Masuk“Sayang, mama sudah tenang di sana. Mama sudah tidak merasakan sakit lagi. Kamu tidak boleh seperti ini ya. Mama pasti sedih melihat kamu,” ucap Leo berusaha untuk membujuk sang istri.Aurora tidak bergeming, ia diam menatap nisan mamanya dengan hembusan napas yang terasa berat.“Kita pulang ya. Setiap hari kita bisa datang ke sini, Mas janji akan mengantarkan kamu dan tidak akan membiarkan kamu sendirian, Sayang,” bujuk Leo berusaha untuk bisa mengajak sang istri untuk pulang.Leo membantu Aurora untuk berdiri, tetapi Aurora sama sekali tidak bergerak. Leo menghela napasnya dengan sabar.“Sayang, kita harus pulang. Besok kita ke sini lagi ya. Kamu perlu istirahat, Sayang. Jangan lupa kamu sedang hamil. Anak kita pasti akan merasakan kesedihan mamanya,” ucap Leo dengan lembut.Aurora menoleh ke arah Leo. Ia sudah merespon ucapan suaminya untuk pulang ke rumah, tetapi kakinya terasa berat untuk melangkah pergi dari makam mamanya.“Besok kita ke sini lagi ya, Mas. Janji?!” pinta Aurora
Aurora membuka matanya dengan perlahan, wanita hamil itu tampak bingung sejenak. Lalu ia mengingat mamanya.“Mama!” teriak Aurora yang langsung bangun dari tempat tidurnya.Tetapi di saat ia hendak turun dari brankar ada Leo yang menahan dirinya.“Awas, Mas! Aku mau lihat mama. Aku harus memastikan sesuatu,” ucap Aurora berusaha menyingkirkan tubuh besar suaminya.Leo sama sekali tidak bergeming, pria itu malah memeluk istrinya dengan erat.“Mama sudah tidak ada, Sayang. Kamu harus ikhlas ya. Mama sudah tidak sakit lagi,” gumam Leo dengan pelan.Aurora menggelengkan kepalanya, ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. “Gak mungkin! Ini semua pasti mimpi, Mas. Tolong bangunin aku, Mas. Tampar pipiku biar aku bangun sekarang hiks…” pinta Aurora mengguncang lengan suaminya.Mata Leo berkaca-kaca melihat Aurora dalam keadaan hancur seperti sekarang. Ia juga ikut menangis tanpa suara, menciumi puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.“Sayang, maafkan Mas yang tidak
Shopia tercekat, ia menatap mata Raja dengan dalam. Jujur ia memang mencintai Raja, tetapi is terus menyangkal jika Raja ingin menikahinya bukan karena cinta melainkan ingin bertanggung jawab karena sudah mengambil sesuatu yang sudah berharga di dalam dirinya.Keperawanannya diambil oleh Raja. Di dalam sudut hatinya, ia merasa bahagia tetapi di sudut yang lainnya ia merasa takut pernikahannya dengan Raja tidak akan bertahan lama. “Raja, kalau kamu ingin menikahiku karena rasa tanggung jawabmu. A-aku gak bisa, aku takut pernikahan kita gak akan bahagia seperti pernikahan kedua orang tuaku. Lalu kita bercerai dan akhirnya kita memiliki pasangan masing-masing. Aku gak ingin jika punya anak nanti dia merasakan apa yang aku rasakan sekarang,” ucap Shopia dengan sendu.Bahu Shopia bergetar, menahan tangis yang hendak pecah sekarang.Tanpa ia sadari Raja memeluknya dengan erat. “Aku mencintaimu. Apakah itu belum cukup untuk membuktikan semuanya? Maafkan kesalahanku karena memaksamu untuk ti
Aurora menatap mamanya dengan tatapan kosong, tidak ada air mata yang keluar kembali setelah ia memberikan ancaman kepada sang suami. Hatinya terlalu sakit mengingat apa yang terjadi pada mamanya karena Shopia.Bahkan perkataan Leo yang menyuruhnya untuk beristirahat ia abaikan. Suara suaminya bak angin lalu, sebab nyawanya seakan terlepas dari raganya saat ini.“Sayang,” panggil Leo dengan lembut sambil memegang lengan Aurora tetapi sang istri langsung menyingkirkan tangannya dengan wajah cemberutnya.Leo menghela napasnya dengan berat, ia mengerti apa yang ditakutkan oleh Aurora. Tetapi dirinya juga takut terjadi sesuatu dengan Aurora dan kandungannya jika istrinya itu mengabaikan kesehatannya.“Sayang dengerin Mas dulu.”“Aku capek, Mas! Fisik dan batin aku capek, semuanya terasa sangat berat. Bisa gak Mas jangan buat aku semakin tertekan?” ucap Aurora dengan kesal.Aurora menghapus air matanya dengan kasar, ia tidak lagi bisa menahan air matanya. Perasaannya berkecamuk, semakin ia
Aurora terus mengeluarkan isi hatinya di hadapan Shopia yang terlihat diam sejak tadi.“Kenapa diam, hah? Kamu puas sudah membuat mamaku kambuh? Kamu tahu, Shopia? Aku dan papamu sudah berencana memberitahu mamaku dan keluarga besar kalian. Tapi apa yang sudah kamu lakukan Shopia? Sungguh aku tidak menyangka kamu seperti ini.”Aurora menatap penuh kecewa ke arah Shopia. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, ia tersenyum sinis.Dengan tertatih Aurora berjalan meninggalkan Shopia. Ia lelah berbicara tetapi Shopia sama sekali tidak merespon ucapannya, seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali kepada mamanya.Shopia menatap kepergian Aurora dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada penyesalan di hatinya, tetapi egonya mengatakan jika apa yang sudah ia lakukan benar.“Seharusnya aku merasa puas sekarang. Tapi kenapa aku merasa sakit?” gumam Shopia menekan dadanya melihat punggung Aurora yang rapuh.Bukannya pergi, diam-diam Shopia memastikan jika ibu dari Aurora itu baik-baik saja. Hat
“Berbohong? Gak, Tante! Bahkan Aurora sudah hamil anak papaku. Apa Tante selama ini gak curiga dari mana Aurora mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat jika dia gak menjual tubuhnya kepada papaku?”Amelia menggelengkan kepalanya, air matanya sudah menetes menjatuhi kedua pipinya.“Gak mungkin anak Tante seperti itu, Shopia! Dokter Leo memberikan pekerjaan kepadanya.”“Pekerjaan apa yang langsung mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat jika tidak menjual diri, Tante? Tante tidak usah menyangkalnya. Jika tidak percaya maka tanyakan langsung kepada mereka,” sahut Shopia dengan suara yang sedikit meninggi akibat rasa kesal yang menumpuk di dalam dadanya karena Amelia tetap mempercayai Aurora.Amelia tidak bisa menjawabnya, semua perkataan Shopia seperti jawaban kebingungannya selama ini.Amelia memegang dadanya, bibirnya terasa keluh dan hanya erangan kesakitan yang keluar dari sana.“Akh…”Shopia terkejut, ia tampak panik memegang lengan Amelia. “T-tante kenapa?” tanya Shopia
Aurora menenangkan Shopia yang menangis dengan cara memeluknya, ia tidak menyangka acara makan malam yang tadinya penuh canda tawa, kini berubah mengkhawatirkan.Benarkah Emma selingkuh?Ia melirik Leo, pria itu juga tampak emosi. Ia merasa iba dengan semua yang terjadi.Apakah Leo cemburu melihat
Sejak selesai makan dan kembali ke kamar, Leo tidak mengucapkan sepatah kata pun. Rahang pria itu masih mengeras, pertanda jika emosi masih menguasai jiwanya.Aurora mendekat dengan ragu, ia menghela napas pelan. Bahkan ia takut suara napasnya juga mengganggu kenyamanan Leo.
Leo menolak keras permintaan Aurora. Itu sangat tidak adil untuk dirinya.“Kenapa gak bisa? Dulu Om bisa gak menyentuh Tante Emma berbulan-bulan, kan?” tanya Aurora yang membuat Leo kalah telak.Apa yang dikatakan Aurora benar. Tetapi sekarang ia tidak bisa berjauhan dengan Aurora.“Itu dulu tapi s
Leo sibuk di rumah sakit, bahkan pria itu sama sekali tidak pulang ke rumah atau pun apartemennya. Selain pusing dengan tingkah anaknya, ia juga menghindar dari Aurora, perasaan kesal itu masih mendominasi walaupun ia sudah mendapatkan penawarnya.Suara notifikasi ponsel miliknya berdenting, dengan







