Udara malam menusuk kulit Elara saat ia menyusuri jalanan kota dengan langkah gontai. Tas kecil yang ia bawa hanya berisi dompet tipis, ponsel, dan sehelai pakaian ganti. Tidak ada rencana, tidak ada tujuan. Yang ia tahu, ia harus pergi sejauh mungkin dari rumah penuh dusta itu. Setelah hampir satu jam berjalan, kaki Elara terasa berat. Napasnya memburu, dadanya sesak bukan karena lelah, tapi karena pikiran yang terus berputar. Akhirnya ia berhenti di sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan. Dengan pencahayaan yang remang dan hanya ada dua meja plastik yang kosong. “Pesan apa, Mbak?” tanya ibu penjual sambil mengelap meja di dekat Elara. Elara mengangkat wajah, memaksa tersenyum meskipun isi otaknya sedang ribut. “Es teh aja, Bu. Yang biasa.” “Iya, tunggu sebentar ya.” Elara duduk di kursi plastik yang sudah sedikit reyot. Ia menatap jalanan yang mulai sepi. Kendaraan sesekali lewat, lampu motornya menyorot wajahnya yang sembab. Pikirannya melayang, kembali ke kejadian beb
Dernière mise à jour : 2026-04-17 Read More