INICIAR SESIÓNJasmine terkesiap dan ia harus memberikan jawaban yang tidak membuat Emma curiga. "Oh kemarin, iya kita berdua pergi ke toko buku. Kakak butuh bantuan Kak Mario buat ngerjain makalah, makanya kita pergi berdua. Mumpung kemarin Kak Mario ada waktu luang jadi sekalian kita pergi ke toko buku, getoh!" jawab Jasmine berbohong. Lalu gadis itu segera mengambil bajunya dari dalam lemari. "Oh, begitu. Lain kali ngomong dong kalau mau pergi ke toko buku. Aku juga mau beli novel baru, gabut di rumah!" kata Emma. Jasmine menoleh ke arah adiknya. "Iya nanti aku ajak ke toko buku, atau pulang sekolah kita mampir, gimana?" tawar Jasmine. Wajah Emma tiba-tiba berubah menjadi sumringah. "Beneran, Kak?" "Iya, dong!" "Oke deh kalau begitu. Nanti aku mau bilang ke Kak Mario dulu!" sahut Emma. ***** Saat sarapan pagi bersama. Nyonya Ratih mengatakan kepada ketiga cucunya untuk ikut makan siang bersamanya dalam rangka merayakan ulang tahun ayahnya Cerry, Pak Purba. "Nanti sepulang seko
"Mario! Nggak bisa gitu dong. Kamu tetap harus ikut!" sahut Nyonya Ratih. Mario pun kembali menegaskan jika ia tidak bisa pergi tanpa Jasmine di sisinya. "Aku akan pergi kalau Jasmine juga ikut pergi1" "Tapi Mario, Jasmine...!" Belum sampai Nyonya Marta menyelesaikan kata-katanya, Mario langsung memotong perkataan sang nenek. "Jasmine ikut, aku pasti ikut. Tapi jika Jasmine tidak ikut, jangan harap aku ikut. Jasmine adalah adikku dan dia adalah tanggung jawabku. Mama dan Papa sudah mewanti-wanti untuk menjaga adik-adikku jadi mana bisa aku meninggalkannya sendiri di rumah!" katanya. Nyonya Ratih pun kembali mengingatkan jika Jasmine itu bukanlah bagian dari keluarga mereka. "Mario, Kamu sudah tahu kalau Jasmine itu bukan adek kamu. Jadi untuk apa kita mengajaknya!" sahut Nyonya Ratih. "Dia memang bukan adikku, tapi dia tetap menjadi tanggung jawabku karena Mama dan Papa mempercayakan dia padaku. Sama halnya seperti Emma, Jasmine juga adikku dan tanggung jawabku. Aku ha
Mario langsung berdiri di samping istrinya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ada apa ini? Kenapa Jasmine menangis?" Nyonya Ratih langsung menunjukkan sesuatu pada Mario. "Tuh! Kamu lihat di leher Jasmine! Ada tanda menjijikkan di sana. Dia pasti sudah berbuat mesum dengan pacarnya. Oma yakin sekali. Emang kurang ajar sekali nih anak. Lama-lama Oma nggak sudi lihat mukanya!" jawab Nyonya Ratih dengan sinis.Mario langsung memeriksa leher istrinya. Pemuda itu menemukan tanda merah di leher dan dada gadis itu. Ia langsung menaikkan alisnya karena dirinya sendiri yang membuat tanda itu."Oh ini, aku pikir apaan!" jawab Mario yang tampak tak kaget sama sekali. Kali ini Ekspetasi Nyonya Ratih tak sesuai keinginannya. Ia pikir Mario bakalan ikut marah dan membenci Jasmine. Tapi nyatanya pemuda itu justru tak bereaksi berlebihan."Apa? Kamu nggak marah melihat keadaan Jasmine seperti itu, Mario? Itu tanda cupang loh. Oma nggak mungkin salah!" sahut Nyonya Ratih. Jasmine sendiri m
Jasmine langsung membulatkan matanya. Sungguh, ia masih belum mengerti dengan kata-kata Nyonya Ratih yang menuduhnya telah berbuat mesum. "Maksud Oma apa? Saya nggak ngerti!" sahut Jasmine. Lantas, Nyonya Ratih meraih tangan gadis itu dan menyeretnya untuk berdiri di sebuah cermin yang berada di ruangan itu agar Jasmine tahu yang sebenarnya terjadi. "Aaww, Oma, sakit!" pekik Jasmine tatkala tangannya diseret dengan kasar oleh sang Oma. Nyonya Ratih langsung memperlihatakan Jasmine tentang bebrapa bekas merah yang tercetak jelas di pangkal leher dan sebagian dada bagian atas gadis itu. "Lihat dirimu!" titah Nyonya Ratih sambil menunjuk ke arah cermin. Jasmine benar-benar sangat terkejut saat melihat tanda merah di lehernya. Tidak banyak memang namun sangat berbekas dan begitu terang. "Ya Tuhan, ini pasti gara-gara Kak Mario. Ihh, udah dibilangin jangan bikin tanda di situ!" batin Jasmine panik. Nyonya Ratih menatap tajam gadis itu. Wanita itu menyangka jika Jasmine telah berb
Keesokan harinya, Jasmine terbangun dan ia melihat ke sekeliling. Gadis itu membelalakkan matanya ketika ia tersadar tengah tidur di kamar Mario. "Ya Tuhan, aku harus pergi. Bisa-bisa Oma dan Emma curiga kalau aku nggak keluar dari sini!" gumam Jasmine. Ia melihat di sampingnya Mario yang masih tertidur pulas. Dengan gerak pelan dan hati-hat, Jasmine beranjak turun dari tempat tidur. "Awww ssshh. Badanku sakit semua!" pekik gadis itu tatakala ia merasakan tubuhnya sangat lelah. Entah apa yang Mario lakukan pada gadis itu sampai-sampai mmebuat Jasmine sedikit kesusahan berjalan. Jasmine harus segera pergi sebelum semuanya bangun. Ia mengambil pakaiannya kembali yang sudah dilepaskan oleh suaminya. Setelah ia memakai bajunya kembali, Jasmine beranjak keluar dari kamar itu. Namun sebelumnya ia mengecup pipi Mario sekilas sebelum dirinya pergi. Cup! Satu kecupan di pipi Mario. Jasmine tersenyum kala melihat wajah suaminya yang begitu damai "Tidurlah yang nyenyak, aku harus pergi!"
"Ya Tuhan, kamu yakin dia Pak Purba? Bisa jadi cuma namanya saja yang sama! Di dunia ini banyak sekali yang namanya Purba, asal bukan manusia purba," sahut Mario dengan entengnya. Jasmine kembali meyakinkan sang suami jika apa yang ia ketahui memang seperti itu. "Iihh aku serius, Kak!" sahut Jasmine. "Iya, iya, sorry! Emang kamu yakin kalau Pak Purba yang itu?" tanya Mario lagi. "Yakin, Kak. Aku nggak mungkin bohong. Tadi aku sudah membaca beritanya dan itu emang Pak Purba. Dan sebentar lagi Kakak bakalan jadi menantunya. Kakak akan menikah dengan Kak Cerry!" jawab Jasmine. Mendengar itu, Mario langsung menyangkal pernyataan itu karena dirinya tidak akan pernah mau dijodohkan dengan Cerry. "Hei, siapa bilang Kakak akan menikah dengan Cerry? Sampai kapan pun Kakak tidak akan pernah menikah dengannya. Istri Kakak cuma kamu, nggak ada lainnya!" jawab Mario dengan yakin. "Tapi Oma ingin kamu nikah sama Kak Cerry!" sambung Jasmine. Kali ini Mario harus membuktikan jika dirinya tidak
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok







