LOGINMendapatkan lampu hijau dari sang istri Leo langsung tersenyum bahagia, ia mengecup dahi Aurora dengan penuh perasaan.Ciuman itu turun ke bawah hingga seluruh wajah Aurora mendapatkan ciuman dari Leo berakhir di bibir wanita hamil itu.Leo menggerakkan bibirnya dengan penuh hati-hati.Aurora yang terbawa suasana mulai membalas ciuman suaminya. Kedua tangannya dikalungkan di leher Leo, matanya terpejam menikmati ciuman yang setiap detiknya terasa sangat memabukkan untuk dirinya.Perlahan Leo merebahkan tubuh istrinya di atas kasur, tangannya bergerak mengelus perut Aurora hingga ia merasakan sesuatu bergerak di sana.“Sayangnya Papa. Papa izin mengunjungi kamu ya, Nak,” bisik Leo di perut Aurora.Aurora terkekeh mendengarnya, ia menunggu apa yang akan dilakukan Leo selanjutnya.Ia melenguh ketika gerakan tangan Leo mengelus perutnya dengan abstrak. Matanya sayu menatap pergerakan Leo yang melepas seluruh pakaiannya.Leo menatap tubuh Aurora dengan penuh minat, menurutnya perut istriny
Rumah mewah itu tampak ramai dengan orang berlalu-lalang membawa nampan berisi makanan.Dengan hati-hati mereka meletakkannya di atas meja, semua harus tampak tertata sesuai dengan kemauan sang tuan rumah.Malam ini begitu spesial bagi Leo karena akan merayakan ulang tahun sang istri tercinta. Apalagi kehamilan Aurora sudah memasuki usia 6 bulan, perutnya sudah membesar dan terlihat menggemaskan di mata Leo.“Cepat selesaikan semuanya. Sebentar lagi Tuan dan Nyonya akan turun ke bawah,” perintah kepala pelayan dengan tegas.“Baik.”Mereka menjawab serentak, semuanya melanjutkan pekerjaan masing-masing. Hingga semua hidangan terhidang semua di atas meja.Tak lama suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga. Pelayan berbaris memberi hormat.“Malam Tuan, Nyonya. Silahkan duduk dan nikmati semua hidangan yang telah tersedia.”“Malam.”“Malam semua, terima kasih banyak.”Leo menjawab dengan singkat sedangkan Aurora menjawab dengan ramah dan sebuah senyuman manis di bibirnya, menandak
Raja menelan ludahnya dengan kasar ketika melihat tubuh Shopia yang sudah polos tanpa sehelai benang pun yang melekat.Mata pria itu sudah berkabut gairah, dengan tak sabaran Raja melepaskan seluruh pakaiannya.Hawa di kamar ini terasa sangat panas, perlahan Raja mulai menindih tubuh Shopia. Panas tubuh mereka Sudah bercampur menjadi satu.Deru napas satu sama lain terasa sangat berat, Raja mencumbu leher Shopia hingga perempuan itu melenguh pelan.“Eugh…”Shopia meremas seprei dengan kuat, ia menggigit bibir bawahnya ketika hisapan Raja semakin terasa membakar tubuhnya.Mata mereka bertemu pandang, tanpa kata Shopia seakan meminta Raja memperlakukan dirinya dengan lebih.“R-raja,” panggil Shopia dengan lirih.“Iya, Sayang,” sahut Raja dengan suara seraknya.Raja tersenyum tipis mengerti arti tatapan Shopia kepada dirinya. Dan dengan senang hati Raja melakukannya, membuat sang istri mendesah di bawah kuasanya.“Ahhh.. Raja, a-aku…”Shopia tak sanggup melanjutkan kata-katanya, perempua
Sepulangnya dari rumah Roy senyum Aurora tidak pernah luntur sedikit pun. Ia yang tidak mendapatkan figur seorang ayah kini menemukan kembali sosok itu dalam diri Roy—papa mertuanya. “Kenapa senyum-senyum dari habis pulang dari rumah Papa?” tanya Leo dengan lembut. Ia mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Sebenarnya walaupun ia tidak bertanya, Leo sudah tahu penyebab rasa bahagia yang istrinya rasakan saat ini. Aurora terkekeh, kedua pipinya bersemu merah. Bahkan ia tidak malu untuk memeluk lengan Leo terlebih dahulu. “Hehe…aku sangat bahagia, Mas. Akhirnya aku punya ayah,” ungkap Aurora dengan mata berbinar. “Syukur lah kalau kamu bahagia, Sayang. Anggap papa itu papa kandungmu juga ya. Kamu tidak perlu sungkan. Tapi kalau kamu lebih manja dengan papa, Mas cemburu,” balas Leo dengan ekspresi yang dibuat-buat sedih. Aurora tergelak, ia mengelus pipi Leo dengan manja. “Ya gak mungkin, Mas. Aku masih menjaga batasan.” Leo memeluk Aurora dan mencium puncak kepa
Aurora menggenggam tangan Leo dengan erat ketika mereka baru saja memasuki rumah Roy.“Akhirnya kalian datang juga,” ujar Roy yang tak jauh dari mereka.Matanya tertuju pada Aurora lalu ke perut Aurora yang sudah terlihat membesar dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh siapa pun.Aurora tampak terlihat takut, tubuhnya bergerak untuk semakin merapatkan dirinya pada Leo.“Sayang itu Papa,” bisik Leo dengan lembut.Aurora menghembuskan napasnya dengan pelan, perlahan ia bergerak dan melepaskan genggamannya pada Leo. Kakinya mulai melangkah untuk mendekat ke arah mertuanya.Tangannya dengan ragu terulur untuk menjabat tangan sang mertua.“A-aurora, Pa.”Aurora memperkenalkan diri dengan nada bicara yang terdengar takut-takut. Ia takut Roy tidak akan menerimanya sebagai menantu. Kehidupannya dan Leo sangat berbeda jauh, perbedaan itu terlihat sangat jelas.Roy tersenyum tipis, ia menyambut tangan menantunya itu dengan hangat dan menyentuh puncak kepala Aurora dengan mengelusnya pela
“Di mana istrimu?” tanya Roy—papa kandung Leo dengan ekspresi datar namun penasaran.Ekspresi wajah Leo langsung tampak serius. Semua keluarga sedang berkumpul setelah acara pernikahan Shopia dan Raja.“Ada di apartemen,” sahut Leo tanpa keraguan.Roy menautkan kedua tangannya dan menjadikan sebagai tumpuan dagunya.“Kenapa tidak kamu bawa ke sini, Leo? Apa kamu tidak ingin memperkenalkan istri barumu itu kepada Papa dan yang lainnya? Kamu sama sekali tidak menghargai keluarga ini. Bisa-bisanya menikah tanpa sepengetahuan Papa dan yang lainnya,” tanya Roy sambil memarahi anaknya.Roy menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kelakuan sang anak. Bahkan ia tidak habis pikir kenapa Leo bisa menikahi perempuan muda se-usia Shopia. Bahkan kabarnya cucu dan menantunya itu adalah sahabat dekat.“Situasinya tidak seperti yang Papa pikirkan. Saya yang memaksanya untuk masuk ke dunia saya. Dia sudah menolak tetapi demi ibunya di rela direndahkan oleh saya. Tetapi pada akhirnya saya yang jatu
Leo sibuk dengan ponselnya, ia sedang mencari pakaian yang cocok untuk Aurora. Sedangkan Aurora berada di pelukannya, keduanya masih belum membersihkan diri, karena Aurora sangat lemas digempur habis-habisan oleh Leo.Leo menelepon orang kepercayaannya yang bekerja bukan di bagian rumah sakit, mel
Malam ini Leo sama sekali tidak bisa tidur, ia menatap Emma. Berpikir, mencari jawaban yang terus berputar di otaknya.Tidak ada lagi perasaan yang tertinggal, semuanya terasa hambar.Apakah benar rasa cintanya sudah hilang?Dulu ia sangat mencintai Emma, saat mereka berpacaran dulu mereka juga san
Leo mengerang, merasakan kulitnya terbakar, panas dan sungguh menyiksa dirinya, bahkan wajahnya memerah karena reaksi obat yang sudah ia minum. Obat perangsang yang ia yakini sudah dicampur oleh Shopia ke minumannya. Gejalanya sama, dan Leo mengingat satu nama lagi—Aurora.Ya, gadis itu pasti ikut
Seminar sudah selesai, Leo memutuskan untuk beristirahat di kamar hotel sejenak. Ketika ia membuka pintu kamarnya, ada Aurora yang terlihat ragu untuk mengikuti.Lorong hotel ini sangat sepi, hanya ada mereka berdua. Dan ketakutan Aurora semakin menjadi ketika pintu kamar itu sudah terbuka lebar.“







