Share

Bab 86 : Ambang

Penulis: qia
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-25 13:39:35

Undangan itu datang tanpa embel-embel dramatis.

Bukan presentasi besar. Bukan sorotan media.

Hanya satu surel singkat dengan subjek yang nyaris datar

Pertemuan awal. Diskusi kelayakan. Tertutup.

Keira membacanya dua kali. Bukan karena ragu memahami, melainkan karena ia mengenali nada itu. Nada pihak yang tidak ingin berjanji, tapi juga tidak lagi sekadar mengamati.

Ini ambang.

Rapat internal berjalan lebih hening dari biasanya.

Bukan tegang melainkan penuh pertimbangan.

“Kita belum tahu arah mereka,” kata Rina. “Ini bisa jadi pembuka, atau sekadar uji konsistensi.”

Keira mengangguk. “Karena itu kita datang tanpa menawarkan apa pun.”

Semua menoleh.

“Kita dengarkan dulu,” lanjut Keira. “Jika mereka ingin sesuatu, biarkan mereka yang menyebutkannya.”

Tidak ada keberatan. Tidak ada adrenalin berlebih.

Tim ini sudah belajar diam yang tepat sering kali lebih kuat daripada p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 88 : Garis Tipis

    Undangan kedua datang dengan detail yang lebih jelas.Tanggal. Waktu. Agenda.Namun ada satu perbedaan yang membuat Keira membaca ulang surel itu perlahan: pertemuan kali ini meminta komitmen arah, bukan sekadar diskusi.Garis tipis mulai terlihat.Rapat persiapan tidak panjang.Bukan karena kurangnya hal yang perlu dibahas, melainkan karena semua sudah tahu batas masing-masing.“Jika mereka meminta eksklusivitas?” tanya Rina.Keira tidak langsung menjawab. Ia memandang jendela sejenak, lalu berkata, “Kita dengar syarat lengkapnya dulu. Eksklusivitas tanpa keseimbangan bukan kemitraan.”Tidak ada yang menyela.Pertemuan berlangsung di ruang yang lebih terbuka.Cahaya masuk dari jendela besar. Tidak ada upaya menyembunyikan apa pun. Kali ini, pihak seberang berjumlah lebih banyak dan salah satunya adalah sosok yang jelas memiliki keputusan akhir.Ia memperkenalkan di

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 87 : Uji Sunyi

    Tidak ada kabar selama tiga hari.Keira tidak menanyakannya. Ia juga tidak menunggu dengan gelisah.Hari-hari berjalan seperti biasa rapat mingguan, penyempurnaan sistem, satu klien kecil yang meminta penyesuaian mendadak. Semua ditangani tanpa drama. Tanpa rasa “ini penentu segalanya”.Justru di situlah ujiannya dimulai.Uji sunyi tidak datang dengan konflik terbuka. Ia datang dalam bentuk ketidakhadiran.Tidak ada panggilan lanjutan.Tidak ada email klarifikasi.Tidak ada sinyal.Dulu, kekosongan seperti ini akan menggerogoti Keira. Ia akan membaca ulang percakapan, mencari celah, meragukan setiap kalimat yang telah ia ucapkan.Sekarang, ia hanya mencatat diam juga bentuk respons.Pada hari keempat, masalah kecil muncul.Bukan krisis. Tapi cukup untuk menguji konsistensi yang sedang diamati pihak luar.Salah satu mitra lama terlambat memenuhi kewajiban. Dampaknya tidak besar

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 86 : Ambang

    Undangan itu datang tanpa embel-embel dramatis.Bukan presentasi besar. Bukan sorotan media.Hanya satu surel singkat dengan subjek yang nyaris datarPertemuan awal. Diskusi kelayakan. Tertutup.Keira membacanya dua kali. Bukan karena ragu memahami, melainkan karena ia mengenali nada itu. Nada pihak yang tidak ingin berjanji, tapi juga tidak lagi sekadar mengamati.Ini ambang.Rapat internal berjalan lebih hening dari biasanya.Bukan tegang melainkan penuh pertimbangan.“Kita belum tahu arah mereka,” kata Rina. “Ini bisa jadi pembuka, atau sekadar uji konsistensi.”Keira mengangguk. “Karena itu kita datang tanpa menawarkan apa pun.”Semua menoleh.“Kita dengarkan dulu,” lanjut Keira. “Jika mereka ingin sesuatu, biarkan mereka yang menyebutkannya.”Tidak ada keberatan. Tidak ada adrenalin berlebih.Tim ini sudah belajar diam yang tepat sering kali lebih kuat daripada p

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 85 : Tumbuh Pelan

    Tumbuh pelan sering disalahartikan sebagai diam. Padahal di dalamnya, ada perubahan yang bekerja tanpa suara menguat, merapikan, dan membentuk arah dengan kesabaran yang jarang disorot.Keira mulai merasakan pertumbuhan itu bukan dari angka, melainkan dari cara tim berfungsi. Keputusan tidak lagi selalu naik ke mejanya. Masalah diselesaikan di tempatnya muncul. Percakapan menjadi lebih langsung, tanpa lapisan kehati-hatian berlebihan.Ia mengamati itu dengan tenang.Tidak mencampuri. Tidak mengklaim.Pertumbuhan juga terasa di dalam dirinya.Keira tidak lagi bangun dengan daftar panjang hal yang harus dibuktikan. Ia memulai hari dengan satu pertanyaan sederhana apa yang perlu dijaga hari ini?Kadang jawabannya teknis. Kadang emosional.Dan ia belajar bahwa keduanya sama penting.Satu minggu berjalan tanpa kejutan besar.Tidak ada lonjakan. Tidak ada penurunan. Namun ada stabilitas yang mulai terasa kons

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 84 : Bangun dari Nol

    Membangun dari nol tidak pernah benar-benar berarti kosong. Ia berarti memilih ulang apa yang dibawa, apa yang ditinggalkan, dan apa yang sengaja tidak diulang.Keira memulai minggu itu dengan papan rencana yang lebih sederhana. Tidak ada target ambisius. Tidak ada proyeksi yang memerlukan pembenaran panjang. Hanya tiga fokus utama, ditulis dengan spidol hitam, tanpa hiasan.“Ini cukup?” tanya Rina, menatap daftar itu.“Untuk sekarang,” jawab Keira. “Lebih dari itu hanya akan jadi kebisingan.”Langkah pertama terasa paling sunyi.Tidak ada sorotan. Tidak ada validasi eksternal. Keira dan tim bekerja seperti orang-orang yang tahu mereka tidak sedang dipantau dan justru karena itu, mereka lebih jujur.Mereka memperbaiki proses yang selama ini ditoleransi meski melelahkan. Mereka menyederhanakan alur yang terlalu bergantung pada satu orang. Keira memastikan satu hal: tidak ada sistem yang hanya bisa berjalan jika ia hadir.

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 83 : Dampak

    Dampak tidak datang sebagai ledakan. Ia merembes pelan, pasti, dan menyentuh bagian yang tidak bisa dihindari.Hari pertama setelah penolakan terasa biasa saja. Email tetap masuk. Telepon tetap berdering. Tidak ada tanda bahwa satu jalur besar baru saja ditutup.Namun Keira tahu dampak sejati selalu datang setelah keheningan awal.Hari kedua, penyesuaian dimulai.Satu proyek harus dijadwal ulang. Satu rencana ekspansi dikecilkan skalanya. Tidak ada kepanikan, tapi setiap perubahan membawa beban tambahan yang harus ditata ulang.Rina membawa daftar revisi ke ruangannya. “Ini masih bisa jalan. Lebih pelan.”Keira mengangguk. “Pelan tidak apa-apa. Tersesat yang berbahaya.”Mereka bekerja dalam diam. Tidak ada keluhan. Tidak ada drama.Hari ketiga, dampak mulai terasa di luar lingkaran dekat.Beberapa pihak menarik diri tanpa penjelasan. Nama Keira tidak lagi muncul di beberapa percakapan strategis. Bukan k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status