MasukEntah mengapa rasa penasaran dalam diri Evelyn semakin menggunung, ia masih setia menunggu dokter memeriksa pria yang tengah berbaring lemah itu.
“Nona sudahlah kita tidak kenal untuk apa menunggu disini,” ucap Gio berbisik pada Evelyn. “Gio, kamu itu digaji untuk nurutin dan ikutin perintahku bukan untuk ngatur-ngatur aku!” Tegas Evelyn dengan suara pelan karena ia sedang ditempat umum. Seorang perawat menghampiri Gio dan Evelyn yang sejak tadi berbicara berbisik-bisik. “Maaf kalian apakah sedang menunggu keluarga pasien?” Tanya perawat yang bernametag Lita itu. “Buk-“ Gio hendak menjawab namun Evelyn sudah menyela. “Iya kami sedang mencari kerabat kami yang tadi masuk IGD,” Evelyn tersenyum ramah pada perawat itu. “Mohon maaf kalian bisa menunggu diruang tunggu karena jika kalian menunggu disini akan menganggu pekerjaan para nakes nona,” ucap perawat Lita. “EmmEvelyn telah menyelesaikan kegiatannya di butik tantenya. Saat ini, ia sedang dalam perjalanan menuju rumah yang ia pinjamkan kepada Dafa.Di tengah padatnya jalanan ibu kota sore itu, Evelyn termenung menatap ke luar jendela. Ia menyaksikan hiruk-pikuk kota yang tak kunjung reda, tepat saat sinar matahari mulai kehilangan cahayanya.Di tengah kemacetan itu, rasa gelisah mulai menyergap pikirannya. “Apapun yang terjadi apapun resikonya, aku harus bisa. Cuma Dafa gak ada yang lain,” gumam Evelyn yang terucap dalam hatinya.Setiap kali ingatan tentang pria itu muncul, detak jantungnya seakan berpacu. Wajah Dafa terus terbayang, memenuhi ruang di pikirannya dan menciptakan kegelisahan yang sulit ia redam.Ia tahu hati ini telah salah arah karena terus memikirkan pria beristri. Namun, sekuat apa pun ia mencoba, perasaannya tak bisa dicekal ia kalah oleh egonya sendiri.Sepanjang perjalanan sore itu, waktu seolah berjalan melambat. Detik demi
Ziva bergegas keluar dari bar menuju parkiran. Tadi, ia tidak sengaja melihat Kayla berjalan bersama seorang ucap Evelyn dengan nada dingin sembari menengadahkan tangannya di hadapan Bima pria, hal itulah yang membuatnya sempat masuk ke dalam bar untuk mencari temannya itu. Sejenak, ia menyandarkan tubuh di kursi kemudi. Matanya terpejam rapat, mencoba menetralkan perasaan sebelum meraih botol minum yang selalu siap di sana dan meminumnya “Gila… ternyata bener kata Laras,” ucap Ziva. Tangannya segera meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya, lalu dengan cepat ia mencari kontak Laras dan langsung menghubunginya. Panggilan terhubung. Suara Laras langsung terdengar, menyapa dengan nada tanya yang kental. “Ada apa Ziv, lo nelpon siang-siang?” Ucap Laras. “Ini bener-bener gila Ras, ternyata bener kata lo soal Kayla gila tu cewek dia beneran selingkuhh,” Ziva mulai berbicara dengan napas yang memb
Terpaksa menuruti keinginan Cakra, Kayla akhirnya mengambil tempat di sisi pria itu. Di hadapan mereka, suasana riuh rendah dengan bunyi denting gelas dari bartender yang sedang sibuk meracik minuman. Rasa tidak nyaman mulai menghinggapi Kayla. Terbiasa dengan kemewahan ruang VIP, suasana ruangan biasa ini terasa menyesakkan baginya—pengap dan terlalu bising oleh kerumunan pengunjung yang kian membeludak. “Ck gak biasanya Cakra kayak gini,” namun kata-kata itu hanya tertahan didalam hatinya. Udara yang pengap itu kini diperparah oleh kepulan aroma parfum yang bercampur aduk, menciptakan bau pekat yang membuat perut Kayla mual. “Cih kampungan,” lirihnya sembari membenarkan rambutnya yang tergerai kedepan. “Kenapa sayang?” Cakra memasukkan ponsel ke sakunya, lalu melirik Kayla yang tampak gelisah di sampingnya. “Sayang kita pindah aja yuk, sumpah deh aku gak tahan disini engap banget,” Dengan waj
Evelyn melotot geram. Tatapannya seolah ingin mengusir Bima yang tiba-tiba datang mengganggu, padahal ia sedang berada di tengah percakapan krusial dengan Dafa. Bima membalas tatapan tajam itu dengan senyum serba salah. Menyadari dirinya adalah pengganggu, ia segera berbalik dan melangkah pergi tanpa kata. Setelah gangguan itu pergi, mendung di wajah Evelyn berganti cerah. Tatapan tajamnya yang tadi menghujam Bima kini melunak, kembali menyiratkan kehangatan khusus hanya untuk Dafa. “Emm Dafa aku harap kamu mau terima tawaran aku karena kalau enggak kamu pasti nyesel,” ucap Evelyn. Dafa mengernyitkan dahi, “Kenapa nyesel?” “Karena kapan lagi kamu bisa kerja sama cewek secantik aku hehe,” Sambil memainkan ujung rambutnya dengan jemari, Evelyn mengerlingkan sebelah matanya ke arah Dafa. Aksi spontan itu begitu manis sekaligus menggoda, hingga sukses membuat Dafa terbengong di tempa
“Dafa aku minta maaf sebelumnya tapi aku cuma pengen kamu,” Evelyn tak membiarkan jarak tercipta di antara mereka. Tatapannya begitu dalam, menghujam langsung ke netra Dafa dengan permohonan yang tulus. Tangannya masih mengunci jemari pria tampan itu. Evelyn terpaku saat Dafa langsung melepaskan genggamannya dengan gerakan kaku. Pria itu sedikit bergeser, menghindari sentuhannya seolah-olah tangan Evelyn adalah sesuatu yang asing, meninggalkan rasa dingin yang mendadak di jemari Evelyn. “Aku gak bisa dan aku harap kamu ngerti aku bukan orang yang bisa diandalkan,” tegas Dafa. “Dafa please aku gak mau yang lain aku cuma minta kamu dan daddy udah nunggu janji aku, aku gak mungkin bikin daddy kecewa Dafa, aku mohon sama kamu. Kamu mau ya pleaseee…” ucap Evelyn dengan nada memohon. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada, sebuah gestur pengharapan yang tulus agar Dafa bersedia menerima tawarannya. “Kamu bisa cari kandidat
Dafa terdiam sejenak mendengar permintaan Evelyn yang aneh menurutnya. Keheningan tiba-tiba menyergap di antara mereka, menyisakan suara detak jantung Dafa yang mulai berpacu karena rasa ragu yang mendalam. “Kenapa? Maksudnya kenapa kamu tiba-tiba minta aku jadi sekertaris kamu?” Tanya Dafa. “Waduhh iya juga ya aku lupa kalau aku punya informasi Dafa, dia pasti heran aku minta dia jadi sekertaris aku kenapa aku bego banget sih,” gumam Evelyn dalam hatinya. Sekarang Evelyn merasa kikuk ia merutuki kegugupan yang kini membuatnya ingin menghilang dari sana. “Ehm begini Dafa, aku hanya ingin membantu kamu aja kok itu aja iya gitu maksud aku.” Namun, di balik kegugupan itu, sesuatu tampak sangat jelas di mata Dafa. Ia menyipitkan matanya, menatap Evelyn dengan tajam seolah sedang berusaha menembus topeng yang coba gadis itu pertahankan. “Kamu pikir aku percaya?” Melihat wajah Dafa yang mendadak serius, nyali Evelyn menciut. Kegugupannya naik dua kali lipat, membuatnya merasa







