Share

187.

Author: Bintangjatuh
last update publish date: 2026-04-03 21:00:44

Jauh dari teror yang memporak-porandakan kediaman Adyasan, suasana di hôtel particulier justru terasa seperti surga kecil yang damai.

Aurora duduk bersandar di sofa yang dipenuhi bantal empuk. Ia mengusap perut ratanya perlahan, mengulas senyum tipis melihat pemandangan di hadapannya.

Di seberang meja kaca yang dipenuhi suguhan teh hangat dan butter croissant, Mama Miranda dan Bunda Martha tampak begitu sibuk. Dua wanita paruh baya itu sedang asyik menggulir layar tablet yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   187.

    Jauh dari teror yang memporak-porandakan kediaman Adyasan, suasana di hôtel particulier justru terasa seperti surga kecil yang damai.Aurora duduk bersandar di sofa yang dipenuhi bantal empuk. Ia mengusap perut ratanya perlahan, mengulas senyum tipis melihat pemandangan di hadapannya.Di seberang meja kaca yang dipenuhi suguhan teh hangat dan butter croissant, Mama Miranda dan Bunda Martha tampak begitu sibuk. Dua wanita paruh baya itu sedang asyik menggulir layar tablet yang menampilkan katalog perlengkapan bayi dari butik eksklusif di Champs-Élysées."Miranda, warna nude atau baby pink ini manis sekali ya kalau ternyata perempuan. Bahannya juga organik super lembut," tunjuk Martha antusias.Miranda mengangguk setuju dengan mata berbinar. "Iya, Martha. Tapi kita juga harus siapkan warna navy atau abu-abu muda jaga-jaga kalau dia laki-laki. Ah, biarkan saja aku akan memborong semuanya nanti."Mendengar obrolan hangat itu, hati Aurora berd

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   186.

    Aroma espresso pekat dan gemeresik halaman surat kabar yang dibalik dengan santai benar-benar menguji batas kewarasan Helene Adyasan. ​Di saat wanita paruh baya bermantel sutra itu sudah mondar-mandir dengan napas memburu dan raut wajah tegang, suaminya justru duduk bersandar di atas sofa Chesterfield seolah dunia sedang baik-baik saja. "Masih belum ada kabar dari Leonil, Ferdi?" tanyanya dengan nada suara yang bergetar menahan cemas. Ferdi membalik halaman surat kabar bisnis di tangannya tanpa sedikit pun mengangkat wajah. "Kamu terlalu berlebihan, Helene. Anak itu hanya sedang mencari udara segar," jawab Ferdi acuh tak acuh. "Udara segar bagaimana? Gabriel sudah melacak manifes perjalanannya. Leonil terbang ke Indonesia secara mendadak, dan sejak saat itu dia sulit dihubungi!" bantah Helene, suaranya naik satu oktaf. "Firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Apa perlu kita menyusulnya ke s

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   185.

    Rasya melangkah mendekat. Ujung sepatu kulit mahalnya kini berhenti tepat di depan wajah Dio yang tersungkur. Rasya perlahan berjongkok dengan satu lutut, menyejajarkan posisinya dengan pria itu. Rasya menatap mata Dio yang dipenuhi keputusasaan dan amarah itu lekat-lekat. Seringai iblis kembali terbit di wajah tampannya, menyadari betapa menyedihkannya taktik manipulasi pria ini. "Kau pikir, dengan memancing emosiku dan menodai masa lalu istriku, aku akan kehilangan kendali dan langsung menembak kepalamu di sini?" Rasya terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar mengerikan. "Kau terlalu meremehkanku, Dio." Rasya mencondongkan wajahnya, aura dominasinya menekan paru-paru Dio hingga pria itu kesulitan bernapas. "Kau tahu kenapa kau masih bernapas detik ini?" bisik Rasya di depan wajah Dio. "Karena sebelum aku terbang ke sini, istriku yang sedang mengandung anakku menatap mataku, dan dia memintaku untuk tidak m

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   184.

    Otak Dio terasa lumpuh. Bagaimana bisa? Bukankah Rasya Pradana seharusnya berada di Paris? Mengapa pria ini tiba-tiba sudah berada di dalam kamar tidurnya?!Senyum miring yang kejam terbit di bibir Rasya, seolah mampu membaca seluruh isi kepala pria menyedihkan di hadapannya.Dio tidak tahu, bahwa belasan jam yang lalu di Paris, nasibnya telah disegel oleh predator puncak ibu kota.Saat Rasya menghubungi Damar kemarin, sang sahabat tidak hanya menemukan blind spot di basement, tetapi juga mengenali sejarah rumah itu."Aku tahu rumah ini, Sya," ucap Damar. "Ini milik kenalan lama ayahku. Pintu masuk ruang rahasia itu bukan di bawah, melainkan tersembunyi di balik walk-in closet kamar utama. Ada apa sebenarnya?"Alih-alih menjawab pertanyaan Damar, Rasya hanya membalas singkat, "Nanti aku jelaskan. Waktuku tidak banyak, Damar."Detik itu juga, Rasya merasa harus mengeksekusi Dio dengan tangannya sendiri, namun ia tidak akan pernah meninggalkan

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   183.

    Dio menyambar tas ransel berisi uang tunai yang sudah ia siapkan, lalu berlari secepat kilat menuju walk-in closet di sudut kamarnya.Tangannya meraba ke balik deretan jas mahalnya, lalu menekan sebuah panel kayu tersembunyi di bagian paling sudut lemari. Terdengar bunyi klik pelan, disusul oleh dinding rak sepatu yang bergeser memutar ke dalam, menampilkan sebuah celah lorong gelap dan sempit.Tanpa berpikir dua kali, Dio menyusup masuk. Rak itu kembali menutup otomatis tepat beberapa detik sebelum suara hantaman keras menghancurkan engsel pintu kamar.Di dalam lorong sempit yang pengap itu, Dio menahan napasnya. Ia mendengar dengan jelas segala yang terjadi di kamar utama, sebelum akhirnya ia menuruni anak tangga curam yang terhubung langsung ke ruang rahasia di balik dinding pemanas basement.Di sanalah ia bersembunyi. Duduk meringkuk di sudut kegelapan bunker, menggigil ketakutan hingga ia mendengar sayup-sayup deru mobil-mobil itu men

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   182.

    "Tumben sekali bro menelepon di jam sibuk. Ada gedung saingan yang mau gue ratakan dengan tanah?"Sudut bibir Rasya berkedut samar mendengar pertanyaan itu. Damar Aritama. Sahabat masa kecil sekaligus partner bisnisnya, dia adalah penguasa takhta industri konstruksi dan arsitek paling andal di Asia. "Gue butuh bantuan lo, Damar," ucap Rasya to the point. "Raka baru aja menggerebek sebuah rumah di kawasan elite Jakarta Utara." "Dan lo mau gue apain rumah itu?" kekeh Damar di seberang sana. "Gue udah kirim alamat dan salinan dokumen rumah itu ke server pribadi lo," Rasya mengabaikan candaan sahabatnya, nadanya berubah serius. "Target gue berhasil meloloskan diri, Damar. Dia sangat licik. Gue butuh lo membedah struktur rumah itu sampai ke akar fondasinya. Temukan di mana bajingan itu bisa menyimpan aset, atau... menyembunyikan dirinya sendiri." Terdengar helaan napas dari Damar. Suara ayunan tongkat golf berhenti sepenuhnya. "Beri gu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status