LOGINSudah lewat dari pukul tujuh malam, sebagian besar lantai kantor sudah gelap dan sunyi. Lampu ruangan menyisakan cahaya dari beberapa meja yang masih menyala. Salah satunya meja kerja Sadya. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya fokus pada layar komputer meski kedua bola mata itu tampak lelah.
Hari ini ada banyak laporan yang harus ia revisi sebelum dikirim ke Dirgantara esok pagi. Beberapa catatan tambahan dari meeting sore tadi juga harus diselaraskan dengan data terbaru. Sadya menghela napas berat, menekan pelipisnya bersamaan dengan pesan dari Arnesh muncul di layar. ____________________________________ Mas Arnesh Jadi lembur, Sayang? Aku jemput sekalian aja, ya. Aku dari kantor jam 8 nanti. ___________________________________ Setelah membalas pesan Arnesh, Sadya kembali menekuri pekerjaannya. Keningnya sempat mengernyit begitu membaca data di layar. Kemudian Sadya menyandarkan tubuh ke kursi, merasa otot punggungnya menegang. Ia memutuskan untuk berdiri dan melangkah menuju pantry. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya tetap sadar saat ini hanyalah kopi. Sesampainya di pantry, Sadya meraih cangkir. Ia mulai mengambil beberapa sendok kopi dan langsung menuangkan air panas. Perempuan itu menarik napas sembari menyandarkan punggungnya ke meja pantry. Ia sempat termenung, teringatkan dengan percakapan tadi siang. Suara seseorang yang mendorong pintu pantry membuat lamunan Sadya terbuyar. Perempuan itu menoleh, lalu tersentak begitu mendapati Dirgantara berdiri di ambang pintu sembari menatapnya. “Bapak?” Sasya menegakkan posisi berdirinya, terkejut dengan kehadiran Dirgantara di sana. Lelaki itu berdiri dengan setelan kerja yang masih sempurna. Jasnya sudah dilepas namun kemeja dan dasi masih rapi. Lalu, “Saya nyari kamu, ternyata kamu di sini.” “Ya? Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Sadya dengan cepat. “Kamu sudah makan?” Dirgantara melangkah masuk ke pantry dengan satu tangannya yang membawa sebuah paper bag. Lelaki itu langsung menarik kursi di pantry dan menaruh paper bag itu di atas meja. “Temani saya makan.” Sadya menelan ludah. “Ya, Pak?” “Kamu mau berdiri terus di situ, hm?” tanya Dirgantara tanpa ekspresi. “Duduk! Saya tadi minta sopir buat beliin makanan. Dan ternyata ada promo buy one get one. Makanya saya beli sekalian, buat kamu.” Sadya terdiam. Wajahnya bingung, tidak tahu harus berkata apa. Namun akhirnya ia menurut. Dirgantara duduk di kursi seberangnya, meletakkan sebuah kotak berisi nasi dengan lauk chicken teriyaki. “Laporan yang kamu kerjakan pasti banyak, ya. Besok-besok minta ke divisi untuk mengirimkan laporan tepat waktu. Agar kamu nggak lembur begini.” Sadya mengangguk sopan. “Iy-iya, Pak.” Sadya memperhatikan bagaimana Dirgantara mulai menikmati makanannya. Sementara perempuan itu tampak canggung. Dirgantara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Keheningan merambat. Sadya tidak tahu harus bicara apa. Apalagi setelah ia mendengar tentang apa yang terjadi dengan Dirgantara bersama tunangannya. “Makan, Dy. Kenapa melamun?” Sadya mengerjap. “Iya, Pak. Terima kasih.” Sadya tidak ingin membahas hal itu. Ia tahu batasannya sebagai sekretaris. Namun sekarang, duduk berdua di pantry kantor pada malam yang sunyi membuat topik itu menggantung seperti kabut. “Sudah malam,” ujar Sadya pelan sembari membuka botol air mineral. “Bapak tidak pulang?” “Saya masih ada kerjaan,” jawab Dirgantara singkat. Sadya diam lagi dan hanya mengangguk. Dan sekali lagi, hening menelan ruang. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Dirgantara berbicara. Suaranya masih tenang, tapi kali ini lebih rendah. “Pak—” “Dy…,” panggilnya. Sadya mengerjap-ngerjap lalu memalingkan wajah dengan cepat. “Ya, Pak?” “Kamu dulu. Kamu mau ngomong apa?” Sadya menggigit bibirnya bagian dalam, tampak bimbang. Namun, “Kalau Bapak khawatir saya akan membocorkan berita tentang Bapak dengan Bu Dhira, Bapak bisa percaya sama saya. Saya nggak akan membocorkan apapun tentang kehidupan Bapak.” Mendengar perkataan itu, Dirgantara sempat menghentikan gerakan mengunyahnya. Lelaki itu tersenyum kecil. “Saya percaya sama kamu, kok.” Sadya mendongak cepat. “Tenang saja. Saya bahkan sudah tahu tanpa kamu beritahu sekarang,” ujar Dirgantara sekali lagi. Sadya bisa bernapas dengan lega sekarang. Ia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Suasana kembali hening. “Kamu pasti punya banyak pertanyaan buat saya. Apalagi setelah mendengar kabar gagalnya pertunangan saya,” ujar Dirgantara setelah hening cukup lama. Sadya tidak mengatakan apa-apa. Walaupun ia sempat mencium perubahan yang terjadi. Sadya pernah beberapa kali bertemu dengan Dhira. Perempuan itu beberapa kali mampir ke kantor untuk menemui Dirgantara. Namun ia sama sekali tidak menaruh curiga setelah beberapa bulan terakhir, yang ternyata hubungan mereka telah berakhir. “Saya memang sudah selesai dengan Dhira,” ujar Dirgantara. Tidak ada nada emosional. Hanya pernyataan datar yang seolah sudah dipersiapkan. “Dia memilih untuk melanjutkan karirnya dan belum mau terikat dengan saya.” Sadya tidak berkomentar. Tidak berhak, karena sadar bahwa semua itu bukan kapasitasnya. Tapi entah kenapa, hatinya terasa berat mendengar kalimat itu. “Bukankah selama ini Bapak mendukung karirnya Bu Dhira, Pak?” Dirgantara tersenyum kecut. Sadya tahu sekali bagaimana Dirgantara begitu mencintai Dhira dan mendukung semua hal yang berhubungan dengan perempuan itu. “Dia pergi begitu saja bahkan sebelum saya bicara dan meyakinkan dia.” Dirgantara tersenyum. “Cincin yang pernah saya berikan ke dia ditinggalkan begitu saya di apartemen dan ya… sampai sekarang saya nggak bisa menghubunginya.” Sadya menatapnya perlahan. Dirgantara sedang tidak berbicara sebagai atasan. Nada suaranya berbeda dan lelaki itu terlihat jauh lebih manusiawi. “Bapak pasti kecewa sekali.” Dirgantara menatap meja, bukan Sadya. “Kekecewaan bukan hal baru bagi saya, Dy.” Sadya diam. Dan Dirgantara melanjutkan kalimatnya. “Orang tua saya meninggal dan semua orang di keluarga saya menyalahkan saya atas kepergian mereka. Terutama Kakek saya. Bahkan saat Kakek mengembuskan napas terakhirnya, dia sama sekali nggak mau melihat wajah saya.” Kalimat itu berhasil membuat Sadya membeku. Dirgantara mengambil napas perlahan, lalu bersandar sedikit di kursi. “Saya adalah anak tunggal dan cucu yang paling disayang sama keluarga Abisatya. Tapi semuanya berubah setelah kecelakaan itu. Saat kecelakaan terjadi, saya satu-satunya yang selamat di mobil. Kata mereka, kalau saja saya tidak memaksa mereka untuk menjemput saya waktu itu, mungkin semua tidak akan terjadi.” Sadya menggenggam botol airnya kuat-kuat. Kata-kata itu terlalu kejam. “Saat itu saya baru lima belas tahun,” tambah Dirgantara. “Namun sampai sekarang, beberapa dari mereka masih melihat saya sebagai penyebabnya.” Sadya menggeleng perlahan. “Maaf, Pak. Tapi itu tidak adil buat Bapak.” Dirgantara menatapnya. Ada kesan lelah yang dalam di matanya. “Orang tidak selalu adil.” Sadya menunduk. “Hanya satu orang yang masih peduli dengan saya,” lanjutnya. “Nenek saya.” “Oh…” Sadya mengangguk perlahan. Ia pernah bertemu dengan Marisa beberapa kali. Marisa sering menelepon Dirgantara, dan Dirgantara selalu menyempatkan waktu mengangkat teleponnya, bahkan saat meeting. “Itulah kenapa…” Dirgantara berhenti sejenak untuk menarik napas. “…saya tidak ingin mengecewakannya. Bertunangan dengan Dhira adalah keinginannya, sebagian besar. Saya harus segera menikah karena ini demi kebaikan saya.” Sadya merasa sedikit sesak. “Seharusnya Bu Dhira bicara jujur sama Bapak. Padahal saya sangat yakin sekali kalau Bapak pasti akan mendukung keputusan apapun yang akan diambil Bu Dhira.” “Mungkin karena… dia memang tidak ditakdirkan untuk saya?” Dirgantara tersenyum kecil. Kembali mengunyah makanannya. Namun seperti ada yang masih tertahan di tenggorokannya, lelaki itu kembali mendongak dan bersuara. “Barangkali kamu mengkhawatirkan saya… saya baik-baik saja, Dy. Saya sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Dhira di dalam hidup saya.” Sadya merasakan dadanya menghangat oleh emosi. Bukan karena kasihan, tapi karena rasa kagum. Dirgantara tidak pernah sekalipun menunjukkan kelemahannya di depan orang lain. Tidak pernah mengeluh, meski setiap hari ia harus menghadapi banyak masalah yang menghantamnya. Setelahnya, tidak ada kata-kata selama beberapa menit. Hanya suara jam dinding dan dengungan pendingin ruangan yang terdengar. “Saya tidak tahu harus bilang apa,” ucap Sadya akhirnya, jujur. “Tapi… terima kasih karena Bapak sudah mau berbagi dengan saya.” Dirgantara menatap Sadya. Sekilas ada ekspresi yang sulit dipahami—percampuran heran dan lega. “Makasih karena sudah mau mendengarkan saya,” ujar Dirgantara. “Tapi sekarang sudah malam. Sepertinya kita harus pulang sekarang.” “Ah iya, Pak.” Mereka meninggalkan pantry, dan Sadya berjalan menuju kerjanya. Setelah merapikan berkas-berkas yang sempat berserakan di atas meja, perempuan itu meninggalkan ruangan dan bergerak menuju lift. Bersamaan dengan Dirgantara yang ikut melangkah masuk. Sesaat hanya ada keheningan. Keduanya sama-sama diam tanpa sepatah katapun. Lalu tak lama setelahnya, suara denting lift membuat keduanya tersadar dari keterdiamannya. Pintu lift terbuka, Sadya dan Dirgantara melangkah keluar dari lift menuju lobi kantor yang sudah mulai sepi. Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Tak terasa malam sudah cukup larut. Lampu-lampu gedung yang temaram membuat bayangan mereka memanjang di lantai marmer. Mereka berjalan berdampingan tanpa banyak bicara, hanya suara langkah kaki yang terdengar jelas di antara sunyi. Sesampainya di depan pintu lobi, Dirgantara menghentikan langkahnya terlebih dahulu. Ia menoleh pada Sadya yang sibuk memegang ponsel. “Dy…,” Sadya menoleh cepat. “Sudah malam, bahaya kalau kamu pulang sendirian. Kalau kamu nggak keberatan saya bisa antar pulang.” Sadya tersenyum sopan, meski dalam hati sedikit rikuh. “Terima kasih, Pak. Tapi saya dijemput sama suami.” Dirgantara mengangguk kecil. Seakan mengerti bahwa tawarannya tidak bisa diterima lebih jauh. Lalu, “Ini…” Kening Sadya mengernyit. “Apa ini, Pak?” “Tadi saya sempat beli coklat buat Mira. Kayaknya kebanyakan. Jadi… ya, sisanya buat kamu saja. Saya nggak suka manis soalnya.” Sadya sempat tertegun, namun akhirnya menerima coklat itu. “Terima kasih, Pak. Saya—” Belum sempat Sadya melanjutkan, suara langkah mendekat disusul panggilan berat dari arah pintu masuk sudah lebih dulu terdengar. “Sayang…” Sadya menoleh dan mendapati Arnesh berdiri di depan, tangannya menyelip di saku celana, tatapannya tak lepas dari Dirgantara. Sadya buru-buru berpamitan. “Saya pamit dulu, Pak. Sekali lagi terima kasih.” Dirgantara hanya mengangguk datar. “Hati-hati di jalan.” Sadya berjalan menghampiri Arnesh. Baru beberapa langkah menjauh dari lobi, suaminya bersuara pelan namun tajam, “Sejak kapan kamu dekat dengan atasan kamu?” Sadya menoleh heran. “Aku kan sekretarisnya, Mas. Wajar kalau aku dekat sama dia, kan?” Arnesh belum terlihat puas. Matanya turun melirik paper bag di tangan Sadya. “Dia kasih apa barusan?” Sadya ikut menunduk, “Oh ini…, coklat, Mas. Katanya dia beli kebanyakan buat sepupunya, makanya sisanya dikasih ke aku.” Arnesh tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Namun dilihat dari tatapannya, Sadya tahu bahwa suaminya sedang cemburu. *** Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya.Suasana malam perlahan turun, meninggalkan sisa-sisa cahaya senja di langit Jakarta yang kini mulai tertutup awan tipis. Lampu-lampu taman belakang sudah menyala, menerangi beberapa sudut dengan cahaya kekuningan yang hangat.Udara dingin menyapa pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Setelah makan malam, Dirgantara berjalan mengikuti langkah Bunda Narnia menuju taman belakang. Perempuan paruh baya itu menawarkan secangkir teh hangat yang sudah terhidang di meja rotan kecil.“Silakan diminum, Nak,” ujar Bunda Narnia lembut sambil tersenyum.Dirgantara hanya mengangguk, menarik kursi lalu duduk. Sementara dari dalam rumah terdengar sayup-sayup suara tawa kecil Sadya dan adik-adiknya yang tengah belajar di ruang tengah. Ada kehangatan yang terasa menyusup di dada Dirgantara, entah karena udara malam atau karena suasana rumah itu yang begitu berbeda dari rumah-rumah megah yang biasa ia datangi.“Pasti rasanya asing ya, Nak? Suasana ramai seperti ini pasti sangat jarang ditemui Na
Sadya masih duduk tegak di depan layar komputernya. Matanya menatap fokus pada deretan angka dan data laporan yang harus ia rampungkan sebelum sore. Meskipun hari ini sebenarnya ia sudah mengajukan izin untuk pulang lebih awal, ia tetap ingin meninggalkan meja kerjanya dengan semuanya dalam keadaan selesai.Suasana kantor menjelang siang itu masih cukup ramai. Suara ketikan keyboard dari beberapa rekan kerja terdengar samar bercampur dengan desiran pendingin ruangan. Tiba-tiba, ponsel Sadya yang terletak di samping laptopnya bergetar. Ia sempat berhenti mengetik dan menatap layar ponselnya. Nama yang muncul membuat hatinya sedikit menghangat.Tanpa ragu, ia menggeser layar dan mengangkat panggilan itu. “Halo, Mas,” ucap Sadya pelan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang agar tidak terlalu terdengar oleh rekan sekantor.“Sayang…” Suara di seberang terdengar lembut namun tergesa. “Aku mau kasih kabar dulu sebelum kamu sibuk. Sore ini aku harus berangkat ke Kalimantan. Ada proyek mendada
Sudah lewat dari pukul tujuh malam, sebagian besar lantai kantor sudah gelap dan sunyi. Lampu ruangan menyisakan cahaya dari beberapa meja yang masih menyala. Salah satunya meja kerja Sadya. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya fokus pada layar komputer meski kedua bola mata itu tampak lelah.Hari ini ada banyak laporan yang harus ia revisi sebelum dikirim ke Dirgantara esok pagi. Beberapa catatan tambahan dari meeting sore tadi juga harus diselaraskan dengan data terbaru. Sadya menghela napas berat, menekan pelipisnya bersamaan dengan pesan dari Arnesh muncul di layar.____________________________________Mas ArneshJadi lembur, Sayang? Aku jemput sekalian aja, ya. Aku dari kantor jam 8 nanti.___________________________________Setelah membalas pesan Arnesh, Sadya kembali menekuri pekerjaannya. Keningnya sempat mengernyit begitu membaca data di layar. Kemudian Sadya menyandarkan tubuh ke kursi, merasa otot punggungnya menegang. Ia memutuskan untuk berdiri dan melangkah
Dirgantara baru saja menyelesaikan meeting bersama para stakeholder proyek. Wajahnya serius, tubuhnya tegak. Dengan langkah lebar dan ekspresi tak banyak berubah, ia keluar dari ruang rapat menuju ruang kerjanya. Di belakangnya, ada Mira yang sejak tadi ikut dalam pembahasan karena proyek kali ini juga melibatkan perusahaan tempat Mira bekerja sebagai arsitek.Mira mengenakan blazer krem dengan rambut disanggul rapi. Wajahnya selalu terlihat ceria, berbanding terbalik dengan ekspresi Dirgantara yang dingin dan datar. Langkah mereka beriringan menyusuri koridor kaca lantai eksekutif.“Mas, aku mau tanya, deh,” ucap Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Dirgantara tidak menoleh, hanya sedikit memperlambat langkahnya. “Hm?”“Dya udah berapa lama kerja di sini?”Dirgantara sedikit mengernyit. Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi entah kenapa rasanya menusuk di pikirannya. “18 bulan kayaknya,” jawabnya. “Kenapa emangnya?”Mira mengangguk pelan. “Lumayan lama juga,” gumamnya pelan. “Selama in
Subuh belum sepenuhnya mengusir gelap saat Sadya memutuskan untuk turun ke dapur. Rumah masih sunyi, hanya bunyi detik jam dinding yang menemani langkahnya. Rambutnya masih setengah basah, wajahnya pucat karena kurang tidur. Namun seperti biasa, ia memulai harinya dengan rutinitas yang tidak pernah berubah, memasak untuk seluruh penghuni rumah.Sesampainya di dapur, Sadya membuka kulkas, mengecek bahan yang tersisa. Ia mulai memotong sayuran, menanak nasi, menyiapkan lauk untuk sarapan Arnesh, Annisa, Gilang—adik laki-laki Arnesh, dan Lolita—adik perempuan Arnesh. Lalu tak lupa ia juga membuat bekal untuk dirinya sendiri, bekal sederhana berisi ayam kecap dan tumis buncis, makanan yang bisa ia makan cepat di sela pekerjaan.Dapur dipenuhi aroma masakan, hangat namun membuat dada Sadya terasa lebih sesak. Terkadang ia bertanya-tanya, apakah ada yang sadar betapa lelahnya tubuh ini? Betapa ia ingin sekali bangun tanpa takut dimarahi, atau makan tanpa merasa diawasi?Setelah semuanya sel
“Aku harus lembur, Mas. Kamu sama Ibu makan duluan saja. Besok ada meeting investor, jadi aku harus menyelesaikan laporannya hari ini juga.”Sadya masih menatap layar komputernya yang sudah buram sejak setengah jam lalu. Angka-angka laporan bulanan di spreadsheet tak juga berpindah, padahal ia sudah menambahkan beberapa catatan tentang revisi anggaran. Kantor hampir kosong, hanya suara AC dan sesekali denting hujan yang menampar jendela kaca yang mengisi ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, Sadya tidak bergeming.Ia sengaja memperlambat pekerjaannya, sengaja tak segera pulang. Rumah yang semestinya menjadi ruang istirahat kini terasa seperti arena pertarungan batin. Setelah kalimat-kalimat tajam Annisa kemarin, Sadya merasa semua napasnya sesak. “Kalau memang nggak sanggup jadi istri yang bisa diandalkan, kenapa dulu kamu menikahi dia sih, Nesh?” Ucapan Annisa masih menggema di kepalanya, seakan diputar ulang tanpa henti.Sadya menunduk, menahan air mata yang h







