MasukZeyon Theodora akan mewarisi kekayaan milik keluarga Theodora, dilatih sejak dini untuk menjadi orang yang perfeksionis membuat dirinya merasa harus serba tahu dan paham akan segala hal. Tidak boleh ada satu celah untuk membuat nama keluarganya tercoreng. Zee sapaan akrabnya, suatu hari menemukan kejanggalan dalam keluarga Theodora. Zee mencoba mencari kebenaran padahal Zee sedang menggali kuburannya sendiri. Mampukah Zee menghadapi kebenaran yang sesungguhnya atau Zee akan menutup mata dan telinga, mengikuti aturan yang sudah berlaku untuk menjadi pewaris sah keluarga Theodora.
Lihat lebih banyakSatu tamparan keras mendarat di pipi kanan Zeyon Theodora. Semua itu disebabkan oleh jurnal dalam gadget yang terbaca oleh kakeknya, Georgio Theodora atau biasa disapa Gio, Tuan Besar.
Zeyon Theodora. Zee nama panggilannya, memiliki trauma mendalam sejak umur tiga tahun. Diakibatkan melihat baku tembak yang terjadi di rumah. Dalam ingatan Zee, suara desing peluru beradu serta darah yang menggenang hampir melumuri lantai putih. Untuk menghilangkan trauma itu, keluarga Theodora mengangkat dirinya menjadi pewaris sah dan mereka menetap di ibu kota untuk meneruskan hidup dengan tenang. Ditambah berbagai macam rangkaian terapi rutin Zee lakukan untuk menghilangkan trauma. Salah satunya dengan menulis jurnal isinya terserah Zee. Bisa kegiatan kesehariannya atau sekedar apa yang dirasakan dirinya. Jurnal itu juga berfungsi sebagai monitoring dokter pribadinya ketika sesi terapi dilakukan. Cukup ampuh mengurangi pikiran cemas yang berlebih serta menstabilkan emosi Zee yang mudah meluap. Segala pergerakan ternyata selalu dipantau oleh Gio. Zee pun baru tahu, karena kejadian ini terjadi, seharusnya jurnal itu hanya diketahui oleh Zee dan juga terapisnya. "Apa kamu pantas memiliki perasaan itu!" Gio membentak, bahkan didepan kedua orangtua Zee, Araya dan Tedi. Tapi tidak ada satupun dari mereka merespon untuk membela. Tedi terdiam sambil melayangkan tatapan menghakimi pada Zee. "Aku membesarkan mu bukan untuk jatuh cinta padanya. Anthea, dia itu adikmu." Gio terdiam sambil memegangi kepala, hilang kata-kata saking kesalnya. "Sekarang juga kamu keluar dari rumah ini!" Ada rasa sakit di dalam dada, napas Zee mulai naik turun secara tidak beraturan. Tanpa menunggu Gio lebih menghina, detik itu juga Zee angkat kaki dari rumah yang sudah empat belas tahun menjadi tempat berlindungnya. Saat membuka pintu Zee bertatapan dengan Anthea atau biasa dipanggil Thea. Dia menatap Zee dengan mata terbelalak, terkejut melihat Zee akan pergi dengan pipi merah dan darah disudut bibir. Zee merasa sama, seharusnya jadwal Thea masih dalam kelas piano. Lalu pandangan Thea beralih pada orang-orang yang ada dibelakang. "Ada apa?" Dia bertanya polos dengan raut wajah yang masih sama. Kalau Zee terlalu lama menatap wajahnya, mungkin Zee akan mengurungkan niat untuk meninggalkan rumah ini. Maka kembali Zee paksakan kakinya melenggang pergi, melewati tubuh Thea begitu saja. "Zee!" Ada getaran dalam suaranya yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan rasa sesak. 'Tolong jangan panggil namaku.' Batin Zee, nyatanya Thea tidak berhenti sampai disitu Zee mulai mendengar derap langkah kaki dibelakang, lambat laun menjadi lebih cepat. Dia masih terus mengikuti Zee. Tidak ada yang mencoba menghentikannya. Percuma saja, Thea adalah jenis orang yang tidak bisa menahan diri untuk segala hal yang diinginkannya. Jika itu sudah masuk keinginannya, maka hal tersebut harus jadi miliknya. "Zeyon Theodora!" Thea menangkap pergelangan tangannya. "Apa yang terjadi, Zee mau kemana?" Mereka berhadapan saat ini, tidak ada cara lain lagi. Zee harus membuat Thea membenci dirinya. Rasa sakit akan membuat Thea menderita, tapi itu hanya sebentar. Hidup Thea bisa kembali normal setelah ini. "Aku muak liat muka mu yang sok polos!" Zee menatap mata Thea dengan penuh kebencian yang seharusnya di layangkan pada tiga orang didalam rumah. "Rengekan mu yang enggak pernah dewasa, sangat mengganggu telingaku." Perlahan Thea mulai melonggarkan cengkraman tangannya. Zee langsung menepis tangan yang masih menempel itu dengan sekali hentakan. Thea terjatuh ke lantai, bersimpuh. Zee mantap melangkahkan kaki, kali ini tanpa sedikitpun menoleh kebelakang untuk melihat. Mulai terdengar Thea yang terisak. *** Anak rumahan usia 17 tahun, memiliki trauma yang belum sembuh. Sekarang berada diluar dan berjalan tanpa arah. Entah sudah berapa lama dan sejauh apa melangkah. Zee juga tidak tahu dirinya ada dimana? Duduk ditepian trotoar untuk sejenak mengamati tempat disekelilingnya. Gedung-gedung tinggi yang asing, sepertinya Zee benar-benar tersesat. Jangankan meminta tolong pada saudara bahkan teman sekalipun rasanya sungkan, dengan status baru anak angkat yang diusir keluarganya. Baru sadar, sekarang kemana Zee harus pergi? Sepersekian detik, sesuatu yang keras menghantam bagian belakang Zee. Saat itu juga pandangannya mulai kabur. 'Sedikit melenceng dari prediksi, terjadi lebih cepat.' Zee sadar hidupnya akan lebih berbahaya ketika mencoba menguak kebenaran dari keluarga Theodora."Aku dengar Thea pulang bersama Kak Zee. Syukurlah, dia sudah kembali bersama keluarganya. Bisakah aku bertemu dengannya, hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.""Tentu saja Nona Thea lebih baik tinggal bersama keluarganya sendiri. Hari sudah larut sepertinya akan mengecewakan Tuan Muda Carson, karena Nona Thea harusnya sudah beristirahat saat ini." Lagi-lagi Evan yang menjawab. Zee hanya duduk memandang Revan dengan tatapan tajam. "Ah, maaf aku melupakan hal ini. kalau begitu aku pamit. Tolong sampaikan salamku untuk Thea."Sepeninggalan Revan, Zee pergi ke ruang makan. piring kasih yang bersih masih berada di hadapan Thea. "Kenapa masih belum makan? menunggu?" Thea mengangguk sebagai jawabannya. tidak mau memperkeruh suasana. Tanpa berkata lagi, Zee duduk mengisi piring dengan nasi dan lau pauk. Suasana ruang makan sangat sepi, tapi Thea diam-diam terus menyuap makan sambil mencuri pandang pada Zee. "Revan. Orang seperti apa di mata Zee?" Zee terlihat termenung, rupanya Th
"Maafkan Zee enggak bisa membantu pada saat itu." Lagi-lagi karena Zee tidak bisa melindunginya dengan baik sebagai seorang kakak. "Bukannya Arun Bagaskara sangat mencintaimu, Thea... Aku bisa lihat dari cara dia memandangi mu sejak dulu. Kamu cinta pertamanya--""Aku dan dia sudah selesai, Zee jangan bahas lagi." Thea langsung memotong perkataan Zee. Hening sesaat terjadi, diantara mereka berdua. Canggung lebih tepatnya."Baiklah, aku enggak akan singgung soal orang itu lagi. Tapi kami harus tahu, ketika kamu pergi setelah bercerai dengan Arun dalam keadaan hamil. Mama dan Papa menyesali perbuatan mereka untuk memaksakan perjodohan ini." Bahkan perkataan Araya terakhir adalah ingin membawa Thea kembali pulang.Semua pembicaraan harus diselesaikan di hari ini juga. Zee yang terbiasa kalah dengan sifat keras kepalanya Thea, namu kali ini harus benar-benar menahan egonya sementara waktu. "Kemudian mereka mulai khawatir dengan kamu yang berada di luar sana, kamu bisa menjadi target dari
Sekembalinya mereka dari pemakaman, Thea hanya duduk terdiam diatas tempat tidur dengan tatapan kosong. Hari yang mulai gelap dan angin dingin berhembus masuk ke dalam kamar dibiarkan saja dengan jendela kamar yang terbuka.Setelah mengamati cukup lama kondisinya, Zee memutuskan masuk kedalam kamar Thea. Hal yang pertama Zee adalah menyalakan lampu, menutup jendela dan gordennya. Eva datang menyusul membawakan nampan berisikan bubur dan susu. Zee yang menerimanya dan menyuruh Eva kembali beristirahat. "Mau aku suapi atau makan sendiri?"Perasaan Thea saat ini sangat Zee pahami, karena pernah berada di posisi yang sama. Terlebih lagi Thea merupakan anak kandung Tedi dan Araya. Perasaan kehilangannya jauh lebih dalam tentunya. Tapi kondisi Thea sedang hamil, dia tidak boleh mengabaikan bayi dalam perutnya."Kamu dan aku disini. Kita saling memiliki Thea. Enggak usah khawatirkan masa depan atau pun masa lalu."---Seminggu sudah Thea berada di pulau Paradise, tapi tidak ada niatan diri
"Udah bangun?" Thea terlihat kebingungan karena selama perjalanan dia tertidur dengan lelap. Bahkan ketika Zee memindahkannya ke dalam kamar."Pulau Paradise." Tambah Zee sambil duduk di sampingnya dan juga dengan satu napan sarapan yang sudah dibuatkan Eva yang awalnya dibuatkan untuk Zee."Hey!" Thea mencomot piring sarapan Zee. Kelakuannya ternyata tidak berubah. Banyak kekhawatiran yang bertebaran di kepala Zee, namun melihat sikap Thea yang tidak berubah banyak membuatnya lega dan tidak bingung dengan apa yang harus dilakukan Zee dalam menghadapi Thea. "Lapar. Lagian jahat banget sarapannya sendirian aja.""Iya paham, tapi enggak nyomot makanan ku juga." Andai Araya masih ada dan bersama dengan mereka berdua pasti lengkap sudah kejadian manis ini bisa berlangsung lama."Cepat habiskan, udah gitu mandi sana." Zee hanya bisa tersenyum walau di hatinya masih ada yang mengganjal dan juga harus merelakan sarapannya berpindah ke perut Thea."Ngapain mandi? Kek Mau pergi aja.""Ih, jor
"Ah, kamu so sweet sekali sih. Bibi jadi ingat Ibumu..." Ada jeda beberapa saat diantara mereka "Bibi sudah melihat beritanya, turut berduka cita. Maaf juga Bibi tidak bisa kesana.""Tidak apa, lagi pula jika Bibi Zara kesana akan terjadi sesuatu karena aku lepas kendali. Sudah pilihan tepat diam,
"Kak Zee." Kini giliran Evan yang masuk ke dalam kamar. "Apa kamu mau seharian di dalam kamar?" Sambungnya lagi."Bukannya hari ini enggak ada agenda. Oh iya, sore nanti masukkan satu meeting kedalam jadwal. Kita akan meeting disini aja.""Apa? Para direksi sudah di beritahu?" Evan mulai panik, mel
Setelah meeting yang panjang dan memakan waktu sekitar dua jam. Mereka menemukan kesepakatan yang di setujui semua pihak. Saatnya jam pulang kerja, di lobi sudah ada Rafli, Raka dan Genta."Huh, orang bisu juga mau ikut?" Semuanya terlihat heran, beberapa orang mungkin tidak tahu tujuan mereka kali
Mereka membuat rencana tersembunyi setelah Zee tahu pilihan Niken. Ternyata Niken lebih memilih berpisah dengan Zee satu tahun dari pada melepaskan hubungan mereka selamanya.Saran Rafli, Zee tetap harus menjaga hubungan baik dengan Zara. Disituasi yang tidak menentu seperti saat ini, tidak usah me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.