MasukSudah satu bulan berlalu sejak Anaya melahirkan. Keadaannya sudah jauh lebih baik dan bayinya tubuh cepat, gembul dan sehat. Hari ini kelurga kakaknya datang untuk makan malam keluarga. Bukan hanya keluarga Moriz, keluarga Thomas juga datang. Tak lupa kakek nenek suaminya. Intinya rumah ini sangat ramai, dan semuanya adalah orang-orang baik. "Apa jadi ibu merepotkan, Dek?" tanya Elma, menatap Anaya secara lekat—di mana Anaya sedang mengganti celana bayinya, di kamar Anaya dan Dominic. Anaya menoleh pada kakaknya yang dengan mengelus perutnya yang besar. Dia senyum tipis lalu menggelengkan kepala. "Enggak, Kak. Soalnya Mas Dominic selalu membantuku. Mommy dan daddy juga tak pernah diam saat aku kewalahan mengurus Seven." "Kurasa apapun akan terasa ringan jika kita berada di antara orang-orang yang mencintai, peduli, menghargai, dan bertanggung jawab, Kak," tambah Anaya, meraih putranya yang sudah selesai ia ganti celananya, "dan aku yakin sekali, Kakak juga akan sama seper
---Beberapa Bulan kemudian--- Anaya menatap bayi mungil miliknya dengan penuh kebahagiaan. Air matanya jatuh, senang dan terharu secara bersamaan. Buah hatinya sudah lahir, membawa kebahagiaan mendalam dan cinta yang besar. "Dari tadi kau terus mengamati bayinya." Seorang pria bersuara, nadanya datar dan terkesan kesal. Anaya mendongak pelan, menatap suaminya dengan senyum lembut. "Aku masih tidak percaya kalau aku sudah jadi Mama dan Mas sudah jadi Papa. Bayi kita … sangat tampan dan sehat, Mas. Aku sangat kagum padanya." "Apa pria tampan ini kalah dengan bayi yang baru lahir itu, Heh?" sindir Dominic, melirik bayinya dengan ekspresi berang lalu menatap penuh harap pada Anaya. Cukup Anaya mengakui ketampanannya, maka Dominic akan luluh. "Ouh, jelas cucuku yang paling tampan," jawab Alaric yang duduk di sofa, segera bangkit lalu menghampiri Anaya. "Ana, boleh Daddy gendong cucu Daddy?" tanya Alaric lembut. Sebenarnya dia sudah mengendong cucunya ini, akan tetapi dia me
"Kalian pacaran?" tanya Anaya, menaik-turunkan alis. Pembicaraan mereka mulai terasa santai dan menyenangkan, tak lagi tegang dan penuh kesedihan. Gea menggelengkan kepala. "Kami tidak pacaran, murni hubungan antara bos dan asisten. Tuan bilang dia sulit mempercayai seseorang dan dia mengaku dia sudah menaruh kepercayaan padaku. Oleh karena itu dia memilihku sebagai calon istrinya." "Dan kamu mau?" Gea menganggukkan kepala. "A-aku suka pada Tuan Darren. Lagipula di kantor, perempuan single mana yang tak suka pada Tuan Darren?" "Cieee …." Anaya nenggoda Gea, membuat perempuan itu senyum malu-malu dengan pipi yang terlihat merah. Anaya kembali ingin menggoda akan tetapi tiba-tiba saja seorang maid datang. "Nyonya muda dan Nona Gea, kalian berdua dipanggil oleh Nyonya Tuan untuk minum teh bersama," lapor maid tersebut. "O-oh. Sampai lupa kalau kita ke sini untuk minum teh bersama. Ayo, Gea," ucap Anaya, berdiri lebih dulu tetapi mempersilahkan Gea untuk lebih dulu pergi. Nam
"Hai." "Hai." Anaya menyapa canggung seorang perempuan yang tak lain adalah calon istri sepupu suaminya. Bukan hanya Anaya, perempuan itu juga terlihat canggung—senyum kikuk pada Anaya. Seperti janji Dominic sebelumnya pada Anaya, Dominic benar-benar mempertemukan Anaya dengan calon istri Darren. Mereka bertemu di kediaman Theodora, sekalian untuk mengajak calon istri Darren lebih dekat dengan keluarga Theodora. Saat ini Dominic tak ada, begitupun dengan Darren. Keduanya ada kesibukan. Anaya dan Gea Namora—calon istri Darren, benar-benar berdua di tempat ini. Kedua perempuan ini sebenarnya harus ke taman untuk minum teh bersama kakek-nenek Dominic dan Darren. Akan tetapi karena keduanya sama-sama canggung, mereka masih duduk di ruang tamu dan terus menyapa dengan kikuk. "Apa kabarmu?" tanya Gea lebih dulu, lagi-lagi senyum kikuk dan canggung luar biasa pada Anaya. Maklum! Dulu mereka sangat dekat, lalu karena perpisahan mereka berakhir tak pernah bertemu. "Baik." Anay
"Diri sendiri saja dicemburui. Aneh!" gumam Dominic sambil melirik kesal pada daddynya, berjalan ke sofa lalu duduk di sebelah istrinya. Alaric memilih tak menjawab, hanya menatap sinis pada putranya. Cih, putranya tak paham dan tak merasakan seperti apa jadi dirinya, jadi percuma dia jelaskan. Seven itu … ah, sudahlah! Alaric harus melupakannya! "Sayang, nanti malam kita ke rumah Aunty Alisha dan Uncle Asher yah. Soalnya Kak Darren akan bertunangan dengan kekasih diam-diamnya," ucap Aeza. "Wah." Anaya menampilkan ekspresi wajah senang. Lalu dia menganggukkan kepala penuh semangat. Aih, dia jadi penasaran siapa perempuan yang berhasil mendapatkan hati sepupu suaminya tersebut. "Oke, Mommy."***Seperti yang mommy mertuanya katakan, malam ini Anaya dan keluarga suaminya datang ke pesta pertunangan Darren. Karena keluarga Moriz dan Lex diundang, di pesta ini Anaya bisa bertemu dengan kakaknya, Rain, Ellan, dan juga Gita. Sambil menunggu tunangan Darren datang, Anaya berkumpul denga
"Kak, kamu nggak apa-apa?" tanya Anaya, di mana saat ini dia ke rumah sakit—di temani oleh suaminya, setelah mendapat kabar dari Elma kalau Elma sedang di rumah sakit. Tadi, Elma sudah bersama mereka di taman. Namun, Elma tiba-tiba izin pergi ke toko bunga untuk menemui Rain. Kata Elma, Rain terus mengirim pesan dengan isi 'P' padanya. Oleh karena itu Elma ingin memastikan kenapa Rain terus mengirimnya pesan begitu, di mana saat Elma tanya apa maksud dari Rain tersebut, Rain selalu menjawab P'. Di taman, Anaya dan Dominic terus menunggu. Hingga tiba-tiba saja Elma mengirimi pesan kalau dia di rumah sakit. Oleh karena itu Anaya menyusul kakaknya ke sana. Dia khawatir Elma kenapa-napa. "Aku tidak kenapa-napa, Anaya." Elma menjawab lembut, senyum tipis pada Anaya. Anaya menghela napas cukup panjang, lega karena kakaknya terlihat baik-baik saja. Setelah itu, dia duduk di sebelah Elma. "Trus kenapa Kakak di rumah sakit?" tanya Anaya kemudian. "Larisa pendarahan," jawab Elma. "Hah?"







