LOGINCahaya jingga matahari masuk melalui jendela-jendela besar rumah Alden, membuat interior bernuansa cokelat tua terlihat hangat meski suasananya masih terasa terlalu sunyi.
Elara berdiri kikuk di dapur besar di rumah itu sambil mengenakan celemek pemberian Bi Inah. Tangannya sibuk membantu memotong wortel, meski sesekali matanya masih berkeliling kagum melihat isi dapur itu. Semuanya serba mahal. Kulkas dua pintu sebesar lemari, oven modern, meja marmer mengkilap, bahkan pisau dapurnya terasa lebih mahal dari seluruh isi kontrakan Elara dulu. “Jangan tegang begitu, Elara,” ujar Bi Inah sambil terkekeh kecil, “nanti malah jarinya ikut kepotong.” Elara langsung salah tingkah. “Maaf, Bi. Saya masih belum terbiasa.” “Wajar.” Bi Inah tersenyum lembut. “Dulu Bi Inah pertama kerja di sini juga sampai takut pegang piring.” Elara ikut tertawa kecil. Entah kenapa, suasana dapur itu terasa nyaman. Sangat berbeda dengan kontrakan Darvian yang selalu membuatnya lelah sendiri. “Bi Inah sudah lama kerja di sini?” tanya Elara sambil mulai menyusun sayuran. “Hampir sepuluh tahun.” Mata Elara membesar. “Lama sekali.” “Iya.” Bi Inah menghela napas pelan. “Dari sebelum Tuan menikah.” Elara terdiam sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya dengan hati-hati, “Tuan Alden benar-benar duda?” Bi Inah berhenti mengaduk sup sesaat. “Iya.” “Maaf kalau saya terlalu ingin tahu.” “Tidak apa-apa.” Bi Inah tersenyum tipis. “Cepat atau lambat kamu juga akan tahu sendiri.” Elara diam mendengarkan Bi Inah bercerita. “Tuan Alden itu orang hebat,” lanjut Bi Inah, “masih muda, tapi sudah pegang perusahaan besar peninggalan keluarganya. Semua orang segan sama beliau.” Elara mengangguk kecil. Ia memang bisa merasakan aura itu dari Alden. “Kalau soal perceraian.” Bi Inah tampak ragu sebentar. “Ibu kandung Tuan Muda Arkan pergi tiga tahun lalu.” Elara sedikit terkejut. “Pergi?” Bi Inah mengangguk pelan. "Sampai detik ini belum ada kabar pasti kemana sebenarnya dia pergi." Hati Elara langsung mencelos. Pantas saja Arkan terlihat sangat kehilangan kasih sayang. “Sejak itu Tuan Muda berubah,” lanjut Bi Inah lirih, “jarang bicara. Menutup diri. Bahkan hampir seperti anak bisu.” Elara menunduk merasa sangat kasihan. “Kasihan sekali Arkan.” “Dan Tuan Alden." Bi Inah tersenyum pahit. “Beliau jadi semakin dingin dari sebelumnya, meskipun sebenarnya Tuan Alden menikahi istrinya hanya karena perjodohan, bukan karena cinta.” Elara semakin terdiam, Elara sangat kaget ternyata kehidupan orang kaya sangat banyak drama. Entah kenapa, untuk sesaat ia merasa dirinya dan Alden sama-sama orang yang pernah dihancurkan oleh cinta. Hanya saja cara mereka menghadapi luka berbeda. Elara menangis menghadapi semuanya, sedangkan Alden membeku seperti gunung es yang sulit untuk dicairkan. “Makanya Bibi kaget sekali lihat Tuan Muda Arkan langsung dekat sama kamu,” lanjut Bi Inah sambil melirik Elara. “Biasanya dia takut sama orang baru.” Elara tersenyum kecil mengingat bocah itu. “Dia anak yang manis.” “Dan sepertinya sangat sayang sama kamu.” Belum sempat Elara menjawab, suara langkah kaki kecil terdengar cepat memasuki dapur. “Mama!” Elara langsung menoleh. Arkan berdiri di ambang pintu dengan piyama kecil beruang dan rambut sedikit berantakan habis tidur siang. Wajah datarnya langsung berubah cerah begitu melihat Elara. Bocah itu berjalan cepat lalu langsung memeluk kaki Elara dengan erat. “Mama nggak ada di kamar.” Elara refleks berjongkok lalu mengusap kepala Arkan begitu lembut. “Aku di sini hantu Bi Inah masak buat Arkan.” Bi Inah sampai tersenyum sendiri melihat perubahan besar anak itu. Biasanya Arkan akan diam di kamar sendirian setelah bangun tidur. Tapi sekarang? Anak itu malah sibuk mencari Elara. “Ayo cuci tangan dulu,” ujar Elara lembut, “nanti makan malam.” Arkan mengangguk cepat dengan antusias tanpa bantahan. Namun bukannya pergi sendiri, bocah itu justru menggenggam tangan Elara seolah takut wanita itu menghilang. Elara sampai tertawa kecil. “Kamu lengket sekali, hm?” Arkan hanya menatap Elara tanpa malu lalu berkata polos, “Nanti Mama pergi.” Hati Elara langsung terasa hangat sekaligus nyeri mendengar kata itu dari bibir Arkan. Ia benar-benar tidak tega mendengar nada takut dalam suara kecil itu. Elara yakin Arkan trauma ditinggal ibunya. “Aku nggak pergi,” jawab Elara akhirnya. Dan Arkan langsung tersenyum puas. ***** Malam harinya, meja makan besar itu akhirnya penuh dengan menu makanan yang tadi sore dibuat oleh Elara dan Bi Inah. Elara sempat terbengong melihat begitu banyak makanan padahal majikan hanya dua orang, itupun satunya anak kecil. Jika ingat, dulu saat bersama Darvian Elara hanya mampu membeli satu lauk dibagi tiga. Elara menggeleng, tidak ada gunanya ia mengingat hidup malang bersama orang itu lagi. Arkan duduk di kursinya sambil terus menempel pada Elara. Bahkan ketika Bi Inah mencoba menyuapinya, bocah itu langsung menggeleng. “Mama aja.” Bi Inah terkekeh. “Elara, sepertinya sekarang tugas kamu bukan cuma pengasuh.” Elara tersipu malu. Ia lalu mengambil mangkuk kecil dan mulai menyuapi Arkan perlahan-lahan. “Aa .…” Arkan membuka mulut patuh sambil terus memandang Elara. Sementara itu, di ujung meja makan, Alden duduk diam dengan ekspresi datarnya. Pria itu baru pulang kerja setengah jam yang lalu. Jas hitam mahalnya masih melekat sempurna di tubuh tegapnya. Rambutnya sedikit berantakan, membuat wajah dinginnya justru terlihat semakin tampan. Namun sedari tadi Alden sama sekali tidak banyak bicara. Tatapannya lebih sering tertuju pada piring makan dibanding orang-orang di sekitarnya. “Elara.” Suara berat Alden tiba-tiba terdengar. Elara langsung refleks menoleh gugup. “Iya, Tuan?” “Kalau Arkan sulit tidur malam, hubungi Bi Inah.” “Baik.” “Dan.” Alden berhenti sebentar sebelum akhirnya berkata tanpa menatap Elara. “Jangan terlalu dimanja, anak laki-laki tidak boleh terlalu manja.” Elara sedikit bingung. “Tapi Tuan Muda masih kecil, Tuan.” Alden akhirnya menoleh sekilas. Tatapan mata pria itu membuat Elara langsung gugup lagi. “Dia terlalu cepat bergantung.” Kalimat itu terdengar biasa saja. Namun entah kenapa, Elara merasa ada maksud lain dalam suara Alden."kalau kamu bagaimana, Elara? Apa ada sesuatu yang saya tidak tahu tentang kamu?" Alden masih penasaran akan kehidupan Elara.Elara menggeleng. "Tidak ada, Tuan. Kehidupan saya hanya Darvian dan anaknya Vargan, saya rasa Tuan sudah tahu segalanya tentang saya." Memang benar, kehidupan Elara sangatlah monoton selama ini.Alden pun percaya saja, karena memang selama hampir enam bulan tinggal di tempat yang sama dengan Elara, Alden tidak pernah melihat Elara sibuk dengan urusan lain selain Arkan."Apakah kamu bisa berjanji satu hal sama saya jika kita sudah menikah nanti?" Alden menatap Elara dengan pandangan cemas itu."Apa?" tanya Elara, "apa Anda meragukan saya?" "Bukan begitu maksud saya." Alden terkekeh karena Elara terlalu overthinking. "Saya hanya mau kamu menyaingi Arkan selamanya meskipun nanti suatu saat kamu dan saya juga punya anak lagi. Dan saya harap kamu bisa menerima saya apa adanya karena saya ini banyak kurangnya. Dan mungkin saya juga tidak bisa menjadi suami yang rom
Alden menarik napas panjang. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya kembali pada masa yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam."Arkan baru berusia tiga tahun waktu itu," ucapnya Alden, "usia di mana seorang anak paling membutuhkan kasih sayang ibunya."Elara diam. Ia memilih menjadi pendengar yang baik, meskipun sejauh ini ia ingin menangis membayangkan Arkan yang diabaikan ibunya padahal dia sedang butuh sosok ibu."Namun sejak lahir, Melinda tidak pernah menganggap Arkan sebagai anaknya." Suara Alden mulai bergetar. "Dia tidak pernah menggendong Arkan, tidak pernah menyuapinya makan, tidak pernah menidurkannya. Bahkan ulang tahun Arkan pun dia tidak pernah ingat dan tidak pernah peduli. Arkan sampai menjadi seperti pengemis yang memohon perhatian dari ibunya."Elara menggigit bibir bawahnya mentahan tangis, Elara langsung membayangkan wajah sendu Arkan. "Semuanya saya lakukan sendiri. Mengganti popok, membuat susu, begadang saat Arkan demam, mengajarinya berjalan, bahka
Alden menghentikan mobilnya di sebuah bukit yang berada di pinggiran kota. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasangan dan keluarga kecil yang duduk menikmati sore. Hamparan padang rumput hijau membentang luas, sementara pepohonan pinus menjulang tinggi di sisi jalan setapak. Dari puncak bukit itu, langit tampak begitu luas dengan semburat jingga yang perlahan menyelimuti cakrawala.Elara turun dari mobil dengan rasa penasaran. Begitu kedua kakinya menginjak rerumputan, matanya langsung berbinar.p"Masya Allah, indah sekali." Elara sangat takjub melihat keindahan yang tersaji di depan matanya.Udara sejuk langsung menyambut wajahnya. Angin sore berembus lembut membawa aroma rumput dan tanah yang masih basah setelah hujan beberapa saat lalu.Tanpa sadar, Elara berjalan beberapa langkah menjauh dari Alden. Kedua tangannya ia rentangkan lebar sambil memejamkan mata. Senyum yang selama ini jarang menghiasi wajahnya kini merekah begitu tulus.Rambut panjangnya berkibar dite
"Sudah seperti ini kamu masih berani ambil uang rentenir, Darvian? Kamu mikir gak sih bagaimana caranya buat bayar hutang itu?" Monica tak abis pikir dengan kelakuan Darvian.Perusahaan bangkrut, karier model Monica hancur, rumah mereka dua-duanya disita bank, Vargan dengan terpaksa dititipkan di panti asuhan. Dan sekarang Darvian malah menambah masalah baru dengan meminjam uang dari rentenir.Sekarang mereka hanya tinggal di kontrakan sepetak yang kumuh dan setiap harinya mereka hanya bertengkar. Tidak ada lagi panggilan sayang yang terucap dari bibir mereka, yang ada hanya caci maki satu sama lain dan saling menyalahkan."Nggak usah berisik kamu. Nikmati saja apa yang ada, kamu pikir kita bisa beli makan pake daon?" Darvian dengan santai membuka bungkus nasi Padang yang ia beli dari hasil ngutang itu.Memang dasarnya, Darvian tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi. Dia rela berhutang hanya untuk hal-hal yang tak penting.Monica sampai mengusap dada karena kelakuan Darvian. Masa
"Saya sangat serius, Elara. Menikahlah dengan saya."Elara masih memegang gelas di tangannya. Jemarinya sedikit bergetar. Ia benar-benar tidak menyangka pria yang selama ini begitu dingin akan melamarnya secara tiba-tiba, meskipun selama ini sudah beberapa kali Alden mengajaknya menikah. Alden tidak mendesak. Ia memilih menunggu jawaban Elara, meski di dalam hatinya ada rasa cemas yang mulai muncul. Alden takut Elara akan tidak nyaman karena dirinya sudah begitu sering mengatakan soal pernikahan pada Elara.Seperti biasanya, mungkin Elara akan menolak lagi.Namun kali ini, Elara justru menarik napas panjang. Tatapan matanya bertemu dengan mata Alden."Tuan." Elara mengumpulkan keberanian untuk bicara meskipun rasa tak pantas dan insecure sering kali mendatangi dirinya.Alden mengangguk, memberi isyarat agar Elara melanjutkan saja apa yang ingin dia katakan. Alden jadi agak tegang melihat cara Elara menatap dirinya."Saya memang orang biasa. Saya tidak punya keluarga, tidak punya hart
Alden Mahesa.Selama bertahun-tahun, nama itu dikenal sebagai simbol ketegasan, kekuasaan, dan sikap dingin yang nyaris tak tersentuh. Para karyawan menaruh hormat sekaligus takut kepadanya. Para rekan bisnis segan mengambil langkah yang salah di hadapannya. Tidak sedikit wanita yang berusaha mendekat, tetapi semuanya berakhir sama. Alden selalu menjaga jarak, seolah ada tembok tinggi yang mustahil ditembus.Tidak ada yang tahu bahwa di balik sikap dinginnya, Alden menyimpan trauma yang membuatnya sulit mempercayai seorang wanita.Namun, sejak Elara hadir di mansion itu, membuat ada sesuatu yang berubah pada diri Alden. Perubahan yang bahkan Alden sendiri tidak pernah menyangka akan terjadi pada dirinya dalam waktu yang terbilang singkat.Malam itu, seluruh mansion diselimuti keheningan. Di dalam kamar Arkan yang luas dan hangat, lampu tidur menyala redup menghasilkan cahaya remang-remang.Elara terbaring di atas ranjang besar milik Arkan. Wajahnya memerah karena demam yang tinggi. Se
Elara duduk bersila di lantai kamar kecil yang akan ia tempati sambil menatap isi tasnya yang bahkan tak sampai memenuhi setengah lemari tua di depannya.Hanya beberapa potong pakaian sederhana, dompet tipis, charger ponsel, dan foto usang dirinya bersama Darvian dan Vargan yang tanpa sadar masih t
Elara langsung membeku mendengar tawaran itu.“Kamu mau bekerja di sini?”Suara Alden terdengar datar, dingin, bahkan tanpa sedikit pun nada membujuk. Namun justru itu yang membuat Elara semakin gugup. Wanita itu menatap Arkan yang masih memeluk pinggangnya, lalu kembali menatap pria tinggi di hada
Di depan pintu kamar Arkan, Elara mengintip. Arkan berdiri di tengah ruangan. Di kakinya, vas bunga mahal pecah berkeping-keping. Wajah bocah itu panik, matanya berkaca-kaca menatap Elara. Arkan seperti ingin bicara, tapi lidahnya terlihat begitu berat sehingga anak itu hanya menunduk dan itu memb
Elara menoleh ke samping dan sontak menahan napas. Seorang anak laki-laki berdiri diam di sisi ranjang. Usianya sekitar tujuh tahun, berwajah datar, memakai kemeja putih rapi. Matanya yang gelap menatap Elara tanpa kedip, seolah merekam setiap gerakannya. Elara mencoba tersenyum meski tenggorokann







