MasukSadya masih duduk tegak di depan layar komputernya. Matanya menatap fokus pada deretan angka dan data laporan yang harus ia rampungkan sebelum sore. Meskipun hari ini sebenarnya ia sudah mengajukan izin untuk pulang lebih awal, ia tetap ingin meninggalkan meja kerjanya dengan semuanya dalam keadaan selesai.
Suasana kantor menjelang siang itu masih cukup ramai. Suara ketikan keyboard dari beberapa rekan kerja terdengar samar bercampur dengan desiran pendingin ruangan. Tiba-tiba, ponsel Sadya yang terletak di samping laptopnya bergetar. Ia sempat berhenti mengetik dan menatap layar ponselnya. Nama yang muncul membuat hatinya sedikit menghangat. Tanpa ragu, ia menggeser layar dan mengangkat panggilan itu. “Halo, Mas,” ucap Sadya pelan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang agar tidak terlalu terdengar oleh rekan sekantor. “Sayang…” Suara di seberang terdengar lembut namun tergesa. “Aku mau kasih kabar dulu sebelum kamu sibuk. Sore ini aku harus berangkat ke Kalimantan. Ada proyek mendadak yang harus aku urus langsung.” Sadya mengernyit pelan. “Sore ini? Kok mendadak sekali, Mas?” “Iya, aku tahu. Sebenarnya baru dapat kepastian pagi tadi. Nggak bisa ditunda,” jawab Arnesh, terdengar sedikit menyesal. “Aku cuma takut kamu marah kalau aku nggak kabarin dulu.” Sadya menarik napas. “Aku nggak marah, cuma… kamu tahu kan, malam ini aku akan menginap di Rumah Tumbuh seperti biasa.” Nada suaranya berubah lebih lembut. “Aku tahu,” balas Arnesh. “Aku juga udah bilang sama Ibu kalau kamu bakalan nginep di sana. Aku akan selalu kabarin, tenang aja. Walaupun di Kalimantan, aku bakal coba tetap hubungi kamu kalau bisa.” “Jangan cuma kalau bisa, Mas,” potong Sadya. “Aku nggak minta banyak, cuma kabar singkat aja. Aku butuh tahu kamu baik-baik saja.” Hening sejenak sebelum Arnesh menjawab, “Aku janji.” Ada kelegaan kecil yang turun di dada Sadya. “Hati-hati di jalan, ya. Maaf, aku nggak bisa nyiapin baju-baju kamu.” “It’s okay, Sayang. Aku cuma tiga hari di sana, kok. Dan kamu… jaga diri kamu juga. Sampai nanti aku kabarin.” Panggilan berakhir, dan Sadya memandangi layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya sebelum kembali menyimpannya. Ia menghela napas pelan, merapikan berkas-berkas yang sudah selesai ia periksa, lalu berdiri. Hari ini, ia harus mengingatkan Dirgantara soal izinnya. Dan ada beberapa dokumen yang memang harus ia serahkan pada pria itu untuk ditandatangani. Sadya melangkah menuju ruang kerja Dirgantara. Langkahnya mantap meski ada kegugupan asing yang merayap, seperti biasa setiap kali memasuki ruangan bosnya yang terkenal dingin dan perfeksionis itu. Ia mengetuk pintu dua kali. “Masuk!” Suara berat itu terdengar tanpa emosi berarti. Sadya membuka pintu, melangkah masuk sambil membawa map berisi dokumen. Dirgantara tengah duduk dengan postur tegak di balik meja besar, menatap layar dengan ekspresi serius. “Pak, ini berkas untuk ditandatangani,” ucap Sadya pelan sambil mendekat. Ada keheningan yang sempat hadir diantara mereka. Sadya menarik napas pendek. “Sama… Bapak nggak lupa kan, kalau hari ini saya izin pulang lebih awal?” “Iya, saya tahu.” “Semua laporan hari ini sudah saya selesaikan. Jadwal Bapak juga sudah saya update di kalender, jadi Bapak bisa mengeceknya nanti.” Tanpa berkata-kata, Dirgantara mengambil map itu, membuka, dan membaca ringkas isi dokumen. Tangannya menandatangani tanpa banyak pertanyaan. Namun ketika Sadya hendak berbalik, suara lelaki itu menahan langkahnya. “Dy…” “Ya, Pak?” Dirgantara menatapnya tajam, bukan dengan kemarahan, tapi dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan. “Boleh saya tanya sesuatu?” katanya. Sadya mengangguk pelan. “Mau tanya apa, Pak?” “Saya bukan mau ikut campur,” Dirgantara berkata hati-hati namun tetap langsung pada intinya, “tapi kalau boleh tahu, kenapa kamu selalu izin pulang awal tepat di tanggal yang sama setiap satu bulan sekali?” Sadya menegang. Ia menunduk sebentar, lalu menjawab lembut, “Saya ada keperluan pribadi, Pak. Saya harus berkunjung ke panti asuhan. Saya biasanya menghabiskan waktu di sana bersama mereka sambil membawakan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan di sana.” “Hanya itu?” tanya Dirgantara lagi, suaranya tidak menuduh, tapi penuh observasi. Sadya mengangguk. Dirgantara bersandar di kursinya, memandangnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Kalau begitu, saya ikut.” Sadya terperangah. “I-ikut, Pak?” suaranya bergetar. “Iya.” Dirgantara berdiri, menutup map dan meletakkannya di atas meja. “Saya ingin pergi juga sama kamu.” Sadya spontan menggeleng. “Pak, saya rasa ini bukan—” “Saya ikut,” ulang Dirgantara, kali ini nadanya lebih tegas. “Tidak perlu alasan lain.” Sadya terdiam, membiarkan pikirannya bekerja cepat untuk menemukan alasan penolakannya. “Saya tidak ingin merepotkan Bapak.” “Kamu tidak merepotkan,” balas Dirgantara cepat. “Tapi—” Dirgantara tidak membiarkan Sadya menyelesaikan kalimatnya. Lelaki itu sudah mengenakan jasnya dan merapikan mejanya. Kemudian melangkah menghampiri perempuan itu. “Ayo, kita berangkat sekarang.” Sadya menyerah. “Baik, Pak,” ucapnya pelan. Keduanya berjalan menyusuri lorong yang tampak lengang. Beberapa staff yang berpapasan dengan mereka sesekali menyapa sembari tersenyum. Pun begitu dengan Sadya dan Dirgantara yang melakukan hal sama. Keduanya melangkah memasuki lift, suasana kembali hening. Begitu tiba di lobi, sopir pribadi Dirgantara sudah berdiri menyambut mereka. Sadya membiarkan Dirgantara masuk, namun. “Kamu duduk di belakang bareng sama saya, Dy.” “Ya, Pak?” “Duduk di belakang sama saya.” Sadya sempat bertatapan dengan Bejo—sopir pribadi Dirgantara, kemudian tanpa mengatakan apa-apa, perempuan itu melangkah menuju ke kursi belakang. Bersamaan dengan mobil itu melaju meninggalkan gedung perkantoran tersebut. Suasana sore itu datang bersama langit jingga yang perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Jalanan masih ramai, meski kesibukan mulai berganti ritme dari tergesa menjadi lelah. Lampu-lampu kendaraan menyala satu per satu, merangkai garis cahaya di sepanjang jalan yang macet tak kunjung reda. Di dalam mobil berwarna hitam yang melaju perlahan di antara antrean kendaraan, Sadya duduk dengan pandangan kosong menatap jendela. Suara hujan tipis mulai terdengar, membentuk pola-pola kecil di kaca. Ia menarik napas panjang, seperti mencoba menenangkan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa ia pahami. Jemarinya menggenggam tas di pangkuan, sementara pikirannya berjalan jauh. Dirgantara, yang duduk di samping Sadya, tampak tenang seperti biasanya. Tidak ada percakapan di antara mereka untuk beberapa menit, hanya suara AC dan radio yang diputar pelan—lagu lama yang seolah sengaja dipilih sore itu. Sesekali, lelaki itu melirik Sadya sekilas, lalu kembali menatap jalan di depannya yang padat. Lampu merah menahan mobil mereka tepat di samping trotoar yang dipenuhi pejalan kaki. Beberapa di antaranya terburu-buru, ada pula yang berjalan pelan sambil menggenggam payung. Sadya memiringkan kepalanya sedikit, memperhatikan pergerakan orang-orang itu. “Jakarta selalu terlihat berbeda saat hujan turun,” ucap Sadya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan. Dirgantara tidak langsung menjawab. Ia menunggu beberapa detik sebelum berkata, “Kamu selalu suka hujan.” Sadya menoleh, menatapnya. “Ba-bapak tahu dari mana?” Dirgantara mengangguk sekali tanpa menoleh. “Kamu selalu menghabiskan waktu di selasar kantor hanya untuk melihat hujan.” “Ba-Bapak memperhatikan saya? Maaf, Pak, bukan maksud saya mau lari dari tanggung jawab. Tapi—” “It’s okay, Dy. Lagipula sejauh ini pekerjaan kamu lancar, kok.” Dirgantara tersenyum kecil. Jenis senyum yang sangat jarang sekali diperlihatkan di depan semua orang. “Jadi kamu nggak usah khawatir.” Sadya tersenyum samar, tapi bukan senyum yang ringan. Ia kembali menatap keluar, memperhatikan bagaimana hujan menjadi semakin deras. Jakarta terlihat kabur melalui kaca mobil, lampu kota melebur menjadi titik-titik cahaya. Mobil kembali maju dengan kecepatan rendah. Aroma aspal basah memenuhi udara. Di kejauhan, suara sirine ambulans terdengar samar. Sadya memejamkan mata sejenak, membiarkan dirinya larut dalam ritme perjalanan yang pelan. Keduanya tidak banyak bicara setelah itu. Sadya hanya menghela napas pelan, menikmati pemandangan di luar sana. Mobil terus melaju, melewati deretan gedung bertingkat yang mulai menyalakan lampunya. Mobil yang mereka kendarai berhenti terlebih dahulu di sebuah toko buku. Sadya memilih beberapa buku anak, sementara Dirgantara hanya memperhatikan perempuan itu dalam diam. “Kamu sering melakukan ini?” tanyanya saat melihat Sadya membayar. “Melakukan… maksudnya beli buku-buku ini?” jawab Sadya. Dirgantara mengangguk. Dan Sadya kembali bersuara. “Beberapa anak yang tinggal di Rumah Tumbuh tidak mampu melanjutkan sekolahnya karena terbentur biaya. Tapi bukan berarti mereka nggak berhak mendapatkan pendidikan, kan? Dengan buku-buku ini mereka masih bisa belajar seperti anak-anak yang lainnya.” Setelahnya, mereka singgah di toko makanan kecil. Sadya membeli beberapa dus kue dan camilan, selain itu Sadya juga membeli kebutuhan pokok, seperti beras, minyak, gula, dan lain-lain. “Biar saya yang bayar,” ujar Dirgantara cepat. “Ta-tapi, Pak.” “Nggak apa-apa, Dy. Uang saya banyak, jadi kamu nggak usah khawatir.” Sadya tidak mengatakan apapun setelahnya. Membiarkan Dirgantara menyelesaikan pembayaran sebelum kemudian membawa semua barang-barang itu ke dalam mobil. Perjalanan menuju Rumah Tumbuh diisi keheningan. Mobil melaju melewati jalanan kota yang mulai ramai. Dirgantara sesekali mencuri pandang, melihat Sadya yang duduk dengan tenang namun berusaha menyembunyikan kegelisahan. “Kamu baik-baik saja?” akhirnya Dirgantara bertanya. “Kamu kelihatan gelisah sekali, Dy.” Sadya menoleh. “Kelihatan banget ya, Pak?” Perempuan itu meringis kecil. “Saya cuma… nggak terbiasa membawa orang dari luar.” “Kenapa?” “Karena… Rumah Tumbuh adalah tempat yang sangat pribadi bagi saya.” Gerbang panti asuhan ‘Rumah Tumbuh’ terbuka perlahan. Bangunan sederhana dengan taman kecil di depannya menyambut mereka. Begitu Sadya turun, beberapa anak kecil langsung berlari ke arahnya. “Mbak Diddy datang!” teriak salah satu anak. Sadya tersenyum, berjongkok, dan memeluk anak itu. “Kalian baik-baik saja?” tanyanya dengan hangat. Dirgantara berdiri agak jauh, memperhatikan. Seseorang menghampiri mereka, perempuan paruh baya dengan senyum tulus. “Dy…,” sapa perempuan itu. “Apa kabar, Sayang?” “Bunda Narnia.” Sadya berdiri dan memeluk perempuan itu sejenak. “Alhamdulillah baik, Bun. Bunda sendiri gimana? Sehat, kan?” “Alhamdulillah, seperti biasa. Ini…?” Bunda Narnia menoleh ke Dirgantara. Sadya menoleh cepat. “Ah iya, Bun. Ini Pak Dirgantara. Bos saya.” Dirgantara mengangguk sopan dan menjabat tangan Bunda Narnia. “Saya Dirgantara, Bu. Senang bertemu.” “Saya Bunda Narnia. Panggil Bunda saja, ya?” Bunda Narnia mengulas senyuman tipis. “Ini kali pertamanya Diddy bawa tamu, ya? Ayo masuk,” jawab Bunda Narnia ramah. Mereka berjalan masuk. Anak-anak mengerubungi Sadya. Dirgantara mengikuti dari belakang, tanpa banyak kata, hanya mengamati bagaimana Sadya bergerak di tempat itu dengan cara yang berbeda—lebih hangat, lebih hidup. “Bapak baik-baik saja, kan?” tanya Sadya saat mereka sudah duduk di ruang tamu. Kening Dirgantara mengernyit. “Kenapa memangnya?” “Saya khawatir kalau Bapak nggak nyaman.” “Saya nyaman, kok. Saya senang melihat anak kecil dan ya… mereka lucu dan menggemaskan.” Sadya tak lagi berkomentar. Tatapannya tertuju pada anak-anak yang tengah sibuk mewarnai, sebagian lagi terlihat tengah bermain. Sadya terdiam lama. Akhirnya ia bersuara. “Saya tumbuh dan dibesarkan di tempat ini, Pak.” Dirgantara menoleh cepat, namun tidak mengatakan apa-apa. “Seseorang meninggalkan saya tepat di depan pintu Rumah Tumbuh saat saya masih berusia beberapa bulan. Bunda Narnia yang membesarkan saya bersama anak-anak lainnya.” Suaranya pelan, namun jelas. “Terakhir kalinya saya mencari keberadaan orang tua saya, mereka bilang kalau orang tua saya sudah meninggalkan karena bunuh diri.” Untuk beberapa detik, tidak ada kata keluar dari mulut Dirgantara. Hanya tatapan yang tak lagi dingin. “Maaf, saya tidak tahu,” ucapnya akhirnya, dengan nada yang tak pernah Sadya dengar darinya sebelumnya. “Kebanyakan orang tidak tahu,” jawab Sadya sambil tersenyum kecil, kali ini tidak menyembunyikan lukanya. Sadya menunduk, berusaha menahan air mata yang menggenang. “Makanya saya tadi bilang sama Bapak. Tempat ini sangat pribadi bagi saya.” Angin sore berhembus pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak Sadya mengenalnya, Dirgantara tidak terlihat seperti lelaki yang sempurna dan tak tersentuh. Ia terlihat jauh lebih manusiawi. Dan mungkin… untuk pertama kalinya juga, Sadya merasa bahwa ia tidak perlu khawatir akan masa lalunya. *** Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya.Suasana malam perlahan turun, meninggalkan sisa-sisa cahaya senja di langit Jakarta yang kini mulai tertutup awan tipis. Lampu-lampu taman belakang sudah menyala, menerangi beberapa sudut dengan cahaya kekuningan yang hangat.Udara dingin menyapa pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Setelah makan malam, Dirgantara berjalan mengikuti langkah Bunda Narnia menuju taman belakang. Perempuan paruh baya itu menawarkan secangkir teh hangat yang sudah terhidang di meja rotan kecil.“Silakan diminum, Nak,” ujar Bunda Narnia lembut sambil tersenyum.Dirgantara hanya mengangguk, menarik kursi lalu duduk. Sementara dari dalam rumah terdengar sayup-sayup suara tawa kecil Sadya dan adik-adiknya yang tengah belajar di ruang tengah. Ada kehangatan yang terasa menyusup di dada Dirgantara, entah karena udara malam atau karena suasana rumah itu yang begitu berbeda dari rumah-rumah megah yang biasa ia datangi.“Pasti rasanya asing ya, Nak? Suasana ramai seperti ini pasti sangat jarang ditemui Na
Sadya masih duduk tegak di depan layar komputernya. Matanya menatap fokus pada deretan angka dan data laporan yang harus ia rampungkan sebelum sore. Meskipun hari ini sebenarnya ia sudah mengajukan izin untuk pulang lebih awal, ia tetap ingin meninggalkan meja kerjanya dengan semuanya dalam keadaan selesai.Suasana kantor menjelang siang itu masih cukup ramai. Suara ketikan keyboard dari beberapa rekan kerja terdengar samar bercampur dengan desiran pendingin ruangan. Tiba-tiba, ponsel Sadya yang terletak di samping laptopnya bergetar. Ia sempat berhenti mengetik dan menatap layar ponselnya. Nama yang muncul membuat hatinya sedikit menghangat.Tanpa ragu, ia menggeser layar dan mengangkat panggilan itu. “Halo, Mas,” ucap Sadya pelan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang agar tidak terlalu terdengar oleh rekan sekantor.“Sayang…” Suara di seberang terdengar lembut namun tergesa. “Aku mau kasih kabar dulu sebelum kamu sibuk. Sore ini aku harus berangkat ke Kalimantan. Ada proyek mendada
Sudah lewat dari pukul tujuh malam, sebagian besar lantai kantor sudah gelap dan sunyi. Lampu ruangan menyisakan cahaya dari beberapa meja yang masih menyala. Salah satunya meja kerja Sadya. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya fokus pada layar komputer meski kedua bola mata itu tampak lelah.Hari ini ada banyak laporan yang harus ia revisi sebelum dikirim ke Dirgantara esok pagi. Beberapa catatan tambahan dari meeting sore tadi juga harus diselaraskan dengan data terbaru. Sadya menghela napas berat, menekan pelipisnya bersamaan dengan pesan dari Arnesh muncul di layar.____________________________________Mas ArneshJadi lembur, Sayang? Aku jemput sekalian aja, ya. Aku dari kantor jam 8 nanti.___________________________________Setelah membalas pesan Arnesh, Sadya kembali menekuri pekerjaannya. Keningnya sempat mengernyit begitu membaca data di layar. Kemudian Sadya menyandarkan tubuh ke kursi, merasa otot punggungnya menegang. Ia memutuskan untuk berdiri dan melangkah
Dirgantara baru saja menyelesaikan meeting bersama para stakeholder proyek. Wajahnya serius, tubuhnya tegak. Dengan langkah lebar dan ekspresi tak banyak berubah, ia keluar dari ruang rapat menuju ruang kerjanya. Di belakangnya, ada Mira yang sejak tadi ikut dalam pembahasan karena proyek kali ini juga melibatkan perusahaan tempat Mira bekerja sebagai arsitek.Mira mengenakan blazer krem dengan rambut disanggul rapi. Wajahnya selalu terlihat ceria, berbanding terbalik dengan ekspresi Dirgantara yang dingin dan datar. Langkah mereka beriringan menyusuri koridor kaca lantai eksekutif.“Mas, aku mau tanya, deh,” ucap Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Dirgantara tidak menoleh, hanya sedikit memperlambat langkahnya. “Hm?”“Dya udah berapa lama kerja di sini?”Dirgantara sedikit mengernyit. Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi entah kenapa rasanya menusuk di pikirannya. “18 bulan kayaknya,” jawabnya. “Kenapa emangnya?”Mira mengangguk pelan. “Lumayan lama juga,” gumamnya pelan. “Selama in
Subuh belum sepenuhnya mengusir gelap saat Sadya memutuskan untuk turun ke dapur. Rumah masih sunyi, hanya bunyi detik jam dinding yang menemani langkahnya. Rambutnya masih setengah basah, wajahnya pucat karena kurang tidur. Namun seperti biasa, ia memulai harinya dengan rutinitas yang tidak pernah berubah, memasak untuk seluruh penghuni rumah.Sesampainya di dapur, Sadya membuka kulkas, mengecek bahan yang tersisa. Ia mulai memotong sayuran, menanak nasi, menyiapkan lauk untuk sarapan Arnesh, Annisa, Gilang—adik laki-laki Arnesh, dan Lolita—adik perempuan Arnesh. Lalu tak lupa ia juga membuat bekal untuk dirinya sendiri, bekal sederhana berisi ayam kecap dan tumis buncis, makanan yang bisa ia makan cepat di sela pekerjaan.Dapur dipenuhi aroma masakan, hangat namun membuat dada Sadya terasa lebih sesak. Terkadang ia bertanya-tanya, apakah ada yang sadar betapa lelahnya tubuh ini? Betapa ia ingin sekali bangun tanpa takut dimarahi, atau makan tanpa merasa diawasi?Setelah semuanya sel
“Aku harus lembur, Mas. Kamu sama Ibu makan duluan saja. Besok ada meeting investor, jadi aku harus menyelesaikan laporannya hari ini juga.”Sadya masih menatap layar komputernya yang sudah buram sejak setengah jam lalu. Angka-angka laporan bulanan di spreadsheet tak juga berpindah, padahal ia sudah menambahkan beberapa catatan tentang revisi anggaran. Kantor hampir kosong, hanya suara AC dan sesekali denting hujan yang menampar jendela kaca yang mengisi ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, Sadya tidak bergeming.Ia sengaja memperlambat pekerjaannya, sengaja tak segera pulang. Rumah yang semestinya menjadi ruang istirahat kini terasa seperti arena pertarungan batin. Setelah kalimat-kalimat tajam Annisa kemarin, Sadya merasa semua napasnya sesak. “Kalau memang nggak sanggup jadi istri yang bisa diandalkan, kenapa dulu kamu menikahi dia sih, Nesh?” Ucapan Annisa masih menggema di kepalanya, seakan diputar ulang tanpa henti.Sadya menunduk, menahan air mata yang h







