LOGINLangit sore mulai meredup ketika Dirgantara menatap monitor di depannya dengan alis berkerut. Ruangan kerjanya sunyi, hanya terdengar bunyi ketukan jemarinya di atas keyboard dan desau lembut pendingin ruangan. Meski jam kerja sudah seharusnya selesai satu jam yang lalu, ia masih terpaku pada rangkaian angka dan laporan keuangan perusahaan yang menuntut ketelitian tinggi. Matanya sedikit memerah, pundaknya kaku, tetapi ia tetap fokus. Dirgantara memang tipe yang perfeksionis—apa pun yang ia kerjakan harus selesai dengan sempurna.
Ponsel di atas meja tiba-tiba berdering, memecah konsentrasi. Dirgantara mendesah pelan, meraih ponselnya, lalu terpaku selama beberapa saat. Setelahnya, “Halo, Nek?” Suara lembut terdengar dari seberang, suara yang telah sangat ia kenali sejak kecil. “Dirga, Nenek masak makanan kesukaanmu. Kamu masih di kantor, kan? Pulang sekarang, Nenek pengen ditemani makan malam.” Dirgantara menutup mata sejenak. Suara itu milik Marisa, neneknya—satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kepergian orang tuanya beberapa tahun lalu. “Malam ini?” tanyanya hati-hati. “Iya, memangnya mau kapan?” Terdengar helaan napas di seberang sana. “Sudah lama kita tidak makan malam bersama. Nenek ingin bicara.” Kata terakhir itu membuat getaran halus menjalar ke dadanya. Bicara. Dirgantara tahu pasti arah pembicaraan itu. “Iya, Nek. Aku pulang setelah urusan kantor selesai,” jawabnya akhirnya. “Nenek tunggu, hati-hati di jalan.” Panggilan itu berakhir. Dirgantara meletakkan ponselnya dengan perlahan, lalu bersandar di kursi. Ia mengusap wajahnya yang letih. Pandangannya kosong menatap langit senja yang terlihat samar dari balik jendela. Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk, lalu terbuka sebelum ia sempat menjawab. Banyu masuk dengan santai. “Nyet, gue pikir lo udah balik? Gila, yang lain udah pada pulang dari dua jam lalu,” ujarnya sambil mendekat. Dirgantara hanya menjawab dengan anggukan kecil. Banyu memperhatikan raut wajah sahabatnya itu. “Lo kenapa sih? Kayak habis lihat laporan kerugian perusahaan sepuluh triliun,” candanya. Dirgantara mendesah, lalu duduk tegak. “Nenek gue baru telepon,” katanya pelan. “Terus?” “Dia minta gue mampir buat makan malam.” “Ya bagus dong. Makan enak gratis.” Dirgantara mendecak sembari memutar bola mata. “Masalahnya bukan di situ. Gue yakin dia mau bahas soal... itu lagi.” Banyu terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Dhira?” Dirgantara mengangguk. “Nenek belum tahu apa yang terjadi dengan kami dan gue nggak sanggup bikin dia kecewa.” “Kenapa lo nggak jujur aja, sih. Lo nggak bakalan terbebani kayak gini.” “Gue nggak bisa melihat nenek kecewa, Nyu. Tapi di sisi lain, gue juga nggak tahu harus gimana.” Banyu menarik kursi dan duduk di hadapan Dirgantara. “Gue tahu kekhawatiran lo. Tapi pada akhirnya lo tetap harus menghadapinya, kan? Lo nggak mungkin terus kabur. Nenek lo harus tahu apa yang terjadi sama kalian.” Lelaki itu menyandarkan punggungnya ke belakang, “mana tahu habis ini lo dikenalin sama cewek lain, kan?” Dirgantara mendecak pelan. Tak ada jawaban. Dirgantara hanya memalingkan wajah, tatapannya menerawang jauh. Dalam keheningan itu, ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Lo perhatiin Sadya hari ini, nggak?” Banyu mengangkat alis. “Sadya? Tiba-tiba banget bahas sekretaris imut berkacamata itu?” Dirgantara menoleh sembari mendecak. “Gue tampol kalau lo macam-macam sama Sadya, ya!” “Lho? Bukan siapa-siapa kok ngamuk, sih?” Banyu tertawa. “Lagian gue kan muji dia, kenapa jadi lo yang nggak terima, hah?” “Gue serius, Nyu.” Dirgantara bangkit dari duduknya. “Gue perhatiin udah dua hari ini dia nggak fokus sama kerjaan. Bahkan meeting pagi tadi aja dianya banyak ngelamun.” “Iya juga, sih.” Banyu menaikkan bahu. “Dia lagi ada masalah, mungkin? Lagian sejak kapan sih, lo care sama sekretaris lo itu?” “Bukan soal care atau nggak.” Dirgantara merenung sejenak. “Gue nggak sengaja lihat dia nangis tadi.” “Nangis? Wah, kayaknya serius banget masalahnya, deh,” tanya Banyu. “Bisa jadi. Cuma… gue nggak bisa ikut campur juga, kan,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. Banyu menatapnya seolah memahami arah pikirannya. “Lo nggak perlu khawatir berlebihan, Ga. Sadya itu profesional, kok. Lagian, umumnya manusia aja, kan? Nggak usah sok perhatian, deh. Lo nggak lupa kan kalau Sadya tuh istri orang sekarang, hm?” “Hm,” Dirgantara hanya menggumam. Banyu berdiri dan menepuk bahu Dirgantara. “Udah, ayo pulang. Semakin lo mikir, semakin kacau. Lo juga harus ke rumah nenek lo, kan?” Dirgantara menghela napas. Setelah meraih jasnya, mereka keluar dari ruangan beriringan, menuruni lift hingga ke basement. Sesampainya di area parkir, Banyu masuk ke mobil SUV miliknya, sementara Dirgantara menuju sedan hitamnya sendiri. Sebelum masuk, Banyu membuka kaca mobil. “Kalau butuh gue besok atau kapan pun, kabarin ya.” Dirgantara mengangguk. “Thanks.” Ia masuk ke mobilnya dan menyalakan mesin. Lampu-lampu basement menyinari mobilnya dengan cahaya redup. Dirgantara menarik napas panjang, lalu melajukan mobil keluar dari basement. Perjalanan menuju kediaman Marisa terasa lambat. Lampu jalan menyala satu per satu, menerangi jalur yang mulai gelap. Dirgantara mengemudi sembari melamun, pikirannya melayang ke masa lalu—wajah Dhira muncul dalam bayangan. Perempuan yang hampir ia nikahi itu meninggalkannya begitu saja, membatalkan pertunangan kurang dari dua bulan sebelum hari yang harusnya menjadi awal hidup bersama. Dirgantara ingat betapa sakitnya hari itu. Bagaimana ia berdiri di hadapan Dhira sembari menyematkan cincin di jari manis perempuan itu. Lelaki itu bisa melihat kebahagiaan memancar jelas di balik mata teduh sang nenek. Kini, ia tidak tahu bagaimana menjawab jika sang nenek kembali menanyakan soal Dhira. Atau lebih buruk, mendesak untuk melupakan Dhira dan segera menikah dengan orang lain demi menjaga nama baik keluarga dan kredibilitasnya sebagai penerus perusahaan. Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Setelah berkendara selama 45 menit, Dirgantara tiba di rumah besar bercat putih milik Marisa. Gerbang otomatis terbuka. Lampu taman menyambutnya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Dirgantara langsung beranjak turun. Pintu diketuk dan wajah Marisa menyambutnya dengan senyuman hangat di depan pintu utama. Rambut putihnya tersisir rapi, tubuhnya dibalut gaun sederhana. “Dirga,” ucapnya sambil membuka tangan. Dirgantara berjalan mendekat, mencium punggung tangan neneknya. “Maaf kalau agak telat, Nek.” “Tidak apa,” jawab Marisa, mengusap lembut pipi cucunya. “Ayo, masuk! Makan malam sudah siap.” Mereka berjalan menuju ruang makan. Di atas meja panjang, tersaji beberapa hidangan kesukaan Dirgantara—sop buntut, tempe goreng, lengkap dengan sambal. Marisa bahkan menyiapkan dessert favoritnya, puding cokelat. Dirgantara duduk, mencoba tersenyum. Mereka makan sambil membicarakan banyak hal ringan, mulai dari kondisi perusahaan, hasil rapat investor, dan rencana ekspansi. Marisa mendengarkan dengan cermat, sesekali memberi masukan. Marisa meletakkan sendoknya, menatap Dirgantara penuh perhatian. “Jadi…” Marisa memulai setelah beberapa saat, suaranya berubah serius. “Untuk rencana ekspansi sudah sampai mana? Sudah ada kesepakatan dari beberapa investor?” “Baru pagi tadi aku meeting dengan beberapa investor, Nek. Dan mereka langsung setuju begitu aku mengajukan proposal ke mereka.” “Good. Kamu memang nggak pernah bikin Nenek kecewa kalau soal pekerjaan. Kamu persis sekali dengan ayah kamu. Ambisius, pekerja keras, dan penuh keyakinan,” ujarnya. “Kamu pasti sibuk sekali, ya?” “Ya begitulah, Nek.” Marisa mengangguk-angguk, lalu pandangannya berubah tajam. “Tapi jangan terlalu fokus juga dengan kerjaan kamu, Ga. Kamu juga harus memikirkan kehidupan pribadi kamu. Bagaimana rencana pernikahan kalian??” Sendok di tangan Dirgantara berhenti bergerak. Ah. Ini dia. Masalah yang sudah ia tunda, yang ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya tanpa membuat Marisa khawatir… atau marah. “Apa nggak sebaiknya pernikahan kalian disegerakan?” tanya Marisa. “Perusahaan keluarga butuh stabilitas. Dan kamu—kamu harus memberikan citra yang baik, Ga. Direktur muda yang masih bujang itu—” “—Nek.” Dirgantara memotong, suaranya lebih tegas dari yang ia rencanakan. Marisa terdiam, menunggu penjelasan. Dirgantara menatap meja makan, lalu menarik napas panjang. “Tentang Dhira…” Ia ingin jujur. Ingin mengatakan bahwa tunangannya itu sudah pergi sejak dua bulan lalu. Bahwa Dhira memilih kariernya sebagai model dan meninggalkan cincin pertunangan begitu saja di atas meja apartemen. Bahwa dirinya tidak lebih dari persinggahan singkat di hidup perempuan itu. Namun kata-kata itu tak pernah keluar lengkap. Marisa menatapnya tanpa berkedip. “Kamu nggak lagi bertengkar sama Dhira, kan?” Dirgantara mengutuk dalam hati. “Nek…” suaranya melemah, “Dhira nggak mau diburu-buru. Dia masih fokus dengan pekerjaannya dan aku ingin menghormati keputusannya,” ujar Dirgantara berbohong. “Lalu mau sampai kapan?” Marisa tampak kesal. “Ga, kamu harus ingat—reputasi perusahaan bergantung pada stabilitas keluarga pemimpinnya.” Dirgantara menunduk. Reputasi… stabilitas… wibawa… Sejak kecil, hidupnya selalu dibingkai dengan tanggung jawab itu. Namun malam ini, ia hanya merasa lelah. Sangat lelah. Marisa menghela napas panjang. “Nenek cuma ingin kamu menikah, Ga. Segera. Kamu butuh pendamping. Perusahaan butuh pendamping. Semua akan lebih tertata jika kamu sudah berkeluarga.” Dirgantara menggertakkan gigi, menahan kekesalan yang mulai naik ke tenggorokan. Nenek tidak tahu apa pun. Tidak tahu Dhira telah pergi. Tidak tahu cucunya sudah mempertahankan pertunangan yang hampa selama berbulan-bulan. Tidak tahu betapa sendiri dan kosongnya hidup cucu yang ia banggakan ini. “Iya, Nek,” jawabnya akhirnya, meski suaranya nyaris hambar. Karena untuk saat ini, ia tidak punya tenaga untuk berdebat. Dan di dalam kepalanya, tanpa ia sadari, bayangan wajah seseorang muncul sejenak—perempuan yang akhir-akhir ini selalu tampak sedih, lelah, dan berusaha tersenyum. Sadya Aishwarya. Entah kenapa, justru nama itu yang paling mengganggu pikirannya sekarang. *** Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya.Usia bayi mereka genap satu bulan malam itu. Rumah terasa lebih hangat, bukan karena lampu-lampu yang menyala di setiap sudut, melainkan karena kehadiran makhluk kecil yang kini menjadi pusat semesta mereka.Sadya duduk di sofa dekat jendela, menggendong bayinya dengan kedua tangan yang penuh kehati-hatian. Tubuh mungil itu terlelap, napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan. Sadya menunduk, menatap wajah yang masih merah muda, dengan hidung kecil dan bibir yang sesekali bergerak seolah sedang bermimpi. Jemarinya menyentuh pipi lembut itu, nyaris tak berani, seakan takut mengusik tidur sang bayi.Sebulan lalu, rasa sakit, haru, dan takut bercampur jadi satu. Kini, semua itu terbayar dengan kehadiran Vanamala—Vala—yang berbaring damai dalam dekapannya.Langkah kaki terdengar dari arah kamar. Sadya mendongak ketika Dirgantara muncul. Lelaki itu sudah berpakaian rapi—kemeja gelap yang pas di tubuhnya, rambut disisir sederhana, dan aroma parfum yang samar. Ada sesuatu yang berbeda dar
Ruang bersalin terasa lebih tenang dibanding ruang operasi, meski aroma obat dan suara alat medis masih samar terdengar. Sadya terbaring dengan tubuh sedikit miring, wajahnya pucat namun matanya terbuka. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan seperti membutuhkan tenaga lebih. Namun di dadanya, ada kehangatan kecil yang membuat semuanya terasa layak diperjuangkan.Bayi perempuan itu berada dalam dekapan Sadya. Masih mungil, kulitnya kemerahan, napasnya naik turun perlahan. Dengan bantuan perawat, Sadya menyusui untuk pertama kalinya. Gerakannya kaku, canggung, tapi nalurinya bekerja dengan sendirinya. Saat bayi itu mulai mengisap, air mata Sadya kembali jatuh—kali ini bukan karena takut, melainkan haru yang tak terdefinisikan.Dirgantara berdiri di sisi ranjang, satu tangannya bertumpu di pagar besi, matanya tak lepas dari pemandangan itu. Dadanya terasa penuh. Ia menyaksikan perempuan yang ia cintai, lemah secara fisik namun luar biasa kuat, memberi kehidupan pada anak mereka.“Kamu he
Ruang meeting siang itu dipenuhi cahaya putih dan udara yang terasa dingin oleh pendingin ruangan. Di layar besar, salah satu staf tengah mempresentasikan proyek baru—grafik demi grafik berganti, suara penjelasan terdengar runtut dan penuh keyakinan. Dirgantara duduk di ujung meja panjang, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam menyimak setiap detail yang dijelaskan di depan sana.Sesekali ia mengangguk, sesekali mencatat poin penting di tablet di depannya. Wajahnya tenang, profesional, sepenuhnya mencerminkan seorang pemimpin yang terbiasa berada di bawah tekanan dan pengambilan keputusan besar.“Target kita adalah groundbreaking tiga bulan ke depan,” suara staf itu terdengar tegas. “Dengan catatan seluruh izin bisa kita amankan dalam dua minggu—”Belum sempat kalimat itu selesai, ponsel Dirgantara yang tergeletak di samping tabletnya bergetar. Getarannya singkat, tapi cukup menarik perhatiannya. Ia melirik layar sekilas—nama Nenek Marisa tertera di sana.Alis Dirgantara sedikit berkeru
Kamar itu dipenuhi cahaya sore yang lembut, masuk melalui jendela besar yang menghadap ke hamparan hijau Ubud. Tirai tipis berwarna krem bergoyang pelan tertiup angin, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di depan meja rias, Sadya duduk dengan punggung tegak, sementara Mira berdiri di belakangnya, sesekali memiringkan kepala, memastikan setiap detail riasan tampak sempurna.Gaun panjang berwarna hitam membalut tubuh Sadya. Potongannya sederhana namun elegan, jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun. Perutnya yang kini membola jelas terlihat—tanda kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Namun justru di situlah Sadya merasa paling ragu.Ia menatap bayangannya di cermin cukup lama. Tangannya refleks mengusap perutnya perlahan, lalu naik ke bagian pinggang dan lengan.“Aku kelihatan… gendut banget ya, Mir?” tanyanya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.Mira yang tadinya fokus memperhatikan ponsel lantas mengangkat kepala. Ia menatap Sadya lewat cermin, menangk
Pintu villa terbuka perlahan, disertai suara halus engsel kayu yang berat namun elegan. Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah—sunyi, sejuk, dan terasa sangat privat. Dunia di luar seolah tertinggal, digantikan oleh ketenangan yang sengaja diciptakan untuk membuat siapa pun bernapas lebih pelan.Villa itu berukuran besar, dengan langit-langit tinggi yang membuat ruang terasa lapang. Dinding-dindingnya didominasi warna hangat—krem, cokelat kayu, dan sentuhan batu alam yang dibiarkan tampil apa adanya. Cahaya matahari masuk dengan bebas melalui jendela kaca besar yang membentang hampir dari lantai hingga langit-langit.Sadya berhenti tepat di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling dengan takjub.“Mas…” ucapnya lirih.Di hadapan mereka, terbentang pemandangan yang membuat siapa pun ingin diam lebih lama. Jendela kaca lebar itu menghadap langsung ke sebuah private pool berbentuk memanjang, airnya berkilau memantulkan cahaya siang. Di balik kolam, hamparan persawahan hijau me
Pagi itu Dirgantara dan Sadya baru saja keluar dari kamar. Suara roda koper bergesekan dengan lantai memecah keheningan saat mereka menuruni tangga, Dirgantara menarik koper besar, sementara tangan lainnya sesekali menahan Sadya yang berjalan pelan di sisinya.Sadya mengenakan dress longgar berwarna pastel, rambutnya diikat sederhana. Perutnya yang membulat membuat langkahnya lebih berhati-hati, dan Dirgantara tak pernah melepas jarak lebih dari setengah langkah darinya.Di ruang tengah, Nenek Marisa sudah duduk dengan buku di tangannya, kemudian menoleh.“Kalian mau berangkat sekarang?” tanya Nenek, menatap Sadya dengan mata penuh perhatian.“Iya, Nek,” jawab Sadya sambil tersenyum. “Aku sama Mas Dirga tinggal sebentar nggak apa-apa, kan?”Nenek Marisa mendekat, menggenggam tangan Sadya dengan lembut. “Jaga diri selama di sana. Jangan terlalu capek. Ingat, ada cicit Nenek di perut kamu.”Sadya mengangguk. “Iya, Nek.”Dirgantara kemudian menunduk sedikit, mencium tangan Nenek Marisa.







