เข้าสู่ระบบDi depan pintu kamar Arkan, Elara mengintip. Arkan berdiri di tengah ruangan. Di kakinya, vas bunga mahal pecah berkeping-keping. Wajah bocah itu panik, matanya berkaca-kaca menatap Elara.
Arkan seperti ingin bicara, tapi lidahnya terlihat begitu berat sehingga anak itu hanya menunduk dan itu membuat Elara merasa iba. Entah hal seburuk apa yang dialami anak itu sampai-sampai dia terlihat sangat menyedihkan. Rasanya Elara sangat ingin menemui Arkan, tapi sayang sekali Calix langsung menutup pintu kamar anak itu sehingga dengan terpaksa Elara turun lagi ke bawah dan duduk tenang di ruangan tamu. Namun, ketika Elara baru akan menuruni anak tangga, suara pintu kamar Arkan terdengar dibuka, membuat Elara kembali menoleh. “Itu …” Punggung tegap seorang pria baru saja masuk ke dalam kamar. Elara yakin, itu pasti pemilik rumah ini, orang yang menolongnya. Namun, Elara tak berani mendekat. Terlalu ingin tahu juga tidak baik. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap menunggu di ruang tamu untuk berpamitan. Sementara itu di dalam kamar. “Ada apa, Arkan?” Arkan menatap ayahnya dengan wajah paniknya, bibirnya sedikit bergetar. Bi Inah yang baru saja membersihkan pecahan vas bunga itu langsung keluar dari kamar. Ketika pintu kamar kembali tertutup, Alden, sang pemilik rumah, dengan tubuh tegap dan wajah tegasnya melangkah mendekati putranya. “Ada yang luka?” tanya Alden sambil meraih tangan anaknya. Arkan menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata, “Papa … Mama mana?” Seketika, Alden membeku. Pria itu menatap asistennya yang tak kalah terkejut. Bagaimana tidak, setelah tiga tahun anak itu seperti orang bisu, kini bicara dengan begitu lancar. “Akhirnya kamu bicara juga, Arkan.” Alden langsung memeluk putranya. Namun, lagi-lagi Arkan berkata, “Mama yang tadi mana?” Alden melepas pelukannya dan menatap putranya dengan dahi berkerut. “Mama?” Alden tak tahu siapa yang yang Arkan sebut sebagai mama. Sebab, selama ini ibu kandung bocah itu telah pergi dengan pria lain, sama sekali tak pernah peduli dengan mereka. Calix yang sepertinya paham langsung berkata, “Apa yang Tuan Muda Maksud itu Nona Elara yang tadi Tuan Muda jumpai di kamar tamu?” Saat itu juga, Arkan mengangguk sambil tersenyum. Alden masih terpaku. Tiga tahun ia habiskan uang miliaran untuk terapi bicara, psikolog anak, bahkan hipnoterapis dari Singapura. Semuanya nol besar. Lalu datang satu wanita asing yang ia bawa dalam kondisi pingsan setelah tanpa sengaja ia tabrak, tidur semalam di rumahnya. Dan sekarang, Arkan bicara, tersenyum, dan bahkan manggil wanita itu dengan sebutan mama. Alden mengusap wajahnya dengan kasar. Logikanya berteriak menolak. Bukan hanya karena wanita itu sama sekali tak ia kenal, tapi juga karena alasan lain dari tubuhnya yang tak bisa menerima wanita manapun. Tapi Arkan, putranya adalah satu-satunya alasan ia masih mau membuka mata setiap pagi. Alden akhirnya mendongak, menatap Calix yang berdiri diam menunggu perintah. “Calix, perempuan itu masih di sini, kan?” tanya Alden serak dan tampak sangat berat. “Seharusnya iya, Tuan,” jawab Calix sedikit menunduk. “Bawa dia ke ruanganku,” titah Alden langsung sambil berdiri. “T–tapi … Tuan …” Calix tampak ragu, bagaimanapun juga, ia tahu bagaimana tuannya ini. Alden menatap Calix sesaat dengan penuh keyakinan. Akhirnya, Calix hanya bisa mengangguk patuh. “Baik, Tuan. Saya permisi.” Calix melangkah cepat menuju lantai bawah. Ketika menginjakkan di anak tangga terakhir, ia melihat ke arah dapur, tapi tak menemukan siapapun. Akhirnya, ia pergi ke arah ruang tamu. Benar saja, dari kejauan Calix langsung menemukan sosok Elara yang tengah duduk dengan kedua tangan bertaut di pangkuan. “Nona Elara,” panggil Calix sopan. Elara langsung berdiri. “Ah, Pak Calix. Maaf kalau saya terlalu lama merepotkan di sini. Saya sebenarnya mau pamit.” “Tidak perlu terburu-buru.” Calix tersenyum tipis. “Tuan saya ingin bertemu dengan Anda.” Mata Elara langsung membesar penuh keterkejutan. “Eh … benarkah?” Calix mengangguk. Rasa lega sekaligus senang langsung memenuhi dada Elara. Sedari tadi ia memang berharap bisa bertemu langsung dengan pria misterius yang telah menolongnya. Setidaknya ia bisa mengucapkan terima kasih dengan pantas, bukan pergi begitu saja seperti orang tidak tahu diri. “Mari ikut saya,” ajak Calix langsung. Elara langsung mengikuti langkah cepat Calix. Dada wanita itu bergemuruh, penuh dengan rasa penasaran. “Oh iya, tadi … apa anak itu baik-baik saja?” tanya Elara basa-basi sekaligus penasaran. “Tenang saja, Tuan Muda Arkan baik-baik saja,” jawab Calix terus terang. Elara mengangguk paham. Sampai akhirnya, mereka tiba di depan ruangan yang membuat Elara penasaran sebelumnya. Calix mengetuk pintu kayu itu dua kali. Tok! Tok! “Permisi, Tuan.” Setelah beberapa detik, Calix membuka pintu besar itu. Begitu pintu terbuka, Elara langsung melihat ruangan yang dipenuhi ornamen kayu itu. Di tengah, satu meja kerja dengan kursi yang membelakangi pintu masuk. Elara yakin, pria itu duduk di sana. “Silakan, Nona.” Setelah mempesilakan Elara, Calix langsung keluar dari ruangan itu, seolah telah paham dengan perintah yang belum tuannya berikan. Elara menatap pintu yang kembali tertutup itu sekilas. Seketika, ia merasa kebingungan dan takut. “E–ekhem, permisi … Tuan,” lirih Elara sedikit ragu. Kursi besar di balik meja itu langsung berputar. Alden langsung melempar tatapan tajamnya kepada Elara, membuat Elara bergidik sesaat. Namun, senyuman Arkan yang duduk di pangkuan Alden membuat Elara merasa sedikit hangat. Anak itu benar-benar manis. “Elara?” ujar Alden singkat dengan suara beratnya. “Saya Alden.” “I–Iya, Tuan … saya Elara. Sebelumnya, saya mau mengucapkan terima kasih kepada Tuan Alden karena semalam sudah menol—” “Saya yang menabrak kamu,” potong Alden cepat, ia menurunkan Arkan dari pangkuannya. “Eh?” Elara terpaku beberapa saat. ‘Dia yang nabrak aku?’ batin Elara bingung. Namun, Elara buru-buru menggelengkan kepalanya. “Eum … t–tapi, kalau begitu terima kasih karena Tuan sudah bertanggung jawab setelah menabrak sa—” “Sudah seharusnya saya melakukan itu,” potong Alden lagi, kali ini ia berdiri dan melangkah ke arah sofa yang ada di ruangan tersebut. Langkahnya diikuti oleh Arkan yang terus memperhatikan Elara. “Ah … iya, kalau begitu saya ingin pamit. Sekali lagi terima kasih, maaf merepotkan,” kata Elara akhirnya, ia sungguh bingung. “Di mana tempat tinggalmu?” tanya Alden, membuat Elara semakin bingung. Pria itu menatapnya sekilas, lalu kembali membuang muka, seolah benar-benar tak ingin berlama-lama melihatnya. “Saya …” Lidah Elara mendadak kelu, ia bingung harus menjawab apa karena memang sekarang ia tak punya tempat tinggal, tapi tidak mungkin juga ia mengatakan semua pada orang asing. Alden melirik Elara sekilas, membuat Elara kembali terperanjat. “Anu … saya tinggal di kontrakan di dekat taman kota,” jawab Elara asal. Suasana hening sejenak. Elara melirik Arkan yang sejak tadi memperhatikannya. Karena merasa canggung dan bingung, Elara malah melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah Arkan, membuat bocah itu kembali tersenyum. Entah kenapa hati Elara langsung tersentuh melihat tatapan anak itu. Elara pun tersenyum pada Arkan. "Hai … mau peluk?" Elara merentangkan kedua tangannya, dan Arkan langsung berlari kecil memeluk Elara. Alden sangat terkejut melihat itu, dengannya saja biasanya Arkan tak pernah semanja itu, tapi pada Elara yang merupakan orang asing bagi mereka Arkan bisa luluh. 'Anak yang aku besarkan dengan kasih sayang selalu menganggap aku seperti sampah. Anak ini justru sangat lengket padaku,' gumam Elara dalam hati. Melihat itu, Alden langsung berkata, “Kamu mau bekerja di sini?”"kalau kamu bagaimana, Elara? Apa ada sesuatu yang saya tidak tahu tentang kamu?" Alden masih penasaran akan kehidupan Elara.Elara menggeleng. "Tidak ada, Tuan. Kehidupan saya hanya Darvian dan anaknya Vargan, saya rasa Tuan sudah tahu segalanya tentang saya." Memang benar, kehidupan Elara sangatlah monoton selama ini.Alden pun percaya saja, karena memang selama hampir enam bulan tinggal di tempat yang sama dengan Elara, Alden tidak pernah melihat Elara sibuk dengan urusan lain selain Arkan."Apakah kamu bisa berjanji satu hal sama saya jika kita sudah menikah nanti?" Alden menatap Elara dengan pandangan cemas itu."Apa?" tanya Elara, "apa Anda meragukan saya?" "Bukan begitu maksud saya." Alden terkekeh karena Elara terlalu overthinking. "Saya hanya mau kamu menyaingi Arkan selamanya meskipun nanti suatu saat kamu dan saya juga punya anak lagi. Dan saya harap kamu bisa menerima saya apa adanya karena saya ini banyak kurangnya. Dan mungkin saya juga tidak bisa menjadi suami yang rom
Alden menarik napas panjang. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya kembali pada masa yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam."Arkan baru berusia tiga tahun waktu itu," ucapnya Alden, "usia di mana seorang anak paling membutuhkan kasih sayang ibunya."Elara diam. Ia memilih menjadi pendengar yang baik, meskipun sejauh ini ia ingin menangis membayangkan Arkan yang diabaikan ibunya padahal dia sedang butuh sosok ibu."Namun sejak lahir, Melinda tidak pernah menganggap Arkan sebagai anaknya." Suara Alden mulai bergetar. "Dia tidak pernah menggendong Arkan, tidak pernah menyuapinya makan, tidak pernah menidurkannya. Bahkan ulang tahun Arkan pun dia tidak pernah ingat dan tidak pernah peduli. Arkan sampai menjadi seperti pengemis yang memohon perhatian dari ibunya."Elara menggigit bibir bawahnya mentahan tangis, Elara langsung membayangkan wajah sendu Arkan. "Semuanya saya lakukan sendiri. Mengganti popok, membuat susu, begadang saat Arkan demam, mengajarinya berjalan, bahka
Alden menghentikan mobilnya di sebuah bukit yang berada di pinggiran kota. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasangan dan keluarga kecil yang duduk menikmati sore. Hamparan padang rumput hijau membentang luas, sementara pepohonan pinus menjulang tinggi di sisi jalan setapak. Dari puncak bukit itu, langit tampak begitu luas dengan semburat jingga yang perlahan menyelimuti cakrawala.Elara turun dari mobil dengan rasa penasaran. Begitu kedua kakinya menginjak rerumputan, matanya langsung berbinar.p"Masya Allah, indah sekali." Elara sangat takjub melihat keindahan yang tersaji di depan matanya.Udara sejuk langsung menyambut wajahnya. Angin sore berembus lembut membawa aroma rumput dan tanah yang masih basah setelah hujan beberapa saat lalu.Tanpa sadar, Elara berjalan beberapa langkah menjauh dari Alden. Kedua tangannya ia rentangkan lebar sambil memejamkan mata. Senyum yang selama ini jarang menghiasi wajahnya kini merekah begitu tulus.Rambut panjangnya berkibar dite
"Sudah seperti ini kamu masih berani ambil uang rentenir, Darvian? Kamu mikir gak sih bagaimana caranya buat bayar hutang itu?" Monica tak abis pikir dengan kelakuan Darvian.Perusahaan bangkrut, karier model Monica hancur, rumah mereka dua-duanya disita bank, Vargan dengan terpaksa dititipkan di panti asuhan. Dan sekarang Darvian malah menambah masalah baru dengan meminjam uang dari rentenir.Sekarang mereka hanya tinggal di kontrakan sepetak yang kumuh dan setiap harinya mereka hanya bertengkar. Tidak ada lagi panggilan sayang yang terucap dari bibir mereka, yang ada hanya caci maki satu sama lain dan saling menyalahkan."Nggak usah berisik kamu. Nikmati saja apa yang ada, kamu pikir kita bisa beli makan pake daon?" Darvian dengan santai membuka bungkus nasi Padang yang ia beli dari hasil ngutang itu.Memang dasarnya, Darvian tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi. Dia rela berhutang hanya untuk hal-hal yang tak penting.Monica sampai mengusap dada karena kelakuan Darvian. Masa
"Saya sangat serius, Elara. Menikahlah dengan saya."Elara masih memegang gelas di tangannya. Jemarinya sedikit bergetar. Ia benar-benar tidak menyangka pria yang selama ini begitu dingin akan melamarnya secara tiba-tiba, meskipun selama ini sudah beberapa kali Alden mengajaknya menikah. Alden tidak mendesak. Ia memilih menunggu jawaban Elara, meski di dalam hatinya ada rasa cemas yang mulai muncul. Alden takut Elara akan tidak nyaman karena dirinya sudah begitu sering mengatakan soal pernikahan pada Elara.Seperti biasanya, mungkin Elara akan menolak lagi.Namun kali ini, Elara justru menarik napas panjang. Tatapan matanya bertemu dengan mata Alden."Tuan." Elara mengumpulkan keberanian untuk bicara meskipun rasa tak pantas dan insecure sering kali mendatangi dirinya.Alden mengangguk, memberi isyarat agar Elara melanjutkan saja apa yang ingin dia katakan. Alden jadi agak tegang melihat cara Elara menatap dirinya."Saya memang orang biasa. Saya tidak punya keluarga, tidak punya hart
Alden Mahesa.Selama bertahun-tahun, nama itu dikenal sebagai simbol ketegasan, kekuasaan, dan sikap dingin yang nyaris tak tersentuh. Para karyawan menaruh hormat sekaligus takut kepadanya. Para rekan bisnis segan mengambil langkah yang salah di hadapannya. Tidak sedikit wanita yang berusaha mendekat, tetapi semuanya berakhir sama. Alden selalu menjaga jarak, seolah ada tembok tinggi yang mustahil ditembus.Tidak ada yang tahu bahwa di balik sikap dinginnya, Alden menyimpan trauma yang membuatnya sulit mempercayai seorang wanita.Namun, sejak Elara hadir di mansion itu, membuat ada sesuatu yang berubah pada diri Alden. Perubahan yang bahkan Alden sendiri tidak pernah menyangka akan terjadi pada dirinya dalam waktu yang terbilang singkat.Malam itu, seluruh mansion diselimuti keheningan. Di dalam kamar Arkan yang luas dan hangat, lampu tidur menyala redup menghasilkan cahaya remang-remang.Elara terbaring di atas ranjang besar milik Arkan. Wajahnya memerah karena demam yang tinggi. Se
Cahaya jingga matahari masuk melalui jendela-jendela besar rumah Alden, membuat interior bernuansa cokelat tua terlihat hangat meski suasananya masih terasa terlalu sunyi.Elara berdiri kikuk di dapur besar di rumah itu sambil mengenakan celemek pemberian Bi Inah. Tangannya sibuk membantu memotong
Elara duduk bersila di lantai kamar kecil yang akan ia tempati sambil menatap isi tasnya yang bahkan tak sampai memenuhi setengah lemari tua di depannya.Hanya beberapa potong pakaian sederhana, dompet tipis, charger ponsel, dan foto usang dirinya bersama Darvian dan Vargan yang tanpa sadar masih t
Elara langsung membeku mendengar tawaran itu.“Kamu mau bekerja di sini?”Suara Alden terdengar datar, dingin, bahkan tanpa sedikit pun nada membujuk. Namun justru itu yang membuat Elara semakin gugup. Wanita itu menatap Arkan yang masih memeluk pinggangnya, lalu kembali menatap pria tinggi di hada
Elara menoleh ke samping dan sontak menahan napas. Seorang anak laki-laki berdiri diam di sisi ranjang. Usianya sekitar tujuh tahun, berwajah datar, memakai kemeja putih rapi. Matanya yang gelap menatap Elara tanpa kedip, seolah merekam setiap gerakannya. Elara mencoba tersenyum meski tenggorokann







