Share

Hari Kedua

Author: Ira Yusran
last update Petsa ng paglalathala: 2021-06-14 13:57:00

Jam baru menunjuk ke angka enam saat Lara mulai terbangun akibat ponsel yang terus berdering dari saku celana pendeknya. Tanpa membuka mata, ia merogoh dan meraihnya. Diusapnya layar ponsel sembarang dan diletakkan pada telinga.

"Udah bangun, Cantik?"

Mendengar sapaan dari seberang, sontak saja Lara membuka matanya lebar-lebar. Pada layar ponsel, nama 'Montir Bastard' tersemat.

Lara menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan. Rupanya, kejadian kemarin bukanlah mimpi semata. Padahal, sepulang dari kelab tiga jam yang lalu, ia sudah merasa begitu senang karena berpikir kejadian sebelumnya hanyalah imajinasi saja.

"Ini masih terlalu pagi buat bikin gue emosi."

"Hei! Koe iki cah wedon! Mbok ya bangun itu pagi-pagi banget biar rejekinya nggak dicucuk ayam! Ayo, bangun! Jan lupa masakin sarapanku, ya."

Lara menggaruk kepalanya yang tak gatal, lantas melempar ponsel sembarang.

"Pria kere itu harus diberi pelajaran."

Hampir saja Lara beranjak hendak ke kamar mandi saat ponselnya kembali berdering. Ia mendecih, tak ingin paginya ambyar hanya karena sapaan montir cabul kemarin.

Setelah berbenah diri, Lara segera pergi. Tak lupa dibawanya ponsel dan kunci mobil. Kali ini, wajahnya kembali segar meski tak banyak riasan bertengger.

Ia membelah jalanan kota metropolitan yang mulai padat merayap. Tujuan utamanya adalah UKLAKA. Bagaimanapun juga, ia harus hadis demi mengisi presensi. Walau tak mengikuti agenda yang telah disepakati.

"Kalian kenapa terlambat?!"

Suara Diana yang bertubuh gempal itu terdengar lantang dan menggema. Beberapa mahasiswa baru dan mahasiswa senior pun turut menunduk kala ia tengah naik pitam.

"Skot jam lima puluh kali!" perintahnya.

Hampir tiga puluh mahasiswa yang datang terlambat tengah jongkok, lalu melompat berdiri. Tepat pada hitungan ketiga, mobil MINI Cooper dengan mesin turbo bersilinder tiga membunyikan klakson. Meminta dibukakan pintu pagar.

"Hei! Elu yang telat! Sini, turun dari mobil! Ikut skot jam!"

Rendi, yang berada tak jauh dari mobil jenis S Clubman berwarna hijau metalik itu mendekat. Lantas, ia mengetuk kaca mobil pelan.

"Hei, turun!"

Sedetik kemudian, kaca mobil pun turun bersamaan dengan tatapan tajam dari si empunya.

"Buka gerbang!"

"Ah, Lara sudah datang? Oke, tunggu kakak, ya, gerbang bakal kubuka."

Dua kata yang keluar dari mulut Lara seolah-olah menjadi sihir yang mampu membuat Diana berubah seratus delapan puluh derajat. Ia yang tadinya marah-marah, tiba-tiba menyungging senyum manis bak sang pujangga yang datang. Dengan senang hati, ia mengangguk dan membukakan pintu gerbang.

Sebenarnya tak ada penekanan apa pun dari kalimat Lara. Hanya saja, sikap penjilat yang memang sudah menjadi watak Diana tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan.

"Dim, buka!"

"Mau ke mana, lu? Katanya nggak boleh dibuka kalo mereka belum selese?" tanya Dimas sembari menunjuk pada barisan mahasiswa yang tengah menjalani hukuman.

"Heh! Elu kagak liat ada Lara itu?"

"Apaan?" tanya Saka penasaran.

Diana yang mulai tak sabar menunjuk ke arah belakang, membuat duo kwek-kwek itu melongo saat tahu siapa di balik kemudi mobil jawara interior.

Tin!

Sontak saja, Dimas dan Saka langsung gelagapan membukakan pintu gerbang. Sesekali ia melirik pada sang empunya mobil.

Rendi yang masih terpaku di tempat hanya melirik tak suka pada sang ketua BEM. Padahal, jelas-jelas ia sendirilah yang menekankan, tak ada pilih kasih pada siapa pun. Namun, kini wanita berbadan bongsor itu menelan ludahnya sendiri.

Ira Yusran

Diistimewakan, dong! Tapi kenapa ya kira-kira? Ada yang bisa nebak?

| 2
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terpaksa Jadi Pacar   Tak Lagi Terpaksa

    Lara baru saja tiba setelah mengadakan pertemuan terkait dengan usaha baru yang akan dirintis olehnya, saat ponselnya berdering keras. Dilihatnya nama pada layar ponsel, Montir Bastard.Ia tergelak sebentar. Memang inginnya nama Ari tak dirubah. Ia berharap itu akan menjadi kenangan berharga.Lekas diangkatnya perminaan vidio call dari sang kekasih. Lantas, sembari membuka blazer diharapkannya ponsel dengan bantuan bantal sebagai sanggahan."Kenapa?" tanya Lara, menuntut."Lah! Ditelepon tanya kenapa. Salam dulu, kek. Sayang-sayangan dulu gitu," jawab Ari di seberang. "Keknya lagi sibuk bener, ya? Empat hari enggak ketemu jadi miss you mss you."Mendengar pelafalan bahasa Inggris Ari yang fasih tetapi direka cadel, tentu membuat Lara terbahak. Apalagi keduanya memang belum sempat bertemu sejak pertemuan terakhir mereka."Iya, ya? Tapi enggak apa, gue sibuk bu

  • Terpaksa Jadi Pacar   Kembali Pulang

    Pelan, Ari berjalan masuk ke gedung salah satu pencakar langit di Jakarta. Beberapa kali, matanya mengawasi sekitar. Lantas, ia berhenti tepat di meja penerima tamu."Ada yang bisa kami bantu?"Ari tergemap. Lantas, ia mengutarakan maksudnya datang ke sana. "Saya mau bertemu dengan Pak Bachtiar, Mbak."Sang resepsionis pun mengernyit, lantas menatap tajam pada Ari. "Anda sudah buat janji temu?"Ari menggeleng. "Harus, ya?""Bapak Bachtiar tidak menerima tamu sembarang, Pak. Usahakan punya janji temu dulu, ya."Sudah tiga hari ini, Ari selalu mendatangi salah satu kantor pusat permainan ternama. Bukan untuk mendapat pekerjaan, tetapi ia ingin bertemu langsung dengan ayahnya Lara.Sudah berulang kali ia mencoba menelepon, meminta janji temu untuk sang calon mertua. Akan tetapi, ia ditolak mentah-mentah saat ditanya maksud tujuannya.

  • Terpaksa Jadi Pacar   Terkuak

    "Ren, bisa ngomong sebentar?"Pintu diketuk Ari pelan, lantas tak lama suara anak kunci diputar pun terdengar. Rendi yang merasa aneh dengan tingkah sang kakak langsung menyadari ada hal yang ingin dibicarakan."Ada apa, sih? Kalo elu sopan gini, gue jadi takut."Ari terkekeh sebentar, lantas ia mengambil duduk pada bean bag terdekat. Diambilnya pula berkas-berkas yang sudah dilipat dalam saku hoodienya."Beberapa hal yang enggak bisa kita kuasai kadang bikin kita marah sama keadaan. Marah sama kenyataan. Aku ... sama."Rendi mengernyit, lantas mencondongkan tubuhnya ke arah sang kakak. "Enggak usah berbelit-belit, Ri. Ngomong aja. Kek sama siapa, aja! Elu mau nikahin Lara? Atau mau jadiin gue bridesman?"Rendi mengulum senyumnya. Ia tahu betul, jika suasana melow dari Ari membawa kabar buruk. Maka dari itu, ia berusaha untuk mencairkan suasana.

  • Terpaksa Jadi Pacar   Yakin Dulu

    "Maksud elu gimana?"Demi melihat Lara yang menanap, Ari pun beranjak. Ia juga tengah terkejut dengan fakta yang ada. Belum lagi mengenai ucapan Supri yang kian membuat Ari bingung bukan kepalang."Aku juga enggak ngerti, Ra."Ari mengambil beberapa berkas dari tas selempangnya. Lantas, diberikannya pada Lara tanpa ragu.Perlahan, Lara membuka berkas yang ada. Untuk sejenak, ia memejam. Lantas, menarik Ari untuk duduk di sampingnya. "Ini bukan salah elu ataupun Rendi. Ini adalah takdir. Sekuat apa pun elu nolak, tetap saja ini adalah akhirnya."Ari menggeleng, lalu meraih gambar yang pernah dilihatnya di ponsel Tarissa. "Ini Tarissa. Orang yang sebelumnya nganggep aku kebahagiaannya. Terus, tiba-tiba aku hadir dan ngomong, aku kakakmu. Gila!"Lara mencengkeram lengan Ari lantas menatapnya lekat-lekat. "Katakan saja pada Rendi. Bagaimanapun juga, Rendi harus t

  • Terpaksa Jadi Pacar   Bukan satu-satunya

    Di dalam kamar, Rendi, Ari dan Lara tengah sarapan bersama. Beberapa kali candaan dilempar kala tahu Rendi tengah melakukan aksi mukbang secara live pada penonton setianya: Lalita.Rendi yang tahan malu pun tak mengindahkan cibiran sang kakak dan Lara. Meski begitu, Lalita yang juga melakukan hal yang sama ingin segera mengakhiri panggilan."Jangan gitu, Ta, biarin aja wis kalian saling mukbang. Dan gue di sini sama Ari saling nyindirin kalian! Ha ha ha!"Lalita telah memerah wajahnya di depan kamera, sedangkan Rendi tak ingin acara saban paginya rusak gara-gara Lara."Mending elu pergi dah dari sini, Ra! Gangguin aja!"Mendengar dirinya diusir, Lara pun berkacak pinggang. "Hello! Ini kamar cowok gue! Harusnya elu yang minggat!""Lah, cuma cowok, 'kan? Belum jadi suami, kan? Gue yang lebih berhak!" jawab Rendi sekenanya."Lah, elu siapany

  • Terpaksa Jadi Pacar   Kapok

    Lara sedang mengadakan pertemuan penting di salah satu anak perusahaan yang dikelolanya bersama Eiffor. Dari sana, ia akan mendapat banyak relasi demi menciptakan usaha Ari yang baru. Beberapa pengusaha setuju bekerja sama. Mulai dari kontraktor hingga bagian periklanan. Beberapa kali, Lara melirik ponselnya yang terus bergetar. Meksi begitu, bagaimanapun juga ia harus mengabaikan. Pertemuan itu lebih penting dari segalanya. Terlebih, untuk membangun masa depannya bersama Ari di kemudian hari. Usai meeting, Lara langsung menelepon balik sang kekasih. Kali ini, bukan hanya penggilannya yang tak dijawab. Ponsel Ari pun tak lagi dapat dihubungi. Lara cemas, dengan cepat ia berlari menuruni anak tangga menuju ke parkiran. Dilajukannya mobil berwarna hijau metalik dengan tergesa. Ada perasaan tak nyaman yang kini berkelindan. Apalagi, sebelumnya Ari ta

  • Terpaksa Jadi Pacar   Tunduk!

    "Maafin gue, Ra."Lara masih terisak di sofa dudukan tiga. Tepat di dalam kamar Tarissa setelah tahu bahwa Ari kembali ke Jakarta. Bersamaan dengan ia yang datang ke Surabaya."Bukan itu yang bikin gue kesel, Tar."Tarissa mengernyit, lalu

  • Terpaksa Jadi Pacar   Nyusulin

    Ari baru saja tiba di bandara Soetta. Ia mengerek kopernya hingga sampa pada gerbang kedatangan. Meski tak ada seseorang yang menjemput, euforia dalam hatinya pun sama besar dengan para pelancong lain.Cepat, ia masuk mobil angkutan pribadi, lantas segera menuju ke rumah indeko

  • Terpaksa Jadi Pacar   Bebal

    Lara yang sudah kepalang senang hendak bertemu Ari pun hanya bisa mengembangkan senyum selebar mungkin. Sesekali ia menatap pada tiap gedung-gedung pencakar yang tak setinggi Jakarta. Beberapa kali ia juga merasa takjub sebab kebersihan jalan protokol Surabaya.Rindangnya pepoh

  • Terpaksa Jadi Pacar   Ingin Jumpa

    Ari baru saja tiba di bandara Juanda Surabaya bersama Tarissa dan Daviq. Koper pada tangan kanannya ditarik sedemikian rupa hingga sampai di gerbang pemeriksaan. Tiket dan identitasnya sudah di tangan, begitu pula tasnya yang tengah diperiksa. Tarissa manatap Ari penuh harap,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status