LOGINKeheningan pagi di penthouse itu hanya diisi oleh bunyi denting halus pengait jam tangan Patek Philippe yang sedang dikunci.
Kamar itu tampak seperti baru saja diterjang badai. Kemeja putih Rasya teronggok di karpet, gaun hitam tersangkut di ujung kursi, dan selimut tebal separuh jatuh ke lantai, menyisakan seprai sutra yang kusut tak berbentuk, saksi bisu betapa liarnya aktivitas mereka beberapa jam yang lalu. Namun, di tengah keAiden duduk di kursi tingginya, belepotan saus barbeque."Enak, Dad! Dagingnya empuk!" puji Aiden sok tahu."Jelas dong. Resep rahasia Daddy," sahut Rasya bangga.Sementara itu, Altair dan Lyra sudah tertidur pulas di dalam kamar karena kelelahan bermain seharian.Aurora melangkah mendekat membawa nampan berisi es kelapa muda. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu berdiri di samping Rasya yang sedang mengolesi jagung."Anak-anak kembar sudah tidur?" tanya Rasya setengah berbisik."Sudah tepar. Baterainya habis total," jawab Aurora terkekeh.Kini tinggal mereka berdua, ditemani Aiden yang kini tengah sibuk mengunyah jagung bakar. Suasana menjadi jauh lebih romantis dan tenang.Rasya meletakkan kuas bumbunya. Pria itu menoleh, lalu menarik pinggang Aurora mendekat dalam satu gerakan halus. Cahaya api unggun memantul di wajah mereka, menciptakan siluet keemasan yang hangat."Sejak Papa Dar
Aetherland Private Island - 3 Tahun Kemudian Langit di atas Aetherland bersih tanpa awan, menyatu dengan laut turquoise yang jernih. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma garam yang familier. Di hamparan pasir putih itu, terdengar suara tawa yang nyaring. "Daddy! KEJAR AIDEN! WLEEE!" Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun, Rhaiden Aetherion Pradana—Aiden—berlari kencang dengan kaki-kaki kecilnya yang lincah. Dia mengenakan celana renang bermotif hiu dan kacamata hitam yang kebesaran. Di belakangnya, Rasya berlari mengejar. Sang CEO tidak lagi mengenakan jas mahal. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek kargo, memamerkan tubuh atletisnya yang kini sedikit lebih tan karena sengatan matahari. "Awas ya kalau ketangkap! Daddy gelitikin sampai nyerah!" seru Rasya sambil tertawa. Hap! "Kena kamu, Jagoan Kecil!" seru Rasya sambil mengangkat tubuh Aiden tinggi-tinggi, lalu memutarnya. Aiden tertawa terbahak-bahak. "Ampuuun, Dad! Ampuuun!" Saat Aiden tertawa le
Angin malam berembus lembut, membawa serta aroma khas kota Paris yang berpadu dengan udara segar dari Sungai Seine. Di atas perairan yang tenang itu, sebuah yacht pribadi mewah berwarna putih gading meluncur membelah arus, meninggalkan riak air yang memantulkan gemerlap lampu kota. Rasya benar-benar menepati janjinya. Di sisa waktu mereka sebelum kembali ke realita Jakarta, pria itu memastikan dunia hanya berputar untuk Aurora. Ia menyewa seluruh kapal pesiar tersebut secara eksklusif, meninggalkan Raka dan para bodyguard di dek bawah agar tak ada satu pun yang menginterupsi waktu mereka. Di dek atas yang terbuka, sebuah meja bundar telah ditata begitu elegan. Taplak meja berbahan linen putih bersih, hiasan bunga lily yang mekar sempurna, dan pendar cahaya keemasan dari lilin-lilin tinggi menciptakan suasana romantis yang pekat. Aurora berdiri di dekat pagar pembatas kapal, menatap takjub pada mahakarya arsitektur kota Paris yang melintas di depan matanya. Lampu-lampu jalanan kuno y
Pagi itu, suasana di kamar utama terasa seperti ruang rawat VVIP. Setelah dua minggu bed rest total yang terasa seperti seumur hidup, hari penentuan itu akhirnya tiba. Dokter Emily bersama asisten dokter dan satu perawat, datang untuk melakukan evaluasi akhir. Ini adalah kunjungan ketiga sang dokter ke kediaman sementara mereka untuk memeriksa bekas luka operasi Aurora dan memantau perkembangan janin. Di atas ranjang, Aurora berbaring dengan gaun tidur sutra yang tersingkap di bagian perut. Di sisi kirinya, Rasya berdiri tegak bak komandan militer, sementara di sofa tak jauh dari ranjang, Bunda Martha dan Mama Miranda duduk mengawasi jalannya pemeriksaan. "Bagaimana, Dok?" tanya Rasya, terlihat tak sabaran. "Luar biasa, Monsieur," ucap Dokter Emily sambil tersenyum puas menatap layar monitor USG portabelnya. "Detak jantung petarung kecil sangat kuat dan stabil. Lukanya juga mengering dengan sempurna tanpa ada tanda infeksi sejak kunjungan terakhir saya. Ibu dan janin benar-benar
Tawa rendah mengalun dari bibir Rasya melihat istrinya yang tampak kebingungan bagai detektif yang kehilangan jejak. Rasya menarik lengan Aurora dengan lembut, memaksa istrinya kembali berbaring di pelukannya. "Itu adalah fakta yang dipelintir, Baby," jawab Rasya santai, jemarinya mengusap lembut lengan Aurora. "Yang tewas dalam kecelakaan itu memang ayahnya Dio, tapi perempuan yang tewas bersamanya bukanlah ibu kandung Dio. Itu adalah ibu tirinya yang tak lain adalah mantan istri Ferdi yang berselingkuh itu. Mereka kecelakaan hanya satu bulan setelah menikah." Aurora mengerjap, menatap rahang tegas suaminya dari bawah. " Lalu... ibu kandung Dio ada di mana sekarang?" "Di sebuah shelter perawatan mental," ungkap Rasya tenang, seolah sedang menceritakan kisah dongeng yang tragis. "Pengkhianatan berlapis dari suami dan kakak iparnya sendiri membuat adik Ferdi itu kehilangan kewarasannya. Dan tebak siapa yang selama bertahun-tahun ini diam-d
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi klik dari kuncinya terdengar, pertahanan Aurora runtuh sepenuhnya. Alih-alih melangkah menuju ranjang untuk beristirahat seperti yang diperintahkan para ibu, Aurora justru langsung memutar tubuhnya menghadap Rasya. Tanpa permisi, kedua tangan mungilnya terulur, menangkup rahang tegas suaminya. "Mas, coba aku lihat," gumam Aurora cepat, matanya bergerak waspada meneliti setiap inci wajah Rasya. Rasya hanya diam tak berkutik. Ia membiarkan istrinya memutar wajahnya ke kiri dan ke kanan. Tidak berhenti di situ, tangan Aurora turun ke kerah jas navy Rasya. Dengan gerakan agak terburu-buru, ia menyingkap jas mahal itu hingga terongok begitu saja di lantai. Ia meraba dada, bahu, hingga turun ke sepanjang lengan suaminya. Matanya memindai dengan saksama kemeja putih Rasya, mencari apakah ada bercak darah, lebam, robekan, atau tanda-tanda kekerasan fisik apa pun yang mungk
"Visi lo risikonya terlalu tinggi, Ora. Ini Paris, bukan Bali," ucap Naina realistis. "Cuaca di sini lebih moody daripada lo. Kalau pas final tiba-tiba mendung tebal, runway lo bakal gelap gulita. Momen puncaknya malah gagal." Aurora terdiam, menyadari kebenaran ucapan itu. Namun, ia enggan mele
Mobil van hitam berhenti di depan sebuah gerbang besi berkarat yang tinggi. Kawasan ini jauh dari hiruk-pikuk pusat kota Paris yang glamor. Ini adalah distrik gudang tua yang dinding-dindingnya penuh sisa seni jalanan. "Ini venue-nya, Mas?" tanya Aurora bingung, menatap bangunan bata merah kusam di
Langit di luar jendela kaca setinggi langit-langit itu masih gelap gulita. Menara Eiffel di kejauhan hanya terlihat siluetnya dengan lampu yang sudah dimatikan. Kota Paris masih tertidur lelap dalam selimut kabut dini hari. Namun, di dalam penthouse mewah bergaya Haussmann itu, kehidupan sudah dim
Suasana di Private Lounge itu hening dan dingin, kontras dengan gemuruh di kepala Rasya. Hanya terdengar denting sendok teh yang beradu dengan piring kecil dan suara ketikan agresif di laptop.Rasya duduk di sofa kulit hitam, berkas-berkas logistik berserakan di meja marmer di hadapannya. Raka be







