LOGIN"Tumben sekali bro menelepon di jam sibuk. Ada gedung saingan yang mau gue ratakan dengan tanah?"Sudut bibir Rasya berkedut samar mendengar pertanyaan itu. Damar Aritama. Sahabat masa kecil sekaligus partner bisnisnya, dia adalah penguasa takhta industri konstruksi dan arsitek paling andal di Asia. "Gue butuh bantuan lo, Damar," ucap Rasya to the point. "Raka baru aja menggerebek sebuah rumah di kawasan elite Jakarta Utara." "Dan lo mau gue apain rumah itu?" kekeh Damar di seberang sana. "Gue udah kirim alamat dan salinan dokumen rumah itu ke server pribadi lo," Rasya mengabaikan candaan sahabatnya, nadanya berubah serius. "Target gue berhasil meloloskan diri, Damar. Dia sangat licik. Gue butuh lo membedah struktur rumah itu sampai ke akar fondasinya. Temukan di mana bajingan itu bisa menyimpan aset, atau... menyembunyikan dirinya sendiri." Terdengar helaan napas dari Damar. Suara ayunan tongkat golf berhenti sepenuhnya. "Beri gu
Semburat merah sunrise mulai merekah di ufuk timur ibu kota, mengusir kepekatan malam. Namun, cahaya pagi itu tak mampu menembus aura gelap yang menyelimuti ruang kerja Raka di lantai teratas Aetherion Tower.Asisten kepercayaan Rasya Pradana itu berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap lanskap kota Jakarta yang mulai terbangun dari balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya masih rapi, namun sorot matanya memancarkan kelelahan dan ketegangan. Raka sama sekali belum memejamkan mata sejak semalam.Suara ketukan pelan terdengar sebelum pintu ruangan terbuka. Dean melangkah masuk dengan raut wajah kaku dan kepala sedikit menunduk."Laporan," tuntut Raka tanpa repot-repot membalikkan badannya."Nihil, Pak," jawab Dean berat, menahan napas sejenak sebelum melanjutkan kabar buruk itu. "Mereka sudah menyisir seluruh sudut kota semalaman suntuk. Tapi target seolah menguap ke udara."Raka akhirnya berbalik. Alisnya menuki
Waktu di Paris menunjukkan pukul lima sore. Rasya sedang berada di ruang kerjanya, sementara di kamar utama yang terletak tak jauh dari sana, Aurora tengah terlelap damai setelah terkuras emosinya siang tadi. Rasya berdiri menghadap jendela kaca, menatap langit sore Paris dengan segelas French Bloom di tangan kirinya. Pikirannya masih dipenuhi oleh janji berat yang baru saja ia buat kepada Aurora. Getaran pelan dari ponsel di atas meja kerja memecah keheningan. Rasya meletakkan gelasnya dan meraih ponsel itu. Sesuai dugaannya, panggilan berasal dari asisten kepercayaannya. Di belahan bumi lain, langit Jakarta sudah diselimuti kepekatan malam. Rasya menekan tombol terima dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. "Ya, Raka." "Selamat sore, Pak," sapa Raka dari seberang telepon. Suaranya terdengar jernih, membawa aura kemenangan yang dingin. "Insting Bapak sama sekali tidak meleset. Leonil sudah buka suara. Dalang di balik penyerangan Nyonya Aurora di Paris memang Dio Anggara.
Akhirnya, dua mobil SUV itu meninggalkan area perumahan.Di kursi belakang, Raka duduk bersandar dengan mata terpejam, membiarkan deru mesin mobil sedikit meredakan ketegangan di pelipisnya. Otaknya sedang bekerja keras menyusun langkah antisipasi dari sayembara yang baru saja ia sebar ke seluruh dunia bawah tanah Jakarta.Namun, keheningan di dalam kabin mobil itu tak bertahan lama.Terdengar bunyi dengung statis dari earpiece di telinga kanan Raka. Detik berikutnya, sebuah rintihan putus asa dan jeritan parau yang diiringi gemelutuk gigi menusuk tajam pendengarannya."B-bunuh saja aku! T-tembak kepalaku sekarang, keparat! Tapi hentikan rasa dingin ini! HENTIKAN!" Mata Raka terbuka seketika. Ia mendengarkan raungan putus asa itu dengan wajah tanpa ekspresi. Di seberang saluran, napas Leonil terdengar begitu putus-putus, seolah paru-parunya mulai membeku dari dalam."Aku menyerah! K-keluarkan aku dari lemari es ini! Aku akan bic
Langit malam Jakarta memayungi konvoi dua SUV antipeluru berwarna hitam pekat yang bergerak tanpa suara. Kendaraan itu menepi tepat di depan sebuah hunian mewah bergaya Eropa klasik di salah satu kawasan perumahan elit ibu kota.Namun, kontras dengan jejeran rumah tetangganya yang benderang dan asri, rumah tiga lantai di hadapan mereka tampak suram bak nisan raksasa.Lampu tamannya mati total. Cat pilar-pilarnya mulai kusam, dan rumput di pekarangan tumbuh liar tak tersentuh mesin pemotong. Di pagar besi yang menjulang tinggi, tergantung sebuah plang bertuliskan: DIJUAL. Hubungi Agen.Raka melangkah turun dari SUV, menatap nanar ke arah bangunan mati tersebut. Earpiece-nya berdengung pelan."Perimeter luar aman, Pak Raka," lapor Dean dari sisi lain pagar. "Tidak ada pergerakan, tidak ada cahaya dari dalam. Kamera termal tidak mendeteksi anomali suhu. Semuanya senyap.""Masuk. Sisir setiap sudut," perintah Raka dengan nada datar.Enam algojo Aetherion bersenjata lengkap melompati pagar
Rasya mengerjap. Pria itu mengulum bibir sejenak, lalu menoel puncak hidung Aurora untuk menutupi rasa salah tingkahnya. "Aku tidak menyelidiki, Baby. Aku hanya mencari tahu," ralat Rasya dengan gengsinya yang khas. "Lagi pula, dulu yang aku fokuskan itu hanya kamu, segala yang terjadi sama kamu sebelum bertemu denganku. Pokoknya semua tentang kamu. Aku sama sekali tidak tertarik membuang waktu menguliti kehidupan pribadi bajingan itu. Kalaupun iya, itu hanya sebatas rekam jejak bisnis dan kiprahnya di dunia profesional." Aurora mendengus geli mendengarnya. Pembelaan diri suaminya terdengar begitu arogan sekaligus manis di saat yang bersamaan. Namun, senyum di bibir Aurora perlahan memudar saat pikirannya mulai menerawang jauh, menggali kepingan memori usang bertahun-tahun silam. "Setelah diingat-ingat, aku rasa aku tidak terlalu banyak tahu tentang latar belakang kehidupan Dio, Mas," suara Aurora terdengar lebih pelan, seo







