Share

Keanehan mulai terjadi

Adit yang sedang asyik berbincang dengan Pak Kas sangat terkejut saat mendengar teriakkan sang istri dari lantai atas. Ia pun segera berlari menaiki tangga menuju kamar yang terdengar suara jeritan serta tangis dari sang buah hati. Namun sayang, pintu tersebut terkunci dari dalam.

“Reyna! Buka pintunya, Sayang!” Adit berusaha mendorong pintu berwarna putih itu dan dibantu oleh Pak Kas.

Setelah tiga kali entakkan, pintu yang terbuat dari kayu jati itu pun akhirnya berhasil didobrak. Adit segera berlari menghampiri Reyna yang tengah berada di atas ranjang. Tubuhnya terlihat gelisah, teriakkan pun kian mengeras membuat putri mereka ikut terbangun dan menangis.

“Dek, kamu kenapa? Bangun, Dek!” Adit terus menepuk-nepuk kedua pipi Reyna, sedangkan Pak Kas menggendong Anindita yang menangis histeris.

Lelaki yang suka olahraga lari itu terus membangunkan sang istri, hingga beberapa lama Reyna membuka matanya. Ketika membuka mata, wanita bermata bulat itu langsung berhambur memeluk sang suami begitu erat.

“Mas, aku takut,” ucap Reyna disela isak tangisnya dalam pelukan Adit.

“Ada apa, Dek? Bilang sama, Mas!” Adit melerai pelukannya, lalu menghapus air mata yang mengalir di pipi chuby sang istri.

“Sebentar, kenapa kau bisa ada di sini? Seingatku tadi aku berada di depan pintu saat makhluk itu mendekat.” Reyna melihat ke sekelilingnya dan pandangannya berfokus pada lukisan yang sebelumnya ia pernah lihat.

“Makhluk? Apa maksud kamu, Dek?” tanya Adit.

“Lukisan itu, Mas! Wanita yang ada di dalam lukisan itu hidup dan sangat menyeramkan.” Reyna menunjuk pigura berukiran besar yang terpajang dia atas dipannya.

Pak Kas yang sedang menggendong Anindita merasa heran saat Adit menatapnya seakan-akan meminta penjelasan pada pria tua itu. Namun, Pak Kas segera menyangkal cerita Reyna.

“Mungkin Nona kelelahan, jadi berhalusinasi. Lagi pula saat kami datang Nona sedang tertidur di samping Non Anindita.”

Reyna merasa ia tidak berhalusinasi, ia sangat yakin apa yang ia alami adalah kejadian nyata. Akan tetapi, keyakinannya perlahan sirna saat ia kembali menyadari dirinya sedang berada di atas ranjang. Rena memejamkan matanya, lalu ia kembali mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Bayang-bayang wajah menyeramkan wanita dalam lukisan itu terus terbayang, ia menjerit ketakutan.

Melihat sang istri menjerit, Adit pun terlihat kebingungan. Selang beberapa lama Mbok Sun datang membawakan segelas air untuk Reyna. Melihat Mbok sun datang Rena pun menatapnya dengan tajam.

“Mbok ke mana tadi? Kenapa tinggalin aku sendiri di kamar? Cecar Reyna saat Mbok Sun menyodorkan segelas air putih kepadanya.

“Loh? Saat masuk, Nona langsung tidur bersama Nona Kecil, tidurnya sangat pulas sekali. Saya takut mengganggu, jadi saya pun keluar saja,” tutur Mbok Sun menjelaskan.

Reyna merasa kejadiannya bukan seperti itu. Baru saja ia akan berucap, Adit lebih dulu memotongnya.

“Sudah! Mungkin apa yang dikatakan Mbok Sun benar, kamu kelelahan jadi sering berhalusinasi.”

Merasa terpojok dan tidak ada bukti kuat, Reyna pun memilih diam agar tidak terjadi hal yang tak sepatutnya terjadi. Meski begitu, perasaan wanita pecinta musik jaz itu mengenai rumah yang belum genap satu hari mereka tinggali ada suatu kejanggalan. Namun, ia belum bisa memastikan ada kejadian apa pada rumah ini pada saat jaman dahulu.

“Iya, mungkin aku hanya kelelahan saja,” sahut Reyna.

“Ya, sudah, kalau begitu kita turun, yuk! Mbok sudah masak banyak untuk menyambut pemilik baru rumah ini.

***

Setelah makan malam, mereka memilih beristirahat di dalam kamar. Anindita pun kembali tertidur pulas di atas ranjang yang empuk dan nyaman. Pada saat itu, Reyna kembali mencari informasi tentang lukisan yang misterius itu.

“Mas, kamu nggak percaya sama aku?” Reyna kembali bertanya perihal lukisan yang berada di dalam kamar mereka.

Adit yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya pun seketika terdiam. Ia pun melihat dengan saksama tiap inci lukisan tersebut. Tidak ada yang aneh dengan lukisannya, semua tampak sama dan biasa saja.

“Tuh, kan diem. Pasti kamu masih mengira aku halu, ya?” Kelakar Reyna pada sang suami.

Adit menatap Reyna tanpa menjawab. Perlahan tangannya terulur menyentuh kepala sang istri, jemarinya pun turun menelusuri helai rambut indah milik Reyna. Senyum malu-malu terbit dari bibir mungil Reyna, Adit pun ikut tersenyum sambil menepis jarak antara mereka berdua. Namun, saat Adit akan melancarkan aksinya, sebuah kepalan tangan Reyna berdiri kokoh di hadapannya.

“Aku lagi bicara serius, Mas. Bisa nggak, sih kamu dengerin aku kali ini saja?” Reyna berbicara tegas, membuat Adit tidak bisa mengelak lagi.

“Oke, aku dengarkan dengan serius. Hal apa yang membuat kamu takut hanya dengan sebuah lukisan saja?”

“Lukisan itu sepertinya mempunya sejarah yang kita belum tahu. Soalnya, aku mendengar makhluk itu minta tolong, Mas.” Reyna kembali mempertanyakan dari mana lukisan itu ada.

“Lukisan itu memang banyak sejarahnya, Dek. Tetapi, aku nggak tahu apa sejarahnya, sebab almarhum mamah jarang bercerita. Mungkin ia takut jika ada yang mengetahui tentang sejarah dari lukisan yang berharga sangat fantastis,” tutur Adit, membuat Reyna antusias mendengarkan cerita dari sang suami.

“Harga fantastis?” Reyna bertanya dengan mata berbinar. Namun, binar di wajahnya seketika pudar saat Adit menjentik keningnya. “Aaaw! Sakit, Mas.”

“Rasain! Jangan pernah berpikiran untuk menjual barang apa pun yang ada di dalam rumah ini. Sebab, mendiang orang tuaku selalu berpesan agar aku dan Kak Aldi harus hidup rukun. Rumah ini beserta isinya adalah kenangan yang sangat berharga. Jadi, sampai kapan pun rumah warisan ini tidak akan dijual, begitu juga semua isinya.” Adit menjelaskan dengan pandangan menerawang.

“Yah, baru aja mau seneng-seneng karena mau dapat warisan, malah gagal,” cetus Reyna memasang wajah lesu sambil menopang dagu. Namun, sebuah jitakan kembali dilayangkan oleh Adit.

“Aaaw! Sakit, mas. Kenapa, sih suka banget jitakin kepala istrinya?” Reyna mengusap kepala yang terasa sakit.

“Itu hukuman buat kamu yang isi otaknya cuma warisaaan aja!” Adit pun beranjak dari kursi dan berjalan ke luar kamar.

Reyna masih meringis sambil memegangi kepalanya, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengejeknya.

“Sakit, ya? Emang enak!”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status