Share

5. Kau Bukan Ibunya!

Penulis: Rich Ghali
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-01 14:07:46

Elena merawat Daryl layaknya anak sendiri. Ia anggap bayi mungil itu sebagai pengganti bayinya yang telah mati. Sedikit banyak mulai terbentuk ikatan batin setelah beberapa kali ia beri anak itu minum ASI. Kasih sayangnya tulus bagai ibu sendiri. Tidak ada dendam sedikit pun yang tertanam dalam hatinya untuk si Tuan Muda, sebab ia tahu yang bersalah atas apa yang terjadi adalah Alaric. Bayi mungil itu tidak tahu apa-apa, jadi ia tidak pantas untuk mendapatkan hukuman atas apa yang sudah dilakukan oleh orangtuanya.

Pekerjaan rumah bukan lagi tugas Elena. Kini Alaric memberikan ia tugas untuk merawat Daryl sepenuhnya. Membuat wanita itu merasa senang, sebab ia bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk bayi kesayangannya.

“Aku hanya ingin menggendongnya.” Shesyl lagi-lagi membuat keributan hari ini. Ia marah seperti biasa, sebab Elena tidak mengizinkannya untuk menyentuh Daryl. Elena benar-benar menjaga bayi mungil itu. Tidak sembarang tangan yang boleh menyentuhnya. Apalagi Shesyl yang baru dari luar, barangkali ia membawa virus dan bakteri yang melekat di tubuhnya.

“Dia masih sangat sensitif, kulitnya sangat rentan jika dipegang-pegang oleh banyak tangan.” Elena memberi alasan.

“Kau itu hanya pelayan, tidak ada hak untuk melarang. Posisiku lebih tinggi dibanding kau. Berikan dia padaku!” Shesyl berusaha merebut. Sejujurnya ia tidak begitu peduli pada keponakannya itu, hanya saja ia ingin menarik simpati Alaric agar terkesan sebagai bibi yang perhatian dan penuh kasih sayang.

Elena tetap menolak. Ia dorong tubuh Shesyl dengan sedikit tenaga agar wanita itu menjauh darinya. Sebab, ia mulai merasa terganggu oleh kehadiran wanita itu.

“Kau! Berani sekali kau mendorongku! Kau pikir siapa dirimu?” Shesyl semakin terpancing emosinya. Ia angkat tangan tinggi-tinggi, bersiap untuk menghajar Elena yang sudah membuat harga dirinya terasa diinjak-injak.

Elena memejamkan mata seraya memalingkan wajah saat telapak tangan itu hendak mengenai wajahnya. Namun, Felix dengan sigap menahan tamparan Shesyl. Ia empaskan dengan kasar tangan wanita angkuh itu agar menjauh dari wajah Elena.

“Jangan coba-coba berani menyakiti Tuan Muda!” Felix memberikan ancaman, sebab posisi Elena tengah menggendong Daryl saat Shesyl hendak memberikan tamparan.

“Jangan sok jadi pahlawan kamu! Kamu itu penjilat, suka mencari muka di depan Mas Alaric. Harusnya kau, juga kau dipecat! Kalian sama sekali tidak pantas bekerja di sini karena tidak tahu cara menghormati majikan.” Shesyl menunjuk wajah Felix dan Elena secara bergantian.

“Kau bukan majikan, sadar dengan posisimu! Jika bukan karena kau adiknya Nyonya Vanessa, aku sudah menghajarmu!” Felix berucap dengan rahang yang mengeras. Ia terlihat begitu kesal pada Shesyl. Siapa yang tidak akan kesal padanya? Dia begitu angkuh dan sok berkuasa. Juga suka semena-mena.

Shesyl menggeretakkan gigi, ia menghentakkan kaki dengan kesal, lalu beranjak pergi. Ia merasa terpojok dengan omongan yang terlontar oleh orang kepercayaan iparnya itu.

“Terima kasih karena sudah membela, Tuan.” Elena berucap dengan kepala yang menunduk. Ia tidak ingin menatap pria itu, tidak ingin tahu lebih jauh tentang lelaki yang sudah membantunya. Ia bergegas pergi setelah mengucap terima kasih.

Felix hanya bisa menghela napas dengan berat seraya menatap wanita pujaan hatinya. Ia ingin berinteraksi lebih lama, tapi tampaknya Elena tidak memberikan lampu hijau untuknya.

****

Alaric menatap dari ambang pintu. Ia tidak suka pada Elena, hanya saja ia suka ketika bayinya diperlakukan dengan sangat baik oleh wanita itu. Ia bisa melihat ketulusan yang terpancar dari tatapan juga sentuhan yang diberikan oleh Elena pada putranya.

“Sayang, minum ASI Ibu yang banyak ya. Biar kamu cepat gede.” Elena mengajak bayi itu berbicara. Ia memberi ASI dengan begitu hikmat, fokusnya tertuju pada wajah Daryl yang tengah terpejam menikmati asupan nutrisi darinya. Wajah itu terlihat begitu mirip dengan Alaric. Semua yang ada padanya seolah fotokopian ayahnya. Matanya, hidungnya, bibirnya, rambutnya, semua mirip dengan Alaric. Seolah tidak ada jejak Vanessa yang tertinggal untuknya.

“Pukul tiga nanti dokter akan datang untuk memberikannya suntikan vaksin.” Alaric berucap dengan suara baritonnya. Ia masih berdiri di ambang pintu, tidak ingin masuk agar lebih dekat dengan Elena.

Mendengar suara itu, Elena sangat terkejut. Segera ia tutupi dadanya yang setengah terbuka, sebab merasa malu ketika dilihat oleh lelaki dewasa.

“Baik, Tuan. Saya akan siapkan semua keperluan yang dibutuhkan oleh Tuan Muda. Mungkin ia akan sedikit rewel karena biasanya akan meriang setelah mendapatkan suntikan.” Elena berucap seraya memunggungi Alaric, ia tidak ingin dadanya tereskspos untuk lelaki itu karena posisinya yang tengah menyusui.

“Aku percayakan semuanya padamu.” Alaric berucap dengan dingin.

Hening, tidak ada suara sama sekali. Mendadak mereka saling diam.

Setelah memerhatikan cukup lama, Alaric menarik napas dengan dalam, lalu beranjak maju beberapa langkah.

“Berikan dia padaku, aku ingin memeluknya sebelum aku pergi.” Alaric meminta dengan perasaan entah. Harusnya ia bisa menemani istrinya dan bermain dengan putranya seraya Vanessa tengah menyusui putra mereka. Namun, impian itu tidak akan pernah tercapai, sebab kini Vanessa telah berbeda alam dengan mereka.

“Hati-hati, Tuan.” Elena memindahkan bayi mungil itu ke dalam gendongan Alaric dengan sangat hati-hati.

Meski sudah beberapa kali menggendongnya, Alaric tetap saja terlihat sangat kikuk. Ia takut, takut jika putranya terjatuh dari gendongannya. Lalu ia kembali kehilangan orang yang begitu dicintainya.

“Tanganmu taruh di sini, Tuan, agar dekapanmu lebih aman.” Elena membantu memindahkan tangan kanan Alaric agar menopangnya di bagian bokong. Ia terlihat senang melihat interaksi antara anak dan ayah itu.

Alaric langsung memberikan tatapan tajam, sebab ia tidak mengizinkan wanita mana pun menyentuh tubuhnya tanpa izin darinya, apa pun alasannya.

“Maaf, Tuan.” Elena langsung menunduk dan lekas memberikan jarak yang cukup jauh untuk mereka. Ia mendadak takut melihat sorot tajam yang diberikan oleh Alaric untuknya.

“Meskipun aku akan menikahimu, jangan berpikir aku akan bersikap baik padamu. Kau tidak bisa menyentuhku dengan sesukamu. Ada batasan antara kau dan aku.” Alaric berucap dengan tajam.

“Saya paham, Tuan. Maaf atas kelancangan saya terhadap Anda.” Elena lagi-lagi meminta maaf. Sesungguhnya itu di luar keinginannya, tangannya secara spontan mengajari lelaki itu bagaimana cara menggendong yang benar. Itu terjadi secara naluri, di luar kehendaknya.

“Ada hal yang harus kau ingat, kau bukan ibu putraku. Kau hanya pengasuh baginya, jangan bersikap seolah kau adalah ibunya. Dia mungkin akan tumbuh besar denganmu, tapi jangan pernah kau cuci otaknya dengan mengatakan bahwa kau adalah ibunya. Ingat, kau hanya pengasuh!” Alaric menegaskan status Elena. Ia tidak ingin posisi mendiang istrinya tergantikan oleh Elena.

Elena tersentak, wajahnya mendadak memucat. Ia sama sekali tidak sadar jika Alaric tengah memerhatikan saat ia menyebut dirinya sebagai ibu pada Daryl.

“Maaf, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya.” Elena berucap dengan lemah. Kini ia sadar jika bayi mungil itu tidak sepenuhnya milik dirinya. Ia hanya tangan yang akan ikut membantu tumbuh kembangnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   92. Ending

    Menjelang siang Felix datang dengan menenteng ransel hitam. Ada dua koper dan beberapa dus berisi barang yang tergeletak di ruang depan. Elena dan Alaric telah siap untuk berangkat. Resni akan ikut bersama mereka. Sementara Dion akan tinggal untuk mengurus bisnis yang ada di Jakarta.Semuanya tengah makan siang saat Felix masuk begitu saja, ia ikut bergabung di meja makan. Melahap hidangan yang sudah tersedia. Pesawat akan berangkat sore nanti, jadi mereka masih ada waktu untuk berleha-leha meski hanya sebentar saja.“Kita akan ke mana?” Elena bertanya di sela ia melahap makanan. Ia menatap sang suami dengan sorot tanya. Mereka akan berangkat, dan ia belum tahu ke mana mereka akan pergi.Alaric terdiam sejenak, menghabiskan makanan yang ada di mulutnya.“Ke tempat di mana orang tidak akan ada yang mengenal kita.” Lelaki itu menjawab beberapa saat kemudian.“Luar kota?” Elena menebak, alis kanannya terangkat saat menyorot Alaric.“Luar negeri.” Alaric langsung menjawab rasa penasaran E

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   91. Pulang

    Elena tengah bermain bersama Daryl di halaman. Kaki Daryl terlihat semakin kuat dalam berjalan. Anak kecil itu sudah mulai bisa berlari meski sesekali ia terjatuh dan bangkit lagi tanpa ada tangis. Elena merasa sangat senang, sebab ia bisa membesarkan anak dengan sangat baik.Seorang lelaki berjalan memasuki area rumah. Ia mengenakan jaket hitam dengan topi yang melekat di kepala, juga masker yang menutupi sebagian area wajah.Elena berhenti bermain, ia membawa Daryl ke dalam gendongan, lalu menatap sosok lelaki itu dengan sangat dalam.“Ada yang bisa saya bantu?” Elena bertanya dengan bingung saat lelaki itu berhenti tepat di hadapannya.Sejenak tidak ada percakapan. Elena menatap dengan sangat serius, sementara lelaki itu hanya diam. Mereka saling tatap dalam sejenak.Lelaki itu membuka topi beberapa saat kemudian, juga membuka masker yang menutupi wajahnya. Sejenak Elena terdiam menatap wajah yang bisa ia lihat dengan sangat jelas. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Dadanya b

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   90. Penyesalan

    Elena terdiam saat di hadapannya berdiri sosok sang mantan adik ipar. Gadis itu menatap dengan sorot penuh rasa bersalah. Ia datang bersama Felix.Elena hanya diam menatap. Tidak bertanya apa pun. Ia biarkan gadis itu dengan sendirinya mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke sana. Di manik mata gadis itu tersorot rasa penyesalan yang teramat besar. Rasa penyesalan yang membuatnya kehilangan sosok kakak yang begitu ia sayang. Terlebih ia tahu hari ini Alaric telah dieksekusi mati setelah dikurung dua bulan lebih.Tergolong cepat mendapatkan keadilan dibanding tahanan yang lain. Biasanya para pidana hukuman mati akan dikurung selama tahunan, berdebar ketakutan menunggu hari kematian. Namun, berbeda dengan Alaric yang hanya hitungan bulan.“Maaf.” Viona berucap dengan lemah. Ia menyesal telah melaporkan Alaric ke kantor polisi setelah ia mendengar penjelasan dari Felix.Elena menghela napas dengan berat.“Maaf untuk apa?” Elena bertanya dengan sorot penuh tanya.“Karena aku telah sal

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   89. Bertemu dengan Alaric

    Elena tengah bermain bersama Daryl dengan televisi menyala. Ia tidak fokus pada layar kaca, televisi dinyalakan hanya untuk membuat keramaian agar tidak terlalu sunyi saja. Sebab, Dion tengah pergi ke kantor polisi. Sementara Resni tengah berbelanja ke pasar.Elena tersenyum pada putranya yang sudah mulai banyak kebisaan. Namun, dalam hati tetap saja ia merasa ada yang kurang, sebab suaminya hingga kini belum ada kabar. Ia sangat rindu, juga khawatir yang bercampur menjadi satu.Fokus Elena teralihkan saat televisi menayangkan suaminya secara langsung dalam konferensi pers. Sidang untuk Alaric dilakukan secara tertutup, jadi tidak ada wartawan yang bisa meliput. Namun, hari ini hasil sidang dipublikasi.Jantung Elena seolah berhenti berdetak saat ia mendengar keputusan hakim yang mengatakan bahwa Alaric akan dihukum mati dengan cara ditembak. Hukumannya akan dilakukan di depan umum, jadi terbuka untuk siapa saja yang ingin melihat eksekusi Alaric.Wajah Elena memucat, dadanya terasa b

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   88. Lebih Dari Aman

    Felix menancap gas dengan kecepatan tinggi menuju kantor polisi setelah ia mendengar penjelasan dari Elena. Jantungnya tengah berdebar dengan sangat cepat. Keringat dingin mulai membasahi punggung dan jidat. Tangannya gemetar dalam mengendalikan setir.Pikiran Felix kini dikuasai oleh hal-hal negatif. Ia takut jika ia benar-benar kehilangan Alaric. Mereka sudah selayaknya saudara. Ia tidak ingin pertemuan terakhir mereka adalah sebuah konflik. Ia tidak pernah mengatakan bahwa ia menyayangi Alaric. Ia ingin agar lelaki itu tahu apa isi hatinya terhadap lelaki itu.Sebagai seorang lelaki, mereka sama-sama gengsi mengungkapkan isi hati. Kasih sayang mereka terhadap sesama sesungguhnya sama besar adanya. Ia belum siap menerima kemungkinan buruk yang akan menimpa Alaric. Meskipun di satu sisi ia bisa kembali mendekati Elena karena wanita itu kembali menjanda. Ia lebih memilih menjauh dari kehidupan mereka daripada ia harus kehilangan Alaric karena kematian yang akan ia dapat sebagai hukuma

  • Terpaksa Menikah Dengan Tuan Mafia   87. Mengapa Aku Tidak Diberitahu?

    Setelah keluar dari rumah sakit, Elena menjalani hidup seperti biasanya. Melakukan banyak hal layaknya ibu rumah tangga. Ia benar-benar telah pulih total. Bisa melakukan apa pun yang orang lakukan.Hingga kini belum ada kabar sama sekali mengenai Alaric. Dion sudah berulangkali ke kantor polisi untuk membesuk. Namun, Alaric ditempatkan di ruang isolasi. Ia dikurung di ruangan tersendiri. Tidak ada yang boleh menemuinya hingga konferensi pers yang akan dilakukan lusa.Sebagai seorang istri, tentu saja Elena khawatir luar biasa. Ia takut kehilangan suaminya untuk yang kedua kali. Takut ia kembali menjadi janda yang ditinggal mati. Apalagi kini ia telah putus hubungan dengan Viona dan keluarganya. Benar-benar definisi putus hubungan yang sebenarnya. Kontak Elena diblokir oleh mantan mertuanya. Pesan yang ia kirim pada Viona hanya dibaca, tidak pernah mendapat balasan darinya.Elena menghela napas dengan berat. Daryl sudah mulai bisa berdiri sendiri. Perkembangan anak itu mulai terlihat p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status