LOGINPada akhirnya, tepat pukul empat pagi. Nadine tiba di rumahnya. Wanita itu buru-buru membersihkan diri dan kembali menjadi istri Juki yang memiliki gigi unik. "Aku harus cepat sebelum Juki datang!" Dengan dibantu oleh Ana, Nadine merubah wajahnya. Dalam waktu beberapa menit, akhirnya ia sudah menjadi sosok Tante Nadine. "Ngomong-ngomong Cyintah! Gimana caranya kamu bisa sama Juki? Sebenarnya aku sangat bingung!" tanya Ana sambil merapikan rambut Nadine. "Ada yang sengaja menjebakku. Aku curiga pada seseorang tapi aku belum bisa membuktikannya," jawab Nadine sambil menatap wajahnya pada cermin. "Dijebak? Siapa yang berani menjebak kamu, Cyin?" Ana makin penasaran. Kedua mata Nadine tak bisa berbohong jika wanita itu sudah menemukan nama-nama yang sudah berani menjebaknya sampai berada di hotel itu. Beruntung dirinya bertemu dengan suaminya sendiri. Entah apa yang terjadi jika Juki tak datang. "Aku tidak peduli dengan orang-orang itu, sudah pasti aku akan memberikan mereka p
Juki membulatkan matanya. Kecupan manis itu rasanya sama persis dengan kecupan dari sang istri. Mendadak pria itu membeku tak bisa menolak. Setelah Nadine memberikan kecupannya, wanita itu tersenyum manis sebelum ia pergi. "Thanks, Juki. Aku pergi dulu, bye!" Suara lembut wanita itu seketika mengingatkan Juki pada istrinya. Hampir semua yang ada dalam diri Nadine sama persis dengan sang istri. "Woii, Juki! Bisa-bisanya kamu mau dicium sama wanita lain. Gila, gila!" gerutu pemuda itu merutuki dirinya sendiri. Nadine pun pergi. Juki hanya menatapnya sampai akhirnya wanita itu menghilang. "Kenapa aku merasa Bu Nadine itu... Ah sudahlah, aku harus pulang. Tante Nadine pasti nungguin aku, kasihan dia nggak ada yang nemenin tidur!" Juki sendiri segera bersiap-siap untuk pulang ke rumah istrinya. Namun sebenarnya Juki membuka lemari pakaian yang ada di kamarnya. Ia mengambil sesuatu untuk ia bawa. Yakni sebuah kalung yang menjadi kalung kesayangannya. Rencananya ia akan memberikan
Wajah Juki menjadi pucat setelah mendengar kata-kata Nadine. "Hamil? Memang Bu Nadine bisa hamil? Kita kan cuma melakukannya sekali!" jawab Juki. "Ya, memang cuma sekali. Tapi klimaksnya berkali-kali. Rahim aku penuh loh sama benih kamu!" kata Nadine sambil mengusap perut bawahnya. Juki garuk-garuk kepalanya. Jika suatu saat Nadine benar-benar hamil, bagaimana ia mengatakannya pada sang istri. Ah, baru saja ia ingin membuka lembaran baru dengan sang istri, tapi ia mendapatkan ujian berat lagi. "Aduh, kita belum bisa memastikannya, Bu. Tapi jika Bu Nadine beneran hamil, ya terpaksa saya harus menikahi Anda. Saya bukan pria pengecut, saya pasti bertanggung jawab atas anak itu, saya janji!" ucap Juki sungguh-sungguh. "Benarkah?" Sebenarnya Nadine cukup bimbang mempertanyakan hal ini, karena saat ini Juki sedang berbicara dengan Nadine lain bukan Nadine dirinya. "Benar, Bu. Saya tahu apa yang saya lakukan itu salah. Jadi saya harus bertanggung jawab atas anak itu dan menikah
Juki langsung melepas tangan Nadine. "Waduh, itu tidak mungkin, Bu. Saya tidak mungkin menduakan istri saya karena saya... Saya... Saya sangat mencintainya, iya, saya sangat mencintainya!" Bagaikan dibelai angin surga ketika Juki mengungkapkan kata-kata itu. Nadine mendengar dengan telinganya sendiri Juki mengutarakan cinta padanya meskipun saat ini dirinya belum menunjukkan jati dirinya pada pria itu. Juki sendiri merasa plong setelah mengatakan itu. Sepertinya pria itu memang memiliki rasa kepada Nasine meskipun ia masih belum yakin. Setidaknya ia sudah mengakui bahwa rasa cinta itu memang mulai ada. "Busett! Bisa-bisanya aku ngomong gitu. Tak apalah, toh sebenarnya aku juga punya perasaan pada Tante Nadine. Biarin aja orang ngomong apa, yang jelas Tante Nadine adalah wanita yang unik dan menarik, aku lebih suka wanita seperti dia daripada perempuan-perempuan centil di luar sana," batin Juki. Nadine masih terhenyak setelah mendengar pengakuan Juki. Wanita itu sangat tidak men
Nadine tidak peduli. Ia tahu itu adalah suaminya sendiri meskipun Juki menganggapnya orang lain. Kaki jenjangnya terus berjalan ke arah Juki yang terlihat panik sambil berjalan mundur. Setelah berada di depan pria itu. Spontan Nadine melingkarkan tangannya pada leher Juki yang kokoh. "Bu Nadine, jangan gini, Bu! Nggak boleh, nanti ada yang lihat!" seru Juki sambil melepaskan tangan Nadine. "Kenapa? Kenapa aku nggak boleh merangkul kamu, Juki?" jawab Nadine dengan tatapan matanya yang mesra. "Ya, karena kita bukan muhrim, Bu. Dosa, nggak boleh!" jawab Juki lagi. Wajah polosnya semakin membuat Nadine gemas. "Dosa? Tapi... dosa yang sudah kita lakukan tadi itu sangat indah, Juki. Aku suka gayamu yang sangat perkasa!" kata Nadine seraya melirik ke arah dada Juki sambil mengigit bibirnya. Juki semakin panik, jika Nadine bicara seperti itu, artinya wanita itu sadar jika dirinya lah yang bercinta dengannya di hotel. "Mak-maksud Bu Nadine apa!" "Ayolah, Juki. Jangan pura-pura
Mendengar pengakuan adiknya, Jenny semakin pening. Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu sampai-sampai ia begitu terngiang-ngiang akan istrinya yang sudah tua itu. "Aku jadi penasaran ingin ketemu sama istri you!" sahut Jenny. Juki langsung sumringah dan siap untuk mempertemukan Jenny dan Nadine. "Tentu, tentu saja aku akan mengenalkan kakak dengannya. Dia itu sangat pintar, jenius dan pekerja keras. Cuma ya itu, kalau ketemu sama dia, Kakak jangan ketawain dia, ya!" jawab Juki. "Tergantung! Tapi sebagai sesama wanita, tentu saja aku tidak akan menertawakannya. Baiklah, itu bisa diatur. Sekarang kamu urus perempuan itu, jangan sampai istrimu tahu!" ucap Jenny mengingatkan. Sepertinya wanita itu mendukung hubungan Juki dengan istrinya. "Thanks, kak. Cuma kakak yang bisa ngertiin aku. Aku sayang banget sama kakak!" Juki terlihat begitu terharu. Ia begitu menyayangi Jenny karena cuma Jenny yang selama ini membantu dan mendengarkan keluh kesahnya. Wanita itu juga ikut terharu da







