Share

4. Permintaan Mertua

Penulis: IKYURA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-17 12:37:41

Subuh belum sepenuhnya mengusir gelap saat Sadya memutuskan untuk turun ke dapur. Rumah masih sunyi, hanya bunyi detik jam dinding yang menemani langkahnya. Rambutnya masih setengah basah, wajahnya pucat karena kurang tidur. Namun seperti biasa, ia memulai harinya dengan rutinitas yang tidak pernah berubah, memasak untuk seluruh penghuni rumah.

Sesampainya di dapur, Sadya membuka kulkas, mengecek bahan yang tersisa. Ia mulai memotong sayuran, menanak nasi, menyiapkan lauk untuk sarapan Arnesh, Annisa, Gilang—adik laki-laki Arnesh, dan Lolita—adik perempuan Arnesh. Lalu tak lupa ia juga membuat bekal untuk dirinya sendiri, bekal sederhana berisi ayam kecap dan tumis buncis, makanan yang bisa ia makan cepat di sela pekerjaan.

Dapur dipenuhi aroma masakan, hangat namun membuat dada Sadya terasa lebih sesak. Terkadang ia bertanya-tanya, apakah ada yang sadar betapa lelahnya tubuh ini? Betapa ia ingin sekali bangun tanpa takut dimarahi, atau makan tanpa merasa diawasi?

Setelah semuanya selesai, ia mengatur piring dan gelas di meja makan, memastikan semuanya rapi. Jarum jam menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Suara langkah kaki mulai terdengar dari lantai atas.

Sadya menarik napas panjang sebelum bergabung, memastikan senyumnya terlihat wajar. Tatapannya tertuju pada makanan yang kini tengah tersaji di atas meja, terlihat begitu menggugah selera.

“Wah, baunya enak banget, Mbak,” puji Gilang.

“Makan yang banyak, Lang.”

Annisa, Gilang, dan Lolita sudah duduk ketika Sadya menjadi yang terakhir duduk di samping suaminya. Arnesh masih memeriksa ponselnya, terlihat terburu-buru sebelum kemudian menoleh pada istrinya.

“Jam segini baru selesai masak,” komentar Annisa tanpa menatapnya. “Kalau malam tuh jangan dibiasakan main hp, Dy. Kamu jadi kesiangan masaknya, kan.”

Sadya hanya tersenyum kecil. “Maaf, Bu. Tadi masakannya agak lama matangnya.”

Annisa mengambil sendok tanpa komentar lebih. Baru saja semua mulai makan, Gilang tiba-tiba bersandar santai pada kursi dan bersuara keras.

“Mas, minta uang dong. Gilang mau beli motor baru.”

Sadya menatapnya sekilas. Gilang, adik laki-laki Arnesh sudah menganggur lebih dari setahun setelah dinyatakan lulus kuliah. Main game sepanjang hari dan begadang sampai pagi, lalu tidur sampai siang. Namun ia tetap merasa semua orang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidupnya.

Arnesh menghentikan suapan. “Motor baru? Buat apa? Kan motor yang sebelumnya masih bagus, Lang.”

“Kata siapa masih bagus, Mas. Terakhir aku ke bengkel katanya udah banyak yang rusak mesinnya. Udah gitu sering macet pula,” jawab Gilang enteng. “Masa aku harus nebeng temen terus tiap kali pergi main, Mas.”

Arnesh menarik napas pendek. “Harga motor kan mahal, Lang. Kamu juga tahu kalau belum lama ini Mas beli mobil baru,” kata Arnesh. “Cari kerja dulu, baru beli. Kamu udah kirim lamaran yang kemarin?”

Gilang cemberut. “Udah lah, Mas. Tapi belum ada panggilan. Lagian, kerjaan sekarang susah. Makanya Mas bantu lah, satu motor aja kok.”

Sebelum Arnesh sempat menolak lagi, Annisa langsung angkat bicara dengan nada tinggi. “Nesh, kasih aja. Masa adikmu sendiri nggak dikasih, sih?” Annisa menatap Gilang penuh sayang, lalu menatap Arnesh dengan ekspresi menuntut. “Apa gunanya punya keluarga kalau nggak saling bantu?”

Arnesh menghela napas panjang, mulai terlihat kesal. “Bukan soal aku nggak mau bantu, Bu. Tapi Ibu kan tahu kalau aku baru beli mobil dan harus nyicil. Motor itu nggak murah. Belum lagi aku harus memenuhi kebutuhan rumah.”

Annisa mendengkus, lalu menatap Sadya dengan tatapan menusuk. “Kalau begitu, biar Sadya saja yang beliin motor Gilang.”

“Bu…” Arnesh menatap Annisa dengan penuh peringatan.

“Salah memang? Sadya kan kakak iparnya Gilang, Nesh. Dia juga kerja. Emang uangnya mau dikantongin sendiri? Istri macam apa begitu?” kelakar Annisa dengan enteng. “Dy, uang kamu buat apa aja, sih? Seenggaknya kamu sebagai istri harus ngerti kondisi keluarga suami juga.”

Sadya menunduk. “Maaf, Bu… saya cuma—“

“Sudah, nggak usah alasan,” potong Annisa. “Kamu tuh jangan pelit. Uangnya Arnesh bukan cuma buat kamu. Kamu kan kerja, pakai uang kamu sendiri kalau emang mau beli-beli kebutuhan sendiri!”

Gilang ikut menyahut, santai sekali seolah semua ini memang wajar. “Iya, Mbak. Nggak apa-apa lah kalau Mbak yang bantu. Gilang juga lagi usaha cari kerja kok, beneran.”

Sadya mengangguk pelan. Kepalanya mulai terasa pening. Arnesh terlihat serba salah, namun seperti biasa ia tidak mengatakan apapun. Tidak menegur ibunya. Tidak membela istrinya. Tidak menegur adiknya yang seenaknya.

Beruntung tidak ada perdebatan apapun lagi. Sarapan berlangsung hening, lalu setelahnya Arnesh dan Sadya berpamitan untuk pergi ke kantor.

Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Sadya melemparkan pandangannya ke samping jendela. Matanya kosong. Pikirannya kacau. Kata-kata Annisa terus terngiang di kepalanya, menimbulkan rasa bersalah yang tidak seharusnya ada.

Arnesh beberapa kali meliriknya. “Kamu nggak apa-apa?”

Sadya tersenyum samar. “Nggak apa-apa.” Jawaban yang sudah otomatis. Jawaban yang bahkan ia sendiri sudah lelah mendengarnya.

“Nggak seharusnya aku bikin kamu kesusahan begini.” Arnesh meraih tangan Sadya ke dalam genggamannya. “Sabar sebentar lagi ya, Dy. Selesai cicilan mobil, aku akan usahakan buat beli rumah.”

Sadya menoleh cepat dan hal itu membuat Arnesh tersenyum. Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

“Aku janji akan bawa kamu keluar dari rumah Ibu. Biar kita bisa fokus dengan hidup kita sendiri,” lanjut Arnesh.

“Ibu pasti nggak setuju, Mas.”

“Bisa jadi. Tinggal gimana nanti aku membujuknya, oke? Aku cuma minta kamu sabar sebentar lagi.”

Setidaknya ada satu hal yang membuat hati Sadya lega. Perkataan Arnesh tentang rencana masa depannya. Walaupun ia belum tahu kapan tepatnya, tapi setidaknya Arnesh sudah memikirkannya, kan?

Sadya baru saja tiba di kantor ketika pintu lobi terbuka otomatis begitu ia mendekat. Aroma kopi dari kafe kecil di sudut ruangan bercampur dengan udara pagi yang masih sejuk. Ia merapikan blazer, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk dengan tenang. Rutinitas pagi yang biasa ia lakukan, tanpa ekspektasi akan sesuatu yang berbeda.

Namun langkahnya terhenti ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. “Sadya!”

Langkah Sadya terhenti dan ia refleks menoleh. Matanya langsung membesar begitu mengenali sosok itu. “Mira?” ujarnya pelan, nyaris tidak percaya.

Mira berlari kecil menghampiri Sadya dan detik itu juga langsung menghambur memeluk perempuan itu. “Long time no see. Ya ampun, kok nggak nyangka banget kita bakalan ketemu di sini, sih? Kamu kerja di sini?”

Sadya mengulas senyuman kecil. “Iya, Mir, aku kerja di sini. Kamu gimana kabarnya?” tanya perempuan itu sembari membenarkan letak kacamatanya.

“Baik. Kebetulan aku—” Sebelum Mira melanjutkan kalimatnya, seseorang tiba-tiba muncul di sampingnya. Dan hal itu membuat Sadya mendadak gugup. “Eh, Mas. Kamu kok nggak pernah bilang sama aku kalau punya karyawan namanya Sadya, sih?”

“Kalian… saling kenal?” tanya Dirgantara.

Lelaki itu berdiri tegap, wajah dingin dan tak tersentuh emosi, seperti biasanya. Aura wibawanya selalu membuat Sadya menegakkan tubuh secara refleks.

“Selamat pagi, Pak,” ucap Sadya sopan.

Dirgantara hanya mengangguk. “Pagi,” jawabnya. “Kalian saling kenal? Sadya itu sekretarisku, Mir.”

Mira melirik keduanya sejenak lalu tertegun. “Hah? Jadi kamu sekretarisnya Mas Dirga, Dy? Dunia sempit banget, ya?” Perempuan itu menoleh pada Dirgantara. “Sadya ini kan teman kuliah aku dulu, Mas.”

Sementara Dirgantara hanya mengangguk-angguk.

“By the way, aku boleh minjem Sadya sebentar nggak, Mas? Aku udah lama banget nggak ngobrol sama dia. Kangen banget rasanya.”

Sadya sempat melirik sekilas Dirgantara, tidak yakin lelaki itu akan mengizinkan. Dirgantara dikenal tidak suka membuang waktu. Namun jawaban Dirgantara justru membuat Sadya nyaris tidak percaya.

“Boleh,” jawabnya datar. “Tapi jangan terlalu lama. Kita bakalan mulai meeting satu jam lagi.”

Mira seketika sumringah. “Aaaaa, makasih, Mas Dirga Sayang.”

Sadya sedikit tersentak mendengar kata itu. Namun ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Dirgantara hanya mengangguk tipis sebelum berjalan menuju lift eksekutif. Sadya masih menatap punggung lelaki itu hingga menghilang, lalu menoleh ke Mira.

“Yuk! Udah berapa lama kita nggak ketemu ya, Dy?”

Mira menggamit lengan Sadya dan keduanya melangkah menuju salah satu coffee shop yang ada di lobi. Mereka langsung memesan dua cangkir kopi lalu melangkah menuju ke salah satu bangku yang kosong.

“Terakhir kayaknya satu tahun yang lalu, deh. Ingat nggak waktu itu kita ketemu di Bandung, di nikahan teman aku yang kebetulan adalah saudara suami kamu?” 

Sadya mengangguk sembari menyesap kopinya. “Iya. Kamu sengaja cuti selama seminggu biar bisa sekalian liburan di Bandung padahal kamu punya banyak deadline.”

Mira tertawa. Tidak menyangka jika Sadya akan mengingatnya. “Mana iya lagi.”

“Kamu ke sini dalam rangka apa, Mir? Kamu… pacarnya Bapak?”

“Pacar?” Mira tertawa. “Astaga, bapak-bapak kaku begitu? Ish, dia bukan tipe aku banget, Dy. Lagian gimana bisa aku pacaran sama saudara sepupu sendiri, sih.”

“Sepupu?”

“Iya, aku sama Mas Dirga tuh saudaraan. Kebetulan aja kantorku sama kantornya Mas Dirga kerjasama. Kamu tahu dong, kalau pagi ini kita bakalan meeting?”

“Oh, jadi kamu perwakilan dari Fasade Architect?”

“Nah, iya! Sejak aku tahu kalau yang kerjasama adalah Dirgantara Corporation, aku mengajukan diri buat mewakili kantorku. Itung-itung sekalian jenguk saudara yang udah tua tapi nggak laku-laku itu, kan.” Mira tergelak. “Kamu sendiri gimana? Hidup kamu bahagia?”

Sadya seketika tertegun bersamaan dengan senyumnya yang memudar. Butuh jeda selama beberapa saat untuk menjawab pertanyaan Mira.

“Dy…” Mira meraih tangan Sadya ke dalam genggamannya saat menyadari perubahan raut wajah perempuan itu. “Jangan bilang kalau hidup kamu nggak bahagia, ya.”

Sadya mulai merasakan matanya memanas. Kepingan ingatan tentang perlakuan mertuanya kembali berjejalan di pikirannya. 

“Ya ampun, Dy! Jangan bilang kalau mertua kamu masih memperlakukanmu seenaknya, ya!”

Sadya tertawa kecil. “Kenapa kamu masih ingat, sih?”

“Gimana aku bisa lupa? Di depan orang-orang saja mertua kamu bisa mempermalukan kamu, ngebandingin kamu dengan orang lain. Apalagi di belakang orang-orang, coba? Sorry to say ya, Dy. Manusia dengan watak begitu, tuh gampang banget dibaca. Kelakuannya nggak punya akhlak. Merasa yang paling sempurna. Kok bisa kamu betah banget sih, Dy? Kamu cinta banget sama suami kamu apa gimana?”

“Aku bahagia, kok.” Rasa-rasanya tidak bijak sekali jika Sadya menceritakan aib keluarganya sendiri. “Kamu nggak usah khawatir, aku bahagia kok, Mir.”

Percakapan mengalir ringan, membahas masa kuliah, teman lama, hingga bagaimana Sadya menghabiskan hari-harinya sekarang. Mira terlihat masih sama seperti dulu—hangat, mudah tertawa, dan berbicara dengan cara yang membuat lawan bicara nyaman.

Tak terasa waktu berjalan cepat hingga Sadya melirik jam tangan dan tersentak. “Astaga, aku harus mulai kerja sekarang deh, Mir.”

Mira tertawa. “Ya ampun, nggak kerasa kalau kita ngobrolnya udah mau sejam, ya? Ya udah, yuk! Kita naik sekarang aja.”

Sadya mengangguk lalu keduanya melangkah menuju lift. Sesampainya di lantai yang dituju, keduanya berpisah. Mira masuk ke ruangan Dirgantara, sementara Sadya melangkah menuju meja kerjanya. Ia baru saja menyalakan komputer ketika seseorang berdiri di hadapannya.

“Saya nggak tahu kalau ternyata kalian dulu satu kampus.”

Sadya langsung berdiri kaget sembari membenarkan posisi kacamatanya. “P—Pak? Maaf, saya ngobrolnya tadi lama.”

“Nggak apa-apa, Dy,” ucap Dirgantara tenang, meski ekspresinya tetap sulit terbaca. “Kalau begitu siapkan modul untuk meeting sekarang, ya. Kita mulai meeting 30 menit lagi.”

“Baik, Pak.”

Dirgantara melangkah menjauh dan Sadya bisa bernapas dengan lega.

***

Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Sekretaris   Extra Part 3

    Usia bayi mereka genap satu bulan malam itu. Rumah terasa lebih hangat, bukan karena lampu-lampu yang menyala di setiap sudut, melainkan karena kehadiran makhluk kecil yang kini menjadi pusat semesta mereka.Sadya duduk di sofa dekat jendela, menggendong bayinya dengan kedua tangan yang penuh kehati-hatian. Tubuh mungil itu terlelap, napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan. Sadya menunduk, menatap wajah yang masih merah muda, dengan hidung kecil dan bibir yang sesekali bergerak seolah sedang bermimpi. Jemarinya menyentuh pipi lembut itu, nyaris tak berani, seakan takut mengusik tidur sang bayi.Sebulan lalu, rasa sakit, haru, dan takut bercampur jadi satu. Kini, semua itu terbayar dengan kehadiran Vanamala—Vala—yang berbaring damai dalam dekapannya.Langkah kaki terdengar dari arah kamar. Sadya mendongak ketika Dirgantara muncul. Lelaki itu sudah berpakaian rapi—kemeja gelap yang pas di tubuhnya, rambut disisir sederhana, dan aroma parfum yang samar. Ada sesuatu yang berbeda dar

  • Terjerat Pesona Sekretaris   Extra Part 2

    Ruang bersalin terasa lebih tenang dibanding ruang operasi, meski aroma obat dan suara alat medis masih samar terdengar. Sadya terbaring dengan tubuh sedikit miring, wajahnya pucat namun matanya terbuka. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan seperti membutuhkan tenaga lebih. Namun di dadanya, ada kehangatan kecil yang membuat semuanya terasa layak diperjuangkan.Bayi perempuan itu berada dalam dekapan Sadya. Masih mungil, kulitnya kemerahan, napasnya naik turun perlahan. Dengan bantuan perawat, Sadya menyusui untuk pertama kalinya. Gerakannya kaku, canggung, tapi nalurinya bekerja dengan sendirinya. Saat bayi itu mulai mengisap, air mata Sadya kembali jatuh—kali ini bukan karena takut, melainkan haru yang tak terdefinisikan.Dirgantara berdiri di sisi ranjang, satu tangannya bertumpu di pagar besi, matanya tak lepas dari pemandangan itu. Dadanya terasa penuh. Ia menyaksikan perempuan yang ia cintai, lemah secara fisik namun luar biasa kuat, memberi kehidupan pada anak mereka.“Kamu he

  • Terjerat Pesona Sekretaris   Extra Part 1

    Ruang meeting siang itu dipenuhi cahaya putih dan udara yang terasa dingin oleh pendingin ruangan. Di layar besar, salah satu staf tengah mempresentasikan proyek baru—grafik demi grafik berganti, suara penjelasan terdengar runtut dan penuh keyakinan. Dirgantara duduk di ujung meja panjang, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam menyimak setiap detail yang dijelaskan di depan sana.Sesekali ia mengangguk, sesekali mencatat poin penting di tablet di depannya. Wajahnya tenang, profesional, sepenuhnya mencerminkan seorang pemimpin yang terbiasa berada di bawah tekanan dan pengambilan keputusan besar.“Target kita adalah groundbreaking tiga bulan ke depan,” suara staf itu terdengar tegas. “Dengan catatan seluruh izin bisa kita amankan dalam dua minggu—”Belum sempat kalimat itu selesai, ponsel Dirgantara yang tergeletak di samping tabletnya bergetar. Getarannya singkat, tapi cukup menarik perhatiannya. Ia melirik layar sekilas—nama Nenek Marisa tertera di sana.Alis Dirgantara sedikit berkeru

  • Terjerat Pesona Sekretaris   102. Pengakuan Dirgantara

    Kamar itu dipenuhi cahaya sore yang lembut, masuk melalui jendela besar yang menghadap ke hamparan hijau Ubud. Tirai tipis berwarna krem bergoyang pelan tertiup angin, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di depan meja rias, Sadya duduk dengan punggung tegak, sementara Mira berdiri di belakangnya, sesekali memiringkan kepala, memastikan setiap detail riasan tampak sempurna.Gaun panjang berwarna hitam membalut tubuh Sadya. Potongannya sederhana namun elegan, jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun. Perutnya yang kini membola jelas terlihat—tanda kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Namun justru di situlah Sadya merasa paling ragu.Ia menatap bayangannya di cermin cukup lama. Tangannya refleks mengusap perutnya perlahan, lalu naik ke bagian pinggang dan lengan.“Aku kelihatan… gendut banget ya, Mir?” tanyanya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.Mira yang tadinya fokus memperhatikan ponsel lantas mengangkat kepala. Ia menatap Sadya lewat cermin, menangk

  • Terjerat Pesona Sekretaris   101. Menikmati Kebersamaan

    Pintu villa terbuka perlahan, disertai suara halus engsel kayu yang berat namun elegan. Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah—sunyi, sejuk, dan terasa sangat privat. Dunia di luar seolah tertinggal, digantikan oleh ketenangan yang sengaja diciptakan untuk membuat siapa pun bernapas lebih pelan.Villa itu berukuran besar, dengan langit-langit tinggi yang membuat ruang terasa lapang. Dinding-dindingnya didominasi warna hangat—krem, cokelat kayu, dan sentuhan batu alam yang dibiarkan tampil apa adanya. Cahaya matahari masuk dengan bebas melalui jendela kaca besar yang membentang hampir dari lantai hingga langit-langit.Sadya berhenti tepat di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling dengan takjub.“Mas…” ucapnya lirih.Di hadapan mereka, terbentang pemandangan yang membuat siapa pun ingin diam lebih lama. Jendela kaca lebar itu menghadap langsung ke sebuah private pool berbentuk memanjang, airnya berkilau memantulkan cahaya siang. Di balik kolam, hamparan persawahan hijau me

  • Terjerat Pesona Sekretaris   100. Babymoon

    Pagi itu Dirgantara dan Sadya baru saja keluar dari kamar. Suara roda koper bergesekan dengan lantai memecah keheningan saat mereka menuruni tangga, Dirgantara menarik koper besar, sementara tangan lainnya sesekali menahan Sadya yang berjalan pelan di sisinya.Sadya mengenakan dress longgar berwarna pastel, rambutnya diikat sederhana. Perutnya yang membulat membuat langkahnya lebih berhati-hati, dan Dirgantara tak pernah melepas jarak lebih dari setengah langkah darinya.Di ruang tengah, Nenek Marisa sudah duduk dengan buku di tangannya, kemudian menoleh.“Kalian mau berangkat sekarang?” tanya Nenek, menatap Sadya dengan mata penuh perhatian.“Iya, Nek,” jawab Sadya sambil tersenyum. “Aku sama Mas Dirga tinggal sebentar nggak apa-apa, kan?”Nenek Marisa mendekat, menggenggam tangan Sadya dengan lembut. “Jaga diri selama di sana. Jangan terlalu capek. Ingat, ada cicit Nenek di perut kamu.”Sadya mengangguk. “Iya, Nek.”Dirgantara kemudian menunduk sedikit, mencium tangan Nenek Marisa.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status