Home / Romansa / Terjerat Pesona Sekretaris / 2. Dirgantara Abisatya

Share

2. Dirgantara Abisatya

Author: IKYURA
last update Last Updated: 2026-01-17 12:35:46

Langit sore mulai meredup ketika Dirgantara menatap monitor di depannya dengan alis berkerut. Ruangan kerjanya sunyi, hanya terdengar bunyi ketukan jemarinya di atas keyboard dan desau lembut pendingin ruangan. Meski jam kerja sudah seharusnya selesai satu jam yang lalu, ia masih terpaku pada rangkaian angka dan laporan keuangan perusahaan yang menuntut ketelitian tinggi. Matanya sedikit memerah, pundaknya kaku, tetapi ia tetap fokus. Dirgantara memang tipe yang perfeksionis—apa pun yang ia kerjakan harus selesai dengan sempurna.

Ponsel di atas meja tiba-tiba berdering, memecah konsentrasi. Dirgantara mendesah pelan, meraih ponselnya, lalu terpaku selama beberapa saat. Setelahnya, “Halo, Nek?”

Suara lembut terdengar dari seberang, suara yang telah sangat ia kenali sejak kecil. “Dirga, Nenek masak makanan kesukaanmu. Kamu masih di kantor, kan? Pulang sekarang, Nenek pengen ditemani makan malam.”

Dirgantara menutup mata sejenak. Suara itu milik Marisa, neneknya—satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kepergian orang tuanya beberapa tahun lalu. “Malam ini?” tanyanya hati-hati.

“Iya, memangnya mau kapan?” Terdengar helaan napas di seberang sana. “Sudah lama kita tidak makan malam bersama. Nenek ingin bicara.”

Kata terakhir itu membuat getaran halus menjalar ke dadanya. Bicara. Dirgantara tahu pasti arah pembicaraan itu. “Iya, Nek. Aku pulang setelah urusan kantor selesai,” jawabnya akhirnya.

“Nenek tunggu, hati-hati di jalan.”

Panggilan itu berakhir. Dirgantara meletakkan ponselnya dengan perlahan, lalu bersandar di kursi. Ia mengusap wajahnya yang letih. Pandangannya kosong menatap langit senja yang terlihat samar dari balik jendela.

Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk, lalu terbuka sebelum ia sempat menjawab. Banyu masuk dengan santai. “Nyet, gue pikir lo udah balik? Gila, yang lain udah pada pulang dari dua jam lalu,” ujarnya sambil mendekat.

Dirgantara hanya menjawab dengan anggukan kecil.

Banyu memperhatikan raut wajah sahabatnya itu. “Lo kenapa sih? Kayak habis lihat laporan kerugian perusahaan sepuluh triliun,” candanya.

Dirgantara mendesah, lalu duduk tegak. “Nenek gue baru telepon,” katanya pelan.

“Terus?”

“Dia minta gue mampir buat makan malam.”

“Ya bagus dong. Makan enak gratis.”

Dirgantara mendecak sembari memutar bola mata. “Masalahnya bukan di situ. Gue yakin dia mau bahas soal... itu lagi.”

Banyu terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Dhira?”

Dirgantara mengangguk. “Nenek belum tahu apa yang terjadi dengan kami dan gue nggak sanggup bikin dia kecewa.”

“Kenapa lo nggak jujur aja, sih. Lo nggak bakalan terbebani kayak gini.”

“Gue nggak bisa melihat nenek kecewa, Nyu. Tapi di sisi lain, gue juga nggak tahu harus gimana.”

Banyu menarik kursi dan duduk di hadapan Dirgantara. “Gue tahu kekhawatiran lo. Tapi pada akhirnya lo tetap harus menghadapinya, kan? Lo nggak mungkin terus kabur. Nenek lo harus tahu apa yang terjadi sama kalian.” Lelaki itu menyandarkan punggungnya ke belakang, “mana tahu habis ini lo dikenalin sama cewek lain, kan?”

Dirgantara mendecak pelan. Tak ada jawaban. Dirgantara hanya memalingkan wajah, tatapannya menerawang jauh. Dalam keheningan itu, ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Lo perhatiin Sadya hari ini, nggak?”

Banyu mengangkat alis. “Sadya? Tiba-tiba banget bahas sekretaris imut berkacamata itu?”

Dirgantara menoleh sembari mendecak. “Gue tampol kalau lo macam-macam sama Sadya, ya!”

“Lho? Bukan siapa-siapa kok ngamuk, sih?” Banyu tertawa. “Lagian gue kan muji dia, kenapa jadi lo yang nggak terima, hah?”

“Gue serius, Nyu.” Dirgantara bangkit dari duduknya. “Gue perhatiin udah dua hari ini dia nggak fokus sama kerjaan. Bahkan meeting pagi tadi aja dianya banyak ngelamun.”

“Iya juga, sih.” Banyu menaikkan bahu. “Dia lagi ada masalah, mungkin? Lagian sejak kapan sih, lo care sama sekretaris lo itu?”

“Bukan soal care atau nggak.” Dirgantara merenung sejenak. “Gue nggak sengaja lihat dia nangis tadi.”

“Nangis? Wah, kayaknya serius banget masalahnya, deh,” tanya Banyu.

“Bisa jadi. Cuma… gue nggak bisa ikut campur juga, kan,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. 

Banyu menatapnya seolah memahami arah pikirannya. “Lo nggak perlu khawatir berlebihan, Ga. Sadya itu profesional, kok. Lagian, umumnya manusia aja, kan? Nggak usah sok perhatian, deh. Lo nggak lupa kan kalau Sadya tuh istri orang sekarang, hm?”

“Hm,” Dirgantara hanya menggumam.

Banyu berdiri dan menepuk bahu Dirgantara. “Udah, ayo pulang. Semakin lo mikir, semakin kacau. Lo juga harus ke rumah nenek lo, kan?”

Dirgantara menghela napas. Setelah meraih jasnya, mereka keluar dari ruangan beriringan, menuruni lift hingga ke basement. Sesampainya di area parkir, Banyu masuk ke mobil SUV miliknya, sementara Dirgantara menuju sedan hitamnya sendiri.

Sebelum masuk, Banyu membuka kaca mobil. “Kalau butuh gue besok atau kapan pun, kabarin ya.”

Dirgantara mengangguk. “Thanks.”

Ia masuk ke mobilnya dan menyalakan mesin. Lampu-lampu basement menyinari mobilnya dengan cahaya redup. Dirgantara menarik napas panjang, lalu melajukan mobil keluar dari basement.

Perjalanan menuju kediaman Marisa terasa lambat. Lampu jalan menyala satu per satu, menerangi jalur yang mulai gelap. Dirgantara mengemudi sembari melamun, pikirannya melayang ke masa lalu—wajah Dhira muncul dalam bayangan. Perempuan yang hampir ia nikahi itu meninggalkannya begitu saja, membatalkan pertunangan kurang dari dua bulan sebelum hari yang harusnya menjadi awal hidup bersama.

Dirgantara ingat betapa sakitnya hari itu. Bagaimana ia berdiri di hadapan Dhira sembari menyematkan cincin di jari manis perempuan itu. Lelaki itu bisa melihat kebahagiaan memancar jelas di balik mata teduh sang nenek. 

Kini, ia tidak tahu bagaimana menjawab jika sang nenek kembali menanyakan soal Dhira. Atau lebih buruk, mendesak untuk melupakan Dhira dan segera menikah dengan orang lain demi menjaga nama baik keluarga dan kredibilitasnya sebagai penerus perusahaan.

Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya.

Setelah berkendara selama 45 menit, Dirgantara tiba di rumah besar bercat putih milik Marisa. Gerbang otomatis terbuka. Lampu taman menyambutnya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Dirgantara langsung beranjak turun. 

Pintu diketuk dan wajah Marisa menyambutnya dengan senyuman hangat di depan pintu utama. Rambut putihnya tersisir rapi, tubuhnya dibalut gaun sederhana. “Dirga,” ucapnya sambil membuka tangan.

Dirgantara berjalan mendekat, mencium punggung tangan neneknya. “Maaf kalau agak telat, Nek.”

“Tidak apa,” jawab Marisa, mengusap lembut pipi cucunya. “Ayo, masuk! Makan malam sudah siap.”

Mereka berjalan menuju ruang makan. Di atas meja panjang, tersaji beberapa hidangan kesukaan Dirgantara—sop buntut, tempe goreng, lengkap dengan sambal. Marisa bahkan menyiapkan dessert favoritnya, puding cokelat.

Dirgantara duduk, mencoba tersenyum. Mereka makan sambil membicarakan banyak hal ringan, mulai dari kondisi perusahaan, hasil rapat investor, dan rencana ekspansi. Marisa mendengarkan dengan cermat, sesekali memberi masukan.

Marisa meletakkan sendoknya, menatap Dirgantara penuh perhatian. “Jadi…” Marisa memulai setelah beberapa saat, suaranya berubah serius. “Untuk rencana ekspansi sudah sampai mana? Sudah ada kesepakatan dari beberapa investor?”

“Baru pagi tadi aku meeting dengan beberapa investor, Nek. Dan mereka langsung setuju begitu aku mengajukan proposal ke mereka.”

“Good. Kamu memang nggak pernah bikin Nenek kecewa kalau soal pekerjaan. Kamu persis sekali dengan ayah kamu. Ambisius, pekerja keras, dan penuh keyakinan,” ujarnya. “Kamu pasti sibuk sekali, ya?”

“Ya begitulah, Nek.”

Marisa mengangguk-angguk, lalu pandangannya berubah tajam. “Tapi jangan terlalu fokus juga dengan kerjaan kamu, Ga. Kamu juga harus memikirkan kehidupan pribadi kamu. Bagaimana rencana pernikahan kalian??”

Sendok di tangan Dirgantara berhenti bergerak.

Ah. Ini dia.

Masalah yang sudah ia tunda, yang ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya tanpa membuat Marisa khawatir… atau marah.

“Apa nggak sebaiknya pernikahan kalian disegerakan?” tanya Marisa. “Perusahaan keluarga butuh stabilitas. Dan kamu—kamu harus memberikan citra yang baik, Ga. Direktur muda yang masih bujang itu—”

“—Nek.” Dirgantara memotong, suaranya lebih tegas dari yang ia rencanakan.

Marisa terdiam, menunggu penjelasan.

Dirgantara menatap meja makan, lalu menarik napas panjang. “Tentang Dhira…”

Ia ingin jujur. Ingin mengatakan bahwa tunangannya itu sudah pergi sejak dua bulan lalu. Bahwa Dhira memilih kariernya sebagai model dan meninggalkan cincin pertunangan begitu saja di atas meja apartemen. Bahwa dirinya tidak lebih dari persinggahan singkat di hidup perempuan itu.

Namun kata-kata itu tak pernah keluar lengkap.

Marisa menatapnya tanpa berkedip. “Kamu nggak lagi bertengkar sama Dhira, kan?”

Dirgantara mengutuk dalam hati.

“Nek…” suaranya melemah, “Dhira nggak mau diburu-buru. Dia masih fokus dengan pekerjaannya dan aku ingin menghormati keputusannya,” ujar Dirgantara berbohong. 

“Lalu mau sampai kapan?” Marisa tampak kesal. “Ga, kamu harus ingat—reputasi perusahaan bergantung pada stabilitas keluarga pemimpinnya.”

Dirgantara menunduk. Reputasi… stabilitas… wibawa…

Sejak kecil, hidupnya selalu dibingkai dengan tanggung jawab itu. Namun malam ini, ia hanya merasa lelah.

Sangat lelah.

Marisa menghela napas panjang. “Nenek cuma ingin kamu menikah, Ga. Segera. Kamu butuh pendamping. Perusahaan butuh pendamping. Semua akan lebih tertata jika kamu sudah berkeluarga.”

Dirgantara menggertakkan gigi, menahan kekesalan yang mulai naik ke tenggorokan.

Nenek tidak tahu apa pun. Tidak tahu Dhira telah pergi. Tidak tahu cucunya sudah mempertahankan pertunangan yang hampa selama berbulan-bulan. Tidak tahu betapa sendiri dan kosongnya hidup cucu yang ia banggakan ini.

“Iya, Nek,” jawabnya akhirnya, meski suaranya nyaris hambar.

Karena untuk saat ini, ia tidak punya tenaga untuk berdebat.

Dan di dalam kepalanya, tanpa ia sadari, bayangan wajah seseorang muncul sejenak—perempuan yang akhir-akhir ini selalu tampak sedih, lelah, dan berusaha tersenyum.

Sadya Aishwarya.

Entah kenapa, justru nama itu yang paling mengganggu pikirannya sekarang.

***

Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Sekretaris   8. Tentang Sadya

    Suasana malam perlahan turun, meninggalkan sisa-sisa cahaya senja di langit Jakarta yang kini mulai tertutup awan tipis. Lampu-lampu taman belakang sudah menyala, menerangi beberapa sudut dengan cahaya kekuningan yang hangat.Udara dingin menyapa pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Setelah makan malam, Dirgantara berjalan mengikuti langkah Bunda Narnia menuju taman belakang. Perempuan paruh baya itu menawarkan secangkir teh hangat yang sudah terhidang di meja rotan kecil.“Silakan diminum, Nak,” ujar Bunda Narnia lembut sambil tersenyum.Dirgantara hanya mengangguk, menarik kursi lalu duduk. Sementara dari dalam rumah terdengar sayup-sayup suara tawa kecil Sadya dan adik-adiknya yang tengah belajar di ruang tengah. Ada kehangatan yang terasa menyusup di dada Dirgantara, entah karena udara malam atau karena suasana rumah itu yang begitu berbeda dari rumah-rumah megah yang biasa ia datangi.“Pasti rasanya asing ya, Nak? Suasana ramai seperti ini pasti sangat jarang ditemui Na

  • Terjerat Pesona Sekretaris   7. Rumah Tumbuh

    Sadya masih duduk tegak di depan layar komputernya. Matanya menatap fokus pada deretan angka dan data laporan yang harus ia rampungkan sebelum sore. Meskipun hari ini sebenarnya ia sudah mengajukan izin untuk pulang lebih awal, ia tetap ingin meninggalkan meja kerjanya dengan semuanya dalam keadaan selesai.Suasana kantor menjelang siang itu masih cukup ramai. Suara ketikan keyboard dari beberapa rekan kerja terdengar samar bercampur dengan desiran pendingin ruangan. Tiba-tiba, ponsel Sadya yang terletak di samping laptopnya bergetar. Ia sempat berhenti mengetik dan menatap layar ponselnya. Nama yang muncul membuat hatinya sedikit menghangat.Tanpa ragu, ia menggeser layar dan mengangkat panggilan itu. “Halo, Mas,” ucap Sadya pelan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang agar tidak terlalu terdengar oleh rekan sekantor.“Sayang…” Suara di seberang terdengar lembut namun tergesa. “Aku mau kasih kabar dulu sebelum kamu sibuk. Sore ini aku harus berangkat ke Kalimantan. Ada proyek mendada

  • Terjerat Pesona Sekretaris   6. Rahasia Dirgantara

    Sudah lewat dari pukul tujuh malam, sebagian besar lantai kantor sudah gelap dan sunyi. Lampu ruangan menyisakan cahaya dari beberapa meja yang masih menyala. Salah satunya meja kerja Sadya. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya fokus pada layar komputer meski kedua bola mata itu tampak lelah.Hari ini ada banyak laporan yang harus ia revisi sebelum dikirim ke Dirgantara esok pagi. Beberapa catatan tambahan dari meeting sore tadi juga harus diselaraskan dengan data terbaru. Sadya menghela napas berat, menekan pelipisnya bersamaan dengan pesan dari Arnesh muncul di layar.____________________________________Mas ArneshJadi lembur, Sayang? Aku jemput sekalian aja, ya. Aku dari kantor jam 8 nanti.___________________________________Setelah membalas pesan Arnesh, Sadya kembali menekuri pekerjaannya. Keningnya sempat mengernyit begitu membaca data di layar. Kemudian Sadya menyandarkan tubuh ke kursi, merasa otot punggungnya menegang. Ia memutuskan untuk berdiri dan melangkah

  • Terjerat Pesona Sekretaris   5. Makan Siang Bersama Bos

    Dirgantara baru saja menyelesaikan meeting bersama para stakeholder proyek. Wajahnya serius, tubuhnya tegak. Dengan langkah lebar dan ekspresi tak banyak berubah, ia keluar dari ruang rapat menuju ruang kerjanya. Di belakangnya, ada Mira yang sejak tadi ikut dalam pembahasan karena proyek kali ini juga melibatkan perusahaan tempat Mira bekerja sebagai arsitek.Mira mengenakan blazer krem dengan rambut disanggul rapi. Wajahnya selalu terlihat ceria, berbanding terbalik dengan ekspresi Dirgantara yang dingin dan datar. Langkah mereka beriringan menyusuri koridor kaca lantai eksekutif.“Mas, aku mau tanya, deh,” ucap Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Dirgantara tidak menoleh, hanya sedikit memperlambat langkahnya. “Hm?”“Dya udah berapa lama kerja di sini?”Dirgantara sedikit mengernyit. Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi entah kenapa rasanya menusuk di pikirannya. “18 bulan kayaknya,” jawabnya. “Kenapa emangnya?”Mira mengangguk pelan. “Lumayan lama juga,” gumamnya pelan. “Selama in

  • Terjerat Pesona Sekretaris   4. Permintaan Mertua

    Subuh belum sepenuhnya mengusir gelap saat Sadya memutuskan untuk turun ke dapur. Rumah masih sunyi, hanya bunyi detik jam dinding yang menemani langkahnya. Rambutnya masih setengah basah, wajahnya pucat karena kurang tidur. Namun seperti biasa, ia memulai harinya dengan rutinitas yang tidak pernah berubah, memasak untuk seluruh penghuni rumah.Sesampainya di dapur, Sadya membuka kulkas, mengecek bahan yang tersisa. Ia mulai memotong sayuran, menanak nasi, menyiapkan lauk untuk sarapan Arnesh, Annisa, Gilang—adik laki-laki Arnesh, dan Lolita—adik perempuan Arnesh. Lalu tak lupa ia juga membuat bekal untuk dirinya sendiri, bekal sederhana berisi ayam kecap dan tumis buncis, makanan yang bisa ia makan cepat di sela pekerjaan.Dapur dipenuhi aroma masakan, hangat namun membuat dada Sadya terasa lebih sesak. Terkadang ia bertanya-tanya, apakah ada yang sadar betapa lelahnya tubuh ini? Betapa ia ingin sekali bangun tanpa takut dimarahi, atau makan tanpa merasa diawasi?Setelah semuanya sel

  • Terjerat Pesona Sekretaris   3. Sindiran Mertua

    “Aku harus lembur, Mas. Kamu sama Ibu makan duluan saja. Besok ada meeting investor, jadi aku harus menyelesaikan laporannya hari ini juga.”Sadya masih menatap layar komputernya yang sudah buram sejak setengah jam lalu. Angka-angka laporan bulanan di spreadsheet tak juga berpindah, padahal ia sudah menambahkan beberapa catatan tentang revisi anggaran. Kantor hampir kosong, hanya suara AC dan sesekali denting hujan yang menampar jendela kaca yang mengisi ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, Sadya tidak bergeming.Ia sengaja memperlambat pekerjaannya, sengaja tak segera pulang. Rumah yang semestinya menjadi ruang istirahat kini terasa seperti arena pertarungan batin. Setelah kalimat-kalimat tajam Annisa kemarin, Sadya merasa semua napasnya sesak. “Kalau memang nggak sanggup jadi istri yang bisa diandalkan, kenapa dulu kamu menikahi dia sih, Nesh?” Ucapan Annisa masih menggema di kepalanya, seakan diputar ulang tanpa henti.Sadya menunduk, menahan air mata yang h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status