat dan kaku Mamanya.“B-berikan saya waktu untuk mencari uang itu, Dok.”Leo menghela napasnya, wajahnya terlihat begitu tenang menatap Aurora yang begitu berantakan. Gadis itu sudah tidak terawat beberapa hari in

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 3. Keputusan Sulit

    Aurora menghela napas panjang, gadis itu tersenyum kecil melihat Amelia sudah tertidur setelah minum obat yang diberikan suster.Ia mengusap punggung tangan Mamanya dengan lembut, hatinya benar-benar kalut saat ini, setiap hembusan napas yang tidak beraturan keluar dari mulut Amelia membuat Aurora tidak tenang.“Aku harus bagaimana?” monolog Aurora dengan sendu.Bahkan berulang kali ia melihat ke arah Amelia, memastikan jika Mamanya masih bernapas. Sangking takutnya ia kehilangan Amelia.Mata Aurora berkaca-kaca, memikirkan berbagai cara untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat.Apalagi tadi suster sudah memperingati dirinya untuk membayar tagihan rumah sakit secepatnya, semakin kalut dirinya.“Aku tinggal sebentar ya, Ma,” gumam Aurora mencium dahi Amelia dengan lembut.Aurora berjalan dengan langkah yang begitu pelan, setiap langkahnya terasa begitu berat.Gadis itu ingin mencari angin segar untuk menjernihkan pikirannya yang terasa penuh hingga kepalanya terasa sakit d

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status