LOGINPagi itu, suasana di kamar utama terasa seperti ruang rawat VVIP. Setelah dua minggu bed rest total yang terasa seperti seumur hidup, hari penentuan itu akhirnya tiba.Dokter Emily bersama asisten dokter dan satu perawat, datang untuk melakukan evaluasi akhir. Ini adalah kunjungan ketiga sang dokter ke kediaman sementara mereka untuk mengganti perban dan memantau perkembangan janin. Di atas ranjang, Aurora berbaring dengan gaun tidur sutra yang tersingkap di bagian perut. Di sisi kirinya, Rasya berdiri tegak bak komandan militer, sementara di sofa tak jauh dari ranjang, Bunda Martha dan Mama Miranda duduk mengawasi jalannya pemeriksaan."Bagaimana, Dok?" tanya Rasya, terlihat tak sabaran."Luar biasa, Monsieur," ucap Dokter Emily sambil tersenyum puas menatap layar monitor USG portabelnya. "Detak jantung petarung kecil sangat kuat dan stabil. Lukanya juga mengering dengan sempurna tanpa ada tanda infeksi sejak kunjungan terakhir saya. Ibu dan janin benar-benar dalam kondisi prima."
Tawa rendah mengalun dari bibir Rasya melihat istrinya yang tampak kebingungan bagai detektif yang kehilangan jejak. Rasya menarik lengan Aurora dengan lembut, memaksa istrinya kembali berbaring di pelukannya. "Itu adalah fakta yang dipelintir, Baby," jawab Rasya santai, jemarinya mengusap lembut lengan Aurora. "Yang tewas dalam kecelakaan itu memang ayahnya Dio, tapi perempuan yang tewas bersamanya bukanlah ibu kandung Dio. Itu adalah ibu tirinya yang tak lain adalah mantan istri Ferdi yang berselingkuh itu. Mereka kecelakaan hanya satu bulan setelah menikah." Aurora mengerjap, menatap rahang tegas suaminya dari bawah. " Lalu... ibu kandung Dio ada di mana sekarang?" "Di sebuah shelter perawatan mental," ungkap Rasya tenang, seolah sedang menceritakan kisah dongeng yang tragis. "Pengkhianatan berlapis dari suami dan kakak iparnya sendiri membuat adik Ferdi itu kehilangan kewarasannya. Dan tebak siapa yang selama bertahun-tahun ini diam-d
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi klik dari kuncinya terdengar, pertahanan Aurora runtuh sepenuhnya. Alih-alih melangkah menuju ranjang untuk beristirahat seperti yang diperintahkan para ibu, Aurora justru langsung memutar tubuhnya menghadap Rasya. Tanpa permisi, kedua tangan mungilnya terulur, menangkup rahang tegas suaminya. "Mas, coba aku lihat," gumam Aurora cepat, matanya bergerak waspada meneliti setiap inci wajah Rasya. Rasya hanya diam tak berkutik. Ia membiarkan istrinya memutar wajahnya ke kiri dan ke kanan. Tidak berhenti di situ, tangan Aurora turun ke kerah jas navy Rasya. Dengan gerakan agak terburu-buru, ia menyingkap jas mahal itu hingga terongok begitu saja di lantai. Ia meraba dada, bahu, hingga turun ke sepanjang lengan suaminya. Matanya memindai dengan saksama kemeja putih Rasya, mencari apakah ada bercak darah, lebam, robekan, atau tanda-tanda kekerasan fisik apa pun yang mungk
Siang yang tegang kini telah berganti menjadi sore yang terasa luar biasa panjang. Di ruang tamu hôtel particulier, suasana terasa pekat oleh kecemasan. Sejak kepergian Rasya, Bunda Martha telah menyita ponsel Aurora dan dengan tegas melarang siapa pun menyalakan televisi. Wanita paruh baya itu tidak ingin Aurora terpapar berita miring yang bisa membebani pikiran dan memengaruhi kondisi kandungannya. Martha sendiri duduk di sofa single, ibu jarinya tak henti-hentinya menekan tombol tasbih digital kecil yang melingkar di telunjuknya, diiringi bibir yang terus bergerak merapal doa lirih. Sementara itu, Miranda berdiri di dekat jendela kaca riben, mengawasi gerbang depan yang sudah bersih dari wartawan serta paparazzi. Aurora yang duduk memeluk bantal sofa akhirnya tak tahan lagi. Ia menatap bundanya dengan raut wajah memohon. "Bunda..." panggil Aurora pelan, suaranya bergetar menahan cemas. "Sudah hampir empat
Ferdi mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata kehancuran, menatap Rasya dengan tatapan nanar. "A-apa lagi yang kamu inginkan?"Rasya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Ferdi lurus-lurus."Kalian ingin tahu dari mana aku mendapatkan video jernih itu, bukan?" tanya Rasya, nadanya merendah menjadi bisikan yang mematikan."Aku mendapatkannya dari keponakan kandungmu, Ferdi. Dari Dio."Darah Ferdi seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rongga dadanya dengan keras. "Dio...?""Ya. Dio," lanjut Rasya, memastikan setiap kata terucap dengan jelas. "Kisah keluargamu benar-benar menggelikan, Ferdi. Kau rela membesarkan Leonil, anak haram dari pria yang telah menghancurkan kewarasan adik kandungmu sendiri, sementara keponakanmu menyimpan dendam kesumat dari balik bayang-bayang."Suara Rasya berhenti mengalun, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih mencekik.Ferdi bersi
Keterkejutan di wajah Helene hanya bertahan selama beberapa detik.Wanita itu bangkit berdiri, menatap Rasya dengan dada naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak. Kelembutan yang selalu ia tampilkan, kini habis tak bersisa."Beraninya kamu menerobos masuk ke rumahku seperti preman jalanan?!" teriak Helene, suaranya melengking memenuhi ruang tamu. Ia menoleh pada suaminya. "Ferdi! Panggil keamanan utama! Hubungi polisi sekarang juga!"Ferdi baru saja meraih gagang telepon rumah dengan tangan gemetar, namun suara kokangan senjata dari salah satu anak buah Rasya yang berdiri di dekatnya membuat pria paruh baya itu kembali membeku di tempat.Rasya sama sekali tidak terganggu oleh teriakan Helene. Dengan gerakan yang teramat santai dan elegan, ia melangkah maju, melepaskan kancing jasnya, lalu duduk di sofa single tepat di hadapan Helene, mengambil alih posisi tuan rumah secara mutlak."Simpan tenagamu, Helene. Berteriak hanya akan membuat
Di kediaman keluarga Adyasan, sebuah Manor House bergaya Eropa klasik yang megah, suasana pagi itu terasa sangat kontras.Di ruang tamu yang didominasi pilar marmer putih dan lampu gantung kristal raksasa, Helene Adyasan duduk menyilangkan kaki dengan anggun di atas sofa velvet berwarn
Mobil sedan hitam yang membawa Rasya membelah jalanan Paris dengan pengawalan ketat, berhenti tepat di depan gedung Markas Besar Kepolisian distrik. Kerumunan wartawan yang mengikuti mereka sejak dari Le Marais kembali beringas, memotret setiap pergerakan sang CEO yang dituduh sebagai kriminal.
Di saat yang bersamaan, di teras ruang kerja, Rasya masih memegang ponsel di telinga, mendengarkan suara berat Darmawan Pradana dari ujung sambungan lintas benua."Tenang saja, Pa. Aku akan ingat itu," ucap Rasya dengan nada rendah dan penuh hormat. "Aku akan segera membereskan semuanya.
Aurora berdiri di ambang pintu. Wanita itu sudah mengganti piyamanya dengan dress rajut panjang yang nyaman, menatap lurus ke arah suaminya. Melihat Aurora berdiri di sana, kerutan tajam langsung terbentuk di kening Rasya. Ia memundurkan kursi, dan beranjak dari sana dalam hi







