Masuk"Brengsek! Bagaimana bisa dia masih lolos? Kamu ini bisa nggak sih kerjanya? Goblok!" jawab Yongki yang terdengar begitu tak sopan dan kasar. Sejenak Dinda kaget dan kelihatan takut. Emma yang saat itu berada di balik tembok di belakang Dinda mendengarkan secara seksama apa yang sedang gadis itu bicarakan dan dengan siapa ia bicara. "Maafkan aku, tapi beneran ini di luar ekspetasiku. Tapi tenang, bisa jadi Emma cuma menggertak dan membohongiku, aku akan tanya kepala sekolah langsung biar tahu jawaban yang sebenarnya," jawab Dinda. Yongki tidak menjawabnya namu pemuda itu langsung menutup teleponnya. Sehingga membuat Dinda terkejut dan panik. "Halo, Yongki! Sial, malah ditutup!" umpat Dinda. Kedua mata Emma melotot ketika mendengar nama Yongki disebut. Itu artinya Dinda dan Yongki sedang bekerja sama untuk memfitnah sang Kakak. "Gila nih dua munyuk! Ternyata mereka berdua sekongkol buat ngejebak Kak Jasmine. Hah, awas aja ya, sekarang aku tahu siapa dalangnya. Rupanya Kak Yongki da
Jasmine keluar dari ruangan kepala sekolah. Emma pun menyusul sang Kakak yang pergi ke luar. "Emma, kamu mau ke mana?" tanya Nyonya Ratih. "Sepertinya semua sudah beres, dan masalah ini sebenarnya adalah masalah Kak Jamsine. Jadi aku mau keluar, laper, mau ke kantin!" jawab Emma sambil mengusap perutnya pura-pura lapar, padahal iya ingin sekali keluar dari ruangan itu. Pak kepala sekolah membiarkan Emma pergi, karena masalah utama sudah selesai dan masalah Emma sendiri tidak terlalu berat. Temannya yang ia pukuli sudah membaik dan sakitnya tidak terlalu serius. Sehingga Pak kepala sekolah memaafkannya. Di luar, semua teman-teman Jasmine dan siswa lainnya tampak menyoraki dan menatap Jasmine dengan sinis. "Eh, itu si Jasmine sudah keluar. Hah! Pasti dia sudah dikeluarkan dari sekolah kita. Rasain!" "Kayaknya gitu, itu akibatnya kalau melakukan kebodohan. Jijik banget, masa sama saudara sendiri doyan sih, cewek apaan tuh!" "Pasti dia maniak, makanya sama saudara sendiri mau, iyuh
"Emma!" seru Nyonya Ratih panik. Di sisi lain Pak Purba langsung mengiyakan permintaan Emma tanpa keberatan karena pria itu memang sudah mengingikannya dari awal."Oh, tentu saja, Emma. Itu sudah saya pikirkan masak-masak. Pejodohan Cerry dan Mario pasti batal!" Jawaban Pak Purba sontak membuat gadis itu kegirangan. Ia langsung menundukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih pada Pak Purba yang telah mendengarkan keluh kesahnya."Terima kasih, Pak. Makasih banyak!" kata Emma dengan mata berkaca-kaca."Tidak usah berterima kasih, Bapak sudah tahu ke depannya bagaimana. Kamu adik yang baik, kalian berdua adalah gadis yang baik. Pak Julian sangat beruntung memiliki dua orang putri yang saling menyayangi, salut!" balas Pak Purba.Lagi-lagi ucapan pria itu langsung disahuti oleh Nyonya Ratih yang tidak suka Pak Purba memuji-muji Jasmine yang jelas-jelas gadis itu tak pantas mendapatkan gelar sebagai anak Juliansyah Iskandar."Tidak! Anda salah, Pak. Sudah saya katakan sedari tadi jik
Pak Purba dengan santai menanggapinya. Sambil menghela napas, pria itu menatap wajah Nyonya Ratih dengan tajam."Itu benar, Nyonya. Saya rasa Cerry tidak pantas untuk Mario. Saya tidak bisa membayangkan jika putri saya tinggal di keluarga toxic macam kalian. Pasti putri saya tidak akan bahagia," jawab Pak Purba."Oh, ta-tapi tidak bisa begitu dong, Pak. Saya sangat menyayangi Cerry seperti cucu saya sendiri jadi tidak mungkin dia tidak akan bahagia," sahut Nyonya Ratih."Hah, tapi saya tidak melihat seperti itu. Terbukti dengan masalah ini. Jasmine besar di keluarga kalian, tapi Nyonya menganggapnya sebelah mata. Lalu bagaimana dengan Cerry putri saya yang cuma orang baru di sana. Pasti Nyonya akan membuatnya bersedih terus, dan itu membuat saya sangat khawatir," lanjut Pak Purba.Nyonya Ratih terus berusaha untuk meyakinkan pria itu jika dirinya tidak akan memperlakukan Cerry seperti dirinya memperlakukan Jasmine."Itu tidak benar, Pak. Saya pasti akan menyayangi Cerry. Karena dia su
Nyonya Emma langsung terlihat panik. Wajahnya tampak pucat seperti buah semangka yang pudar warna merahnya. "Memang begitu kan, Oma? Untuk apa kita menutup-nutupinya lagi. Jika ini adalah sebuah fitnah, maka aku pasti akan ngomong yang sebenarnya bahwa Kak Jasmine dan Kak Mario bukanlah saudara kandung. Biar jelas sekalian, nggak ada lagi yang difitnah!" lanjut Emma dengan lantang di tengah-tengah ruangan. Pak kepala sekolah pun langsung mengonfirmasi pada Nyonya Ratih apa benar yang diucapkan oleh Emma itu. "Apa benar itu, Nyonya? Jasmine bukan adik kandung Mario?" tanya kepala sekolah dengan penuh selidik. Nyonya Ratih enggan menjawabnya. Wanita itu tampak gelisah harus menjawab apa. Sedangkan ia ingin sekali membuat Jasmine malu karena gadis itu sudah sangat merepotkan keluarganya. "Emmm sebenarnya...!" Nyonya Emma sangat susah untuk berterus terang. Semua sedang menunggu jawabannya. Tapi wanita itu masih enggan dan terlihat membingungkan. Kepala sekolah terus mendesak agar
Semuanya menoleh dan terkejut dengan kedatangan Pak Purba yang tiba-tiba. Tak terkecuali Jasmine."Pak Purba!" seru gadis itu. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan laki-laki itu di sekolah. Lantas, ada apa pria itu datang ke sana dan tiba-tiba saja masuk ke ruangan kepala sekolah dengan berani.Pak kepala sekolah dan guru lainnya tampak memberikan salam dan hormat pada laki-laki itu. Sepertinya Pak Purba adalah orang penting di sekolah itu."Pak Purba, selamat siang, Pak." Kepala sekolah menyalami pria itu dan tampak panik. Karena kedatangan Pak Purba berbarengan dengan kejadian yang tidak diinginkan.Guru-guru lainnya pun ikut menyalami pria itu. Bagitu juga Nyonya Ratih. Justru wanita itu terlihat lebih bangga saat Pak Purba tiba lantaran sebentar lagi pria itu akan menjadi besannya."Eh, Pak Purba. Kok Anda ada di sini?" tanya Nyonya Ratih seraya menghampiri pria itu. Di sisi lain Jasmine cuma menatap dari kejauhan dengan tatapan dendam dan penuh kecewa. Seetinya Pak Purba meliha
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok







