LOGINSesaat setelah Leo pergi dari ruang bawah tanah Rosna memanggil preman-preman yang berjaga di depan rumah sakit melalui panggilan telepon."APA SAJA YANG KAU LAKUKAN BANGSAT???!!!"Preman itu tampak tak paham."SEORANG PEMUDA TAK DIKENAL BERHASIL MASUK KE RUANG BAWAH TANAH. CEPAT TEMUKAN BOCAH KEPARAT ITU SEBELUM AKU MENCINCANG HABIS TUBUH KALIAN!!!""Ha? Ba-baik Nyonya Rosna. Kami akan menemukan bocah itu. Pasti, Nona jangan khawatir."Preman itu langsung mengajak satu rekannya untuk pergi menyisir wilayah sekitaran rumah sakit jiwa. Sementara rekan-rekannya yang lain tetap tinggal di sekitaran rumah sakit untuk melanjutkan berjaga-jaga.Percarian para preman itu berujung pada penemuan Leo yang sedang menelepon di atas bukit. Mereka naik ke atas bukit dengan mengendap-endap tanpa menimbulkan sedikit pun suara. Tepat saat mereka telah tiba di belakang Leo mereka menghantam kepala bocah itu menggunakan potongan besi yang tadi di punggut dari tempat pembuangan sampah rumah sakit.***"H
"Ya, Nata meninggal karena skenario pembunuhan.""Siapa orang yang membunuhnya?"Rosna mendongak untuk melihat wajah Leo."Dia... Dia... Adalah... Aku!"Leo membelalakkan matanya tidak percaya."Pengakuan apa ini? Tidak! Tidak mungkin rasanya Rosna yang membunuh Natasya. Harusnya Tuan Rendy yang membunuhnya. Rasanya ini sungguh tidak benar. Ini di luar ekspektasiku," batin Leo."Hahahaha...! Dia... Mati karena aku. Aku yang membunuhnya. Aku yang menabraknya di depan anaknya. Malam itu dia sekarat! Hahahaha... Hahahaha...!!!"Tawa Rosna menggema di seluruh ruangan. Benar-benar seperti perempuan yang sudah gila. Leo mundur. Ia menyimpan ponselnya dan memakai maskernya lagi. Ini merasakan perasaan bahwa perempuan ini tak benar."Kau percaya? Hahahaha...!!!" Rosna masih tertawa lepas. Tawa yang sangat mirip orang-orang yang pikirannya sedang terganggu.Lalu detik berikutnya ekspresi Rosna berubah 180 derajat. Wanita itu berubah sendu. Ekspresinya menyayat hati. Ia ketakutan, juga merasa
Leo menaiki lift yang membawanya turun ke ruang bawah tanah. Keluar dari lift Leo langsung menemukan sebuah pintu besi yang di kunci dengan sistem. Kali ini Leo tak perlu menggunakan kemampuan merentasnya untuk membobol kata sandi pintu ini.Ia cukup memasukkan kata sandi yang tadi sudah di berikan oleh temannya Ahnan."Dandelion merah," gumam Leo sembari memasukkan kata sandi ke layar monitor kecil itu.Klik!Kunci pintu terdengar terbuka.Ssreeeeekkkk!!!Pintu otomatis langsung berbuka. Pemandangan pertama yang Leo tangkap dengan matanya adalah seorang wanita berbadan kurus tengah meringkuk membelakangi pintu.Tuk!Tuk!Tuk!Langkah kaki Leo menggema ketika ia memasuki ruangan itu. Rosna tetap tak bergeming sama sekali. Entah dia tidur atau tidak Leo tidak tahu karena wanita itu benar-benar tidak terlihat wajahnya.Grep!Leo terkejut luar biasa saat Rosna berbalik dengan cepat dan memegang tangan Leo."Siapa kamu?" Tanya Rosna."Aku Ahnan," jawab Leo berbohong."Bohong!" Teriak Rosn
"Nona, usia kehamilan Nona adalah 11 minggu. Kondisinya cukup sehat. Tapi mengingat usia Nona masih di bawah umur ini akan meningkatkan resiko kematian ibu maupun janinnya. Sebaiknya Nona melakukan pemeriksaan rutin. Juga segera ke rumah sakit jika merasakan ketidaknormalan yang terjadi selama kehamilan," terang Dokter Linda yang memeriksa Bella hari ini."Baik Dok." Bella bangun dari tempat tidur sembari membenahi pakaiannya."Oh, iya, Nona apakah suami Nona tidak ikut mengantarkan Nona?" Tanya Dokter Linda."Hehehe nggak Dok. Suaminya itu anak saya. Sekarang masih ada di Paris untuk kuliah," jawab ibunya Gara.Tadinya Dokter Linda pikir ibunya Gara adalah ibunya Bella. Karena periksa kehamilan hanya ditemani oleh Ibunya pikiran Dokter Linda sampai kemana-mana.Seperti kebanyakan kasus siswa hamil di luar nikah. Dokter Linda awalnya menduga Bella bagian dari segelintir bocah-bocah yang salah pergaulan dan berujung kehamilan yang tidak diinginkan. Rupanya ia telah salah sangka. Sehing
"Maaf, aku harus segera masuk. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan," ucap Gara untuk menghindari Leticia.Sampai saat Gara menutup pintu Leticia masih mengulurkan tangannya dengan wajah tersenyum. Baru setelah beberapa saat senyumnya memudar berganti cemberut."Hmmm... Ganteng sih tapi cuek," ucap Leticia."Yah, tidak apa-apa Leticia. Baru permulaan. Masih banyak kesempatan untuk menghancurkan Gara dan Bella. Aku tidak akan mengecewakan Tuan Rendy yang sudah membayarku mahal-mahal untuk membalaskan perbuatan Gara."Leticia tersebut mengerikan.***Ibunya Gara berdandan rapi dan cantik. Wanita yang ramah dan penuh senyuman itu turun dari tangga. Kebetulan saat itu ia melihat asisten rumah tangganya berjalan terburu-buru menuju pintu depan."Siapa Bu?" Tanya Ibunya Gara pada wanita tua yang sudah menahun kerja di kediaman keluarga Rihanda. Bahkan saking lamanya wanita itu sampai dianggap seperti keluarga sendiri dan dipanggil dengan sebutan Ibu."Ada tamu Nyonya.""Ohh, kalau begitu Ib
Bella keluar dari kamar mandi sambil memegang alat tes kehamilan. Tangannya gemetar tidak terkendali. Entah ia harus senang atau sedih. Tapi sejujurnya ia belum siap untuk semua ini."Bagaimana nasibku ke depan?" Gumam Bella bingung. Ia lantas duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya.Ia melihat hasil alat tes kehamilan itu lagi yang hasilnya benar-benar garis dua. Bella rasanya ingin menangis. Ia benar-benar hamil anak anak Gara. Lalu bagaimana dengan nasib sekolahnya?Tidak seperti Sabia yang kehamilannya sudah berada di penghujung kelulusan. Bella masih menempuh waktu satu tahun lagi untuk lulus.Iya, semua orang memang tahu Bella telah menikah dengan Gara. Tapi tetap saja yang namanya manusia pasti akan tetap saja mencari-cari kesalahannya untuk dihujat.Posisi Bella sekarang tidak lagi seperti dulu yang selalu ada Gara sebagai Garda terdepannya ketika ada netizen yang mencoba julid dengannya. Bella sekarang sendiri. Mungkin masih ada Vano dan Vanilla. Tapi tetap saja dilind
Pagi ini bersama rinai hujan yang turun, mendadak anak-anak di gedung B berteriak-teriak heboh sekali saat mereka menyaksikan pemandangan di parkiran belakang gedung. Bahkan kehebohan mereka terdengar dari tedung C dan D."Ya ampun sweet banget!" Teriak para cewek sambil tersenyum kegirangan."Kayak a
Sabia terbangun sembari memegangi kepalanya."Ya ampun pusing banget," kata Sabia. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya semalam. Sayangnya yang Sabia ingat terakhir kali hanya bersaing minum wine dengan Bella. Setelahnya ia benar-benar tidak ingat apapun lagi. Berarti ia benar-ben
"Bel, kenapa kamu meminum minumanku? Kamu nggak tahu kan apa yang dicampurkan Edo ke dalam jus itu?" Tanya Gara saat mereka sudah ada di dalam mobil menuju arah pulang.Rupanya Gara mendengar semua hal yang diucapkan Edo di dalam toilet. Saat itu Gara berniat menyusul Edo karena bocah itu tak kunjung
Pesta Sabia di gelar dengan meriah di sebuah hotel bintang lima termahal di kota ini. Pestanya bertabur dekorasi mewah dari pintu masuk sampai ke ruang pesta."Nanti kalau kita mengadakan resepsi pernikahan buat yang lebih keren dari ini ya," bisik Gara di telinga Bella sambil menggandeng mesra lenga







