Share

Bab 7 - Seragam

"Estas listo?" Pria berhidung bangir dengan rambut cepak sedikit botak di bagian atas itu menatap Leon.

"Sí, Señor Álvarez. Saya siap bekerja." Leon berdiri tegak membalas tatapan papanya, Horacio Alvarez.

“Oke. Kalau begitu, kamu mulai bekerja.” Horacio berkata tegas.

Tangannya meraih plastik di meja sebelahnya. Plastik itu berisi pakaian yang terlipat rapi di sana.

“Ini seragam kerjamu. Pak Sujana yang akan mengawasi kamu selama bekerja. Dia akan menunjukkan apapun yang kamu perlu tahu. Tapi, kamu tidak bisa menyuruh-nyuruh dia. Kamu adalah pegawai. Kamu mengerti?” Tatapan tegas Horacio arahkan pada putra sulungnya.

“Oke, ngerti,” jawab Leon setengah enggan.

“Aku akan selalu bertanya pada Pak Sujana bagaimana kamu dalam bekerja. Itu bisa kapan saja. Aku tidak mau kamu membuat masalah. Paham?” Lagi-lagi, kalimat yang tidak ingin Leon dengar harus dia telan.

“Iya, sangat paham. Jadi gimana? Aku sudah bisa bekerja?” Leon sudah tidak mau mendengar lebih banyak lagi. Lebih baik dia segera pergi dari kantor Tuan Besar.

“Oke, silakan. Jadilah pegawai yang baik.” Horacio mengacungkan tangannya mempersilakan Leon pergi dari ruangannya.

Leon melangkah keluar dengan plastik berisi seragam di tangannya. Sujana, salah satu asisten dan orang kepercayaan Horacio, mengikutinya.

“Tuan Muda, setelah ini saya akan memanggil nama jika di depan para pegawai.” Sujana menyampaikan hal yang penting yang akan dia lakukan.

“Namaku Agus,” kata Leon.

“Apa?” Sujana kaget mendengar itu.

“Aku tidak mau pakai namaku sendiri. Kalau sampai pegawai tahu nama belakangku? Mereka tahu aku Alvarez? Panggil aku Agus saja, Pak.” Leon mengulangi dan menegaskan.

Sujana tersenyum. Tuan muda tampan ini aneh-aneh saja.

“Lagian, Pak, Agus itu emang nama panggilanku dari teman-teman. Sejak SMP selalu ada yang gangguin kayak gitu. Namaku Leonardo, kan? Lambang bintang lahirku, Leo, di bulan Agustus. Makanya teman-temanku, lebih seneng manggil aku Agus.” Leon menjabarkan alasannya.

“Baiklah, Mas Agus. Sekarang, ayo ikut saya. Saya akan beritahu pekerjaan Mas Agus. Yang sabar, ya?” hibur Sujana. Leon nyengir sambil melirik Sujana.

Sujana tersenyum-senyum lagi. Dia merasa lucu juga dengan kegilaan Tuan Besar. Sebelum meminta Leon masuk bekerja, lebih dulu Tuan Besar Alvarez bicara pada tiga asistennya. Salah satunya adalah Sujana. Masing-masing asisten itu memang dipercaya mengontrol semua kegiatan operasional di tiga mal milik Alvarez. Dan akhirnya, pilihan jatuh di mall di mana Sujana yang menjadi pengawas,

“Pak, para karyawan itu norak-norak ga, sih?” tanya Leon sementara mereka berjalan menuju ke bagian agak ke belakang dari mall, di lantai dasar.

“Ya biasa saja, Tuan, eh, Mas Agus.” Sujana meralat panggilannya. Senyumnya kembali megembang. Dia lihat wajah Leon. Menurutnya tidak cocok dipanggil Agus, karena wajahnya lebih kuat ikut sisi Spanyol sebagai Alvarez ketimbang dari sisi ibunya yang asli Indonesia.

“Pada kasar, susah diatur, kayak gitu, ga?” Leon bertanya lagi.

“Nanti akan tahu sendiri. Susah njelasinnya. Macam-macam model orang yang kerja di sini.” Sujana menjawab santai.

“Ih, Pak Su pelit, ga mau kasih bocoran.” Leon nyengir lagi.

“Tugas saya bantu Tuan Muda mengenal perusahaan dan bisa kerja dengan baik. Soal itu nanti Tuan akan paham,” kata Sujana.

“Lalu kerjaan aku ngapain? Jadi penjaga toko?” tanya Leon.

“Aku ajak Tuan Muda keliling aja, lihat semuanya. Aku kenalkan ke pegawai, baru nanti aku aturkan mau kerja di mana dulu. Paling nggak dua hari ini.” Sujana menjelaskan rencananya.

“Oke, aku ikut saja.” Leon tidak punya pilihan.

“Kalau gitu cepat ganti baju dengan seragam, lalu kita mulai perjalanan hari ini.” Sujana menunjuk ke toilet di ujung lantai itu.

“Baiklah, the game starts.” Leon bicara dengan nada berat, lalu melangkah masuk ke dalam toilet. Toilet khusus buat karyawan.

Sujana menunggu di depan ruangan itu. Seorang pegawai perempuan lewat.

“Pagi, Pak,” sapa pegawai muda itu sambil tersenyum ramah.

“Ya, pagi.” Sujana menyahut, lalu memasukkan ponsel ke saku celana.

“Mau ke toilet, Pak?” tanya pegawai itu lagi. Rupanya dia heran kenapa atasannya itu ada di depan toilet.

“Oh, nggak. Aku nunggu …” Saat itu muncul Leon dari toilet. “Nah, ini!”

Sujana menatap Leon. Rasanya lucu melihat anak Tuan Besar mengenakan seragam pegawai mall. Tapi tidak menghilangkan ketampanan dan kegagahannya.

“Astaganaga …” Pegawai di samping Sujana terbelalak. Matanya melebar dan mulutnya menganga melihat pada Leon.

“Hei … kamu mau ke toilet?” Sujana menepuk bahu kiri gadis itu.

“Eh, iya, ehh … nggak, Pak.” Gadis itu menjawab bingung. Dia memandangi Leon masih dengan keheranan. “Ini … pegawai baru?”

“Iya. Baru mulai hari ini. Kalau ga perlu ke toilet, cepat balik kerja.” Sujana mulai menaikkan nada suaranya.

“Iya, bentar, Pak. Kenalan, dong. Aku Lalita Nadia. Panggilanku Lila. Kamu siapa?” Gadis itu tidak menggubris ucapan Sujana. Dia mengulurkan tangan meminta berkenalan dengan Leon.

“Aku Le … Agus!” Leon hampir saja salah menyebut nama. Sujana cengar cengir melihat itu.

“Siapa? Agus?” Gadis itu kembali terbelalak. Dia memastikan tidak salah mendengar.

“Iya, namaku Agus.” Leon menarik tangannya.

“Udah kenalannya. Cepat kerja. Atau aku laporkan supervisor kamu?” ujar Sujana.

“Pak, jangan!” Gadis itu bergegas mengangkat langkah dan bergerak menjauh.

Leon tertawa melihat gadis itu takut dengan ancaman Sujana.

“Ternyata cocok juga seragam itu buat Tuan Muda. Cakeppp!” Sujana mengacungkan jempol, keduanya. Senyumnya lebar sedikit meledak Leon.

“Puas, lihat aku dikerjain Papa?” tanya Leon dengan kesal.

“Haa … haa …” Sujana tidak menjawab pertanyaan itu. Dia melanjutkan langkah, mengajak Leon berkeliling seperti rencana semula.

Mal lumayan besar dengan enam lantai itu selalu ramai. Banyak event digelar di mall itu, khususnya saat weekend dan hari-hari libur. Dari jam sembilan pagi sampai jam dua belas siang, Sujana dan Leon berkeliling. Sujana menjelaskan ini dan itu kepada Leon, agar dia dapat paham apa saja yang ada di mall itu.

Sujana mengajak Leon ke ruangannya untuk makan siang lebih dulu, lalu akan melanjukan lagi urusan mereka. Leon sudah merasa lelah dan haus. Dia sudah tahu sebenarnya isi mal itu, setidaknya sebagian besar. Jadi Leon tidak begitu memperhatikan.

“Siang makan apa, Pak?” tanya Leon begitu mereka duduk di ruangan Sujana.

“Aku sudah pesan. Tuan Muda mau pesan apa?” tanya Sujana balik.

“Kalau aku pergi ke food centre saja gimana? Jam istirahat satu jam, kan?” Leon lebih suka makan langsung di tempat daripada pesan online.

“Silakan saja. Hati-hati kalau ditanya orang. Udah pakai seragam soalnya.” Sujana menjawab.

“Hati-hati apa?” Leon mengerutkan kening.

“Jangan salah sebut nama, hee … hee …” Sujana terkekeh.

“Ahh … Pak Su bisa saja.” Leon nyengir. Dia menghentikan langkah, mereka sudah ada di depan ruangan Sujana. “Pak, kalau ada yang nanya aku kerja di bagian apa?”

“Bilang saja masih observasi. Mereka paham itu,” kata Sujana santai.

“Oke. Makasih, Pak. Sampai ketemu satu jam lagi.” Leon melambai dan berjalan menjauh.

Tujuan Leon adalah food centre yang ada di lantai tiga. Dia punya satu tempat favorit meskipun jarang dia datang. Dengan cepat Leon melangkah menuju ke counter serba ayam yang ada di sana.

Beberapa meter lagi dia sampai, tidak sengaja dia mendengar suara seorang wanita bicara keras dan kasar. Leon menoleh ke sisi kirinya ingin tahu apa yang terjadi?

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status