“Selamat datang!” sapa Aurelia dengan semangat. Senyum merekah di wajahnya saat ia menaruh sup krim ayam hangat di meja makan. Aroma rempah dan kaldu memenuhi ruang, menyambut kepulangan Gian. Di sampingnya, potongan mangga segar tersusun rapi, kuning cerah kontras dengan putih piring, menambah semarak meja makan sederhana itu.
“Aku tadinya mau membuat puding mangga, tapi waktunya tidak sempat. Jadinya—” Aurelia mulai menjelaskan dengan nada riang.
“Aku tidak suka puding mangga lagi,” potong Gian cepat, membuat Aurelia menelan kata-katanya. Matanya berkedip perlahan, mencoba menilai nada suara Gian, lalu ia meringis. Tanpa bicara lebih jauh, ia membantu menaruh tas kerja sang suami di ruang kerja, langkahnya tetap luwes meski rasa penasaran bersemayam di hati.
Gian duduk di sofa ruang tamu, melepaskan dasinya dengan gerakan pelan, wajahnya menenangkan dir
Baru saja ia bergerak waspada, ternyata yang muncul adalah seorang pelayan yang sedang tersenyum ramah. Aurelia akhirnya bisa bernapas lega.“Ada apa?”“Tidak, Bu,” jawab Aurelia cepat ketika melihat mertuanya tampak panik.Hari pertama Aurelia menjejakkan kaki di rumah besar itu terasa lebih tenang daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Meski pada awalnya hatinya diliputi kegelisahan karena harus berpisah dengan Gian untuk beberapa hari, ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan terbaik.Rumah sang ibu mertua memang luas, dengan halaman depan yang ditata rapi, dan para petugas keamanan yang selalu berjaga membuatnya merasa sedikit lebih aman.Sejak pagi, Aurelia sudah dijemput sopir pribadi yang ditugaskan Gian untuk mengantarnya ke kampus. Duduk di kursi belakang dengan tenang, ia memperhatikan jalanan yang ramai. S
Gian tercekat. Kalimat Aurelia barusan terasa bagai hantaman lembut yang justru menimbulkan luka di dada. Ia tidak menyangka istrinya akan berkata seperti itu. Dengan segala keraguannya, Aurelia justru memilih untuk mengalah, menerima opsi yang sebelumnya ia sendiri tolak keras.“Sayang… apa kau yakin?” suara Gian terdengar bergetar, nyaris tak keluar.Aurelia menatapnya, mencoba tersenyum meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kecemasan. “Aku hanya tidak ingin kau berangkat dengan hati berat. Kalau memang harus begitu, aku akan berusaha menerima. Semua demi anak kita.”Gian menghela napas panjang. Ia meraih kedua tangan Aurelia, meremasnya hangat. “Aku tidak ingin kau merasa tertekan. Aku tahu bagaimana perasaanmu tentang Ibu. Tapi aku juga tidak bisa tenang kalau meninggalkanmu sendirian di sini.”Sunyi menyelimuti ruang tamu kecil itu. Hanya terdengar detak jam dinding yang mengisi sela-sela hening. Aurel
Suasana ruang tamu malam itu masih dipenuhi sisa riuh. Aurelia duduk di sofa dengan wajah pucat, tubuhnya masih bergetar meski Gian tak henti-hentinya memeluk dan mengusap punggungnya. Segelas air hangat di tangannya belum disentuh. Mbok Sumi berdiri kikuk di sudut, menunduk dalam-dalam sambil meremas ujung jarik yang dikenakan. Sementara itu, Nyonya Lestari duduk dengan sorot mata tajam yang nyaris membuat udara di ruangan tersebut terasa kaku.“Sudahlah, Gian. Ibu tidak bisa tenang kalau begini terus,” suara ibunya memecah hening. “Bawa saja Aurelia ke rumah. Ada ibu, ada Mbok Sumi dan yang lain juga. Setidaknya kalau kau kerja, dia tidak sendirian.”Gian menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Aurelia yang masih terpaku. Hatinya terjepit antara keinginan untuk melindungi istrinya dan keyakinan bahwa apartemen mereka adalah tempat paling layak bagi keluarga kecil ini. Ia tahu maksud ibunya baik, tetapi ada sesuatu dalam cara ibunya berbic
“Aaaakhhh!”Suara teriakan itu memecah keheningan malam. Aurelia berdiri di ruang tengah apartemen dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya gemetar, tangannya memegangi perut seolah melindungi buah hati yang belum lahir. Napasnya tersengal, matanya liar menyapu ruangan yang baru saja membuatnya merinding. Pintu apartemen tadi seperti ada yang berusaha membukanya dari luar, dan ia yakin mendengar suara gesekan gagang pintu.Dalam hitungan detik, pintu benar-benar terbuka. Aurelia terlonjak mundur, hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya.“Lia!” suara Gian terdengar panik. Ia muncul dari balik pintu, diikuti Mbok Sumi yang membawa kantong plastik sampah. Wajah Gian tegang, langsung berlari menghampiri istrinya. “Kau kenapa?!”Aurelia gemetar hebat. Tanpa pikir panjang, Gian meraih bahu dan memeluk tubuh rapuh itu erat-erat. “Tenang, sayang. Aku di sini.”“A—ada yang isengin aku, Gian. Sumpah! Ak
Gian menatap istrinya lekat-lekat. Wajah Aurelia pucat, bibirnya sedikit bergetar. Gian lekas meraih sebotol air mineral yang dibelinya barusan.“Sayang, minum dulu.” Tangannya yang hangat meremas lembut jemari Aurelia, berusaha menyalurkan tenang.Aurelia menghela napas berat lalu menerima itu. Air dingin mengalir melewati tenggorokannya, tapi guncangan di dalam dada belum benar-benar reda. “Aku… aku tidak menyangka,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.Gian merunduk, menatap matanya penuh kesungguhan. “Aku di sini, Sayang. Jangan takut. Semua cuma kebetulan. Nggak ada yang bisa menyakitimu selama aku ada.”Namun, Aurelia masih menatap kosong ke depan. Bayangan tubuh asing yang hampir saja menyerempetnya tadi masih membekas jelas. Tubuhnya otomatis menegang, seolah kejadian itu bisa terulang kapan saja.Gian mengusap punggungnya pelan, berulang kali. “Hei, lihat aku.” Ia menunggu sampai mata
“Sudah hampir dua minggu aku ke kampus dalam keadaan hamil,” ucap Aurelia lirih saat ia, Wulan, dan Doni berjalan santai menuju kantin. “Anakku seperti akan pintar seperti papanya. Dia tidak manja ya.”“Hebat kau, Lia,” sahut Wulan sambil menepuk bahu sahabatnya. “Aku saja yang nggak lagi hamil sudah sering mengeluh capek. Kau malah bisa bolak-balik kampus sambil bawa dua nyawa.”Doni menambahkan dengan gaya khasnya, “Kalau aku jadi kau, sudah pasti tiap hari manja-manja sama suami. Kuliah? Bye-bye dulu!”“Heh! Kau tak mungkin hamil. Ingat, Don. Kau ‘kan punya burung,” sindir Wulan dengan lirikan sinisnya.“Iya iya. Aku ‘kan lagi muji si Lia, Wul. Biar dia enggak lemas.”“Ngerti aku. Keren deh bumil kita yang ini,” sahut Wulan kemudian.Aurelia terkekeh kecil, meski wajahnya agak pucat. “Ya, namanya juga tanggung jawab. Lagipula