LOGINRuangan itu gelap.Bukan gelap karena tidak ada cahaya—melainkan karena cahaya sengaja dipatahkan. Lampu-lampu di langit-langit menyala setengah daya, cukup untuk melihat bentuk, tapi tidak cukup untuk memberi rasa aman.Seorang pemuda duduk di kursi logam di tengah ruangan.Tangannya tidak diikat.Kakinya bebas bergerak.Tapi ia tidak pergi.Matanya terbuka perlahan, pupilnya beradaptasi dengan cahaya pucat. Napasnya teratur, terlalu tenang untuk seseorang yang baru sadar.“Subjek A-17 aktif,” suara perempuan terdengar dari balik kaca satu arah. “Sinkronisasi berhasil dilewati.”Pemuda itu tersenyum kecil.“Jadi,” katanya pelan, suaranya serak tapi stabil, “ini dunia setelah bangun.”Tidak ada jawaban.Ia menunduk, menatap kedua telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya bergerak perlahan, seolah menguji realitas. Lalu ia tertawa lirih.“Aku bisa ngerasain kalian,” katanya. “Napas kalian. Detak jantung kalian.”Salah satu monitor di luar ruangan berkedip tidak stabil.“Respons emosional
Pintu ruangan itu terbuka tanpa suara.Nadia melangkah keluar lebih dulu, wajahnya tenang, langkahnya stabil terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja menandatangani kesepakatan tak tertulis dengan kekuatan yang tidak ia pahami sepenuhnya.Kevin langsung berdiri tegak begitu melihatnya.“Nad.”Satu kata itu cukup untuk membuat pertahanan Nadia sedikit retak.Ia menoleh. Tatapan mereka bertemu di lorong putih yang dingin, dan selama satu detik dunia kembali terasa normal seperti tidak ada sistem, tidak ada anchor, tidak ada pilihan mustahil.Kevin menghampirinya cepat, tapi berhenti tepat satu langkah sebelum menyentuh.“Lo oke?” tanyanya rendah.Nadia mengangguk. “Masih.”Jawaban itu jujur. Dan justru karena itu menakutkan.Kevin menatap wajah Nadia lebih lama dari biasanya, seolah mencari retakan, tanda, apa pun yang tidak ia kenali. Tapi yang ia lihat hanyalah ketenangan baru—bukan ketenangan yang damai, melainkan ketenangan orang yang sudah menerima sesuatu yang tidak bisa dito
Ruangan itu terasa lebih dingin setelah Nadia mengucapkan kalimat terakhirnya.“Ajari aku… atau menjauhlah.”Tidak ada yang langsung menjawab.Perempuan paruh baya itu—yang sejak tadi memegang kendali percakapan—menatap Nadia seolah sedang menilai sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar keberanian. Tatapannya bukan marah, bukan terancam. Lebih seperti… penasaran yang berbahaya.“Kamu tahu,” katanya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh bobot, “kebanyakan anchor bahkan tidak sempat bicara seperti itu.”Pria muda di sebelahnya menyentuh tablet, mematikan diagram di layar. Cahaya redup kembali mendominasi ruangan.“Mereka biasanya runtuh lebih dulu,” lanjutnya. “Atau diselamatkan sebelum sadar apa yang terjadi.”Nadia tetap berdiri. Tangannya sedikit gemetar, tapi punggungnya tegak.“Kalau aku berdiri di sini,” katanya, “berarti aku bukan kebanyakan anchor.”Perempuan itu tersenyum tipis. “Benar.”Ia berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mengelilingi meja. Sepatunya tidak berbunyi—r
Ponsel Nadia masih berada di tangannya ketika layar akhirnya meredup sepenuhnya.Tidak ada panggilan ulang.Tidak ada pesan lanjutan.Seolah suara itu memang hanya perlu satu kalimat untuk menanamkan sesuatu di kepalanya—lalu pergi.“Kami adalah konsekuensi.”Kata-kata itu berputar pelan di benaknya, seperti gema yang tidak mau hilang.Kevin muncul di ambang pintu balkon. Ia tidak bertanya. Ia tahu sesuatu terjadi.“Ada apa?” tanyanya pelan.Nadia menoleh. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak.“Ada yang nelpon,” katanya. “Bukan Adrian.”Kevin langsung siaga. “Dari sistem?”“Bukan,” jawab Nadia setelah ragu sejenak. “Atau… mungkin lebih tinggi.”Kevin menegang. “Apa yang mereka mau?”Nadia menggeleng. “Belum bilang. Tapi mereka tahu aku stabil.”Kevin menghela napas pelan, menahan kekesalan yang bercampur khawatir. “Itu artinya lo sekarang kelihatan.”Nadia tersenyum tipis. “Aku memang nggak sembunyi lagi.”Kevin menatapnya lama. Ada kebanggaan kecil di sana—dan ketakutan yang lebih bes
Pagi itu datang dengan kewarasan yang ganjil.Itulah hal pertama yang memicu alarm di kepala Nadia. Tidak ada denyut pening yang biasanya menghantam saat ia membuka mata. Tidak ada tekanan berat di pangkal tengkorak, pun tidak ada sensasi panas yang meluap dari dadanya.Tubuhnya terasa... seimbang. Seperti mesin yang baru saja dikalibrasi ulang.Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, jemarinya menyentuh permukaan kaca yang dingin. Ia menatap pantulannya sendiri cukup lama. Wajah itu masih sama, tetapi binar di matanya telah berubah. Ada ketenangan baru di sana jenis ketenangan yang biasanya hanya muncul setelah badai besar reda."Apa aku masih aku?" bisiknya pada sunyi.Tidak ada jawaban gaib. Tidak ada gema dari sistem. Dan untuk pertama kalinya, kesunyian itu tidak membuatnya mati kutu. Ia tidak lagi merasa seperti wadah yang retak.Di ruang tengah, Kevin sudah menunggu. Ia tidak lagi berdiri gelisah di dekat jendela atau sibuk memelototi grafik di tabletnya. Cowok itu duduk
Malam turun tanpa hujan.Lampu kamar Nadia masih menyala, tapi tirainya tertutup rapat. Ia duduk di lantai, bersandar ke sisi ranjang, lutut ditekuk, tangan memeluk diri sendiri. Di luar kamar, apartemen terasa terlalu sunyi Kevin tidak bergerak, tidak mengetuk, tidak mencoba masuk.Seperti janji diam-diam yang ia tepati.Nadia menutup mata.Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak mencoba menahan apa pun.Ia tidak menekan sensasi hangat di dadanya.Tidak mengusir tekanan halus di pelipisnya.Tidak berusaha menjadi normal.“Kalau ini aku,” bisiknya pelan, “tunjukin.”Awalnya hanya gelap.Lalu seperti suara jauh yang muncul dari balik air—ia mendengar detak.Bukan jantung.Detak itu lebih teratur. Lebih dingin. Seperti mesin yang sangat sabar.Napas Nadia melambat tanpa ia sadari.Di balik kelopak matanya, ruang terbentuk.Bukan ruangan nyata lebih seperti konsep. Bidang luas tanpa dinding, berwarna abu-abu pucat, dengan garis-garis cahaya tipis yang berdenyut seirama de







