共有

Bab. 148

作者: Yu.Az.
last update 最終更新日: 2025-12-25 22:34:06

Tangan Cani mengepal erat. Rahangnya mengeras menahan emosi yang hampir meledak. Ia benar-benar ingin memarahi Kanaya saat itu juga. Namun sebelum ia melangkah maju, tangan Elena sudah lebih dulu terangkat, menahannya dengan gerakan halus.

“Cani,” ucap Elena tenang, lalu menoleh ke arah Kanaya. Senyumnya tipis, nyaris santai. “Oh, kalau kau tidak mau, tidak masalah. Gaun-gaun ini tidak akan terbuang percuma. Masih banyak yang ingin membelinya.”

Begitu kalimat itu meluncur, beberapa nona bangsawan yang sejak tadi memperhatikan langsung bersuara.

“Benar,” ujar salah satu dari mereka sambil melangkah maju.

“Kami justru tertarik. Hanfu-hanfu ini sangat indah.”

“Aku juga ingin yang itu,” sahut yang lain antusias.

Suasana seketika ramai. Para pekerja kembali bergerak melayani para nona bangsawan yang berebut memilih.

Di sisi lain, tangan Kanaya mengepal kuat di balik lengan hanfu-nya. Kukunya hampir menusuk telapak tangan sendiri. Niatnya ingin membuat Elena marah, ingin membuat wanita itu
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (3)
goodnovel comment avatar
Rahmy Sari
kak lanjut doonk...
goodnovel comment avatar
Yu.Az.
Aku baik-baik aja. Makasih ya. Cuman author emang lagi sibuk real life. Makanya nulis 1 bab aja. 。⁠◕⁠‿⁠◕⁠。.
goodnovel comment avatar
Rifda Nafisha
othor are U ok??? kenapa be²rapa hari ini upnya sbiji mulu? biasanya kn 4-5bab
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 168

    Permaisuri Lola perlahan melepas pelukannya dari Kanaya. Dalam sekejap, wajahnya yang semula tegang kembali berubah tenang, anggun, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Punggungnya tegak, dagunya terangkat sedikit, sikap seorang wanita yang terbiasa menyembunyikan emosi terdalamnya.Berbeda dengan Kanaya.Wajah gadis itu masih pucat. Matanya sedikit merah, napasnya belum sepenuhnya stabil. Namun ketika Permaisuri Lola meliriknya sekilas dan memberi isyarat halus dengan sorot mata, Kanaya segera menggigit bibirnya dan berusaha menenangkan diri.Saat itulah pintu kamar terbuka lebih lebar.Nyonya Andini masuk dengan langkah cepat. Begitu melihat keadaan kamar yang berantakan, alisnya langsung berkerut.“Ya ampun,” gumamnya pelan sambil memandangi pecahan guci, kain yang berserakan, dan perhiasan yang jatuh ke lantai. “Kenapa bisa berantakan seperti ini?”Namun kerutan di keningnya semakin dalam ketika pandangannya beralih pada sosok lain di ruangan itu.“Yang Mulia Permaisuri?” ucapnya

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 167

    Kanaya pulang ke kediaman Adipati Dirgantara dengan langkah tergesa dan wajah gelap. Kereta yang membawanya berhenti di depan gerbang megah, namun tidak ada sedikit pun kebanggaan seperti biasanya di sorot matanya. Dadanya masih terasa sesak, telinganya seolah terus terngiang suara Mina, suara Nathan, dan terutama kalimat yang menjatuhkan harga dirinya.Elena adalah pemilik toko itu.Toko yang terkenal, yang kain-kainnya dipesan para bangsawan, yang namanya bahkan sudah menembus kekaisaran tetangga.Begitu turun dari kereta, Kanaya langsung melangkah masuk tanpa menoleh kanan kiri. Gaun yang biasanya ia rapikan kini ia biarkan berantakan. Wajahnya masam, matanya menyala oleh amarah dan rasa malu yang menyesakkan.Di aula utama kediaman, beberapa nyonya bangsawan tengah berkumpul dalam perjamuan minum teh sore. Tawa lembut dan aroma bunga memenuhi ruangan. Di antara mereka duduk Permaisuri Lola, anggun dengan senyum tipis di bibirnya.Kanaya melewati mereka begitu saja.Tanpa menunduk,

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 166

    Kanaya menggeleng cepat, wajahnya menunjukkan penolakan yang keras. Matanya sedikit membesar, napasnya terdengar lebih cepat dari biasanya.“Tidak,” katanya lantang. “Aku tidak percaya. Nyonya Mina hanya mengatakan itu untuk menolong Elena saja, bukan?”Ia menoleh ke arah Mina, tatapannya penuh tekanan. “Nyonya, Anda terlalu baik. Anda pasti kasihan padanya.”Tiara segera menimpali dengan nada menyudutkan. “Benar, Nyonya Mina. Jangan terlalu memanjakan pekerja. Kalau begini, mereka akan besar kepala dan bertindak semena-mena terhadap pemilik toko yang sebenarnya.”Tari mengangguk setuju. “Hari ini dia merusak kain mahal, besok bisa saja dia mengusir kami semua.”Fani mendecak pelan. “Kami tidak bodoh. Mustahil seorang gadis seperti Elena adalah pemilik toko sebesar ini.”Bisik-bisik kembali terdengar di antara para pegawai. Ada yang ragu, ada yang mulai mengernyitkan dahi, ada pula yang menatap Kanaya dengan pandangan tak lagi sepenuhnya percaya.Mina menghela napas panjang. Raut waja

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 165 Pemilik Sebenarnya

    Gelas itu jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring. Teh hangat memercik, membasahi lantai dan menyiram hanfu rancangan Elena yang diletakkan di samping meja..Kanaya mundur setengah langkah, wajahnya pucat seolah terkejut. “Kak Elena .…” ujarnya dengan menutup mulitnya. “Kenapa kau ceroboh sekali?”Elena menatap hanfu yang basah itu sejenak. Lalu ia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tetap tenang. Namun udara di dalam toko terasa berubah.Suasana toko hanfu itu yang semula tenang mendadak berubah ricuh.Cairan teh yang masih hangat membasahi kain hanfu mahal berwarna biru langit. Uap tipis mengepul, sementara noda kecokelatan menyebar dengan cepat di permukaan kain yang jelas belum sempat dipotong dan dijahit.“Astaga! Apa-apaan ini?!”Tiara adalah yang pertama berteriak. Matanya membelalak, wajahnya memerah menahan amarah. Ia langsung berdiri dan menatap Elena seolah ingin menerkamnya.“Kau buta, ya? Atau memang sengaja?!” bentaknya tajam.Tari ikut berdiri, menyilangkan tan

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 164

    Di dalam kamar asrama Elena, suasana terasa gelisah.Cani mondar-mandir tanpa tujuan jelas, langkahnya kecil namun cepat, sesekali berhenti lalu berjalan lagi. Matanya terus melirik ke arah pintu kamar mandi, tempat sang nona masih membersihkan diri. Wajahnya penuh kebimbangan, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan di ujung lidah.Suara pintu kamar mandi akhirnya terbuka.Elena keluar dengan langkah tenang. Rambut hitamnya masih sedikit lembap, tergerai di punggung. Ia mengenakan hanfu berwarna hijau muda, sederhana namun membuat kulitnya tampak semakin cerah. Wajahnya bersih tanpa rias, sorot matanya tetap tajam seperti biasa.Cani langsung sigap. “Nona, silakan duduk.”Elena menurut, duduk di depan meja rias. Cani berdiri di belakangnya, mulai menyisir rambut sang nona dengan hati-hati, jemarinya bergerak lembut agar tidak menarik helai rambut sedikit pun.Beberapa kali Cani membuka mulut, lalu menutupnya lagi.Elena menangkap kegelisahan itu dari pantulan cermin.

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 163 Rasa Familiar

    Elena tidak langsung menurunkan pedangnya. “Erland? Dan kau pikir aku harus percaya begitu saja?” Erland terkekeh kecil. “Kalau aku berniat jahat, aku tidak akan duduk santai makan apel di atas pohon.” Cani mendengus pelan. “Itu alasan yang aneh.” Erland melirik Cani, lalu kembali menatap Elena. “Percaya atau tidak, terserah.” Pria tampan berlesung pipi itu kembali berkata, “Aku hanya terlalu tertarik dengan latihan kalian.” Mata Elena sedikit menyipit, namun pedangnya belum bergeser. “Orang biasa tidak bisa menghindari tombak esku.” Erland tersenyum makin lebar. “Itu pujian?” Elena hanya diam tak menjawab ucapan pria di depannya itu. Suasana di belakang Akademi Pedang Langit masih tegang. Pedang Elena belum sepenuhnya menjauh dari leher pria bernama Erland itu, sementara Cani berdiri siaga di belakang nona mudanya. Sret! Tiba-tiba sebuah bayangan melesat cepat dari arah pepohonan. Kilatan baja berpendar di udara, mengarah lurus ke Elena. Cani refleks bergerak. “Berani seka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status