MasukKlub itu ramai seperti biasa. Saat Bara masuk, matanya langsung tertuju ke sudut meja dimana ia biasa duduk. Dan seperti yang sudah ia duga, Tama sudah ada disana menunggunya. "Sialan. Aku harus melalui pertengkaran dulu sebelum keluar rumah. Lama-lama aku menjadi muak," gerutu Bara sambil duduk di samping Tama. Namun Tama tak berkutik. Ia hanya diam menatap gelas di tangannya seakan pikirannya sedang terbang ke suatu tempat yang jauh. Melihat itu, Bara pun mengernyit heran. "Tam! Kenapa sih?" panggil Bara sambil menyikut pundak temannya tersebut. Tama tersentak. Ia terkejut menyadari Bara sudah ada di depannya. "Sudah lama?" tanya Tama bingung. "Lah, Malah jadi bloon..." omel Bara tak jelas. Ia menuangkan campaign ke gelas kosong yang ada di meja dan meneguknya dalam sekali minum. Tama mulai gugup. Kepalanya dipenuhi dengan gambaran Rania yang sedang hamil. Ia ingin sekali memberitahu sahabatnya ini, tapi ia juga sudah berjanji pada Rania untuk menyimpan rahasia ini rapat-rapat
"Aku suntuk. Bisakah kita bertemu?" tanya Bara di ujung telepon. Tama mempererat genggamannya sambil menelan ludah. Sungguh kebetulan sekali Bara meminta bertemu dengannya tepat setelah pertemuannya dengan Rania. Apakah ini memang takdir Tuhan? Apa Bara sudah punya feeling soal kehamilan itu? Tama menggigit bibir, bingung menjawab apa. Ia ingin sekali berteriak memberitahu Bara soal kehamilan Rania. Tapi dia juga sudah terikat janji pada wanita itu. Ia berjanji akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Apalagi Rania mengancam, akan pergi lebih jauh jika sampai Bara tahu. Dan Tama percaya pada ancaman itu. "Ketemu dimana?" tanya Tama akhirnya. "Di bar." "Mau minum-minum?" "Boleh." Lalu terdengar suara wanita di ujung sana. Walaupun tidak begitu jelas wanita itu bicara apa, tapi Tama bisa menebak itu pasti suara Becca. "Berisik!" bentak Bara, "Tidur saja sana! Ini sudah malam. Wanita tidak pantas keluar malam seperti ini!" Pertengkaran pun pecah. Tama langsung menjauhkan pon
"Baraaaa!!!" Tiba-tiba sunyi. Tak ada benturan atau suara mencekik itu lagi. Bara dan Becca sama-sama terdiam dalam kondisi shock. Nafas mereka memburu. Jantung mereka berdetak kencang. Perlahan mereka saling pandang, antara bingung dan lega karena mereka masih diberi kesempatan untuk hidup. Truk itu tetap melaju melewati mereka, seakan tak peduli dengan mobil mereka yang hampir saja tertabrak. Untungnya tadi Bara dengan cepat langsung membanting setir dan membuat mobil itu berputar, sehingga kecelakaan itu tak pernah terjadi. "Kamu... tak apa-apa?" tanya Bara pada Becca. Pertanyaan pertama yang ia lontarkan sejak ia dan Becca menikah. Becca mengangguk pelan. Ia masih berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup tak karuan. Tapi melihat wajah Bara yang penuh kekhawatiran, ketakutannya langsung sirna. Ia sadar jika Bara masih menyimpan empati padanya. Walaupun pria itu bersikap dingin, tapi Becca bisa melihat jika Bara masih takut terjadi apa-apa padanya. Bara menginjak peda
Keesokan paginya Becca bangun dengan perasaan cemas. Walaupun dia sudah menuruti keinginan Rafael semalam, tapi tetap saja dia tak bisa begitu mudah percaya pada pria itu. Bara akan menagih janjinya untuk memeriksakan kandungan. Dan jika Rafael mengacaukan semua rencananya, dia bisa mati ditangan Bara.Becca memoles wajahnya agar tampak segar, dan menutupi wajah pucatnya yang ketakutan. Ia juga memakai gaun yang cantik dan seksi untuk menarik perhatian Bara. Bagaimanapun, tujuan utamanya adalah mendapatkan kembali hati Bara dan membuat Bara benar-benar menghamilinya. Setelah beberapa kali berputar di depan cermin, Becca pun akhirnya bisa menemui Bara dengan rasa percaya diri.Bara duduk di ruang tamu. Ia tak menoleh ataupun melirik ke arah Becca yang keluar dari kamar."Mau sarapan dulu?" tanya Becca berbasa-basi.Bara menatap arlojinya sekilas sebelum beranjak, "Aku tak punya banyak waktu. Banyak pekerjaanku yang terbengkalai beberapa hari ini."Becca manyun. Bahkan usahanya untuk me
sebulan bulan kemudian ia dan adiknya sedang melihat kebutuhan bayi saat mereka tak sengaja bertemu tama. tama terkejut, tapi rania mengancam tama agar tutup mulut. sementara itu, becca shock mengetahui dirinya benar2 hamil. dan itu adalah anak sang dokter, bukan anak bara "Gila! Jangan ngawur!" umpat Becca sambil mendorong Rafael menjauh. Tapi bukannya takut, Rafael malah terkekeh senang melihatnya. "Ayolah Bec, kamu membutuhkannya kan? Atau... kamu yakin Bara sendiri yang akan menghamilimu? Kau tahu kau harus benar-benar hamil agar kau merasa aman." Becca tertegun. Benar juga. Dia tak mungkin memalsukan kehamilan selamanya. Cepat atau lambat Bara akan mencurigainya. Jadi sekarang dia hanya punya dua pilihan. Benar-benar hamil, atau... "Ada satu pilihan lain agar aku bisa aman," kata Becca sambil mengangkat dagunya. Sekarang, didepan Rafael yang licik, ia harus terlihat tenang dan kuat agar pria mesum ini tak bersikap seenaknya. "Apa itu?" "Keguguran," jawab Becca dengan n
Bara masuk ke dalam apartemennya dengan wajah datar. Ia melempar jasnya ke atas sofa sebelum duduk dan mulai memejamkan mata. Becca berjalan dengan tergopoh-gopoh dengan tangan yang penuh dengan tas dan koper. Ia langsung cemberut dan membanting semuanya saat melihat Bara malah duduk dan tak mempedulikannya."Sayang! Bantuin aku bisa gak sih?" protesnya.Bara tak bergeming."Sayang!" rengek Becca. Ia menghampiri Bara dan duduk di samping pria itu. Wajahnya masih ditekuk karena kesal."Kamu kenapa sih? Ini kan hari pertama kita kembali ke apartemen kamu. Akhirnya kita bisa tinggal bareng lagi kayak dulu. Seharusnya kamu bahagia dong!""Bahagia?" ulang Bara tak percaya. Ia tertawa mengejek dan menggelengkan kepalanya, "Menurutmu aku masih bisa bahagia setelah semua drama yang kau buat?""Drama yang kubuat? Drama yang mana ya? Apa maksudmu drama kehamilan ini?" tanya Becca tak terima sambil memegang perutnya yang rata.Bara melirik ke arah perut Becca lalu menghela nafas. Sadar jika sekar
Tak lama kemudian, Bara dan Tama pun berangkat. Malam masih menggantung ketika mereka tiba di lokasi yang dimaksud. Beberapa polisi sudah berada di sana, memasang garis kuning di sekitar mobil tua yang terlihat rusak di sisi jalan sepi.Seorang petugas menyambut mereka.“Kami sedang meneliti sidik
Angin malam masih terasa hangat di atas pesawat jet pribadi yang meluncur cepat menembus langit Eropa menuju Indonesia. Di kursi yang empuk dan mewah itu, Rania duduk memeluk kedua lututnya. Matanya sembab. Air matanya tak berhenti mengalir, sejak video mengerikan itu muncul di ponsel Bara.Wajah R
Pagi itu, mentari tampak cerah, seolah turut menyambut langkah baru yang sedang ditempuh Rania dan Bara. Semalam mereka tidur dengan hati hangat, dan kini bangun dengan semangat yang sama. Kebahagiaan kecil yang mulai tumbuh di antara mereka.Rania mengenakan blouse putih bersih dengan celana jeans
Pembicaraan Rania dan Bara berlanjut di dalam kamar. Mereka terus saling menceritakan kisah masing-masing karena banyak yang memang belum diceritakan.Dari obrolan itu, Rania akhirnya mengetahui sisi lain Bara yang belum pernah ia lihat. Bara yang lembut dan merasa takut kehilangan. Sementara Bara







