Share

Dia kembali!

Suara bising kendaraan yang melintas di jalan raya membuta hati Aldi kian gusar. Terhitung sejak kemarin ia menyambangi rumah Adit, Siska menghilang entah ke mana. Pria bergaya perlente itu sudah mencari sang istri ke semua tempat, tetapi tak kunjung menemukan hasil.

“Sudah ketemu, Kak?” Adit tiba-tiba masuk membuyarkan lamunan pria yang memakai kacamata hitam itu.

Terdengar embusan napas kasar dari Aldi, membuat Adit paham maksudnya. Pria yang mengenakan kemeja berwarna navy itu pun menarik salah satu kursi dan duduk di seberang sang kakak. Makanan lezat khas restoran bintang lima, sudah disajikan tiga puluh menit yang lalu pun hanya teronggok di atas meja bundar.

“Kamu yakin tidak ada yang mencurigakan di rumah itu?” Aldi pun akhirnya bersuara setelah hampir satu jam bungkam. Adit hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Kamu ingat kapan terakhir kali Siska bersama kita?” lanjutnya dengan tatapan tajam pada Adit.

Sejenak pikiran pria berbadan kurus itu menerawang, kedua tangannya bertumpu pada meja dan memijit pelipisnya. Mencoba mengingat kembali kejadian yang membuatnya hilang akal.

Brak!

Adit menggebrak meja membuat Aldi terkejut. Beruntung, restoran yang mereka kunjungi sedang sepi pengunjung, jadi tidak ada yang merasa terganggu dengan ulah Pria berhidung mancung itu.

“Aku ingat. Saat itu Reyna baru sadar, aku menyuruhnya mengambilkan air ke dapur. Karena terlalu syok dengan pengakuan Reyna yang konyol, aku sampai lupa jika Kak Siska belum kembali. Sampai, Kakak memutuskan untuk pulang.” Adit menjelaskan kronologis yang ia ingat saat kejadian itu.

“Ya, saat itu aku kecewa dengan Reyna, hingga aku memutuskan secepatnya pergi. Tetapi, aku tidak menyadari jika Siska tidak pulang bersamaku.”

Keduanya terdiam, memikirkan ke mana hilangnya Siska. Hingga sebuah alunan gamelan terdengar sangat dekat. Aldi dan Adit saling melirik, mencoba mencari sumber suara tersebut. Namun nihil, tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada beberapa pegawai restoran yang sedang membersihkan meja.

“Kakak, dengar suara musik juga?” Aldi mengangguk.

Seketika bulu kuduk Adit meremang saat hawa dingin menerpa tengkuknya. Teringat ucapan Reyna saat pagi tadi, makhluk tak kasat mata kerap mengganggu. Apakah hantu itu mengikuti dirinya hingga ke sini?

“Kemarin aku mendengar suara gamelan juga di rumah, tetapi saat dicari tidak ada apa-apa. Reyna pun makin sering diganggu oleh hantu yang menghuni rumah peninggalan Bapak.” Adit menceritakan kejadian yang menimpanya pada Aldi. Namun, reaksi pria di hadapannya biasa saja. Datar.

Perlahan Aldi merogoh ponsel yang ada di sakunya, suara gamelan itu kian terdengar jelas. Adit makin terlihat gelisah, tetapi sesaat ia mengernyit.

“Dasar penakut! Itu suara dari ponsel aku,” cibir Aldi pada adiknya.

***

Kamar luas lengkap dengan furnitur yang mewah dan elegan, tak membuat wanita yang tengah meringkuk di atas ranjang itu senang. Justru rasa takut dan gelisah yang kian mendera wanita cantik itu. Tatapannya tertuju pada suara derit pintu yang terbuka, terlihat seseorang yang sangat ia benci datang membawa nampan yang berisikan makanan serta minuman.

“Sudahkah kamu menikmati hari-harimu di rumah ini, Sayang?” ujar pria itu saat ia sudah meletakan makanan yang ia bawa di nakas.

“Aku mau pulang!”

“Tidak semudah itu, Siska Sayang. Kamu sudah ada di depanku, mana bisa aku membiarkanmu pergi begitu saja. Bahkan, kita akan selamanya tinggal di sini.”

Ya, Siska telah diculik oleh seseorang dari masa lalunya, Berry. Pria yang mempunyai tato naga di lengan kirinya itu sangat terobsesi dengan kecantikan Siska. Ia selama ini rela menjadi pengintai di rumah yang dihuni Siska dan Aldi.

Hingga saat melihat Siska sedang sendirian di dekat rumah kosong, Berry sigap membawa kabur wanita cantik itu. Tanpa harus bersusah payah menghindar dari para bodyguard yang selalu menjaga Siska.

“Aku sudah tidak mau berurusan lagi denganmu. Kamu telah menipuku selama ini dengan me-“

“Ssst!” Berry tiba-tiba memotong ucapan Siska. Ia mendekatkan telunjuknya ke bibir ranum wanita itu.

“Jangan pernah mengucapkan kata-kata yang membuatku marah, Sayang! Aku tidak suka itu.” Berry membelai wajah pucat Siska penuh kelembutan, tetapi ucapannya membuat nyali Siska menciut.

“Dia datang lagi, Ber. Dia kembali dan akan menuntut balas padamu!”

Plak!

Satu tamparan pria itu layangkan pada pipi Siska yang tirus, dengan penuh emosi Berry mencengkeram wajah Siska.

“Sudah kubilang jangan mengungkit kejadian yang sudah berlalu di depanku! Aku tidak suka!” tekan Berry pada wanita yang pernah mengisi relung hatinya hingga saat ini.

“Lalu, apa bedanya denganmu? Aku adalah masa lalumu yang seharusnya tidak pernah kamu ungkit kembali. Aku pun tidak suka!” Siska dengan lantang menatap nyalang pada Berry, meski pipinya terasa sangat perih akibat tamparan tangan kekar Berry.

“Oh. Sudah pintar berbicara kau sekarang. Rasakan akibatnya jika kamu berani membantah ucapanku.” Berry mencengkeram leher Siska dengan sangat kuat. Namun, suara benda jatuh dari arah luar jendela membuat Berry menghentikan aksinya.

Dengan wajah penuh emosi, ia berjalan mendekati jendela. Membuka gorden berwarna putih dan mengawasi sekitar jendela. Tidak ada apa-apa, tetapi saat ia hendak menutup kembali gorden itu, sekelebat bayangan putih melintas tepat di depannya.

Pria berbadan kekar itu terdiam sejenak, hingga perlahan kesadarannya kembali saat melihat sosok wanita memakai dress putih yang sedikit lusuh dengan luka sayatan di wajah dan juga tubuhnya.

“Ka-kamu?”

***

Reyna mundur perlahan hingga tubuhnya membentur dinding. Ia ingin masuk kembali ke kamar, tetapi takut dengan penampakan hantu itu, sedangkan di luar pun sama. Ekspresi Mbok sun jauh lebih seram dari penampakan hantu yang ada di dalam.

"M-Mbok, mau ke mana?” Reyna sangat gugup, kakinya terasa sangat lemas. Beruntung ada dinding yang menopang tubuhnya, jika tidak sudah dipastikan ia akan tumbang.

“Sudah waktunya makan siang, Nona. Makanan sudah tersaji di meja makan,” ucap Mbok Sun dengan suara pelan.

“I-iya, saya akan turun. Tapi, nanti mau panggil Anin dulu di dalam.”

Tidak ada jawaban, wanita dengan rambut yang selalu digelung itu berlalu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sementara Reyna mulai bisa bernapas lega, ia pun memberanikan diri kembali ke dalam kamar.

Berkali-kali menarik napas, wanita bermata bulat itu menekan perlahan knop pintu dan membukanya. Kepalanya menengok keadaan sekitar. Sepi. Hanya ada sang anak yang tengah sibuk bermain boneka yang berbentuk wanita berambut pirang itu.

“Sayang, kita makan, yuk!” Anin menoleh ke arah Reyna yang hanya berdiri di depan pintu.

“Ayo!” seru bocah berpipi chuby itu sambil berlari menuju sang mamah.

Reyna menggendong Anin dan berjalan menuruni tangga. Saat ia sudah turun, tak terlihat sosok Mbok Sun di sana, hanya makanan lezat yang sudah tersaji di atas meja yang dilapisi kaca tebal. Berbagai aneka masakan tertata rapi di sana, membuat Reyna mengecap berkali-kali.

“Mah, mau makan itu,” seloroh Anin sambil menunjuk ayam goreng yang terlihat sangat nikmat.

“Oke, Sayang.” Reyna pun menarik dua kursi, lalu mendudukkan Anin di salah satu kursi itu. Mereka pun makan dengan lahap.

Di tengah menyantap makan siang, Anin ingin minum, tetapi air yang tersedia sudah habis. Dengan terpaksa Reyna harus mengambil tambahan air dari dapur.

“Tunggu sebentar, ya, Nak. Mamah ambil minum dulu.”

Anin hanya mengangguk, sebab ia tengah sibuk memakan ayam goreng kesukaannya. Reyna beranjak dan berjalan menuju dapur. Jarak dapur dengan ruang makan tidak terlalu jah, hanya terhalang lemari besar yang berisikan pajangan guci dan aneka buku sejarah dan ada beberapa novel.

Saat memasuki dapur, Wanita itu melihat Mbok Sun sedang sibuk menggoreng sesuatu. Dalam hati Reyna berpikir, Mbok Sun sedang memasak apalagi? Bukannya masakan di depan cukup banyak. Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya, ia ingin bertanya, tetapi kejadian di depan kamar bermain membuat ia enggan menyapa Mbok Sun.

Prang!

Gelas yang ia pegang tiba-tiba jatuh dan pecah. Reyna sangat terkejut hingga ia gugup saat Mbok Sun melihatnya.

“Ma-maaf, Mbok, gelasnya licin.” Reyna dengan sigap meraih sapu dan serokan sampah yang berada tak jauh darinya.

“Eh, nggak usah, Non. Biar nanti Simbok saja yang bereskan. Sekarang tanggung sedang memasak udang balado untuk Nona dan Nona Kecil makan.”

Deg! Hati Reyna merasa tak tenang.

“Mak-maksudnya, Mbok baru masak?” tanya Reyna dengan wajah yang sudah pucat. Sementara Mbok Sun mengangguk.

“Jadi makanan yang ada di meja itu masakan siapa?” ucap Reyna lagi.

“Saya belum menyajikan makanan apa pun, Non. Nasinya saja belum matang.” Mbok Sun menunjuk penanak nasi dengan dagunya. Sebab tangannya sibuk mengaduk-aduk sutil di atas penggorengan.

“Mbok tadi ke atas, kan? Manggilin aku sama Anin buat makan?”

“Tidak, Non. Wong saya sejak pagi di bawah terus. Abis nyapu, ngepel. Mangkanya baru sempat masak makan siang buat Non Reyna.” Mbok Sun menjelaskan dengan gayanya yang khas.

Tiba-tiba kepala Reyna terasa pusing, perutnya bergejolak seakan-akan ingin mengeluarkan makanan lezat yang baru saja ia makan. Keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh wanita itu. Seketika ia muntah, tetapi yang keluar bukan ampas makanan yang ia makan, melainkan belatung serta cacing yang bercampur darah memenuh lantai dapur.

Reyna terkejut dengan apa yang ia lihat, sekali lagi perutnya bergejolak dan mengeluarkan isi perut. Namun, lagi-lagi yang keluar hewan menjijikkan itu. Hingga ia tak sanggup menahan kepala yang terasa berat dan pusing, pandangannya pun perlahan mengabur dan gelap.

Mbok Sun terlihat panik, saat tubuh Reyna hampir tumbang. Beruntung, ia dengan sigap menahannya. Wanita yang berusia setengah abad itu berteriak memanggil sang suami yang berada di teras belakang.

“Pak, tolong! Non Reyna pingsan lagi, Pak!”

Pak Kas yang sedang duduk santai di kursi halaman belakang sambil menyeruput kopi hitam, sangat terkejut saat mendengar suara teriakan istrinya. Ia pun segera menaruh kembali kopi yang baru satu teguk ia minum dan berlari mendatangi sang istri.

“Astaga! Ada apa ini, Mbok?” Pak Kas begitu terkejut saat melihat banyak binatang menjijikkan meliuk-liuk di lantai yang penuh dengan darah.

“Sudah jangan banyak tanya! Bawa Non Reyna ke kamarnya, aku mau bersihin kotoran ini dulu.”

Dengan raut wajah bingung sekaligus jijik. Ia meraih tubuh ramping majikannya yang lemas bagaikan tanpa tulang. Pak Kas menuruti perintah Mbok Sun untuk membawa Reyna ke kamarnya. Saat ia berjalan menuju kamar, pria yang sudah dipenuh uban itu sempat melirik ke meja makan. Ia bergidik ngeri saat melihat Anin dengan lahap memakan tulang yang dipenuhi oleh belatung.

Saat ia akan menghampiri bocah tiga tahun itu, tiba-tiba sekelebat bayangan putih melintas di depannya. Terlihat tatapan wajah Pak Kas berubah menjadi sendu, ia pun memilih meninggalkan bocah berpipi chuby itu di meja makan sendirian.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status