LOGINEdo melepaskan pelukannya."Bi, aku tidak percaya ini."Sabia meraih wajah Edo."Aku tahu ini berat. Tapi kau tahu tindakanku telah menyebabkan sahabat paling berhargamu meninggal. Kau kehilangan dia bukan? Bahkan kau masih menangis saat mengenangnya.""Bi, jangan gegabah. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Apa yang kamu pikirkan Bi? Kau ingin aku membesarkan anak kita sendirian. Sementara kamu? Apa yang ingin kamu lakukan?"Edo tak bisa menahan air matanya membayangkan apa yang akan terjadi."Aku mencintaimu Bi. Sungguh sangat mencintaimu jauh sebelum kamu berpacaran dengan Gara. Jauh sebelum Revan menyukaimu. Aku lah orang yang selama ini lebih dulu mencintaimu. Tapi aku selalu memendam perasaanku demi sahabat-sahabatku. Sekarang saat kamu sudah menjadi milikku kenapa kamu dengan teganya ingin meninggalkan aku? Padahal sedetikpun aku tidak ingin berpisah denganmu."Edo kembali merengkuh tubuh Sabia. Ia memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat seakan tak mau berpisa
Sabia duduk bersama Bella di ruang tengah rumah keluarga Hyuugo yang lain. Ya, orang yang datang menyelamatkan Sabia adalah Bella."Terimakasih sudah menyelamatkanku dari orang-orang seram tadi Bel," ucap Sabia tulus. Ia tak menyangka perempuan yang pernah dimusuhinya mati-matian kini datang sebagai penyelamatnya. Kalau dipikir-pikir kadang Sabia malu juga. Kejahatannya justru dibalas kebaikan oleh Bella.Bella tersenyum penuh arti. Umpan sudah mengenai target. Selanjutnya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menarik target itu."Jangan berterima kasih," kata Bella."Jika bukan berterima kasih apa yang harus aku lakukan untukmu? Kau benar-benar datang di waktu yang tepat. Jujur, saat aku mengandung, aku menjadi jauh lebih takut. Ada nyawa yang harus kulindungi selain nyawaku sendiri.""Aku mengerti perasaanmu," jawab Bella."Semua mama pasti ingin melindungi anaknya. Beruntung sekali mereka yang hidup bersama mamanya. Tidak seperti aku yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari
Bella dan Leo duduk di sebuah cafe. Keduanya saling berhadapan satu sama lain."Aku sudah menyelidiki kasus kematian mamanya Nona. Dan asal Nona tahu kasus ini benar-benar membingungkan. Tak heran kasusnya di tutup begitu saja," ucap Leo mengawali pembicaraan."Maksudnya membingungkan bagaimana Leo?" Tanya Bella."Yah, dalam kejadian itu hanya ada satu saksi saja. Tapi setelah aku telusuri ternyata saksi itu meninggal bunuh diri dengan meminum racun. Jadi kasus ini kemudian benar-benar buntu. Era itu belum ada rekaman CCTV jadi polisi juga tidak bisa menemukan bukti bahwa kejadian itu adalah pembunuhan. Mau tak mau kasus itu disimpulkan sebagai kecelakaan."Bella mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan."Bukankah terlalu aneh ya Leo jika saksi itu tiba-tiba minum racun. Kau sudah menemui keluarganya? Menanyakan apa saksi itu sebelumnya mengalami depresiasi atau masalah serius yang menyebabkan dia bunuh diri?" Tanya Bella."Sudah. Memang orang itu ada konflik rumah tangga dengan istrin
Bella dengan berat hari mengantarkan Gara ke bandara. Hari ini adalah hari dimana perpisahan itu akhirnya benar-benar terjadi. Dua hati yang terpaut oleh cinta itu akhirnya akan menemui ujian baru, yaitu jarak."Ra, jaga diri baik-baik ya. Kabari aku disela-sela kesibukanmu. Aku harap aku tetap menjadi prioritasmu meskipun aku tidak bisa berada di dekatmu setiap saat seperti biasanya."Gara mengerti akan kegundahan di hati Bella. Jadi ia menarik gadis itu. Memeluknya dengan erat agar Bella merasa tenang."Tidak akan ada yang berubah diantara kita sayang. Jangan khawatir. Karena kita selamanya akan menjadi suami istri yang saling mencintai.""Aku menyayangimu Ra." Bella membalas pelukan Gara."Aku lebih menyayangimu."Gara lebih mengeratkan pelukannya. Beberapa saat lamanya mereka saling berpelukan erat. Saat dua hati sedang cinta-cintanya memang terasa begitu berat saat akan berpisah seperti ini.Bella menguarai pelukannya."Berangkatlah Ra. Kejar cita-citamu. Aku menantikan kepulang
Dua pekan setelah kejadian pertempuran dengan para mafia itupun hari kelulusan di SMA swasta diumumkan. Hari itu Gara, Edo, dan Sabia resmi lulus bersama-sama."Gila! Akhirnya kita lulus juga ya Ra. Padahal kayak baru kemarin aja daftar di sekolah ini," ucap Edo bahagia."Itu perasaanmu aja kali Do," jawab Gara.Meskipun begitu ia juga merasa senang karena berhasil lulus dengan nilai terbaik."Waahhh... Kak Gara, Kak Edo, Kak Sabia tiba-tiba udah lulus aja. Selamat ya Kak," ucap Vano."Iya Kak. Selamat ya. Selamat berpisah setelah ini," imbuh Vanilla."Iya, titip Bella ya kalau aku udah nggak di sekolah ini.""Beres," sabut Vano sambil mengacungkan jempolnya."Selamat lulus untuk semuanya." Bella jadi orang yang paling akhir tiba. Ia membawa tiga buket besar di pelukannya sampai tampak kesusahan sekali saat dibawa."Loh, loh, repot-repot aja sih Bel," kata Edo. Ia langsung mengambil alih dua buket itu sebelum Bella menyerahkan. Memang dimanapun tingkah Edo benar-benar tidak masuk akal
"Tiidddakkkk!!! Kembalikan kakiku menjadi normal seperti sempurna. Aku nggak mau jadi cacat seumur hidup!!!"Grep!Sonya menarik kerah dokter yang menanganinya."Buat kakiku normal lagi. Berapapun biayanya aku pasti akan bayar!"Dokter itu terlihat ketakutan."Tapi... ""Tapi apa? Kau dibayar untuk menyembuhkanku kan? Apa lagi yang kau tunggu. Sembuhkan kakiku atau aku akan menghabisimu dan seluruh keluargamu!" Ancam Sonya berang."Tapi ini sudah tidak bisa dipulihkan Nona. Cedera akibat peluru itu begitu fatal. Tulang kering Nona telah hancur dan itu akan menyebabkan Nona cacat seumur hidup," terang dokter itu."Aaarrgggghhh!!! Bukan itu yang ingin aku dengar!!!"Sonya mendorong tubuh dokter itu.Bbrakakk!!!Prraannngggg!!!Dokter itu jatuh menimpa alat-alat medis."Dokter tidak berguna. Untuk apa kau menerima uang dari keluarga Rudolf jika kinerjamu buruk sekali!""Nona, ini sudah di luar kemampuan manusia untuk menyembuhkan Nona. Terlalu mustahil untuk membuat cedera Nona pulih sep
Hari-hari berlalu begitu saja. Tanpa terasa sudah hampir tujuh bulan kepergian Revan. Sejak saat itu persidangan kasus Revan terus saja di lakukan. Namun hari ini ada berita yang tak mengenakkan yang datang dari Edo."Ra, dimana?" Tanya Edo melalui sambungan telepon."Di rumah.""Aku sudah dari rumahmu
"Ck, yang lalu biarlah berlalu Do. Nggak usah diungkit-ungkit lagi," jawab Gara."Hai, Sabia. Apa kabar?" Tanya Bella dengan wajah sumringah. Yang ditanya justru berwajah masam. Gadis itu sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan dari Bella."Tegak!" Sabia menarik tangan Bella dengan kasar."Lepas!" Be
"Nggak usah nanggepin netizen julid. Buang-buang energi tau," ucap Gara."Tapi mereka nyebelin loh Ra. Seolah-olah banget aku ini kayak pengganggu di antara kalian.""Nggak usah diperduliin. Ayo aku anter ke kelas."Selama perjalanan menuju kelas Bella masih mendengar bisik-bisik tak enak."Modal muka g
Ceklek!Gara membuka pintu depan dan langsung mendapati istrinya sedang duduk di sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Selamat malam, Tuan Muda Sagara Rihanda," sapa Bella dengan senyuman sinis."Kamu belum tidur? Ini udah malam loh Bel," ucap Gara mengalihkan pembicaraan. Bella pun tak per







