INICIAR SESIÓN“Pak Adrian?”
Malik terperangah ketika melihat pria yang berjalan di samping Yura. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria itu adalah bosnya.
Seketika wajah Malik berubah. Senyum ramah mengembang lebar, bahkan lebih lebar daripada ketika ia menyapa orang lain.
“Pak Adrian! Kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Malik buru-buru menghampiri dan mengulurkan tangan.
“Saya Malik, Pak. Saya bekerja di perusahaan Anda. Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda.”
Andreas hanya menatap tangan yang terulur itu. Tidak ada niat untuk menjabatnya. Alih-alih menyambut, Andreas justru mengambil kantong belanjaan dari tangan Yura.
“Yura, ayo kita pulang.” Nada suaranya datar. Andreas bahkan tidak menoleh lagi kepada Malik.
Tangan Malik yang semula terulur perlahan turun, senyumnya seketika menghilang. Namun, ia segera kembali tersenyum ketika melihat Andreas sudah berjalan menjauh.
“Pak Adrian memang seperti itu,” gumam Malik, berusaha menyembunyikan rasa malu.
“Kamu kenal dia?” Amira yang berdiri di sampingnya mengerutkan kening.
“Dia bosku.” Malik mengangguk bangga.
“Apa?” Amira membelalakkan mata, tatapannya langsung tertuju pada Yura.
Perempuan yang selama ini selalu ia anggap tidak sebanding dengannya kini berjalan di samping pria kaya, tampan, dan berkuasa. Rasa iri seketika membakar dadanya.
Kenapa harus Yura?
Padahal aku lebih cantik darinya.
Amira mengepalkan tangan. Namun, yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa pria seperti itu justru memilih Yura. Sementara dirinya hanya mendapatkan Malik.
“Tidak mungkin...” bisiknya.
Malik tidak menyadari perubahan ekspresi Amira, ia malah tersenyum puas. “Kalau aku bisa dekat dengan Pak Adrian, mungkin karierku akan lebih cepat naik.”
Amira menoleh. “Bukankah Yura istrinya?”
“Ya.” Malik mengangguk.
Seketika mata Amira menyipit, sebuah pikiran melintas di benaknya.
***
“Kenapa Anda berbohong, Pak Andreas?”
Langkah Andreas terhenti. Yura sudah tahu sejak awal bahwa pria yang menemaninya bukan Adrian.
Andreas menoleh. “Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Anda membiarkan mereka mengira Anda adalah Adrian.”
Andreas tersenyum tipis. “Aku tidak merasa perlu menjelaskan siapa diriku kepada orang seperti mereka.”
Yura terdiam. Andreas kemudian menatapnya.
“Aku hanya tidak suka melihat cara mereka memperlakukanmu.”
Yura menunduk. “Seharusnya Anda tidak perlu ikut campur.”
“Aku juga tidak berniat ikut campur.”
Andreas menunjuk kantong belanjaan di tangannya. “Aku hanya melihat seorang wanita berjalan membawa belanjaan sebanyak ini sendirian.”
Yura tersenyum hambar. “Saya sudah terbiasa.”
Jawaban itu membuat Andreas terdiam. Terbiasa? Terbiasa membawa semuanya sendiri? Terbiasa diperlakukan buruk? Ia tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu membuat hatinya terasa sedikit tidak nyaman.
“Siapa mereka?” tanyanya.
Yura menarik napas panjang. “Mantan tunangan saya dan adik sepupu saya.”
Andreas mengerutkan kening. “Mereka yang mengkhianatimu?”
Yura tidak menjawab. Namun matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca sudah cukup menjadi jawaban.
Andreas menatapnya beberapa detik. “Kau beruntung tidak jadi menikah dengan pria seperti itu.”
“Benarkah?” Yura tersenyum getir.
Andreas mengangguk. “Setidaknya kau terhindar dari pria yang tidak bisa menghargaimu.”
Yura menatap jalan di depan. “Kalau begitu, mungkin saya memang beruntung.”
Ia berhenti sejenak. “Tapi, saya juga tidak bisa mengatakan bahwa pernikahan saya sekarang membuat saya bahagia.”
Andreas terdiam. Ia tahu Yura menikah dengan Adrian dan ia juga tahu betapa besar kebencian Adrian kepada wanita itu. Namun, mendengar Yura mengatakannya dengan suara setenang itu justru membuatnya merasa iba.
***
Malam semakin larut. Jam menunjukkan Pukul 22.30 dan Yura masih berada di dapur. Matanya berat karena mengantuk, tetapi ia tetap membuatkan minuman untuk Adrian.
Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari Malik. Yura mengerutkan kening. “Tumben, mimpi apa dia tiba-tiba menghubungiku?”
Ia membuka pesan itu. Yura, aku minta maaf. Aku sadar kesalahanku padamu sangat keterlaluan. Aku sungguh menyesal. Besok kita bertemu, ya? Aku punya sesuatu untukmu. Aku ingin menebus kesalahanku.
Yura membaca pesan itu tanpa ekspresi, tidak ada rasa senang, tidak ada kerinduan, hanya luka lama yang kembali terbuka.
“Sudah terlambat, Malik.” Ia mematikan layar ponselnya, kemudian kembali menyelesaikan minuman untuk Adrian.
***
Adrian sudah tertidur ketika Yura masuk membawa nampan.
“Pak...” Ia menyentuh lengan Adrian pelan.
“Pak Adrian, smoothies nanas dan kelapanya sudah jadi.”
Adrian membuka mata. Tatapannya langsung tertuju pada gelas di atas nampan. Dalam hitungan detik—
Brak!
Nampan itu dibalik, Yura tersentak saat cairan dingin membasahi pakaian Yura. “Bukan seperti ini yang kuinginkan!” bentak Adrian dengan suara keras.
Yura menatap pakaiannya, tangannya mengepal. Namun, ia tetap berusaha tenang. “Tadi kamu meminta smoothies nanas dan kelapa. Aku membuatnya sesuai dengan permintaanmu.”
“Aku tidak pernah meminta seperti itu.”
“Lalu maumu bagaimana?”
“Nanasnya diiris, masak dengan air kelapa, tanpa gula.”
Yura menghela napas. “Baik.”
“Apa yang kau tunggu?” tanyanya saat Yura hendak mengambil baju.
“Aku ingin mengganti pakaian.”
“Setelah membuat minumanku.”
Yura menatap Adrian dengan kesal, untuk sesaat ia ingin membantah. Namun, akhirnya ia mengalah karena takut membuat Adrian semakin emosi.
“Baik.” Ia berbalik.
“Cepat!”
Yura menggigit bibir menahan amarah yang bergemuruh di hatinya.
***
Di dapur, tangannya gemetar saat mengupas nanas. Jus yang menempel di kulit membuat leher dan dadanya terasa gatal. Namun, ia mengabaikannya.
Saat mengiris nanas—
“Akh!”
Pisau menyayat jarinya, darah langsung menetes. Yura menatap luka itu. “Kenapa harus sekarang...?”
Ia membasuhnya di bawah keran, lalu membalutnya dengan plester. Setelah itu, ia kembali bekerja. Tidak ada yang tahu bahwa setiap tetes darah yang jatuh dari jarinya menjadi saksi betapa lelahnya Yura mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak memberinya sedikit pun kehangatan.
***
Beberapa saat kemudian, minuman itu selesai. Yura membawanya kembali ke kamar Adrian.
“Sudah.” Ia meletakkan nampan, kemudian buru-buru berbalik. Namun—
“Siapa yang menyuruhmu pergi?”
Yura menghentikan langkahnya. Ia memejamkan mata, berusaha mengumpulkan kesabaran yang tersisa.
Ya Tuhan... apa lagi sekarang?
Yura berbalik. “Kamu mau apa lagi?”
Adrian menatapnya. Namun kali ini, pandangannya tidak tertuju pada wajah Yura, melainkan pada tangannya. Plester putih terlihat jelas di jari telunjuknya. Ada noda merah yang mulai merembes dari balik plester.
“Kau boleh membersihkan dirimu di kamar mandiku.”
Yura terdiam, ia menatap Adrian dengan raut bingung.
“Setelah itu, kemasi semua pakaianmu.”
Yura mengerjap. “Semua pakaian?”
Adrian mengangguk. Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan di wajah Yura sedikit menghilang.
“Terima kasih.” Dalam hati, Yura mulai berharap, Mungkin Adrian sudah lelah membenciku. Mungkin malam ini dia benar-benar ingin berdamai dengan keadaan.
Tanpa menaruh curiga, Yura mengambil pakaian bersih lalu berjalan menuju kamar mandi. Namun, begitu punggung Yura menghilang di balik pintu, senyum Adrian lenyap, Wajahnya kembali dingin. Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
“Gresyuan, datang ke kamarku sekarang.”
Tidak lama kemudian, Gresyuan datang.
“Pak Adrian?”
“Masuk.”
Gresyuan berjalan mendekat mendekat. Adrian menunjuk pintu kamar mandi. “Kunci pintu itu dari luar.”
Gresyuan tahu perintah itu aneh. Namun, ia juga tahu bertanya terlalu banyak hanya akan membuat Adrian marah.
“Baik, Pak.” Gresyuan mengambil kunci yang diberikan Adrian, lalu berjalan menuju ruang ganti. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi—
Klek.
Pintu terkunci.
“Sudah, Pak.”
Adrian mengambil kunci tersebut. “Kau boleh pergi.”
Gresyuan mengangguk. “Baik, Pak.”
Setelah perawat itu keluar, Adrian menatap pintu kamar mandi dengan senyum tipis. “Sekarang kita lihat berapa lama kau bisa bertahan.”
***
Di dalam kamar mandi, Yura sama sekali tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi. Ia selesai membersihkan tubuhnya dan mengenakan pakaian baru. Setelah itu, ia berjalan menuju pintu. Tangannya memutar knop, tapi tidak bergerak.
Yura mengerutkan kening mencobanya sekali lagi, tetap tidak terbuka.
“Kenapa?” Yura menarik knop itu berkali-kali.
“Pak Adrian?”
Tidak ada jawaban. Ia mengetuk pintu berulang kali.
“Pak?”
Sunyi. Perasaan tidak enak mulai merayapi dadanya. Kali ini Yura menggedor pintu lebih keras.
“Pak Adrian, pintunya tidak bisa dibuka.” Yura berteriak dengan keras, tapi tidak ada jawaban.
“Pak! Tolong buka pintunya!”
Dari balik pintu, suaranya terdengar semakin panik. “Pak Adrian, saya terkunci!”
Namun, kamar itu begitu jauh dari ruang keluarga. Ditambah pintu ruang ganti yang kedap suara, tidak ada seorang pun yang mendengar.
Waktu terus berjalan. Setengah jam, satu jam, dua jam. Yura masih berusaha membuka pintu. Telapak tangannya mulai merah karena terus memukul permukaan pintu.
“Pak Adrian...” Suaranya mulai melemah.
“Tolong...” Ia bersandar pada pintu. Napasnya memburu.
Situasi itu membangkitkan kenangan buruk yang selama ini berusaha dikuburnya. Saat masih kecil, Yura pernah dikurung oleh bibinya di sebuah kamar sempit ketika pamannya pergi ke luar kota. Ia masih mengingat suara pintu yang dikunci dari luar. Ia masih mengingat bagaimana dirinya menangis dan memohon agar dikeluarkan dan malam ini, ketakutan itu kembali.
“Jangan...” Yura menutup telinganya.
“Jangan kurung aku lagi...” Air matanya mengalir.
“Pak Adrian... tolong saya.”
Tidak ada jawaban. Di luar, Adrian masih berada di kamarnya. Ia sesekali melirik jam, tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. Justru ada kepuasan ketika membayangkan Yura yang sedang panik.
Baginya, ini baru permulaan. Yura telah mengambil sesuatu yang tidak mungkin dikembalikan kepadanya. Kakinya, masa depannya dan wanita yang paling dicintainya. Karena itu, Adrian merasa Yura harus merasakan sedikit saja penderitaan yang selama ini ia tanggung.
***
Pagi berganti siang. Andreas menemui Aray di ruang makan, kemudian menyerahkan dokumen penting pada Aray.
"Ini dokumen yang papa minta." Andreas menarik kursi, ikut bergabung di meja makan.
"Syukurlah kau datang tepat waktu. Aku sudah mau berangkat."
"Tadi jalan sedikit macet."
Aray yang hendak berangkat ke luar negeri sempat mencari Yura.
“Di mana Yura?” tanyanya ketika hanya melihat Adrian dan Jeni di meja makan.
Adrian tetap tenang. “Katanya tadi ingin pergi berbelanja.”
Aray mengangguk kecil. “Kalau begitu, nanti sampaikan padanya bahwa Papa pergi ke luar negeri hari ini.”
“Baik.”
Aray kemudian menatap Adrian. “Untuk sementara Andreas yang akan menghendle perusahaanmu. Mamamu akan tetap di sini untuk menemanimu. Tolong jaga Yura dengan baik, dia istrimu, dia adalah gadis yang baik.”
Aray memberi nasehat sebelum pergi untuk mengurus cabang perusahaannya, sementara perusahaan yang ada di sini sudah ditangani oleh Andreas yang menggunakan identitas Adrian, sebab Aray merahasiakan keadaan Adrian yang lumpuh dari publik.
Adrian tersenyum pahit. Ia menundukkan kepala agar ayahnya tidak melihat kebencian di matanya.
Gadis yang baik?
Jeni tersenyum. “Jangan khawatir. Selama Papa pergi, Yura akan baik-baik saja bersama kami.”
“Terima kasih, Sayang.” Aray tersenyum lega.
Setelah mengecup kening istrinya, Aray meninggalkan meja makan. Namun begitu suaminya pergi, senyum Jeni berubah.
***
Hampir dua puluh empat jam terkurung membuat Yura sudah tidak mampu berdiri. Tubuhnya menggigil, perutnya kosong sejak malam sebelumnya. Ia hanya meminum sedikit air dari keran untuk menghilangkan rasa haus.
Kepalanya terasa sangat berat, pandangan matanya mulai kabur.
“Pak Adrian...” Ia kembali mengetuk pintu. Namun kali ini, tenaganya hampir habis.
“Tolong... buka pintunya...” Tangannya perlahan terlepas dari knop. Tubuhnya merosot ke lantai, air mata masih mengalir di pipinya.
“Pak...” Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Aku takut...” Kepalanya terasa berputar, dinding di sekelilingnya seperti bergerak. Yura mencoba bangkit. Namun tubuhnya tidak mampu lagi menopang dirinya.
Bruk!
Tubuhnya jatuh ke lantai. Untuk beberapa saat, Yura masih membuka mata, kemudian semuanya menjadi gelap.
***
Sore harinya, Andreas berjalan menuju garasi. Ia baru saja membuka pintu mobil ketika suara Gresyuan terdengar dari belakang.
“Pak Andreas.”
Andreas menoleh. “Ada apa?”
Gresyuan berjalan mendekat dengan wajah ragu. “Sejak semalam saya tidak melihat Nyonya Yura.”
Andreas mengernyit. “Lalu?”
“Saya juga merasa ada yang aneh. Semalam Pak Adrian menyuruh saya mengunci pintu kamar mandi.”
“Mengunci kamar mandi?” ulangnya.
Gresyuan mengangguk cepat. “Iya, Pak. Saya tidak tahu alasannya. Beliau hanya menyuruh saya menguncinya dan tidak mengizinkan siapa pun masuk.”
Wajah Andreas seketika berubah. Ia menutup pintu mobil dengan keras.
BRAK!
Gresyuan terkejut.
“Pak Andreas…”
Andreas berbalik. Tatapannya tajam.
“Ada apa lagi?”
Gresyuan menelan ludah sebelum berkata pelan, “Tolong jangan bilang kepada Pak Adrian kalau saya yang mengatakan ini.”
Andreas tidak menjawab. Ia hanya menatap Gresyuan beberapa detik, kemudian kembali melangkah dengan tergesa-gesa.
Setibanya di depan pintu, Andreas langsung membukanya tanpa mengetuk.
Adrian berada di dalam kamar. Ia duduk santai di depan jendela sambil memainkan ponselnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Yura di mana?” Andreas menatapnya tajam.
Jari Adrian yang sedang menggulir layar ponsel berhenti. Untuk sesaat, wajahnya membeku. Namun, ia segera kembali memasang ekspresi tenang.
“Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu
Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun
Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A
“Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke
“Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd
“Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah. Ini pasti hanya salah paham.”Suara Hadi bergetar ketika ia duduk di hadapan seorang polisi. Sejak menerima telepon dari Yura, pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi tanpa sempat memikirkan apa pun selain keselamatan keponakannya.Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja terlihat saling menggenggam erat di atas paha.“Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri.”“Mencuri?” Hadi mengangkat wajahnya.“Iya.”“Tidak mungkin.” Hadi menggeleng berkali-kali. “Keponakan saya tidak pernah mencuri. Sejak kecil dia anak yang baik. Kalau menemukan barang orang lain saja, dia pasti mengembalikannya.”Polisi di hadapannya hanya menghela napas. “Saya mengerti Anda keluarga tersangka, tetapi kami bekerja berdasarkan bukti.”“Lalu... bagaimana caranya agar Yura bisa bebas?”Polisi itu membuka berkas di atas meja. “Untuk sementara, Anda bisa mengajukan penangguhan dengan jaminan.”Hadi langsung sedikit







