แชร์

Bab 30 : Piihan

ผู้เขียน: qia
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-29 16:38:13

Pagi datang tanpa tergesa. Cahaya masuk dari sela tirai, membentuk garis tipis di lantai. Seeyana bangun lebih awal dari biasanya bukan karena gelisah, melainkan karena siap. Tubuhnya terasa ringan, seperti seseorang yang sudah berhenti menunda keputusan.

Ia membuat kopi, membuka jendela, dan membiarkan udara pagi menyentuh wajahnya. Kota bergerak seperti biasa, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa tertinggal di dalamnya.

Ponselnya tergeletak di meja. Tidak ada pesan baru. Itu menenangkan.

Seeyana memilih tempat yang netral taman kota dengan bangku kayu panjang dan pepohonan tua. Siang hari, ramai secukupnya. Tidak intim, tidak juga dingin. Ia tiba lebih dulu, duduk dengan punggung tegak, menata napas.

Ravent datang tepat waktu. Tidak tergesa. Tidak ragu. Ia duduk berseberangan, menjaga jarak yang sama seperti minggu-minggu terakhir.

“Kamu baik?” tanya Ravent.

“Baik,” jawab Seeyana. “Dan jelas.”

Ravent mengangguk.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 57 : Tekan

    Tekanan jarang datang sebagai ledakan.Ia lebih sering hadir sebagai ruang yang menyempit perlahan, membuat seseorang sadar bahwa pilihan semakin sedikit dan waktu tidak lagi ramah.Keira merasakannya sejak ia duduk di ruang pertemuan itu.Meja panjang. Kursi-kursi tertata rapi. Wajah-wajah yang tidak asing, tapi kini sulit dibaca. Tidak ada senyum pembuka, tidak ada basa-basi yang biasanya mengulur niat.Pertemuan ini bukan tentang saling mengenal. Ini tentang siapa yang akan mengalah lebih dulu.“Terima kasih sudah datang,” ujar salah satu dari mereka, suaranya datar. “Kami ingin membicarakan ulang beberapa poin.”Keira mengangguk pelan. “Aku mendengarkan.”Kalimat itu sederhana, tapi disengaja. Ia tidak datang untuk menjelaskan ulang. Ia datang untuk mengamati tekanan dan memutuskan bagaimana berdiri di dalamnya.Poin pertama dibuka dengan nada halus. Penyesuaian jadwal. Poin kedua sedikit lebih tajam permint

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 56 : Tegang

    Ketegangan tidak selalu keras. Sering kali ia justru terasa dalam cara seseorang menunggu terlalu lama tanpa kepastian. Keira merasakan itu sejak pagi. Tidak ada pesan baru. Tidak ada respons atas alternatif kerja sama yang ia ajukan. Sunyi yang tertinggal bukan sunyi netral melainkan sunyi yang menguji apakah ia akan bergerak lebih dulu. Ia memilih tidak. Di kantor, ritme berjalan lebih lambat, tapi terjaga. Tim bekerja tanpa banyak bicara. Setiap orang seolah tahu: ini fase menahan, bukan mendorong. “Mereka belum menjawab,” kata Rina pelan. Keira mengangguk. “Dan itu juga jawaban.” Ketegangan mulai merambat ke hal-hal kecil. Satu laporan dikembalikan dengan catatan ambigu. Satu jadwal rapat dipindahkan tanpa penjelasan. Tidak ada yang bisa dituding secara langsung, tapi cukup untuk membuat semua orang lebih waspada. “Kita sedang digantung,” kata seseorang dalam tim. Keira menatap mereka. “Digantung hanya berbahaya kalau kita berhenti bernapas.” Kalimat itu tidak m

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 55 : Tarik

    Tarikan selalu datang setelah pergeseran. Bukan untuk menghentikan, melainkan untuk menguji seberapa kuat seseorang berdiri di posisi barunya.Keira merasakannya nyaris seketika. Setelah perubahan-perubahan kecil itu mulai terlihat stabil, dunia seperti menariknya kembali pelan, halus, nyaris sopan. Bukan dengan tekanan terbuka, melainkan dengan tawaran yang terdengar masuk akal.Satu undangan kerja sama datang dengan nada bersahabat. Ruang lingkupnya lebih luas dari yang biasa mereka terima. Imbalannya menarik. Persyaratannya, di atas kertas, tampak fleksibel.“Ini kelihatannya aman,” kata Rina saat mereka menelaah dokumen itu bersama.Keira membaca tanpa terburu-buru. “Aman untuk siapa?”Rina terdiam. Ia tahu pertanyaan itu bukan retorika.Tarikan itu tidak datang sendirian.Beberapa kontak lama kembali menghubungi orang-orang yang dulu berada di sisi Keira saat masa-masa paling menekan, lalu menghilang ketika ia mulai

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 54 : Geser

    Pergeseran jarang terasa heroik.Ia terjadi pelan, hampir tak disadari sampai seseorang menoleh ke belakang dan menyadari posisinya sudah berbeda.Keira merasakan pergeseran itu sejak forum internal dibubarkan. Tidak ada sorak, tidak ada rasa menang. Yang tertinggal justru keheningan yang lebih jujur, seolah semua orang sedang menyesuaikan napas dengan ritme baru yang belum sepenuhnya dikenali.Struktur yang mereka longgarkan tidak runtuh. Namun ia juga tidak kembali ke bentuk semula.“Kita sedang bergerak,” kata Rina, mengamati papan kerja yang kini lebih kosong di beberapa sudut. “Tidak mundur, tidak maju lurus.”Keira mengangguk. “Kita menggeser pusatnya.”Pergeseran pertama terasa pada cara keputusan diambil.Keira tidak lagi menjadi titik akhir dari semua diskusi. Ia membiarkan beberapa keputusan lahir tanpa kehadirannya dan menahan dorongan untuk mengoreksi setelahnya.Tidak semua hasil rapi. Tidak semua p

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 53 : Retak

    Retakan tidak selalu terdengar.Sering kali ia muncul sebagai perubahan kecil yang terlalu mudah diabaikan.Keira menyadarinya bukan dari satu peristiwa besar, melainkan dari detail-detail yang bergeser. Cara orang berhenti menyela rapat. Cara pertanyaan menjadi lebih hati-hati. Cara keputusan yang dulu lahir dari diskusi kini datang sebagai persetujuan cepat.Di permukaan, semuanya tampak stabil. Namun stabilitas yang terlalu mulus sering kali menyembunyikan ketegangan yang tertahan.“Kita mulai terlalu rapi,” kata Rina suatu pagi, nada suaranya datar tapi penuh makna.Keira menoleh. “Rapi seperti apa?”“Rapi seperti orang-orang yang tidak ingin mengguncang apa pun,” jawab Rina. “Bukan karena setuju, tapi karena lelah.”Kalimat itu menetap di kepala Keira lebih lama dari yang ia duga.Retakan pertama terlihat saat satu keputusan kecil dipertanyakan secara tertutup.Seorang anggota tim menghampiri Keira

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 52 : Bertahan

    Bertahan bukan soal keras kepala.Ia soal memilih tetap berdiri ketika godaan untuk berbelok datang dengan alasan yang masuk akal.Keira menyadarinya pada minggu-minggu setelah keterbukaan itu menjadi nyata. Ritme kerja tidak lagi padat, tapi juga tidak longgar. Setiap keputusan terasa lebih berat karena tidak ada lagi kabut untuk bersembunyi. Semua terlihat jelas dan itu menuntut konsistensi yang tidak bisa dipalsukan.“Kita mulai diuji bukan oleh tekanan,” kata Rina suatu sore, “tapi oleh kelonggaran.”Keira mengangguk. “Itu yang sering membuat orang lengah.”Tawaran baru berdatangan, sebagian lebih rapi, sebagian lebih licin. Tidak ada yang melanggar batas secara terang-terangan. Mereka hanya mencoba menggesernya sedikit demi sedikit meminta pengecualian kecil, fleksibilitas sementara, kompromi yang katanya tidak akan berdampak jangka panjang.Keira membaca setiap detail dengan teliti.“Kalau kita mengiyakan ini,” kat

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status