Share

Bab 46 : Tekanan

Author: qia
last update Last Updated: 2026-01-06 12:53:17

Tekanan tidak selalu datang sebagai benturan. Kadang ia hadir sebagai undangan yang terlalu rapi untuk ditolak.

Keira menerimanya pada pagi yang tampak biasa. Sebuah surel resmi, bahasanya netral, tanpa ancaman terselubung. Tidak ada tenggat keras. Tidak ada tuntutan langsung. Hanya permintaan pertemuan—tertutup, terbatas, dan “bersifat klarifikasi”.

Rina membaca isi surel itu dua kali.

“Mereka kembali,” katanya akhirnya.

Keira mengangguk. “Mereka tidak pernah benar-benar pergi.”

Namun kali ini, tubuhnya tidak menegang seperti sebelumnya. Tidak ada rasa dikejar. Yang ada hanya kesadaran bahwa fase tenang memang selalu punya harga.

“Apa kamu akan datang?” tanya Rina.

Keira menatap layar beberapa detik lebih lama sebelum menjawab. “Ya. Tapi dengan caraku.”

Pertemuan itu diadakan di ruang kecil yang terlalu bersih untuk disebut ramah. Dua orang dari sistem sudah duduk ketika Keira masuk. Wajah mereka sopan, nyaris
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 52 : Bertahan

    Bertahan bukan soal keras kepala.Ia soal memilih tetap berdiri ketika godaan untuk berbelok datang dengan alasan yang masuk akal.Keira menyadarinya pada minggu-minggu setelah keterbukaan itu menjadi nyata. Ritme kerja tidak lagi padat, tapi juga tidak longgar. Setiap keputusan terasa lebih berat karena tidak ada lagi kabut untuk bersembunyi. Semua terlihat jelas dan itu menuntut konsistensi yang tidak bisa dipalsukan.“Kita mulai diuji bukan oleh tekanan,” kata Rina suatu sore, “tapi oleh kelonggaran.”Keira mengangguk. “Itu yang sering membuat orang lengah.”Tawaran baru berdatangan, sebagian lebih rapi, sebagian lebih licin. Tidak ada yang melanggar batas secara terang-terangan. Mereka hanya mencoba menggesernya sedikit demi sedikit meminta pengecualian kecil, fleksibilitas sementara, kompromi yang katanya tidak akan berdampak jangka panjang.Keira membaca setiap detail dengan teliti.“Kalau kita mengiyakan ini,” kat

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 51 : Terbuka

    Hal yang paling menegangkan bukanlah keputusan. Melainkan saat dunia akhirnya menanggapi keputusan itu dengan jujur.Keira merasakannya pagi itu ketika notifikasi mulai berdatangan hampir bersamaan. Bukan banjir pesan, tapi cukup untuk mengubah suasana: satu konfirmasi, satu penjadwalan ulang, satu pembatalan tanpa alasan rinci.Respons dunia mulai terbuka.“Peta mulai berubah,” kata Rina sambil menutup tabletnya.Keira mengangguk. “Dan kita tidak lagi berdiri di tengah kabut.”Respons pertama datang dari dalam.Dua anggota tim memilih mundur. Tidak dengan marah, tidak dengan drama. Mereka datang satu per satu, menyampaikan keputusan dengan suara rendah dan mata jujur.“Aku butuh stabilitas yang lebih jelas,” kata salah satunya.Keira mengangguk. “Aku mengerti.”Tidak ada bujukan. Tidak ada upaya menahan. Keira tahu, mempertahankan orang dengan arah berbeda hanya akan menciptakan kelelahan baru.

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 50 : Ambang

    Ambang adalah tempat paling rapuh. Bukan karena ia lemah, melainkan karena ia memaksa seseorang memilih mundur, atau melangkah penuh.Keira berdiri tepat di sana.Ia merasakannya sejak pagi perasaan menggantung yang tidak sepenuhnya gelisah, tapi juga belum tenang. Semua berjalan, namun tidak ada yang benar-benar selesai. Sistem menunda keputusan. Mitra menunggu sinyal. Tim bekerja dengan fokus yang dijaga rapat-rapat.Dan dirinya sendiri… sedang menimbang.Hari itu dimulai dengan rapat internal yang lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada adu argumen. Tidak ada presentasi panjang. Hanya laporan singkat dan tatapan yang saling membaca.“Kita sampai di titik ambang,” kata Rina akhirnya. “Setelah ini, apa pun yang kita lakukan akan mengunci arah.”Keira mengangguk. “Dan tidak semua orang akan ikut.”Kalimat itu tidak diucapkan sebagai ancaman. Ia hanya fakta.Satu per satu anggota tim menyampaikan posisi. Beberapa me

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 49 : Guncang

    Guncangan tidak selalu datang sebagai ledakan.Kadang ia hadir sebagai perubahan kecil yang terus berulang, sampai keseimbangan terasa goyah.Keira merasakannya pada minggu kedua setelah risiko-risiko itu mulai terbaca jelas. Tidak ada satu kejadian besar. Yang ada justru rangkaian kecil: jadwal yang bergeser, jawaban yang tertunda, keputusan yang tak lagi mendapat respons cepat.Semua tampak wajar. Namun jika disusun, polanya terlihat.“Mereka sedang menguji daya tahan kita,” kata Rina suatu pagi.Keira menatap papan catatan. “Atau menguji kesabaran kita.”Perbedaannya tipis. Tapi dampaknya besar.Guncangan pertama terasa di internal tim.Salah satu anggota kunci mengajukan cuti mendadak. Alasannya pribadi, disampaikan dengan sopan, tapi waktunya tidak ideal.“Kita bisa menunda beberapa agenda,” kata Rina.Keira mengangguk. “Dan kita tidak mempersoalkan alasannya.”Ia sadar, tekanan e

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 48 : Resiko

    Resiko selalu hadir setelah garis ditarik.Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai konsekuensi.Keira merasakannya segera setelah kesepakatan parsial itu diumumkan secara internal. Tidak ada sorak, tidak ada kelegaan berlebihan. Hanya kesadaran sunyi bahwa apa pun yang mereka lakukan selanjutnya akan diperhatikan lebih tajam.“Kita sekarang terlihat,” kata Rina.Keira mengangguk. “Dan itu berarti setiap langkah harus disengaja.”Risiko pertama datang dari arah yang tidak terduga.Satu klien lama menunda kerja sama tanpa alasan jelas. Tidak menutup pintu, tapi juga tidak melangkah maju. Sinyalnya samar, namun cukup untuk dibaca sebagai kehati-hatian.“Mereka menunggu,” kata Rina.“Menunggu apa?” tanya Keira.“Apakah kita akan menyesuaikan diri,” jawab Rina. “Atau bertahan.”Keira tersenyum tipis. “Biarkan mereka melihat.”Di sisi lain, muncul peluang kecil tidak spektakuler, tidak meng

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 47 : Garis

    Garis tidak selalu terlihat. Sering kali ia baru terasa saat seseorang melangkah terlalu jauh.Keira menarik garis itu pada pagi yang tenang, justru ketika tidak ada desakan langsung. Ia memutuskan satu hal sederhana: tidak semua komunikasi harus segera dijawab. Beberapa surel ia baca tanpa membalas. Beberapa pesan ia tandai untuk dibicarakan bersama tim, bukan diputuskan sendiri.Keputusan kecil itu terasa asing seolah ia melanggar kebiasaan lama yang mengukur nilai diri dari kecepatan merespons.Namun dunia tidak runtuh.Hari berjalan. Pekerjaan tetap bergerak. Dan untuk pertama kalinya, Keira menyadari bahwa kendali tidak selalu hadir lewat kehadiran konstan, melainkan lewat kejelasan posisi.Rina memperhatikan perubahan itu.“Kamu mulai membiarkan ruang kosong,” katanya.“Ruang itu perlu,” jawab Keira. “Agar orang lain tahu di mana mereka berdiri.”“Dan agar kamu tidak berdiri di semua tempat sekaligus,” tam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status