เข้าสู่ระบบArunika duduk di bangku taman rumah sakit, tubuhnya sedikit membungkuk. Pandangannya jatuh pada kedua tangannya sendiri yang saling meremas tanpa sadar. Jari-jarinya dingin, telapak tangannya basah oleh keringat dan air mata yang tak kunjung kering. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang menekan dari dalam.Yara duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangan Arunika dengan lembut namun mantap—seolah ingin menyalurkan kekuatan yang tersisa.“Sabar ya, Run,” ucap Yara pelan, penuh empati. “Jangan dipikirin omongan orang itu. Kaivan sangat mencintai kamu. Dari dulu sampai sekarang.”Arunika perlahan mengangkat wajah. Mata beningnya sudah memerah, air mata menggantung di pelupuk, siap jatuh kapan saja. Bibirnya bergetar saat ia bicara.“Tapi, gimana kalau Kaivan jadi kayak gini gara-gara aku, Yar?” suaranya nyaris berbisik. “Dia… dia di mobil sama aku. Aku yang ngajak bercanda. Aku yang bikin dia ketawa. Terus…” Arunika tak sanggup melanjutkan. Kenangan itu terlalu menyakitkan. T
“Pasti gara-gara kamu Kaivan jadi koma!”Kalimat itu menghantam Arunika tanpa aba-aba, seperti tamparan keras yang mendarat tepat di dadanya. Tubuhnya membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Telapak tangannya langsung basah oleh keringat dingin, sementara jantungnya berdegup tak beraturan, seolah hendak meloncat keluar.Arunika menoleh perlahan. Pandangannya bergetar, tidak sepenuhnya fokus, tapi suara itu terlalu nyata untuk diabaikan.Ia tahu. Ia ingat betul.Beberapa saat sebelum kecelakaan itu, ia dan Kaivan sempat bercanda. Bukan pertengkaran, hanya obrolan ringan, godaan kecil yang biasa mereka lakukan. Tapi kini, potongan ingatan itu berubah menjadi belati yang menikam berulang-ulang.‘Apa aku penyebabnya? Apa kalau aku tidak bercanda, tidak mengajaknya bicara, semua ini tidak akan terjadi?’Kepalanya menggeleng pelan, seolah ingin menolak pikiran itu. Air mata jatuh tanpa izin, satu demi satu, membasahi pipinya.Perempuan muda dengan rambut blonde itu melangkah mendekat. P
Yara baru saja selesai meracik salad di atas meja dapur. Potongan selada hijau, tomat ceri, alpukat, dan irisan ayam rebus tersusun rapi, diberi saus ringan yang aromanya segar. Ia tersenyum kecil saat mendengar langkah kaki mendekat.“Mau salad juga?” tawarnya lembut, tanpa menoleh.“Mau,” jawab Arunika singkat.Yara mengambil mangkuk lain, lalu menyendokkan salad dengan porsi yang cukup. Ia sengaja tidak terlalu banyak, khawatir Arunika malah enggan menghabiskannya. Saat menyodorkan mangkuk itu, Yara akhirnya menatap wajah putri sambungnya. Dadanya menghangat sekaligus nyeri.Arunika terlihat rapi seperti biasa, blus polos, rambut terikat sederhana. Namun ada sesuatu yang berbeda. Matanya tampak redup, senyumnya lebih sering tertahan, dan tubuhnya terasa makin kurus dari hari ke hari. Yara teringat Arunika yang dulu, cerewet, tertawa lepas, dan penuh energi. Jujur saja, ia merindukan versi itu.“Kamu kelihatan capek,” ucap Yara hati-hati, sambil duduk di kursi seberang.Arunika hany
Yara terbangun saat suara berisik dari luar kamar memecah keheningan malam. Ia mengerjap beberapa kali, lalu perlahan turun dari ranjang. Jam digital di nakas masih menyala redup, sementara dari arah lorong terdengar suara yang jelas—tegang, tertahan emosi.“Gak bisa gitu! Data yang kemarin gak valid! Pokoknya buat ulang!”Yara membuka pintu kamar. Di ambang lorong, Arunika berdiri sambil memeluk bantal sofanya, ponsel menempel di telinga. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya lelah, tapi nada bicaranya tegas. Yara melirik jam dinding. Pukul satu malam.Ia menghela napas pelan, lalu melangkah mendekat.“Runi.”“Ya sudah, saya gak mau tahu. Selesaikan dan besok kirim ke meja saya.” Arunika mematikan sambungan telepon itu, lalu menghembuskan napas panjang, seolah beban di dadanya ikut keluar. Ia menoleh pada Yara dan tersenyum kecil. “Maaf, Yar. Pasti ngagetin kamu, ya?”Yara menggeleng pelan. Ia tahu betul kebiasaan itu sekarang. Sejak Kaivan sakit dan belum juga sadar, Arunika sepert
Arunika duduk kaku di kursi besi di sisi ranjang. Tubuhnya terbungkus baju steril yang terasa dingin, jauh lebih dingin dari dadanya yang sesak. Tangannya menggenggam tangan Kaivan—dingin, lemah, penuh selang infus dan alat yang tak pernah ia bayangkan akan menempel di tubuh lelaki yang selalu tampak kuat itu.Air matanya menetes satu per satu, jatuh di punggung tangan Kaivan.“Bangun ya,” bisiknya, suaranya pecah, hampir tak bersuara.“Aku capek sendirian.”Jarinya mengerat, seolah takut kalau genggaman itu terlepas, Kaivan akan pergi untuk selamanya. Dada Arunika naik turun tak beraturan. Ia menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan itu.“Kamu janji,” lanjutnya lirih, ada getir yang menyayat di tiap kata.“Kamu bilang nggak bakal ninggalin aku. Kamu bilang aku nggak perlu kuat sendirian.”Isakannya tertahan, bahunya bergetar. Ia mengusap pipinya asal, tapi air mata terus jatuh, tak peduli.“Aku takut, Kaivan.” Arunika menyeka air matanya sebentar.“Aku beneran takut.”Matanya menata
Mereka membawa kantong-kantong makanan itu keluar dari restoran. Elvaro membuka bagasi, satu per satu memasukkan bungkusan dengan rapi, memastikan tidak ada yang tumpah. Yara ikut membantu sebisanya, meski Elvaro beberapa kali menahan pergelangan tangannya, menyuruhnya pelan-pelan saja. Setelah semuanya beres, Yara lebih dulu masuk ke dalam mobil, menyandarkan punggung sambil menghela napas puas.Begitu mobil melaju, Yara meraih ponselnya. Jarum jam sudah bergeser cukup jauh dari siang, pikirannya langsung tertuju pada Arunika. Jempolnya menekan nama itu, menunggu nada sambung dengan perasaan sedikit cemas.“Runi,” sapa Yara begitu panggilan terangkat. “Kamu di mana? Kapan pulang? Mau makan apa? Aku sama Papa baru habis beli makanan.”Di seberang sana, suara Arunika terdengar pelan, jauh dari ceria yang biasanya. “Aku masih di kantor Kaivan, Ya. Kayaknya aku makan di luar aja. Nggak usah siapin apa-apa, ya.”Nada itu, lesu, datar, dan berusaha terdengar baik-baik saja, langsung membu







