Compartir

141.

Autor: Bintangjatuh
last update Última actualización: 2026-01-30 12:22:53
Aurora duduk bersandar di sofa, matanya tak lepas dari layar tablet yang memuat daftar tugas panjang. Wajahnya sedikit pucat tanpa riasan, namun sorot matanya tetap tajam dan fokus.

​Di hadapannya, Hana dan Mbak Ratih duduk dengan punggung tegak sempurna. Keduanya diam, terpaku menunggu titah.

​"Hana," panggil Aurora tanpa menoleh.

​"Siap, Bu."

​Aurora mendongak, menatap Hana lurus. "Begitu mendarat di Jakarta, langsung koordinasi dengan Raka. Cairkan dana operasional dari Aetherion saat
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   154.

    Setelah Galaxy kembali sibuk dengan dunia mayanya di sofa, Aurora melanjutkan sarapannya. ​Setelah beberapa suap, Rasya menyendokkan bubur lagi, lalu mendekatkannya ke bibir Aurora. ​"Satu suap lagi ya, Baby?" bujuk Rasya lembut. ​Aurora menggeleng pelan, menutup mulutnya rapat. "Udah, Mas. Perut aku rasanya penuh banget." ​Rasya melirik mangkuk bubur yang sebenarnya masih tersisa seperempat. Kalau dalam kondisi normal, ia pasti akan memaksa istrinya makan lebih banyak. Namun, ia tahu kondisi pencernaan Aurora pasca operasi belum sepenuhnya normal. ​"Oke, nggak apa-apa," ucap Rasya pengertian. Ia meletakkan mangkuk itu ke meja nakas. Rasya lalu mengambil gelas berisi air putih dengan sedotan, membatu Aurora minum beberapa teguk untuk membilas mulutnya. ​Setelah selesai, Rasya mengambil tisu, membersihkan sisa air di sudut bibir istrinya dengan gerakan sangat hati-hati. ​Perlakuan manis itu membuat Aurora memejamkan mata, menikmati sentuhan suaminya. Rasya menyingkirkan

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   153.

    Rasya duduk di tepi ranjang, dengan telaten menyuapi bubur halus ke mulut Aurora. Setiap suapan ia tiup dulu dengan sabar, memastikan tidak terlalu panas.​Sementara itu, di sofa panjang, Galaxy sedang rebahan santai dengan kaki menyilang, matanya terpaku pada layar ponsel.​"Oiya, Kak Rara. Hampir lupa," celetuk Galaxy tiba-tiba, memecah keheningan sarapan itu.​Aurora menelan buburnya, lalu menoleh pada adiknya.​"Apa, Gal?"​Galaxy bangun dari posisinya, duduk tegak dengan mata berbinar.​"Selamat ya. Kak Rara beneran gila," Galaxy menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. "Sumpah, Kakakku ini sinting."​"Kak Rara tau nggak? Kemarin pagi Head Nurse di bangsal aku—yang biasanya galak kayak singa betina dan nggak peduli dunia luar—tiba-tiba ngomongin 'The Rebirth' pas lagi visit pasien."​Mata Aurora sedikit melebar. Sendok di tangan Rasya berhenti di udara.​"Serius? Sampe Jerman?" tanya Aurora tak percaya.​"Bukan cuma Jerman. Tuh..." Galaxy menyodorkan HP-nya dari kejauhan. "Satu Ero

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   152.

    Jarum jam dinding menunjuk angka satu dini hari.Di ranjang pasien, napas Aurora terdengar teratur. Wajahnya damai, seolah tidak baru saja melewati pertarungan hidup dan mati.Pintu kamar mandi ruang inap itu terbuka.Rasya keluar dengan rambut basah dan wajah yang jauh lebih segar. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos polos bersih dan celana bahan yang lebih nyaman. Aroma sabun maskulin menguar, sedikit menyamarkan bau antiseptik rumah sakit yang seharian menempel di badannya.Rasya menggosok rambutnya dengan handuk kecil, lalu berjalan mendekati sofa panjang di dekat jendela.Di sana, Galaxy duduk bersandar sambil memainkan ponsel, menjaga shift-nya sesuai janji. "Aurora udah tidur lagi?" bisik Rasya, melirik ke arah ranjang.Galaxy mengangguk, sekilas mengalihkan pandangan dari layar ponsel. "Pules banget. Efek cokelat sama obat tidur. Aman. Bang Rasya istirahat aja."Rasya menghela napas panjang, lalu meng

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   151.

    Hujan gerimis memukul kaca jendela, menciptakan irama yang sendu di dalam ruangan yang hening itu.Rasya duduk di kursi samping ranjang, menunduk dalam, tangannya masih menggenggam tangan Aurora yang tertidur pulas karena pengaruh obat yang disuntikkan dokter dua jam lalu.Tiba-tiba, pintu kamar tersentak terbuka, membentur stopper karet di dinding, sebelum ditahan oleh tangan yang gemetar.Seorang pria muda menerobos masuk. Napasnya memburu, uap dingin keluar dari mulutnya, dadanya naik turun di balik hoodie abu-abu yang ditumpuk coat tebal.Rambutnya lepek terkena hujan, dan ada tas ransel sedang yang menggantung miring di bahunya.Galaxy berdiri mematung di ambang pintu, matanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat di sosok wanita yang terbaring lemah di ranjang.Melihat Aurora—yang tampak tenggelam di antara selang oksigen dan selimut rumah sakit—bahu Galaxy merosot. Topeng ceria yang biasa ia pakai, retak sejenak."

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   150.

    Roda brankar berdecit halus saat didorong masuk ke dalam ruangan luas itu.Berbeda dengan ruang pemulihan yang dingin dan penuh alat, ruangan ini lebih mirip kamar hotel bintang lima. Lantainya berlapis parket kayu hangat, ada sofa kulit panjang di sudut, pantry kecil, dan jendela besar yang menampilkan pemandangan langit malam Paris.Namun, bagi Rasya, kemewahan itu nomor sekian. Yang terpenting adalah kenyamanan istrinya."Hati-hati," tegur Rasya tajam saat perawat hendak memindahkan tubuh Aurora dari brankar ke tempat tidur pasien."Tolong pelan-pelan. Jangan ada guncangan di perutnya," perintah Rasya dalam bahasa Inggris yang fasih namun penuh penekanan.Para perawat itu mengangguk patuh, bekerja ekstra hati-hati memindahkan Aurora. Rasya ikut memegangi kepala dan bahu istrinya, memastikan pergerakannya seminimal mungkin.Setelah Aurora berbaring sempurna di kasur empuk itu, Rasya langsung memeriksa semuanya. Ia membetulkan l

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   149.

    Isak Aurora membuat dada Rasya sesak. Melihat keputusasaan di mata istrinya adalah siksaan terberat. Rasya menggeleng cepat. Ia tersenyum, lalu membawa tangan Aurora, meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas perut wanita itu yang kini terbalut perban pasca operasi. "Dia masih di sini," ucap Rasya, menekan lembut tangan Aurora ke perutnya sendiri. Aurora terdiam, menatap suaminya bingung. Air matanya terus menetes. "Hah?" "Anak kita kuat banget, Baby. Persis Ibunya. Dia masih di dalem. Jantungnya masih berdetak." Mata Aurora membelalak lebar. Bibirnya gemetar hebat. "Bo... hong..." "Aku nggak bohong demi Allah," Rasya terisak bahagia, mencium punggung tangan istrinya bertubi-tubi. "Dia bertahan. Dia selamet. Kamu berhasil lindungin dia." Mendengar itu, tangis Aurora pecah. "Ya Allah..." Aurora menangis tersedu-sedu, memeluk perutnya sendiri dengan protektif meski tangannya gemetar. "Anakku... anakku masih ada..." "Anak kita, Baby," koreksi Rasya, memeluk kepala Aurora,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status