로그인Usai mengetahui kebohongan suaminya yang pura-pura lumpuh dan miskin agar bisa mempermainkan dirinya, Elara Mahira memutuskan pergi dari kontrakan mereka. Namun, ia malah mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah besar nan mewah milik seorang duda kaya raya, Alden. Tak disangka, saat Elara terbangun, Arkan, putra Alden yang selama tiga tahun tak pernah bicara maupun tersenyum, justru tertarik padanya hingga membuat Alden meminta Elara tinggal di rumah itu. Namun, tinggal serumah dengan duda dingin itu perlahan menyeret Elara ke dalam hubungan rumit yang tak pernah ia bayangkan.
더 보기“Aku sudah bilang jangan jemput dengan baju seperti itu,” keluh bocah 6 tahun itu dengan wajah kesal. Dia melempar tas sekolahnya ke kursi di ruang tamu.
“Mama kan sambil antar makanan, Vargan. Terlalu lama kalau pulang dulu ganti baju,” jawab Elara Mahira sambil menatap anak sambungnya dengan lembut.
“Tapi aku malu!” sergah Vargan sambil menendang kesal meja di depannya. “Kenapa sih Papa bisa menikah dengan wanita miskin seperti kamu!”
Elara terpaku mendengar ucapan Vargan. Anak itu selama ini telah dia besarkan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Tapi entah kenapa belakangan jadi menjadi seperti ini.
Namun, Elara tak bisa berbuat banyak. Dia menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri. Akhirnya, dia hanya bisa menghela napas dan berkata, “Mama pergi antar makanan lagi ya. Di meja makan udah ada makanan, lebih baik kamu makan dan istirahat.”
“Ah, pasti telur lagi,” gerutu Vargan sambil melangkah kasar ke dalam, meninggalkan Elara di ruang tengah.
Sekali lagi, Elara menghela napas, lalu melangkah keluar untuk kembali bekerja.
Elara kembali melaju dengan sepedanya usai notifikasi aplikasi pengantar makanan di ponselnya berbunyi. Perasaannya kembali bersemangat melihat pesanan besar itu.
“Orderan besar begini, semoga aja bukan penipu. Lumayan uangnya,” gumam Elara di tengah jalan.
Usai mendatangi restoran tepat makanan dipesan, Elara kembali melaju menuju rumah pelanggannya. Saat dia tiba di depan rumah mewah, dia merasa sedikit gugup. Ini adalah salah satu pesanan terbesar hari ini, dan dia tidak ingin membuat kesalahan.
"Kamu harus berani, Elara. Ini demi suami kamu biar bisa berobat dan bisa sembuh." Kata-kata itu merupakan penyemangat dari Elara untuk dirinya sendiri.
Elara mengambil napas dalam-dalam, lalu memasuki rumah mewah itu. Dia langsung disambut oleh suara musik dan tawa orang-orang elit yang sedang berkumpul di sana.
'Senang ya jadi mereka, bisa tertawa lepas tanpa beban seperti itu,' batin Elara.
Rata-rata yang ada di sana sepertinya seumuran dengan Elara. Mereka bisa bersenang-senang, sedangkan Elara harus berjuang agar bisa hidup dan mendapatkan sesuap nasi.
Saat dia mencari tuan rumah, dia melihat seorang pria yang sedang duduk di sofa, dikelilingi oleh beberapa orang wanita cantik.
Elara mengernyit, dalam hatinya rasanya Elara merasa sangat familiar dengan pria itu.
"Kamu benar-benar luar biasa, Darvian. Bisa-bisanya kamu betah menyamar jadi pria lumpuh dan miskin."
"Benar itu, kalau aku mungkin udah cabut dari lama," tambah yang lain.
Elara masih berdiri di belakang, tangan Elara mengepal dengan mata yang terasa mulia panas. Darvian, itu jelas-jelas adalah nama suaminya.
Darvian tersenyum angkuh. "Awalnya sih nggak betah ya. Tapi lama-lama kok betah juga bisa punya boneka hidup yang bisa jadi LC gratis buat tuntasin nafsu. Belum lagi dia dengan bodohnya mau kerja banting tulang dan mau ngerawat anakku yang nakal itu, jadi aku nggak perlu nafkahin dia."
"Kenapa nggak jujur aja sama dia kalau kamu ini sebenarnya anak orang kaya?" Tanya seorang wanita yang duduk paling dekat dengan Darvian.
"Aku nggak mau rugi kalau dia malah numpang hidup sama aku. Lagi pula senang rasanya bisa lihat dia kecapekan tiap hari," tambah Darvian.
Dan semua kata-kata yang terucap dari bibir Darvian terasa begitu menyakitkan bagi Elara.
Elara merasa seperti disambar petir. Darvian yang lumpuh? Darvian yang tidak bisa berjalan? Darvian yang selalu mengatakan bahwa dia tidak bisa bekerja karena sakit?
Tapi ternyata dia justru sangat sehat dan sangat kaya, sungguh lucu cara Darvian mempermainkan ketulusan Elara.
Elara merasa seperti telah ditipu. Dia melihat Darvian yang sedang tertawa dan bersenang-senang dengan orang-orang elit itu. Dia melihat wanita lain yang duduk di sebelah Darvian, memegang tangannya dengan mesra.
Bahkan Darvian tak menolak saat wanita itu begitu berani mengecup bibir Darvian.
'Terkutuk kamu Darvian!' Elara memalingkan wajah, Elara tak kuasa melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain.
Elara merasa sakit hati yang luar biasa. Dia ingin berteriak, ingin menghancurkan semua yang ada di sana. Tapi dia tidak bisa. Dia hanya bisa berdiri diam, menatap suaminya yang ternyata telah menipunya selama ini.
Karena tak tahan ada di tempat ini terlalu lama, Elara memutuskan untuk langsung mengantarkan makanan ke mereka.
"Permisi, orderan atas nama Erna." Elara meletakkan makanan itu di tas meja.
"Iya, makasih ya." Tuan rumah yang bernama Erna itu begitu tak ramah.
Darvian melihat Elara, dan untuk sekejap, mereka bertatap mata.
Elara melihat kilatan kejutan di mata Darvian, tapi itu tidak berlangsung lama. Darvian hanya tersenyum, lalu kembali bersenang-senang dengan orang-orang elit itu seolah adanya Elara di sana dan Elara sudah tahu segalanya bukanlah hal perlu dia khawatirkan.
"Darvian, bukannya dia istri kamu?"
Elara masih mendengar teman Darvian bertanya seperti itu.
"Iya kayaknya, dia kan emang pengantar makanan," balas Darvian begitu cuek.
"Kamu nggak takut dia marah atau justru udah tahu segalanya?" tanya yang lain.
Darvian justru tertawa singkat. "Biarin aja, lagi pula dia apa tanpa aku."
Elara yang masih mendengar semua yang mereka bicarakan meneteskan air mata.
"Selamat, Darvian. Kamu akan kehilangan boneka mainanmu ini," gumam Elara dengan rasa sakit yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Elara merasa seperti telah kehilangan segalanya. Dia berbalik, lalu pergi dari sana, meninggalkan semua kebohongan dan sakit hati di belakangnya.
Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan besok, atau bagaimana hidupnya setelah ini. Tapi satu hal yang pasti, dia tidak akan lagi kembali menjadi wanita bodoh yang terus bertahan di samping pria penuh kebohongan itu.
Elara mengayuh sepedanya dengan keras. Angin sore menerpa wajahnya, tapi tidak mampu menghilangkan sesak di dadanya. Jalanan yang biasanya terasa biasa kini tampak buram karena air mata yang terus menggenang di matanya.
Sesampainya di rumah, suasana terasa sunyi.
Elara melangkah masuk perlahan, lalu pandangannya jatuh pada Vargan yang sedang tertidur di sofa ruang tengah dengan televisi yang masih menyala kecil. Dia kembali mengingat ucapan pahit bocah itu tadi siang.
Elara tertawa pelan, pahit, lalu melangkah ke kamar.
"Aku ini sebenarnya apa selama ini?" bisiknya lirih.
Dia rela bekerja siang malam, kehujanan, kepanasan, hanya demi pria yang ia pikir sedang berjuang bersamanya. Bahkan anak Darvian pun ikut dia urus tanpa pernah mengeluh.
Padahal, Elara sama sekali tidak pernah mempermasalahkan soal uang atau kekayaan. Ia tidak peduli jika harus hidup sederhana, selama semua yang mereka jalani itu tulus.
Tapi ternyata selama ini dirinya hanya diperdaya.
Semua perhatian, semua perjuangan, dan semua cinta yang dia berikan ternyata hanya dijadikan bahan tertawaan di belakangnya. Dirinya hanya dianggap sebagai wanita murahan yang tidak akan bisa hidup tanpa Darvian.
Tangis Elara jatuh lagi. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.
"Aku bodoh..." suaranya bergetar. "Aku benar-benar bodoh."
Elara menutup wajahnya sambil menangis pelan. Semua pengorbanan yang selama ini dia banggakan tiba-tiba terasa begitu memalukan.
Beberapa menit kemudian, Elara menghapus air matanya kasar.
Tatapannya perlahan berubah dingin.
"Cukup!" Elara berdiri, tangannya terkepal. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan di rumah ini, tidak ada cinta, tidak ada kejujuran, hanya kebohongan yang menjijikkan.
Dengan cepat, Elara mengambil tas seadanya, dia tidak peduli pada barang-barang lain, semua itu tidak berarti apa-apa dibanding harga dirinya yang telah diinjak-injak.
Rumah itu sunyi, Darvian tidak ada, dan itu kesempatan besar untuk Elara pergi tanpa gangguan.
Elara melangkah keluar kamar tanpa ragu, ia melewati ruang tengah, lalu sekilas melirik ke arah Vargan yang masih tertidur lelap, tanpa rasa kasihan Elara pergi dan tak peduli meskipun Vargan akan sendirian di rumah.
Toh anak itu adalah anak Darvian, bukan anak Elara.
Elara duduk bersila di lantai kamar kecil yang akan ia tempati sambil menatap isi tasnya yang bahkan tak sampai memenuhi setengah lemari tua di depannya.Hanya beberapa potong pakaian sederhana, dompet tipis, charger ponsel, dan foto usang dirinya bersama Darvian dan Vargan yang tanpa sadar masih terbawa.Elara mengambil foto itu dengan tatapan lesu, lagi-lagi Elara ingat dengan pengkhianatan Darvian terhadapnya.Tatapan Elara tertuju pada wajah Vargan kecil yang dulu pernah memeluk lehernya sambil tertawa manja. Dulu bocah itu begitu dekat dengannya. Bahkan tidur pun harus dipeluk Elara. Tapi itu hanya dulu sekali sebelum Vargan masuk sekolah, sekarang anak itu sudah berubah dan sangat membenci Elara hanya karena Elara miskin dan tukang antar makanan.Elara menunduk pelan. Ucapan Vargan yang sering kali memanggilnya dengan sebutan wanita miskin kembali menusuk dadanya.Tanpa berpikir panjang, Elara memasukkan foto itu ke dalam laci lemari lalu menutupnya dengan rapat. Ia tak ingin me
Elara langsung membeku mendengar tawaran itu.“Kamu mau bekerja di sini?”Suara Alden terdengar datar, dingin, bahkan tanpa sedikit pun nada membujuk. Namun justru itu yang membuat Elara semakin gugup. Wanita itu menatap Arkan yang masih memeluk pinggangnya, lalu kembali menatap pria tinggi di hadapannya.Ruangan itu tiba-tiba terasa sempit.Bekerja di rumah sebesar ini?Di rumah pria asing yang bahkan tatapannya saja bisa membuat jantungnya berdebar tidak nyaman?Elara menelan ludah yang terasa kelu. Jujur saja, ia ingin menolak. Semalam saja ia sudah merepotkan mereka karena kecelakaan itu. Tidak mungkin sekarang malah tinggal di sini. Lagi pula, ia sama sekali tidak mengenal Alden.Namun di sisi lain, dadanya terasa sesak mengingat kenyataan yang sedang ia hadapi. Ia sudah tidak punya tempat pulang.Kontrakan itu bukan miliknya. Darvian pasti sudah membawa perempuan itu ke sana. Membayangkannya saja membuat hati Elara kembali terasa nyeri.Tangannya tanpa sadar mengusap pelan pungg
Di depan pintu kamar Arkan, Elara mengintip. Arkan berdiri di tengah ruangan. Di kakinya, vas bunga mahal pecah berkeping-keping. Wajah bocah itu panik, matanya berkaca-kaca menatap Elara. Arkan seperti ingin bicara, tapi lidahnya terlihat begitu berat sehingga anak itu hanya menunduk dan itu membuat Elara merasa iba. Entah hal seburuk apa yang dialami anak itu sampai-sampai dia terlihat sangat menyedihkan. Rasanya Elara sangat ingin menemui Arkan, tapi sayang sekali Calix langsung menutup pintu kamar anak itu sehingga dengan terpaksa Elara turun lagi ke bawah dan duduk tenang di ruangan tamu. Namun, ketika Elara baru akan menuruni anak tangga, suara pintu kamar Arkan terdengar dibuka, membuat Elara kembali menoleh. “Itu …” Punggung tegap seorang pria baru saja masuk ke dalam kamar. Elara yakin, itu pasti pemilik rumah ini, orang yang menolongnya. Namun, Elara tak berani mendekat. Terlalu ingin tahu juga tidak baik. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap menunggu di ruang tamu unt
Elara menoleh ke samping dan sontak menahan napas. Seorang anak laki-laki berdiri diam di sisi ranjang. Usianya sekitar tujuh tahun, berwajah datar, memakai kemeja putih rapi. Matanya yang gelap menatap Elara tanpa kedip, seolah merekam setiap gerakannya. Elara mencoba tersenyum meski tenggorokannya kering. “Ini rumah kamu? Keluarga kamu yang nolongin aku?” Anak itu tidak menjawab. Bibirnya terkatup, tapi sorot matanya gelisah. Tangannya meremas ujung kemeja sendiri, seolah ada ribuan kata yang ingin keluar tapi terkunci. Elara bangkit, bersandar pada kepala ranjang. “Kamu bisa panggil orang tuamu? Aku mau bilang terima kasih udah dibantu semalam.” Anak itu tetap diam, tidak tahu caranya menjawab Elara bagaimana. Sebelum Elara sempat bertanya lagi, pintu kamar terbuka. Calix masuk membawa nampan berisi bubur dan teh hangat. Begitu melihat bocah di samping ranjang, ekspresinya langsung berubah. “Tuan Muda Arkan,” panggil Calix dengan nada hormat, “kenapa Tuan Muda di sini? Waktun
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.