LOGIN“Aku harus lembur, Mas. Kamu sama Ibu makan duluan saja. Besok ada meeting investor, jadi aku harus menyelesaikan laporannya hari ini juga.”
Sadya masih menatap layar komputernya yang sudah buram sejak setengah jam lalu. Angka-angka laporan bulanan di spreadsheet tak juga berpindah, padahal ia sudah menambahkan beberapa catatan tentang revisi anggaran. Kantor hampir kosong, hanya suara AC dan sesekali denting hujan yang menampar jendela kaca yang mengisi ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, Sadya tidak bergeming. Ia sengaja memperlambat pekerjaannya, sengaja tak segera pulang. Rumah yang semestinya menjadi ruang istirahat kini terasa seperti arena pertarungan batin. Setelah kalimat-kalimat tajam Annisa kemarin, Sadya merasa semua napasnya sesak. “Kalau memang nggak sanggup jadi istri yang bisa diandalkan, kenapa dulu kamu menikahi dia sih, Nesh?” Ucapan Annisa masih menggema di kepalanya, seakan diputar ulang tanpa henti. Sadya menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. Bukan karena marah, tapi karena Annisa tidak sepenuhnya salah. Sadya lelah. Ia merasa gagal. Gagal menjadi istri yang baik bagi Arnesh. Gagal menjadi menantu yang bisa diandalkan. Dan sekarang, Sadya hanya ingin diam. Ketika Sadya hendak kembali fokus pada layar, ada bayangan yang tiba-tiba menutupi cahaya lampu meja. Perempuan itu mendongak, kaget bukan main saat mendapati Dirgantara berdiri di sana, menatapnya dengan alis berkerut. “Kamu udah dari tadi melamun kayak gitu,” ujar Dirgantara pelan. “Saya sudah memanggil kamu sebanyak tiga kali, tapi kamu nggak nyaut.” Sadya langsung refleks menyeka ujung matanya dan langsung membenarkan letak kacamatanya. “Ma—maaf, Pak. Saya... saya tadi lagi mikir.” “Kalau mikirnya berat sampai nggak sadar ada orang di depan meja kamu, berarti kamu bukan hanya lembur karena kerjaan,” balas Dirgantara. Nada suaranya tenang, tapi tatapan matanya tajam. Sadya menggigit bibirnya. “Saya lagi kerjain weekly report, Pak. Biar selesai malam ini, besok nggak kewalahan,” ujarnya cepat, mencoba terdengar meyakinkan. Dirgantara menaikkan satu alis. “Weekly report?” ulangnya. “Dy, sekarang masih hari senin. Kenapa kamu harus repot-repot bikin weekly report sekarang, hm?” Sadya terdiam. Dan saat itu, ia tahu kebohongannya terpatahkan. Dirgantara menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah jendela. “Hujan deras di luar. Saya antar kamu pulang.” Sadya buru-buru menggeleng. “Tidak usah, Pak. Saya bisa pakai naik Transjakarta, kok. Lagipula, saya masih mau—” “Dy...” Nada suaranya berubah lebih tegas. “Saya nggak tanya kamu mau atau tidak. Saya bilang, saya antar kamu.” Sadya kembali hendak berargumen, tapi tatapan Dirgantara membuat mulutnya tertutup. Lelaki itu jarang berbicara dengan nada seperti itu. Sampai akhirnya perempuan itu menyerah. Tanpa mengatakan apa-apa lagi Sadya mulai membereskan meja kerjanya, mematikan komputernya, dan mengambil tas. Kemudian mereka berjalan melewati lorong kantor yang lengang. Sadya mengikuti langkah Dirgantara dalam diam. Ketika pintu lift terbuka, keduanya masuk tanpa suara. Denting lift terasa jauh lebih nyaring dari biasanya, seolah menertawakan sunyi di antara mereka. Saat mobil Dirgantara melaju perlahan di jalan yang basah, Sadya hanya menatap jendela. Lampu kota memantul di genangan air, menciptakan ilusi gerak yang indah tapi hampa. Ia ingin berbicara, ingin mengatakan bahwa ia lelah, bahwa semua tekanan ini terasa terlalu berat. Tapi lidahnya kelu. Energinya habis untuk sekadar bertahan hari ini. Dirgantara beberapa kali melirik ke arahnya. “Kamu nggak biasanya sependiam ini,” ucapnya akhirnya. Sadya yang tadinya fokus menoleh ke arah jendela kini menoleh ke sumber suara. Sadya menggigit bibirnya bagian dalam sembari membenarkan letak kacamatanya. “Ya, Pak?” “Saya nggak akan maksa kamu untuk cerita,” lanjut Dirgantara, “tapi saya juga nggak bisa pura-pura nggak lihat kamu kesulitan,” ujarnya. “Apalagi kalau sampai itu berpengaruh dengan pekerjaan kamu. Saya nggak mau dirugikan di sini, Dy.” “Maaf, Pak. Saya… akan berusaha untuk lebih baik lagi.” Hening kembali menyelimuti kabin mobil hingga beberapa menit berlalu. Hujan masih turun. Lampu jalan berganti-ganti. Sadya memeluk tasnya erat, mencoba menghalau rasa dingin yang menusuk. Lalu, suara Dirgantara kembali terdengar. Tenang, tapi menusuk. “Gimana keluarga… kamu masih tinggal serumah sama keluarga suami, ya?” Pertanyaan itu terasa seperti palu godam menghantam dada Sadya. Ia membeku. Butuh beberapa detik sebelum ia sadar sedang menahan napas. “Ke-kenapa Bapak tiba-tiba tanya begitu?” tanyanya ragu. Dirgantara tidak langsung menjawab. Ia menghela napas, masih fokus pada jalan. “Saya cuma tanya, Dy. Memangnya saya nggak boleh nanya tentang keluarga staff saya?” Sadya menunduk. Matanya panas. “Bapak nggak biasanya seperti ini,” ujarnya lirih. “Ya, saya masih tinggal sama keluarga suami, Pak.” “Kenapa nggak tinggal di tempat sendiri? Maksudnya, perusahaan kita ada program pengajuan untuk membeli rumah. Kamu tinggal ajukan saja, dan semuanya beres,” ujarnya. “Saya sering mendengar kata orang-orang kalau tinggal bersama mertua itu mengerikan. Benar begitu?” Sadya menelan ludahnya dengan susah payah. Merasakan lidahnya mendadak kelu. Namun, “Nggak kok, Pak. Tidak semua mertua begitu.” Dirgantara manggut-manggut. Mobil berhenti perlahan tepat di depan rumah Sadya. Hujan masih turun meski tidak sederas sebelumnya. Riaknya membentuk pola acak di kaca depan mobil. Lampu teras rumah menyala redup, seperti enggan menyambut kedatangan pemiliknya. Sadya menatap bangunan itu beberapa detik sebelum memberanikan diri menghela napas. Dirgantara tidak mematikan mesin. Tangannya masih memegang kemudi, sikapnya tidak berubah. Sadya melepaskan sabuk pengamannya, namun masih enggan membuka pintu. “Terima kasih sudah mengantar saya, Pak,” ucapnya pelan, tanpa berani menatap. Tidak ada jawaban langsung. Hanya suara mesin mobil yang mengisi suasana. Sadya meremas tali tasnya, udara dingin karena AC seakan makin menusuk tulang. Baru setelah beberapa detik, Dirgantara bersuara. Nadanya tetap rendah, tegas, dan tidak menunjukkan emosi. “Besok jangan datang terlambat.” Sadya terdiam. Ia mengangguk kecil. “Iya, Pak.” Dirgantara sempat mengalihkan pandangan ke arahnya. Tatapannya singkat, nyaris tak terbaca. “Dan kalau kamu memang butuh waktu… jangan habiskan sendiri di ruangan kerja.” Sadya menoleh pelan, sedikit kaget karena kalimat itu terdengar lebih seperti peringatan daripada perhatian. “Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih sudah mengantar saya. Bapak hati-hati di jalan.” Sadya membuka pintu mobil. Udara malam yang lembab langsung menyambut, sementara rintik hujan menyentuh bahunya. Setelah menutup pintu, ia kembali menatap sekilas ke arah Dirgantara. “Masuk,” ujar Dirgantara dari balik jendela kemudi yang terbuka. Sadya mengangguk sekali lagi. “Selamat malam, Pak.” “Selamat malam.” Mobil itu tetap diam sesaat sebelum akhirnya bergerak menjauh. Sadya berdiri di bawah atap teras, menatap lampu belakang kendaraan yang semakin mengecil di balik hujan. Sadya menarik napas panjang. Rumah keluarga Mahatma berdiri kokoh dengan lampu-lampu taman yang menyala terang. Kontras dengan langkah Sadya yang berat. Begitu membuka pintu, aroma ayam panggang langsung menyergap hidungnya. Suara tawa kecil Lolita dan komentar Gilang terdengar jelas dari ruang makan. Sadya masuk, menutup pintu perlahan, mencoba untuk tidak mengganggu suasana. Sayangnya, keberadaannya selalu dianggap sebagai gangguan. “Selamat malam.” Annisa, perempuan setengah baya dengan riasan sempurna dan sorot mata tajam, adalah orang pertama yang melihat Sadya. Tatapannya langsung berubah sinis. “Oh,” gumam Annisa dingin. “Ibu kira kamu tidak pulang.” Sadya menelan ludah, menahan tatapan itu. “Maaf, Bu. Tadi banyak pekerjaan yang—” “Pekerjaan, pekerjaan, pekerjaan.” Annisa menggeleng sambil menyendokkan sayur ke piringnya. “Istri macam apa yang pulang jam segini? Suami dibiarkan menunggu, makan malam nyiapin sendiri. Bilang kalau kamu nggak sanggup jadi istri!” Gilang berdehem pelan, jelas tidak ingin ikut campur. Lolita pura-pura fokus ke ponsel tapi matanya melirik Sadya. “Bu, sudah. Dya sudah bilang ke aku kalau dia lembur malam ini. Udah malam, nggak usah berdebat, Bu.” “Terus saja kamu belain, Nesh!” Annisa melanjutkan tanpa peduli, “harusnya dia juga sadar akan tugasnya sebagai seorang istri. Kamu kan suaminya, seharusnya dia lebih mengutamakan kamu. Sebelum menikah, ibumu tidak mengajarkan tanggung jawab sebagai istri apa gimana, hah?” Kalimat itu menusuk. Tepat di bagian paling rapuh. Untuk sejenak Sadya terdiam. Ada panas yang menggenang di pelupuk mata, tapi ia paksa kembali. Arnesh meletakkan sendoknya dan menatap ibunya. “Bu, udah. Ibu nggak capek marah-marah terus sama Dya? Istriku juga capek, Bu. Aku nggak pernah nuntut Dya untuk mengutamakan aku. Sejak awal pernikahan, kami sudah sepakat untuk saling mengerti kesibukan satu sama lain.” Annisa menatap putranya seolah ia baru mengatakan hal paling bodoh. “Capek? Semua orang capek, Nesh. Kamu juga capek kerja. Tapi kamu tetap bisa pulang tepat waktu dan menyiapkan makan malam untuk kami. Kamu suami, tapi malah seperti pembantu masak di rumah sendiri.” Napas Sadya tercekat. Arnesh menatap istrinya sekilas, lalu menunduk. Ia sudah membela—secara teknis—tapi suara dan keberaniannya tidak pernah cukup kuat untuk menghentikan ibunya. Dan Sadya sudah terlalu lelah untuk berharap. “Mas, udah,” ucapnya pelan. “Aku ke kamar dulu, ya.” Tidak ada yang mencoba menghentikannya. Langkah Sadya menaiki tangga terasa panjang. Setiap anak tangga seperti beban tambahan. Ketika akhirnya mencapai kamar, ia menutup pintu perlahan dan berdiri kaku di balik pintu. Baru setelah merasa cukup aman, ia melepas napas panjang yang sejak tadi tertahan. Lehernya panas, dadanya sesak. Rasanya ingin menangis, tapi ia tahu jika menangis, itu hanya membuat dirinya tampak semakin lemah. Sadya menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Setelahnya ia melangkah menuju kamar mandi. Ia hanya ingin mandi, berbaring, lalu tidur. Menghapus hari ini. Menghapus tatapan Annisa. Menghapus kata-kata yang selalu menusuk tanpa jeda. Lima belas menit berlalu, Sadya melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Setelah mengganti pakaian dengan piyama tidur, Sadya duduk di tepi ranjang, menunduk. Rambutnya masih basah, menetes di bahu. Suara ketukan dari luar sejenak menarik perhatian Sadya. Pintu kamar dibuka tanpa menunggu jawaban. Arnesh melangkah masuk. “Sayang…” Sadya mengangkat wajahnya sekilas, lalu kembali menunduk. Ia tidak punya tenaga. Arnesh menghampirinya. “Kamu marah?” Sadya tidak menjawab. “Aku minta maaf soal Ibu.” Suara Arnesh pelan. “Kamu tahu kan memang Ibu orangnya keras. Kadang suka kebablasan.” Sadya menatap lantai. “Iya, Mas. Aku tahu.” “Tolong dimaklumi, ya?” Ada jeda panjang. Lalu Sadya berkata dengan suara datar, tanpa menatapnya, “Memangnya aku punya pilihan selain memaklumi Ibu, Mas?” Arnesh terdiam. “Biasanya aku terus, kan, yang harus mengalah?” Sadya lanjut, lebih pelan. “Entah karena aku bukan menantu pilihan… atau karena Mas tidak pernah benar-benar membelaku.” “Dya…” Arnesh terdengar canggung, seperti tidak tahu harus menjawab apa. “Aku nggak apa-apa, Mas,” potong Sadya cepat. “Aku cuma capek.” Arnesh ingin mendekat, tapi ada yang menahannya. Mungkin rasa bersalah. Mungkin karena ia tahu Sadya benar. Sunyi merebak di antara mereka. Lalu ponsel di meja berbunyi. Sadya meraih ponselnya dan nama yang tertera membuatnya sedikit terkejut. Dirgantara Abisatya. “Maaf, Mas.” Sadya berdiri perlahan. “Aku harus angkat.” Arnesh mengangguk kaku. Sadya melangkah membuka pintu balkon dan berdiri di tepi pagar balkon. Suaranya dibuat seramah mungkin meski jiwanya masih gemetar. “Halo, Pak.” Suaranya di seberang terdengar rendah. Tenang. Namun cukup untuk membuat Sadya merasa… aman. “Dy…,” ucap Dirgantara pelan, seakan memanggil nama itu saja sudah menenangkan. “Saya sudah sampai di rumah,” ujar lelaki itu di seberang sana. “In case kamu ingin tahu.” Sadya terdiam sejenak. Dari semua sikap yang pernah ditunjukkan Dirgantara padanya, sikap yang satu ini membuat perempuan itu terpaku lama. Setelah satu tarikan napas panjang, ia menjawab lirih. “I-iya, Pak. Kalau begitu selamat beristirahat.” Dan untuk pertama kalinya Sadya merasa bahwa suara Dirgantara di seberang sana sedikit banyaknya membuat hatinya yang semula sesak kini perlahan lega. *** Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya.Suasana malam perlahan turun, meninggalkan sisa-sisa cahaya senja di langit Jakarta yang kini mulai tertutup awan tipis. Lampu-lampu taman belakang sudah menyala, menerangi beberapa sudut dengan cahaya kekuningan yang hangat.Udara dingin menyapa pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Setelah makan malam, Dirgantara berjalan mengikuti langkah Bunda Narnia menuju taman belakang. Perempuan paruh baya itu menawarkan secangkir teh hangat yang sudah terhidang di meja rotan kecil.“Silakan diminum, Nak,” ujar Bunda Narnia lembut sambil tersenyum.Dirgantara hanya mengangguk, menarik kursi lalu duduk. Sementara dari dalam rumah terdengar sayup-sayup suara tawa kecil Sadya dan adik-adiknya yang tengah belajar di ruang tengah. Ada kehangatan yang terasa menyusup di dada Dirgantara, entah karena udara malam atau karena suasana rumah itu yang begitu berbeda dari rumah-rumah megah yang biasa ia datangi.“Pasti rasanya asing ya, Nak? Suasana ramai seperti ini pasti sangat jarang ditemui Na
Sadya masih duduk tegak di depan layar komputernya. Matanya menatap fokus pada deretan angka dan data laporan yang harus ia rampungkan sebelum sore. Meskipun hari ini sebenarnya ia sudah mengajukan izin untuk pulang lebih awal, ia tetap ingin meninggalkan meja kerjanya dengan semuanya dalam keadaan selesai.Suasana kantor menjelang siang itu masih cukup ramai. Suara ketikan keyboard dari beberapa rekan kerja terdengar samar bercampur dengan desiran pendingin ruangan. Tiba-tiba, ponsel Sadya yang terletak di samping laptopnya bergetar. Ia sempat berhenti mengetik dan menatap layar ponselnya. Nama yang muncul membuat hatinya sedikit menghangat.Tanpa ragu, ia menggeser layar dan mengangkat panggilan itu. “Halo, Mas,” ucap Sadya pelan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang agar tidak terlalu terdengar oleh rekan sekantor.“Sayang…” Suara di seberang terdengar lembut namun tergesa. “Aku mau kasih kabar dulu sebelum kamu sibuk. Sore ini aku harus berangkat ke Kalimantan. Ada proyek mendada
Sudah lewat dari pukul tujuh malam, sebagian besar lantai kantor sudah gelap dan sunyi. Lampu ruangan menyisakan cahaya dari beberapa meja yang masih menyala. Salah satunya meja kerja Sadya. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya fokus pada layar komputer meski kedua bola mata itu tampak lelah.Hari ini ada banyak laporan yang harus ia revisi sebelum dikirim ke Dirgantara esok pagi. Beberapa catatan tambahan dari meeting sore tadi juga harus diselaraskan dengan data terbaru. Sadya menghela napas berat, menekan pelipisnya bersamaan dengan pesan dari Arnesh muncul di layar.____________________________________Mas ArneshJadi lembur, Sayang? Aku jemput sekalian aja, ya. Aku dari kantor jam 8 nanti.___________________________________Setelah membalas pesan Arnesh, Sadya kembali menekuri pekerjaannya. Keningnya sempat mengernyit begitu membaca data di layar. Kemudian Sadya menyandarkan tubuh ke kursi, merasa otot punggungnya menegang. Ia memutuskan untuk berdiri dan melangkah
Dirgantara baru saja menyelesaikan meeting bersama para stakeholder proyek. Wajahnya serius, tubuhnya tegak. Dengan langkah lebar dan ekspresi tak banyak berubah, ia keluar dari ruang rapat menuju ruang kerjanya. Di belakangnya, ada Mira yang sejak tadi ikut dalam pembahasan karena proyek kali ini juga melibatkan perusahaan tempat Mira bekerja sebagai arsitek.Mira mengenakan blazer krem dengan rambut disanggul rapi. Wajahnya selalu terlihat ceria, berbanding terbalik dengan ekspresi Dirgantara yang dingin dan datar. Langkah mereka beriringan menyusuri koridor kaca lantai eksekutif.“Mas, aku mau tanya, deh,” ucap Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Dirgantara tidak menoleh, hanya sedikit memperlambat langkahnya. “Hm?”“Dya udah berapa lama kerja di sini?”Dirgantara sedikit mengernyit. Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi entah kenapa rasanya menusuk di pikirannya. “18 bulan kayaknya,” jawabnya. “Kenapa emangnya?”Mira mengangguk pelan. “Lumayan lama juga,” gumamnya pelan. “Selama in
Subuh belum sepenuhnya mengusir gelap saat Sadya memutuskan untuk turun ke dapur. Rumah masih sunyi, hanya bunyi detik jam dinding yang menemani langkahnya. Rambutnya masih setengah basah, wajahnya pucat karena kurang tidur. Namun seperti biasa, ia memulai harinya dengan rutinitas yang tidak pernah berubah, memasak untuk seluruh penghuni rumah.Sesampainya di dapur, Sadya membuka kulkas, mengecek bahan yang tersisa. Ia mulai memotong sayuran, menanak nasi, menyiapkan lauk untuk sarapan Arnesh, Annisa, Gilang—adik laki-laki Arnesh, dan Lolita—adik perempuan Arnesh. Lalu tak lupa ia juga membuat bekal untuk dirinya sendiri, bekal sederhana berisi ayam kecap dan tumis buncis, makanan yang bisa ia makan cepat di sela pekerjaan.Dapur dipenuhi aroma masakan, hangat namun membuat dada Sadya terasa lebih sesak. Terkadang ia bertanya-tanya, apakah ada yang sadar betapa lelahnya tubuh ini? Betapa ia ingin sekali bangun tanpa takut dimarahi, atau makan tanpa merasa diawasi?Setelah semuanya sel
“Aku harus lembur, Mas. Kamu sama Ibu makan duluan saja. Besok ada meeting investor, jadi aku harus menyelesaikan laporannya hari ini juga.”Sadya masih menatap layar komputernya yang sudah buram sejak setengah jam lalu. Angka-angka laporan bulanan di spreadsheet tak juga berpindah, padahal ia sudah menambahkan beberapa catatan tentang revisi anggaran. Kantor hampir kosong, hanya suara AC dan sesekali denting hujan yang menampar jendela kaca yang mengisi ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, Sadya tidak bergeming.Ia sengaja memperlambat pekerjaannya, sengaja tak segera pulang. Rumah yang semestinya menjadi ruang istirahat kini terasa seperti arena pertarungan batin. Setelah kalimat-kalimat tajam Annisa kemarin, Sadya merasa semua napasnya sesak. “Kalau memang nggak sanggup jadi istri yang bisa diandalkan, kenapa dulu kamu menikahi dia sih, Nesh?” Ucapan Annisa masih menggema di kepalanya, seakan diputar ulang tanpa henti.Sadya menunduk, menahan air mata yang h







