LOGIN"Menyingkirlah dari pintuku! Ini adalah apartemen pribadiku, bukan barak militer!"
Seruan marah Cindy menggema di seluruh penjuru ruang tengah apartemennya, menabrak dinding-dinding yang kini terasa seperti sel penjara kelas atas. Napasnya terengah, matanya memancarkan kilat amarah yang tertahan. Di hadapannya, Owen tidak bergeming sedikit pun. Pria itu berdiri dengan tenang di depan pintu utama, jemarinya bergerak cepat mengetikkan serangkaian kode keamanan baru pada panel kunci digital cerdas yang baru saja ia pasang. Ia telah melepas seragam taktis bagian luarnya, menyisakan kaus hitam ketat yang mencetak jelas otot punggungnya. Setelah bunyi *klik* elektronik terdengar, Owen berbalik. Wajahnya sedingin bongkahan es di kutub utara. "Protokol nomor dua, Nona Cindy. Tidak ada satu pun orang yang bisa masuk atau keluar dari unit ini tanpa pemindaian sidik jari saya," ucap Owen datar, seolah ia sedang membacakan buku manual. Ia kemudian berjalan melewati Cindy menuju jendela kaca raksasa, menarik tirai beludru tebal hingga tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari sore yang mencoba menyusup masuk. "Dan protokol nomor tiga, tidak ada cahaya alami dari luar. Jika Anda bisa melihat ke luar jendela, itu berarti penembak jitu atau kamera jarak jauh dari gedung seberang bisa melihat ke dalam." Cindy memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Baru tiga jam Owen berada di apartemennya dan pria itu telah mengubah tempat persembunyiannya yang nyaman menjadi sebuah bunker perang yang menyesakkan. "Kamu berlebihan, Owen! Myla, asistenku, harus datang ke sini sore ini untuk membawa dokumen kontrak dan draf naskah yang harus aku revisi! Bagaimana dia bisa masuk jika kunci apartemenku sendiri kamu ganti dengan sidik jarimu?!" Cindy melangkah maju, menuntut jawaban. Owen menatap wanita di hadapannya dengan tatapan kosong. "Asisten Anda bisa menyerahkan dokumen itu melalui saya di depan pintu. Ia tidak diizinkan melangkah masuk lebih dari batas ruang tamu. Saya tidak peduli seberapa mendesak naskah novel Anda, prioritas saya adalah memastikan tidak ada ancaman yang menyusup ke dalam ruangan ini." Tepat saat Owen menyelesaikan kalimatnya, bel interkom berbunyi nyaring. Owen langsung memberi isyarat dengan tangannya agar Cindy mundur dan diam di tempat. Ia melangkah tanpa suara ke arah monitor, mengecek kamera luar. Terlihat Myla berdiri di lorong dengan wajah cemas, memeluk setumpuk map di dadanya. Owen menekan tombol untuk membuka kunci utama, lalu membuka pintu hanya sebatas bahunya. "Selamat sore, saya Myla ... asisten Cindy," ucap Myla dari luar, suaranya terdengar mencicit ketakutan melihat sosok pria tinggi besar dan berwajah keras yang menghalanginya. "Tinggalkan mapnya di sini. Kamu boleh pulang," jawab Owen dingin, mengulurkan tangannya yang bersarung tangan hitam. "Tapi ... tapi saya harus membahas revisi bab tiga dengan Cindy." Myla mencoba mengintip ke dalam, mencari sosok bosnya. "Ada catatan penting dari Pak Josh yang harus—" "Berikan padaku atau kubanting pintu ini sekarang juga," potong Owen dengan nada ancaman yang tidak main-main. Aura intimidatifnya membuat Myla mundur selangkah dengan wajah pucat. Dengan tangan bergetar, Myla menyerahkan tumpukan map itu. Owen segera mengambilnya, menutup pintu dengan keras dan menguncinya kembali tanpa mengucapkan terima kasih. Cindy yang melihat kejadian itu dari ruang tengah akhirnya meledak. Ia berjalan cepat menghampiri Owen dan merampas paksa map tersebut dari tangan pria itu. "Apa masalahmu, hah?!" bentak Cindy, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap. "Myla sudah bekerja denganku selama tiga tahun! Dia mengurus semua jadwalku, dia membelikan makananku! Dia bukan ancaman! Mengapa kamu harus bersikap sekasar itu padanya?!" Owen menunduk, menatap Cindy dengan rahang yang mengeras. Jarak di antara mereka kini terkikis habis. "Statistik kriminologi membuktikan bahwa delapan puluh persen kejahatan terencana dan teror dilakukan oleh orang terdekat dari korban. Orang yang tahu kebiasaan Anda. Orang yang tahu kapan Anda sedang sendirian!" "Myla tidak mungkin melukaiku!" Cindy balas menatap, dadanya naik turun dengan cepat. "Berhentilah mencurigai semua orang dan bersikap seolah kamu adalah penguasa di sini! Kamu mungkin bisa mengontrol akses pintuku, tapi kamu tidak bisa mengontrol hidupku!" "Aku dibayar untuk mengontrol hidupmu agar kamu tidak mati!" sergah Owen, suaranya akhirnya meninggi, menembus lapisan profesionalitas yang sejak tadi ia pertahankan. Ia mencengkeram kedua lengan atas Owen, tidak menyakitinya, namun cukup kuat untuk menahan wanita itu agar tidak mundur. Mata Owen berkilat penuh amarah yang kelam. "Kamu terlalu naif, Cindy. Kamu terlalu mudah memercayai orang yang tersenyum di hadapanmu. Kenaifan yang sama persis dengan yang membuatmu berpikir bahwa melarikan diri dari altar sepuluh tahun lalu, tanpa sepatah kata pun, akan menyelesaikan semua masalahmu!" Kata-kata itu menghantam ulu hati Cindy layaknya peluru tajam. Ruangan itu mendadak hening. Udara terasa membeku. Tubuh Cindy menegang di bawah cengkeraman tangan Owen. "Jangan bawa-bawa masa lalu ke dalam urusan ini," bisik Cindy dengan suara serak, matanya mulai berkaca-kaca. Rasa bersalah yang selama sedekade ini ia kubur, kembali merobek relung hatinya. "Ini tidak ada hubungannya dengan hari itu." "Bagiku, semuanya berhubungan," desis Owen tepat di depan wajah Cindy, embusan napasnya yang hangat menerpa kulit wajah wanita itu. "Kamu lari saat aku bersumpah untuk menjagamu. Sekarang, aku tidak akan membiarkanmu lari lagi. Suka atau tidak, kamu adalah tanggung jawabku." Tepat saat ketegangan di antara mereka terasa seperti kawat tipis yang siap putus, suara dering ponsel dari atas meja makan memecah keheningan. Owen melepaskan cengkeramannya seolah tangan Cindy adalah besi panas. Ia mundur selangkah, mengatur kembali napasnya dan kembali memasang topeng datarnya. Cindy bergegas menuju meja dengan langkah gemetar. Ia menatap layar ponselnya. Nama 'Josh' berkedip di sana. Dengan terburu-buru, Cindy menyeka ujung matanya, menarik napas panjang, dan mengangkat panggilan itu. "Halo, Josh?" sapa Cindy. Ia berusaha keras menstabilkan suaranya. "Hai, Cin." suara Josh mengalun lembut dari seberang sana, sangat kontras dengan aura tajam dan menyesakkan yang dipancarkan Owen. Suara editor itu seperti selimut hangat di tengah badai es. "Aku baru saja mendapat laporan dari Myla sambil menangis. Dia bilang pengawal barumu itu mengusirnya seperti mengusir pencuri. Kamu tidak apa-apa? Apakah pria itu berbuat kasar padamu?" Cindy melirik ke arah Owen dari sudut matanya. Pria itu berdiri di dekat jendela, bersedekap dada sambil menatap Cindy dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. "Aku tidak apa-apa, Josh. Owen hanya ... menjalankan tugasnya sesuai protokol keamanan," jawab Cindy pelan, separuh berbohong demi menenangkan Josh. "Maafkan soal Myla. Nanti aku akan meneleponnya secara pribadi." "Syukurlah kalau kamu aman, Cin. Aku sangat mengkhawatirkanmu." Josh menghela napas lega. "Dengar, kamu sedang dalam tekanan besar. Jika kamu butuh seseorang untuk bicara atau jika pria itu membuatmu merasa terancam, telepon aku kapan saja. Aku tidak peduli pada aturan Pak Johan. Aku akan datang ke sana dan membawamu keluar. Mengerti?" Rasa haru menyelusup ke dalam dada Cindy. Di tengah mimpi buruk ini, perhatian tulus Josh adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih memiliki seorang teman sejati. "Terima kasih, Josh. Aku sangat menghargainya." "Istirahatlah, Penulis Kesayanganku. Jangan biarkan teror ini menghancurkan karyamu. Selamat malam, Cindy." "Selamat malam, Josh." Cindy menurunkan ponselnya. Untuk sejenak, ia merasa sedikit lebih tenang. Namun, ketenangan itu hancur seketika saat ia berbalik dan mendapati Owen kini sudah berdiri hanya beberapa langkah darinya, menatap tajam ke arah ponsel di genggaman Cindy. "Tidakkah kamu merasa ada yang janggal, Nona?" tanya Owen tiba-tiba, suaranya sangat rendah dan penuh perhitungan. "Janggal apa maksudmu?" Cindy membalas dengan dahi berkerut, merapatkan jubah tidur yang ia kenakan. Owen melangkah maju lambat-lambat, layaknya singa yang sedang mengitari mangsanya. "Penguntit itu memotretmu saat kamu sendirian. Dia tahu detail gaun yang kamu kenakan di pesta peluncuran. Dia tahu persis tata letak apartemenmu dan dia mengirimkan teror itu tepat setelah kamu menolak tawaran untuk dipindahkan ke hotel." Owen mencondongkan tubuhnya, menatap tepat ke dalam manik mata Cindy, membuat bulu kuduk wanita itu meremang oleh kengerian yang baru saja ia sadari. "Orang yang kita cari bukanlah penggemar gila dari luar sana, Cindy," bisik Owen dengan nada yang sangat dingin, "Tidakkah kamu berpikir, bahwa monster yang sedang bermain-main dengan nyawamu saat ini ... adalah orang yang mengetahui seluruh jadwalmu dengan sempurna? Seseorang yang baru saja berbicara denganmu di telepon menggunakan nada selembut malaikat?"Fajar menyingsing di ufuk timur daerah perbukitan, membentangkan hamparan langit pagi yang bersih dan berwarna jingga keemasan. Angin pegunungan yang sejuk berembus lembut, membawa harum embun pagi dan aroma menyegarkan dari ribuan kelopak bunga krisan putih yang menghiasi pelataran taman terbuka. Di atas hamparan rumput hijau yang tertata rapi, sebuah altar kayu bersahaja berdiri tegap di bawah naungan pohon beringin tua yang rindang, memancarkan atmosfer kedamaian yang murni tanpa kepalsuan. Tidak ada bentangan karpet merah mewah, tidak ada deretan lampu spotlight buatan, dan tidak ada kilatan kamera para jurnalis pers yang bising. Pesta pernikahan pagi ini sengaja diselenggarakan secara sangat tertutup dan intim, hanya dihadiri oleh belasan orang terdekat—kerabat keluarga, Myla, Ben, ibu Cindy serta beberapa sahabat yang setia menemani perjuangan mereka di masa-masa tersulit. Di dekat susunan kursi kayu tamu, Ben berdiri tegap dalam balutan setelan jas hitam kustom yang rap
Sinar matahari senja berwarna keemasan membias lembut menembus kaca jendela studio, memantulkan pendar hangat di atas sehelai gaun pengantin sederhana berwarna putih gading yang tergantung anggun di sudut ruangan. Gaun itu tidak bertabur permata mewah atau buatan rumah mode ternama, melainkan sebuah karya yang dijahit berdasarkan draf sketsa lama—sebuah sketsa yang pernah diukir jemari Cindy di atas lembaran kertas diari sepuluh tahun lalu, ketika ia masih menjadi mahasiswi muda yang memimpikan masa depan penuh kedamaian. Cindy berdiri beberapa langkah dari gaun tersebut, jemarinya mengusap pelan kain sutra halus di bagian kelimannya. Tekstur kain dingin itu terasa nyata di bawah kulitnya, menegaskan bahwa detik-detik ini bukanlah bagian dari halusinasi atau mimpi di tengah trauma. Di sampingnya, Myla sibuk merapikan lipatan renda di bagian lengan gaun dengan wajah yang berbinar terang, memoles setiap detail kecil dengan kehati-hatian yang penuh kehangatan. "Garis lengkungnya sa
Suara ketikan keyboard bergema teratur dan berirama di dalam studio kecil beratap kayu di lantai dua rumah baru Cindy. Ruangan itu dibanjiri sinar matahari pagi yang jernih, menerobos masuk lewat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah bukit hijau yang tenang. Aroma kopi hitam segar dan kertas kering membumbung halus di udara, menciptakan atmosfer kedamaian yang dulunya terasa seperti sebuah mimpi yang tak terjangkau. Di depan meja kayu jati yang kokoh, Cindy duduk dengan postur tegak. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik tanpa ragu, tanpa sedikit pun jeda panik. Tidak ada lagi rasa takut yang mencekik tenggorokannya. Tidak ada lagi gema suara langkah kaki asing yang mencurigakan di luar pintu, tidak ada ancaman pembunuhan lewat pesan tersembunyi, dan tidak ada lagi bayang-bayang Josh yang mengawasi setiap kata yang ia tulis. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Cindy memegang pena dan mengetikkan kalimat-kalimatnya dengan kemerdekaan jiwa yang mutlak. Di
Beberapa waktu setelah seluruh badai hukum mereda, sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca besar di sebuah klinik rehabilitasi swasta di pinggiran London. Angin sejuk yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan berembus lembut, mengibarkan tirai putih tipis di dalam ruangan pemulihan. Di atas bangku kayu taman yang dikelilingi rindangnya pohon kamboja dan mawar putih, Myla duduk bersandar seraya menikmati hangatnya mentari menyentuh kulitnya. Luka-luka fisik di pergelangan tangan dan kakinya bekas kuncian rantai baja telah sembuh total, hanya menyisakan samar bekas kemerahan yang tak lagi terasa nyeri. Pemeriksaan paru-parunya pun menunjukkan hasil yang sempurna, jejak racun uap bensin sintetis yang sempat mengendap di saluran pernapasannya telah bersih sepenuhnya. Namun, penyembuhan trauma jiwa membutuhkan proses yang berjalan perlahan. Dalam minggu-minggu awal pasca-kejadian, Myla masih sering terbangun di tengah malam dengan napas terse
Tiga minggu setelah malam pembakaran di Vangard Tower, garis pita kuning kepolisian masih terpasang kaku melingkari pilar-pilar marmer di depan atrium utama. Gedung pencakar langit yang dulunya menjadi kiblat industri literatur itu kini tampak bagaikan monumen kelam yang membisu. Berdasarkan keputusan pengadilan niaga dan instruksi langsung dari Kejaksaan Agung, Vangard Publishing dinyatakan bangkrut secara permanen, seluruh izin operasionalnya dicabut tanpa sisa, dan seluruh aset fisiknya disita oleh negara untuk membayar ganti rugi kepada para korban manipulasi royalti. Kerajaan yang dibangun di atas penderitaan dan kebohongan itu kini resmi ditutup total, meninggalkan sejarah kelam yang tak akan pernah dilupakan. Sementara itu, di fasilitas tahanan medis berkeamanan tinggi di pinggiran kota, proses pemindahan Josh Yeman berlangsung di bawah pengawalan ketat dua regu personel Brimob. Pemeriksaan psikiatri forensik yang melibatkan tim dokter independen menyimpulkan bahwa sang ma
Raungan sirene puluhan armada pemadam kebakaran dan mobil patroli kepolisian saling membalas, membelah pekatnya udara malam di jantung kota. Cahaya lampu strobo merah dan biru memantul liar pada fasad kaca Vangard Tower yang megah, membiaskan bayangan-bayangan panik ribuan orang yang memadati pelataran luar. Gulungan asap hitam pekat yang berbau uap bensin tajam masih membumbung tinggi dari balik jendela-jendela Grand Ballroom yang pecah di lantai atas, merusak kemewahan gedung pencakar langit yang selama satu dekade menjadi simbol supremasi literatur tanah air. Para tamu undangan VIP—para elit bisnis, politisi senior, kritikus sastra, dan eksekutif papan atas yang tadinya melangkah masuk dengan gaun malam buatan perancang busana ternama dan tuksedo mahal—kini berdesakan berlarian keluar dalam keadaan acak-acakan. Beberapa wanita bergaun sutra tampak terbatuk-batuk dengan wajah yang ternoda jelaga hitam, sementara yang lain terjerembap di atas trotoar seraya memegangi dada mereka







