LOGIN
Pagi itu, sinar matahari menembus kaca jendela kamar Sadya Aishwarya, memantul pada meja rias tempat ia baru saja selesai merapikan diri. Masih terlalu pagi, namun perempuan itu sudah menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah, membersihkan rumah, dan menyiapkan pakaian untuk Arnesh—suaminya bekerja, dan tak lupa bekal untuk Arnesh. Sejak dulu Sadya memang selalu membiasakan diri untuk bangun lebih awal sebelum penghuni yang lain.
Sadya bangkit dari duduknya. Ia berdiri di depan cermin, memeriksa kembali kemeja biru lembut yang dikenakannya, merapikan kerah, lalu menghela napas panjang. Matanya terlihat berbinar-binar kala Sadya menatap dirinya sendiri. Sadya meraih tasnya, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia bergerak meninggalkan kamar. Namun begitu langkahnya tiba di anak tangga pertama, langkahnya terhenti. Suara dua orang yang sangat ia kenal terdengar jelas di balik dinding ruang dapur. Suara Arnesh, terdengar pelan, seolah menahan sesuatu. Dan suara lain, yang membuat dada Sadya langsung terasa sesak adalah suara Annisa, Ibu mertua Sadya. “Sudah dua tahun, Nesh. Dua tahun kamu menunggu.” Suara Annisa terdengar tajam, tanpa sedikit pun upaya meredam. “Kalau dia tidak bisa memberimu keturunan, untuk apa dipertahankan?” Sadya mematung. Kata ‘tidak bisa’ itu seperti pisau yang langsung menusuk hatinya. Berulang kali. Walaupun Sadya sudah terbiasa dengan kalimat-kalimat semacam itu, nyatanya ia tidak sekuat itu. “Bu, aku sama Sadya juga sudah berusaha. Ibu tahu kalau kami juga konsultasi dengan dokter dan mereka bilang kalau kami sama-sama sehat. Kalau memang Tuhan belum kasih rezeki mau gimana—” “Buat apa kamu buang-buang uang cuma untuk ke dokter kalau hasilnya tetap nihil? Dari sekian banyak usaha yang kalian lakukan, masa nggak ada satupun yang berhasil. Ibu sangat yakin kalau dia mandul!” ujar Annisa dengan nada tegas. “Kamu laki-laki. Kamu harus memiliki keturunan. Kalau perlu, menikah lagi. Ibu tidak keberatan. Istri dua tidak apa-apa. Yang penting Ibu bisa menggendong cucu sebelum Ibu mati!” Sadya menutup mulutnya dengan tangan, satu tangan lainnya mencengkram pinggiran tangga. Menahan isak yang meluap tanpa bisa dicegah seiring dengan dadanya yang sesak luar biasa. Perempuan itu tahu Ibu mertuanya tidak menyukainya sejak awal, tapi mendengar kata-kata itu… begitu gamblang, begitu kejam, begitu menyayat… rasanya seperti seluruh dunia runtuh menimpanya. Ia pikir selama ini ia cukup kuat. Ia mencoba mengikhlaskan setiap tatapan meremehkan, setiap sindiran kecil yang disamarkan sebagai ‘nasehat’. Namun yang satu ini bukan lagi nasehat, melainkan penghukuman. Sadya mengambil langkah perlahan, berusaha menahan gemetar. Ketika ia memasuki ruang makan, kedua orang itu langsung terdiam. Arnesh tampak terkejut saat melihat wajah istrinya yang memerah dan berlinang, dan saat bersamaan lelaki itu menyadari bahwa Sadya telah mendengar semuanya. Sementara Annisa terlihat tak acuh, seolah tidak menyesal sedikit pun. Sadya tidak berkata apa-apa. Ia tidak memiliki energi untuk itu. Jadi, ia berjalan mendekati Arnesh dan bersuara. “Aku… berangkat ya, Mas. Aku ada meeting penting pagi ini soalnya.” ucap Sadya lirih, suaranya hampir tidak terdengar. “Bu, aku berangkat dulu.” Tanpa menatap keduanya, Sadya berjalan keluar. Ia bahkan tidak peduli jika setelah ini Annisa akan kembali mencemoohnya. Perempuan itu berjalan menuju pintu depan dan masih mendengar Arnesh memanggilnya, namun ia terlalu takut untuk menoleh. Takut jika Sadya melihat wajah suaminya, tangisnya akan pecah lebih keras. Pintu rumah tertutup di belakangnya, tapi perkataan sang ibu mertuanya masih mengejar hingga jauh. “Nggak apa-apa, Dy.” Sadya menyandarkan kepalanya ke belakang, menarik napas sembari memejamkan mata kuat-kuat. “Udah biasa kan, Ibu begitu? Kamu hanya perlu terbiasa dengan hal itu.” Setelah berkendara selama 30 menit dengan menggunakan transportasi umum, Sadya akhirnya tiba di kantor. Sesampainya di ruangan Sadya duduk di meja kerjanya sambil memandangi jarum jam yang seakan bergerak lebih lambat dari biasanya. Tumpukan berkas di depannya masih belum tersentuh padahal jelas-jelas sebentar lagi meeting akan dimulai. Ia menatapnya, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Dua tahun pernikahan. Dua tahun perjuangan. Dua tahun menerima hasil pemeriksaan yang sama: tidak ada masalah pada dirinya, tidak ada masalah pada Arnesh. Dokter bilang mereka hanya butuh waktu. Tapi orang-orang tidak sabar. Terutama Ibu mertuanya. Sadya menarik napas panjang demi menghalau rasa sesaknya, namun masih saja, ia merasakan secuil pahit di tenggorokan. Kata ‘mandul’ itu terus berputar-putar di kepalanya. Perempuan itu tahu itu tidak benar, tapi bagaimana ia bisa melawan kata-kata yang diucapkan dengan begitu yakin? Bagaimana ia bisa merasa cukup ketika orang lain menganggap dirinya kurang? Ketika pikirannya tenggelam terlalu jauh, Sadya bangkit untuk mengambil dokumen di ruangan atasannya. Tepat saat Sadya berbalik, tanpa sadar tubuhnya nyaris terjungkal dan berkas-berkas di tangannya jatuh ke lantai. Bruk. Tanpa sengaja Sadya menabrak seseorang. Namun beruntungnya tubuh Sadya ditarik dengan cepat oleh lelaki itu. Setelah jeda selama beberapa saat, cepat-cepat Sadya menarik diri dari dekapan lelaki itu. “Ma—maaf, Pak…” Sadya langsung menundukkan wajah dan langsung berjongkok untuk mengambil dokumen yang berserakan di lantai. “Maaf, saya nggak sengaja. Saya tadi nggak dengar kalau Bapak masuk ke ruangan. Sekali lagi maaf, Pak.” Perempuan itu mendongak sedikit, dan mendapati sosok Dirgantara menatapnya dengan alis terangkat. Lelaki itu selalu tampak tegas, berwibawa, dan sulit dipahami. Namun kini tatapannya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan… khawatir? “Dy?” tanya Dirgantara. “Kamu sakit?” Sadya menggeleng cepat, terlalu cepat hingga justru membuat ketidakjujurannya tampak jelas. “Tidak, Pak. Saya nggak apa-apa. Maaf, saya tadi sempat melamun. Saya nggak tahu kalau Bapak sudah datang.” Dirgantara menyipitkan mata sedikit. “Ngalamunin apa?” Sadya membuka mulut hendak menjawab, tapi suaranya tercekat. Ia menunduk kembali, menggenggam dokumen di tangannya erat-erat. “Maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf.” Dirgantara melunak. Ia menghela napas, lalu mencondongkan tubuh sedikit agar lebih sejajar dengan tinggi Sadya. “Ada apa?” tanyanya, kali ini lebih lembut. “Kamu kelihatan… tidak sehat.” Sadya mengerjap-ngerjap dan wajahnya terlihat gugup. “Saya nggak apa-apa, Pak,” jawabnya cepat. Ia takut jika terlalu lama berdiri di situ, tangisnya akan pecah dan kembali teringat akan ucapan Annisa. Namun Dirgantara tidak langsung menyingkir dari hadapan Sadya. Ia tetap berdiri di hadapan Sadya, memperhatikannya dengan cara yang membuat perempuan itu merasa telanjang dalam emosinya. “Dy…,” panggilnya, suaranya lebih tegas namun tidak menghakimi. “Kamu selalu bekerja dengan rapi dan nggak ceroboh. Tapi hari ini… kamu bahkan tidak menyadari kehadiran saya.” “Maaf, Pak.” Perempuan itu masih menunduk. “Kamu lagi ada masalah? Saya tahu kalau kamu lagi nggak baik-baik saja, Dy.” Pertanyaan itu sederhana. Namun dampaknya luar biasa. Tiba-tiba seluruh perasaan yang ia tahan sejak pagi menyeruak kembali. Tenggorokannya tercekat, matanya memanas lagi. Sadya menggigit bibir bawahnya, berusaha mati-matian menahan air mata. “Saya… hanya sedang banyak pikiran, Pak,” katanya akhirnya, suaranya terdengar bergetar. Dirgantara menatapnya dalam-dalam, seolah mencoba membaca apa yang tengah terjadi pada perempuan itu. “Kalau kamu butuh waktu sebentar, ambillah,” ucap Dirgantara. “Kita bisa tunda meeting pagi ini.” Sadya terpaku. Ia tidak menyangka atasannya yang terkenal kaku dan disiplin itu bisa berkata seperti itu. “Tapi, Pak. Saya—” ucapnya lirih. Dirgantara mengangguk, namun sebelum melangkah menjauh, ia berkata pelan, “Saya mau ngopi sebentar sama Banyu di lobi. Siapkan meeting-nya satu jam lagi, ya.” Dirgantara membalikkan badan, tidak menunggu Sadya menjawab perkataannya, lelaki itu sudah lebih dulu meninggalkan ruangannya. Ketika akhirnya lelaki itu pergi, Sadya menghela napas panjang. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, membiarkan beberapa tetes air mata jatuh tanpa suara. Bagaimana ini? Sadya bahkan tidak sanggup menahan rasa sesak yang menghantamnya setiap kali mengingat percakapan Arnesh dengan Annisa pagi tadi. Untuk pertama kalinya hari itu, Sadya merasa kacau dan merasa tidak ada seseorang yang benar-benar mengerti dirinya. Namun tidak dengan sikap Dirgantara barusan. Walaupun ia bertanya-tanya, namun Sadya merasa lega. Setidaknya masih ada seseorang yang bisa mengerti dirinya tanpa ia perlu menjelaskan. ***Suasana malam perlahan turun, meninggalkan sisa-sisa cahaya senja di langit Jakarta yang kini mulai tertutup awan tipis. Lampu-lampu taman belakang sudah menyala, menerangi beberapa sudut dengan cahaya kekuningan yang hangat.Udara dingin menyapa pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Setelah makan malam, Dirgantara berjalan mengikuti langkah Bunda Narnia menuju taman belakang. Perempuan paruh baya itu menawarkan secangkir teh hangat yang sudah terhidang di meja rotan kecil.“Silakan diminum, Nak,” ujar Bunda Narnia lembut sambil tersenyum.Dirgantara hanya mengangguk, menarik kursi lalu duduk. Sementara dari dalam rumah terdengar sayup-sayup suara tawa kecil Sadya dan adik-adiknya yang tengah belajar di ruang tengah. Ada kehangatan yang terasa menyusup di dada Dirgantara, entah karena udara malam atau karena suasana rumah itu yang begitu berbeda dari rumah-rumah megah yang biasa ia datangi.“Pasti rasanya asing ya, Nak? Suasana ramai seperti ini pasti sangat jarang ditemui Na
Sadya masih duduk tegak di depan layar komputernya. Matanya menatap fokus pada deretan angka dan data laporan yang harus ia rampungkan sebelum sore. Meskipun hari ini sebenarnya ia sudah mengajukan izin untuk pulang lebih awal, ia tetap ingin meninggalkan meja kerjanya dengan semuanya dalam keadaan selesai.Suasana kantor menjelang siang itu masih cukup ramai. Suara ketikan keyboard dari beberapa rekan kerja terdengar samar bercampur dengan desiran pendingin ruangan. Tiba-tiba, ponsel Sadya yang terletak di samping laptopnya bergetar. Ia sempat berhenti mengetik dan menatap layar ponselnya. Nama yang muncul membuat hatinya sedikit menghangat.Tanpa ragu, ia menggeser layar dan mengangkat panggilan itu. “Halo, Mas,” ucap Sadya pelan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang agar tidak terlalu terdengar oleh rekan sekantor.“Sayang…” Suara di seberang terdengar lembut namun tergesa. “Aku mau kasih kabar dulu sebelum kamu sibuk. Sore ini aku harus berangkat ke Kalimantan. Ada proyek mendada
Sudah lewat dari pukul tujuh malam, sebagian besar lantai kantor sudah gelap dan sunyi. Lampu ruangan menyisakan cahaya dari beberapa meja yang masih menyala. Salah satunya meja kerja Sadya. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya fokus pada layar komputer meski kedua bola mata itu tampak lelah.Hari ini ada banyak laporan yang harus ia revisi sebelum dikirim ke Dirgantara esok pagi. Beberapa catatan tambahan dari meeting sore tadi juga harus diselaraskan dengan data terbaru. Sadya menghela napas berat, menekan pelipisnya bersamaan dengan pesan dari Arnesh muncul di layar.____________________________________Mas ArneshJadi lembur, Sayang? Aku jemput sekalian aja, ya. Aku dari kantor jam 8 nanti.___________________________________Setelah membalas pesan Arnesh, Sadya kembali menekuri pekerjaannya. Keningnya sempat mengernyit begitu membaca data di layar. Kemudian Sadya menyandarkan tubuh ke kursi, merasa otot punggungnya menegang. Ia memutuskan untuk berdiri dan melangkah
Dirgantara baru saja menyelesaikan meeting bersama para stakeholder proyek. Wajahnya serius, tubuhnya tegak. Dengan langkah lebar dan ekspresi tak banyak berubah, ia keluar dari ruang rapat menuju ruang kerjanya. Di belakangnya, ada Mira yang sejak tadi ikut dalam pembahasan karena proyek kali ini juga melibatkan perusahaan tempat Mira bekerja sebagai arsitek.Mira mengenakan blazer krem dengan rambut disanggul rapi. Wajahnya selalu terlihat ceria, berbanding terbalik dengan ekspresi Dirgantara yang dingin dan datar. Langkah mereka beriringan menyusuri koridor kaca lantai eksekutif.“Mas, aku mau tanya, deh,” ucap Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Dirgantara tidak menoleh, hanya sedikit memperlambat langkahnya. “Hm?”“Dya udah berapa lama kerja di sini?”Dirgantara sedikit mengernyit. Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi entah kenapa rasanya menusuk di pikirannya. “18 bulan kayaknya,” jawabnya. “Kenapa emangnya?”Mira mengangguk pelan. “Lumayan lama juga,” gumamnya pelan. “Selama in
Subuh belum sepenuhnya mengusir gelap saat Sadya memutuskan untuk turun ke dapur. Rumah masih sunyi, hanya bunyi detik jam dinding yang menemani langkahnya. Rambutnya masih setengah basah, wajahnya pucat karena kurang tidur. Namun seperti biasa, ia memulai harinya dengan rutinitas yang tidak pernah berubah, memasak untuk seluruh penghuni rumah.Sesampainya di dapur, Sadya membuka kulkas, mengecek bahan yang tersisa. Ia mulai memotong sayuran, menanak nasi, menyiapkan lauk untuk sarapan Arnesh, Annisa, Gilang—adik laki-laki Arnesh, dan Lolita—adik perempuan Arnesh. Lalu tak lupa ia juga membuat bekal untuk dirinya sendiri, bekal sederhana berisi ayam kecap dan tumis buncis, makanan yang bisa ia makan cepat di sela pekerjaan.Dapur dipenuhi aroma masakan, hangat namun membuat dada Sadya terasa lebih sesak. Terkadang ia bertanya-tanya, apakah ada yang sadar betapa lelahnya tubuh ini? Betapa ia ingin sekali bangun tanpa takut dimarahi, atau makan tanpa merasa diawasi?Setelah semuanya sel
“Aku harus lembur, Mas. Kamu sama Ibu makan duluan saja. Besok ada meeting investor, jadi aku harus menyelesaikan laporannya hari ini juga.”Sadya masih menatap layar komputernya yang sudah buram sejak setengah jam lalu. Angka-angka laporan bulanan di spreadsheet tak juga berpindah, padahal ia sudah menambahkan beberapa catatan tentang revisi anggaran. Kantor hampir kosong, hanya suara AC dan sesekali denting hujan yang menampar jendela kaca yang mengisi ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, Sadya tidak bergeming.Ia sengaja memperlambat pekerjaannya, sengaja tak segera pulang. Rumah yang semestinya menjadi ruang istirahat kini terasa seperti arena pertarungan batin. Setelah kalimat-kalimat tajam Annisa kemarin, Sadya merasa semua napasnya sesak. “Kalau memang nggak sanggup jadi istri yang bisa diandalkan, kenapa dulu kamu menikahi dia sih, Nesh?” Ucapan Annisa masih menggema di kepalanya, seakan diputar ulang tanpa henti.Sadya menunduk, menahan air mata yang h







