Share

3. Sindiran Mertua

Penulis: IKYURA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-17 12:36:40

“Aku harus lembur, Mas. Kamu sama Ibu makan duluan saja. Besok ada meeting investor, jadi aku harus menyelesaikan laporannya hari ini juga.”

Sadya masih menatap layar komputernya yang sudah buram sejak setengah jam lalu. Angka-angka laporan bulanan di spreadsheet tak juga berpindah, padahal ia sudah menambahkan beberapa catatan tentang revisi anggaran. Kantor hampir kosong, hanya suara AC dan sesekali denting hujan yang menampar jendela kaca yang mengisi ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, Sadya tidak bergeming.

Ia sengaja memperlambat pekerjaannya, sengaja tak segera pulang. Rumah yang semestinya menjadi ruang istirahat kini terasa seperti arena pertarungan batin. Setelah kalimat-kalimat tajam Annisa kemarin, Sadya merasa semua napasnya sesak. “Kalau memang nggak sanggup jadi istri yang bisa diandalkan, kenapa dulu kamu menikahi dia sih, Nesh?” Ucapan Annisa masih menggema di kepalanya, seakan diputar ulang tanpa henti.

Sadya menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. Bukan karena marah, tapi karena Annisa tidak sepenuhnya salah. Sadya lelah. Ia merasa gagal. Gagal menjadi istri yang baik bagi Arnesh. Gagal menjadi menantu yang bisa diandalkan. Dan sekarang, Sadya hanya ingin diam.

Ketika Sadya hendak kembali fokus pada layar, ada bayangan yang tiba-tiba menutupi cahaya lampu meja. Perempuan itu mendongak, kaget bukan main saat mendapati Dirgantara berdiri di sana, menatapnya dengan alis berkerut.

“Kamu udah dari tadi melamun kayak gitu,” ujar Dirgantara pelan. “Saya sudah memanggil kamu sebanyak tiga kali, tapi kamu nggak nyaut.”

Sadya langsung refleks menyeka ujung matanya dan langsung membenarkan letak kacamatanya. “Ma—maaf, Pak. Saya... saya tadi lagi mikir.”

“Kalau mikirnya berat sampai nggak sadar ada orang di depan meja kamu, berarti kamu bukan hanya lembur karena kerjaan,” balas Dirgantara. Nada suaranya tenang, tapi tatapan matanya tajam.

Sadya menggigit bibirnya. “Saya lagi kerjain weekly report, Pak. Biar selesai malam ini, besok nggak kewalahan,” ujarnya cepat, mencoba terdengar meyakinkan.

Dirgantara menaikkan satu alis. “Weekly report?” ulangnya. “Dy, sekarang masih hari senin. Kenapa kamu harus repot-repot bikin weekly report sekarang, hm?”

Sadya terdiam. Dan saat itu, ia tahu kebohongannya terpatahkan.

Dirgantara menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah jendela. “Hujan deras di luar. Saya antar kamu pulang.”

Sadya buru-buru menggeleng. “Tidak usah, Pak. Saya bisa pakai naik Transjakarta, kok. Lagipula, saya masih mau—”

“Dy...” Nada suaranya berubah lebih tegas. “Saya nggak tanya kamu mau atau tidak. Saya bilang, saya antar kamu.”

Sadya kembali hendak berargumen, tapi tatapan Dirgantara membuat mulutnya tertutup. Lelaki itu jarang berbicara dengan nada seperti itu. Sampai akhirnya perempuan itu menyerah. Tanpa mengatakan apa-apa lagi Sadya mulai membereskan meja kerjanya, mematikan komputernya, dan mengambil tas.

Kemudian mereka berjalan melewati lorong kantor yang lengang. Sadya mengikuti langkah Dirgantara dalam diam. Ketika pintu lift terbuka, keduanya masuk tanpa suara. Denting lift terasa jauh lebih nyaring dari biasanya, seolah menertawakan sunyi di antara mereka.

Saat mobil Dirgantara melaju perlahan di jalan yang basah, Sadya hanya menatap jendela. Lampu kota memantul di genangan air, menciptakan ilusi gerak yang indah tapi hampa. Ia ingin berbicara, ingin mengatakan bahwa ia lelah, bahwa semua tekanan ini terasa terlalu berat. Tapi lidahnya kelu. Energinya habis untuk sekadar bertahan hari ini.

Dirgantara beberapa kali melirik ke arahnya. “Kamu nggak biasanya sependiam ini,” ucapnya akhirnya.

Sadya yang tadinya fokus menoleh ke arah jendela kini menoleh ke sumber suara. Sadya menggigit bibirnya bagian dalam sembari membenarkan letak kacamatanya. “Ya, Pak?”

“Saya nggak akan maksa kamu untuk cerita,” lanjut Dirgantara, “tapi saya juga nggak bisa pura-pura nggak lihat kamu kesulitan,” ujarnya. “Apalagi kalau sampai itu berpengaruh dengan pekerjaan kamu. Saya nggak mau dirugikan di sini, Dy.”

“Maaf, Pak. Saya… akan berusaha untuk lebih baik lagi.”

Hening kembali menyelimuti kabin mobil hingga beberapa menit berlalu. Hujan masih turun. Lampu jalan berganti-ganti. Sadya memeluk tasnya erat, mencoba menghalau rasa dingin yang menusuk. 

Lalu, suara Dirgantara kembali terdengar. Tenang, tapi menusuk. “Gimana keluarga… kamu masih tinggal serumah sama keluarga suami, ya?”

Pertanyaan itu terasa seperti palu godam menghantam dada Sadya. Ia membeku. Butuh beberapa detik sebelum ia sadar sedang menahan napas.

“Ke-kenapa Bapak tiba-tiba tanya begitu?” tanyanya ragu.

Dirgantara tidak langsung menjawab. Ia menghela napas, masih fokus pada jalan. “Saya cuma tanya, Dy. Memangnya saya nggak boleh nanya tentang keluarga staff saya?”

Sadya menunduk. Matanya panas. “Bapak nggak biasanya seperti ini,” ujarnya lirih. “Ya, saya masih tinggal sama keluarga suami, Pak.”

“Kenapa nggak tinggal di tempat sendiri? Maksudnya, perusahaan kita ada program pengajuan untuk membeli rumah. Kamu tinggal ajukan saja, dan semuanya beres,” ujarnya. “Saya sering mendengar kata orang-orang kalau tinggal bersama mertua itu mengerikan. Benar begitu?”

Sadya menelan ludahnya dengan susah payah. Merasakan lidahnya mendadak kelu. Namun, “Nggak kok, Pak. Tidak semua mertua begitu.”

Dirgantara manggut-manggut. Mobil berhenti perlahan tepat di depan rumah Sadya. Hujan masih turun meski tidak sederas sebelumnya. Riaknya membentuk pola acak di kaca depan mobil. Lampu teras rumah menyala redup, seperti enggan menyambut kedatangan pemiliknya. Sadya menatap bangunan itu beberapa detik sebelum memberanikan diri menghela napas.

Dirgantara tidak mematikan mesin. Tangannya masih memegang kemudi, sikapnya tidak berubah. Sadya melepaskan sabuk pengamannya, namun masih enggan membuka pintu.

“Terima kasih sudah mengantar saya, Pak,” ucapnya pelan, tanpa berani menatap.

Tidak ada jawaban langsung. Hanya suara mesin mobil yang mengisi suasana. Sadya meremas tali tasnya, udara dingin karena AC seakan makin menusuk tulang.

Baru setelah beberapa detik, Dirgantara bersuara. Nadanya tetap rendah, tegas, dan tidak menunjukkan emosi. “Besok jangan datang terlambat.”

Sadya terdiam. Ia mengangguk kecil. “Iya, Pak.”

Dirgantara sempat mengalihkan pandangan ke arahnya. Tatapannya singkat, nyaris tak terbaca. “Dan kalau kamu memang butuh waktu… jangan habiskan sendiri di ruangan kerja.”

Sadya menoleh pelan, sedikit kaget karena kalimat itu terdengar lebih seperti peringatan daripada perhatian. “Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih sudah mengantar saya. Bapak hati-hati di jalan.”

Sadya membuka pintu mobil. Udara malam yang lembab langsung menyambut, sementara rintik hujan menyentuh bahunya. Setelah menutup pintu, ia kembali menatap sekilas ke arah Dirgantara.

“Masuk,” ujar Dirgantara dari balik jendela kemudi yang terbuka.

Sadya mengangguk sekali lagi. “Selamat malam, Pak.”

“Selamat malam.”

Mobil itu tetap diam sesaat sebelum akhirnya bergerak menjauh. Sadya berdiri di bawah atap teras, menatap lampu belakang kendaraan yang semakin mengecil di balik hujan.

Sadya menarik napas panjang. Rumah keluarga Mahatma berdiri kokoh dengan lampu-lampu taman yang menyala terang. Kontras dengan langkah Sadya yang berat.

Begitu membuka pintu, aroma ayam panggang langsung menyergap hidungnya. Suara tawa kecil Lolita dan komentar Gilang terdengar jelas dari ruang makan.

Sadya masuk, menutup pintu perlahan, mencoba untuk tidak mengganggu suasana. Sayangnya, keberadaannya selalu dianggap sebagai gangguan.

“Selamat malam.”

Annisa, perempuan setengah baya dengan riasan sempurna dan sorot mata tajam, adalah orang pertama yang melihat Sadya. Tatapannya langsung berubah sinis.

“Oh,” gumam Annisa dingin. “Ibu kira kamu tidak pulang.”

Sadya menelan ludah, menahan tatapan itu. “Maaf, Bu. Tadi banyak pekerjaan yang—”

“Pekerjaan, pekerjaan, pekerjaan.” Annisa menggeleng sambil menyendokkan sayur ke piringnya. “Istri macam apa yang pulang jam segini? Suami dibiarkan menunggu, makan malam nyiapin sendiri. Bilang kalau kamu nggak sanggup jadi istri!”

Gilang berdehem pelan, jelas tidak ingin ikut campur. Lolita pura-pura fokus ke ponsel tapi matanya melirik Sadya.

“Bu, sudah. Dya sudah bilang ke aku kalau dia lembur malam ini. Udah malam, nggak usah berdebat, Bu.”

“Terus saja kamu belain, Nesh!” Annisa melanjutkan tanpa peduli, “harusnya dia juga sadar akan tugasnya sebagai seorang istri. Kamu kan suaminya, seharusnya dia lebih mengutamakan kamu. Sebelum menikah, ibumu tidak mengajarkan tanggung jawab sebagai istri apa gimana, hah?”

Kalimat itu menusuk. Tepat di bagian paling rapuh. Untuk sejenak Sadya terdiam. Ada panas yang menggenang di pelupuk mata, tapi ia paksa kembali.

Arnesh meletakkan sendoknya dan menatap ibunya. “Bu, udah. Ibu nggak capek marah-marah terus sama Dya? Istriku juga capek, Bu. Aku nggak pernah nuntut Dya untuk mengutamakan aku. Sejak awal pernikahan, kami sudah sepakat untuk saling mengerti kesibukan satu sama lain.”

Annisa menatap putranya seolah ia baru mengatakan hal paling bodoh. “Capek? Semua orang capek, Nesh. Kamu juga capek kerja. Tapi kamu tetap bisa pulang tepat waktu dan menyiapkan makan malam untuk kami. Kamu suami, tapi malah seperti pembantu masak di rumah sendiri.”

Napas Sadya tercekat.

Arnesh menatap istrinya sekilas, lalu menunduk. Ia sudah membela—secara teknis—tapi suara dan keberaniannya tidak pernah cukup kuat untuk menghentikan ibunya. Dan Sadya sudah terlalu lelah untuk berharap.

“Mas, udah,” ucapnya pelan. “Aku ke kamar dulu, ya.”

Tidak ada yang mencoba menghentikannya.

Langkah Sadya menaiki tangga terasa panjang. Setiap anak tangga seperti beban tambahan. Ketika akhirnya mencapai kamar, ia menutup pintu perlahan dan berdiri kaku di balik pintu.

Baru setelah merasa cukup aman, ia melepas napas panjang yang sejak tadi tertahan. Lehernya panas, dadanya sesak. Rasanya ingin menangis, tapi ia tahu jika menangis, itu hanya membuat dirinya tampak semakin lemah.

Sadya menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Setelahnya ia melangkah menuju kamar mandi. Ia hanya ingin mandi, berbaring, lalu tidur. Menghapus hari ini. Menghapus tatapan Annisa. Menghapus kata-kata yang selalu menusuk tanpa jeda.

Lima belas menit berlalu, Sadya melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Setelah mengganti pakaian dengan piyama tidur, Sadya duduk di tepi ranjang, menunduk. Rambutnya masih basah, menetes di bahu.

Suara ketukan dari luar sejenak menarik perhatian Sadya. Pintu kamar dibuka tanpa menunggu jawaban. Arnesh melangkah masuk. “Sayang…”

Sadya mengangkat wajahnya sekilas, lalu kembali menunduk. Ia tidak punya tenaga.

Arnesh menghampirinya. “Kamu marah?”

Sadya tidak menjawab.

“Aku minta maaf soal Ibu.” Suara Arnesh pelan. “Kamu tahu kan memang Ibu orangnya keras. Kadang suka kebablasan.”

Sadya menatap lantai. “Iya, Mas. Aku tahu.”

“Tolong dimaklumi, ya?”

Ada jeda panjang. Lalu Sadya berkata dengan suara datar, tanpa menatapnya, “Memangnya aku punya pilihan selain memaklumi Ibu, Mas?”

Arnesh terdiam.

“Biasanya aku terus, kan, yang harus mengalah?” Sadya lanjut, lebih pelan. “Entah karena aku bukan menantu pilihan… atau karena Mas tidak pernah benar-benar membelaku.”

“Dya…” Arnesh terdengar canggung, seperti tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku nggak apa-apa, Mas,” potong Sadya cepat. “Aku cuma capek.”

Arnesh ingin mendekat, tapi ada yang menahannya. Mungkin rasa bersalah. Mungkin karena ia tahu Sadya benar.

Sunyi merebak di antara mereka. Lalu ponsel di meja berbunyi. Sadya meraih ponselnya dan nama yang tertera membuatnya sedikit terkejut.

Dirgantara Abisatya.

“Maaf, Mas.” Sadya berdiri perlahan. “Aku harus angkat.”

Arnesh mengangguk kaku.

Sadya melangkah membuka pintu balkon dan berdiri di tepi pagar balkon. Suaranya dibuat seramah mungkin meski jiwanya masih gemetar.

“Halo, Pak.”

Suaranya di seberang terdengar rendah. Tenang. Namun cukup untuk membuat Sadya merasa… aman.

“Dy…,” ucap Dirgantara pelan, seakan memanggil nama itu saja sudah menenangkan. “Saya sudah sampai di rumah,” ujar lelaki itu di seberang sana. “In case kamu ingin tahu.”

Sadya terdiam sejenak. Dari semua sikap yang pernah ditunjukkan Dirgantara padanya, sikap yang satu ini membuat perempuan itu terpaku lama.

Setelah satu tarikan napas panjang, ia menjawab lirih. “I-iya, Pak. Kalau begitu selamat beristirahat.”

Dan untuk pertama kalinya Sadya merasa bahwa suara Dirgantara di seberang sana sedikit banyaknya membuat hatinya yang semula sesak kini perlahan lega.

***

Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Sekretaris   Extra Part 3

    Usia bayi mereka genap satu bulan malam itu. Rumah terasa lebih hangat, bukan karena lampu-lampu yang menyala di setiap sudut, melainkan karena kehadiran makhluk kecil yang kini menjadi pusat semesta mereka.Sadya duduk di sofa dekat jendela, menggendong bayinya dengan kedua tangan yang penuh kehati-hatian. Tubuh mungil itu terlelap, napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan. Sadya menunduk, menatap wajah yang masih merah muda, dengan hidung kecil dan bibir yang sesekali bergerak seolah sedang bermimpi. Jemarinya menyentuh pipi lembut itu, nyaris tak berani, seakan takut mengusik tidur sang bayi.Sebulan lalu, rasa sakit, haru, dan takut bercampur jadi satu. Kini, semua itu terbayar dengan kehadiran Vanamala—Vala—yang berbaring damai dalam dekapannya.Langkah kaki terdengar dari arah kamar. Sadya mendongak ketika Dirgantara muncul. Lelaki itu sudah berpakaian rapi—kemeja gelap yang pas di tubuhnya, rambut disisir sederhana, dan aroma parfum yang samar. Ada sesuatu yang berbeda dar

  • Terjerat Pesona Sekretaris   Extra Part 2

    Ruang bersalin terasa lebih tenang dibanding ruang operasi, meski aroma obat dan suara alat medis masih samar terdengar. Sadya terbaring dengan tubuh sedikit miring, wajahnya pucat namun matanya terbuka. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan seperti membutuhkan tenaga lebih. Namun di dadanya, ada kehangatan kecil yang membuat semuanya terasa layak diperjuangkan.Bayi perempuan itu berada dalam dekapan Sadya. Masih mungil, kulitnya kemerahan, napasnya naik turun perlahan. Dengan bantuan perawat, Sadya menyusui untuk pertama kalinya. Gerakannya kaku, canggung, tapi nalurinya bekerja dengan sendirinya. Saat bayi itu mulai mengisap, air mata Sadya kembali jatuh—kali ini bukan karena takut, melainkan haru yang tak terdefinisikan.Dirgantara berdiri di sisi ranjang, satu tangannya bertumpu di pagar besi, matanya tak lepas dari pemandangan itu. Dadanya terasa penuh. Ia menyaksikan perempuan yang ia cintai, lemah secara fisik namun luar biasa kuat, memberi kehidupan pada anak mereka.“Kamu he

  • Terjerat Pesona Sekretaris   Extra Part 1

    Ruang meeting siang itu dipenuhi cahaya putih dan udara yang terasa dingin oleh pendingin ruangan. Di layar besar, salah satu staf tengah mempresentasikan proyek baru—grafik demi grafik berganti, suara penjelasan terdengar runtut dan penuh keyakinan. Dirgantara duduk di ujung meja panjang, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam menyimak setiap detail yang dijelaskan di depan sana.Sesekali ia mengangguk, sesekali mencatat poin penting di tablet di depannya. Wajahnya tenang, profesional, sepenuhnya mencerminkan seorang pemimpin yang terbiasa berada di bawah tekanan dan pengambilan keputusan besar.“Target kita adalah groundbreaking tiga bulan ke depan,” suara staf itu terdengar tegas. “Dengan catatan seluruh izin bisa kita amankan dalam dua minggu—”Belum sempat kalimat itu selesai, ponsel Dirgantara yang tergeletak di samping tabletnya bergetar. Getarannya singkat, tapi cukup menarik perhatiannya. Ia melirik layar sekilas—nama Nenek Marisa tertera di sana.Alis Dirgantara sedikit berkeru

  • Terjerat Pesona Sekretaris   102. Pengakuan Dirgantara

    Kamar itu dipenuhi cahaya sore yang lembut, masuk melalui jendela besar yang menghadap ke hamparan hijau Ubud. Tirai tipis berwarna krem bergoyang pelan tertiup angin, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di depan meja rias, Sadya duduk dengan punggung tegak, sementara Mira berdiri di belakangnya, sesekali memiringkan kepala, memastikan setiap detail riasan tampak sempurna.Gaun panjang berwarna hitam membalut tubuh Sadya. Potongannya sederhana namun elegan, jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun. Perutnya yang kini membola jelas terlihat—tanda kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Namun justru di situlah Sadya merasa paling ragu.Ia menatap bayangannya di cermin cukup lama. Tangannya refleks mengusap perutnya perlahan, lalu naik ke bagian pinggang dan lengan.“Aku kelihatan… gendut banget ya, Mir?” tanyanya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.Mira yang tadinya fokus memperhatikan ponsel lantas mengangkat kepala. Ia menatap Sadya lewat cermin, menangk

  • Terjerat Pesona Sekretaris   101. Menikmati Kebersamaan

    Pintu villa terbuka perlahan, disertai suara halus engsel kayu yang berat namun elegan. Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah—sunyi, sejuk, dan terasa sangat privat. Dunia di luar seolah tertinggal, digantikan oleh ketenangan yang sengaja diciptakan untuk membuat siapa pun bernapas lebih pelan.Villa itu berukuran besar, dengan langit-langit tinggi yang membuat ruang terasa lapang. Dinding-dindingnya didominasi warna hangat—krem, cokelat kayu, dan sentuhan batu alam yang dibiarkan tampil apa adanya. Cahaya matahari masuk dengan bebas melalui jendela kaca besar yang membentang hampir dari lantai hingga langit-langit.Sadya berhenti tepat di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling dengan takjub.“Mas…” ucapnya lirih.Di hadapan mereka, terbentang pemandangan yang membuat siapa pun ingin diam lebih lama. Jendela kaca lebar itu menghadap langsung ke sebuah private pool berbentuk memanjang, airnya berkilau memantulkan cahaya siang. Di balik kolam, hamparan persawahan hijau me

  • Terjerat Pesona Sekretaris   100. Babymoon

    Pagi itu Dirgantara dan Sadya baru saja keluar dari kamar. Suara roda koper bergesekan dengan lantai memecah keheningan saat mereka menuruni tangga, Dirgantara menarik koper besar, sementara tangan lainnya sesekali menahan Sadya yang berjalan pelan di sisinya.Sadya mengenakan dress longgar berwarna pastel, rambutnya diikat sederhana. Perutnya yang membulat membuat langkahnya lebih berhati-hati, dan Dirgantara tak pernah melepas jarak lebih dari setengah langkah darinya.Di ruang tengah, Nenek Marisa sudah duduk dengan buku di tangannya, kemudian menoleh.“Kalian mau berangkat sekarang?” tanya Nenek, menatap Sadya dengan mata penuh perhatian.“Iya, Nek,” jawab Sadya sambil tersenyum. “Aku sama Mas Dirga tinggal sebentar nggak apa-apa, kan?”Nenek Marisa mendekat, menggenggam tangan Sadya dengan lembut. “Jaga diri selama di sana. Jangan terlalu capek. Ingat, ada cicit Nenek di perut kamu.”Sadya mengangguk. “Iya, Nek.”Dirgantara kemudian menunduk sedikit, mencium tangan Nenek Marisa.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status